Love In Many Ways

Love In Many Ways
Kesaksian Rani



"Bukannya udah kelar yah?"


"Yah belum lah, kan aku udah janji apapun yang terjadi aku bakalan buktiin kalo kamu nggak bersalah. Aku nggak rela istri aku di tuduh bersalah Aku udah ada bukti kalo bukan kau yang nyelakain Rani. Dan masalah ini bakal diproses lagi!" kata Rey dengan semangat dan antusias.


Lisa membelalakkan matanya tak percaya, retinanya seketika membesar dan bibirnya menyungging keatas membentuk lengkungan senyum yang manis dan alami.


"Ini beneran?" Tanya sembari memukul lengan Rey senang.


"Eh ya Allah Cha, aku lagi nyetir loh."


"Eh hehehe sorry sorry, tapi ini beneran kan?"


"Ya beneran lah, masa aku prank sih?"


Raina refleks ingin berdiri berniat melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan permen, namun...


"Awhhh ..." Ia meringis mengusap kepala nya yang baru saja terbentur. Ia lupa kalo saat ini ia sedang berada di dalam mobil.


Rey hanya terkekeh melihatnya. "Nahkan, makanya jangan banyak tingkah."


"Ye ye ye ye ye... Kan aku udah bilang bukan aku yang ngelakuin, aku nggak salah, aku nggak salah!" ucap Lisa dengan girang. Namun tiba-tiba Lisa berhenti girang, ia kembali serius, "Eh, btw emangnya siapa yang nyelakain Rani? Apa emang dia jatoh sendiri?"


"Dinda."


"Dinda?"


"Iya, dia yang celakai Rani."


Lisa mengernyitkan keningnya, "Mana mungkin? Rani kan masih teman dekat dia, dan.. dan Dinda kan dia anak baikkan?"


"Hm, emang bener kita nggak boleh menilai seseorang dari penampilannya. Awalnya dia mau nyelakain kamu. Tapi siapa sangka, jebakan itu malah kena ke Rani dan malah Rani yang celaka."


Lisa terkejut mendengarnya, "Aku? Kenapa nyelakain aku? Oh pasti gara-gara kamu nih, heran deh sama tu orang ya... Di bumi ini ada 2,1 miliar orang berjenis kelamin laki-laki. Kenapa masih aja ngejar kamu sih yang jelas dia udah tau kamu punya pacar? Heran gue..." geram Lisa.


"Kok gue merasa jijik karena disukain sama Dinda ya..." gumam Rey.


"Udahlah gak papa... Yang penting kan Rey punya Lisa seorang, tanpa terbagi sama sekali."


"Iya deh iya..."


Meski Lisa tak banyak berkata-kata, tapi dalam hatinya ia benar-benar mengutuk Dinda sampai benar-benar puas. Ia tak ingin merusak reputasinya sebagai siswi baik yang sudah susah-susah ia bangun hanya karena sebuah umpatan tak berguna. Ia harus balas dendam dengan cermat. Ia tak ingin menggunakan cara kotor seperti Dinda.


...*****...


Keesokan harinya...


Para staf penting sekolah dikumpulkan kembali, beberapa pemegang saham juga hadir untuk membahas masalah Rani ini. Arghhh ternyata masalah ini akan kembali di bahas dan di proses, tentu ini akan menjadi sebuah kekhawatiran untuk Dinda. Mengapa tidak, orangtua Rani juga merupakan orang yang cukup berpengaruh, kalau saja sekolah tidak melakukan tindakan keras kepada Lisa mungkin saja Lisa sudah di laporkan ke polisi.


Ruang pertemuan tampak sunyi dengan suasana yang suram dan tegang. Para pemimpin didalam ruangan itu saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka jelas bertanya-tanya dengan masalah ini lagi.


Bu Desi mulai membuka pertemuan itu, saat masalah dijelaskan dan Bu Desi sempat menyinggung perkara laporan Rey kemarin, ayah Dinda langsung membantah karena tidak terima putrinya dituduh.


Bu Desi hanya tersenyum, ia mengambil ponselnya dan memutar rekaman yang diberikan oleh Rey kemarin. Semua orang didalam ruangan itu terkejut mendengarnya.


"Bagaimana pak? Bukti yang mana lagi? Saya tidak bertujuan menjadi orang paling bijak didalam ruangan ini, hanya saja saya tidak ingin menuduh orang yang tidak bersalah!" bantah Bu Desi dengan tegas.


"Mana mungkin! Saya tidak percaya, bisa saja itu editan kan? Jaman sekarang semua sudah canggih, hal seperti ini mudah saja dilakukan asal tau orang yang profesional untuk melakukannya!" bantah Ayah Dinda lagi.


Bu Desi terdiam sejenak karena merasa terpojok, saat ini tak ada bukti fisik langsung dan yah hanya itu bukti satu-satunya yang ia pegang. Tasya, satu-satunya saksi pun sudah tidak ada.


"Itu semua benar! Saya saksinya!"


Sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah pintu. Semua mata menuju ke gadis yang baru membuka pintu ruