
Rey mengarahkan hp nya pada buku nya, siap-siap untuk mencatat. Namun sebelum itu dia kembali menoleh pada Lisa yang belum tidur, Lisa masih memperhatikan nya, nampak jelas dari wajahnya bahwa dia sangat ketakutan. "Kamu tidur aja, aku nggak bakal kemana-mana kok." Ujar Rey dengan lembut.
"Awas lo tinggalin gue!" Ancam Lisa.
Rey tak mempedulikan ucapan Lisa, dia sibuk mencatat. Perlahan Lisa memejamkan matanya. Napas nya perlahan mulai teratur artinya dia sudah berlabuh ke alam mimpi nya. Rey menoleh pada Lisa kemudian tersenyum lembut melihat si istri yang keras kepala sudah tertidur lelap.
Rey menghela napas berat mengingat kejadian yang pernah terjadi, dan menyebabkan Lisa seperti ini.
Flashback On
"Kamu jaga yah, aku sembunyi dulu!" Pinta Rey. Saat itu umur mereka masih sekitar 9 tahun.
"Oke. Aku hitung. Satu dua tiga..." Lisa menutup matanya. Dan Rey berlari bersembunyi di suatu ruangan yang agak gelap. Agar Lisa tak mudah menemukan nya.
Saat itu hujan begitu sangat deras di iringi dengan sambaran petir yang menggelegar.
Lisa mulai mencari di setiap sisi rumah. "Rey kamu dimana?" Tak ada jawaban. Lisa terus memanggil-manggil Rey. Lisa membuka pintu ruangan yang agak gelap itu. Kemudian celingukan mencari Rey. "Rey? Kamu ada di dalam kan?" Masih tak ada jawaban. Petir semakin menjadi-jadi. Akhirnya Lisa memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan gelap itu meskipun merasa agak takut. "Rey? Udah yah, aku nyerah. Kamu keluar aja!"
Rey memang ada di dalam ruangan tersebut, namun masih tak ingin menampakkan diri. Ide konyol Rey mulai muncul di benak nya, saat Lisa masuk ke dalam ruangan tersebut. Rey lansung berlari keluar dan dengan sigap menutup pintu dan mengunci nya dari luar.
Lisa yang menyadari terkejut dan lansung berlari ke pintu dan mengetuk-ngetuk pintu tersebut. "Rey? Itu kamu kan?" Teriak Lisa. "Rey? Jangan bercanda kayak gini dong, nggak lucu." Lisa menatap sekeliling ruangan tersebut. Gelap, sangat gelap, dia tak bisa melihat apapun di dalam ruangan tersebut. Sekali lagi petir menyahut keras, sangat-sangat keras. Lisa menutup telinganya. "Rey? Buka pintu nya, aku takut Rey."
Sedangkan di luar, Rey berdiri di depan pintu sembari cekikikan menahan tawa. Dia tak ingin suara nya di dengar oleh Lisa. Saat mendengar teriakan Lisa, Rey sudah ingin membukakan pintu nya namun kembali di undur selama 3 menit. Namun, ntah karena apa suara Lisa sudah hilang. Hening, ketukan pintu dan teriakan nya dari dalam sudah tak terdengar lagi. Rey mulai agak khawatir, namun dia masih mengira kalau Lisa sedang mengerjai nya juga agar dia membukakan pintu.
Namun, 3 menit berlalu masih tak ada suara dari dalam ruangan. Rey mengetuk-ngetuk pintunya. "Icha..." Tak ada jawaban. "Icha kamu nggak papa kan?" Akhirnya Rey memutuskan untuk segera membuka pintunya. Betapa terkejut nya dia saat membuka pintu dan mendapati Lisa sudah terkapar di lantai. Jatuh pingsan.
Flashback Of**f
Semenjak kejadian itu, Lisa jadi takut akan kegelapan. Dia juga takut akan petir bahkan dia juga benci sama yang nama nya hujan. Memang niat Rey itu cuma iseng dan bercanda doang. Tapi caranya itu sudah kelewat batas. Terkadang Rey menyalahkan dirinya, dia merasa bahwa Lisa jadi penakut itu semua karena dirinya. Seandainya waktu itu dia tak melakukan hal bodoh, mungkin Lisa tak akan jadi seperti ini.
.
.
.
Lisa sudah bangun sedari tadi. Dari tadi dia menunggu untuk segera mandi pagi. Niat nya sih gitu, namun niat nya itu terhalang karena adanya si Macan Tutul di dalam kamar mandi.
Lisa menghela napas kasar, kemudian mengetuk pintu kamar mandi. "Rey cepetan, gue mau mandi juga."
"Iya bentar lagi." Sahut Rey dari dalam kamar mandi.
Cklek!
Pintu kamar mandi sudah terbuka. Dan Rey mungkin sudah keluar. Lisa yang mendengar pintu terbuka dengan sigap lansung terduduk. "Lama banget sih lo!" Lisa lansung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mempedulikan jawaban dari Rey.
Setelah memakai seragam sekolah nya Lisa lansung duduk di depan cermin sembari sibuk merapikan rambutnya. Rambutnya dia pakai kan jepitan rambut, semua pelajaran dari Putra tentang semua itu tak pernah dia lupa, bahkan setiap hari dia tingkatkan. Lisa berdiri mencari-cari sepatunya. "Loh? Sepatu aku mana?" Gumam nya sambil terus mencari-cari sepatunya yang bagaikan sengaja bersembunyi dari nya.
"Nyari apa?" Tanya Rey yang sedang sibuk membereskan buku-buku nya.
"Bukan urusan lo!" Ucap Lisa dengan ketus. Lisa baru teringat bahwa kemarin dia menaruhnya di atas lemari, eh ralat bukan menaruh lebih tepatnya melemparnya ke atas lemari. Lisa lansung naik ke atas kasur dan celingukan mencari sepatunya di atas lemari. Wah bener, itu dia.
Lisa mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut kamarnya, mencoba mencari alat bantu untuk mengambil sepatu tersebut. Namun naas tak ada satu pun yang pas untuk dia pakai. Lisa melompat-lompat untuk mengambil sepatunya. "Ayo dong dikit lagi."
"Jangan lompat-lompat Cha, bahaya!" Sahut Rey namun tak di pedulikan oleh Lisa.
Lisa tetap melompat-lompat sambil terus mengoceh nggak jelas. "Ya Allah nih sepatu bener-bener yah.Di suruh turun kagak mau. Apasih mau nya."
Mendengar ucapan Lisa, Rey mendongak juga dan melihat sepasang sepatu di atas lemari. Rey baru paham kalo Lisa ingin mengambil sepatu tersebut. Rey berjalan menghampiri Lisa yang masih sibuk melompat-lompat, Rey hendak membantu mengambil nya. Namun...
Bughh...
Lisa terpeleset saat melompat dan jatuh kearah Rey. Rey pun kehilangan keseimbangan dan ikutan jatuh. Sekarang Lisa berada di atas badan Rey. Seakan mata mereka terkunci, seakan waktu tiba-tiba terhenti, seakan di dunia hanya ada mereka berdua, kedua nya saling bertatapan tanpa berkedip. Lisa menatap Rey begitupun sebaliknya.
"Eh, maaf." Ujar Lisa sambil berusaha berdiri.
"Kan aku udah bilang jangan lompat-lompat."
"Gue mau ambil sepatu gue. Yaudah lo ambilin gih!" Pinta Lisa.
Dengan gampang nya Rey menggapai sepatu tersebut, maklum lah anak basket mah pasti punya badan tinggi dan atletis. Kan jadi minder kalo jadi Lisa, Lisa kan tubuhnya agak kerdil.
"Nih." Rey menyodorkan sepasang sepatu tersebut yang diterima dengan kasar oleh Lisa tanpa mengucapkan rasa terima kasih. "Emang kenapa sih sepatu harus di taruh di atas lemari? Bukan nya ada tempat lain?" Tanya Rey.
"Ya kan kemarin gue nonton, trus gue liat nih sepatu kayak ngehalangi pandangan gue, jadi yaaa gue lempar aja ke atas lemari." Jelas Lisa sambil memakai sepatunya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!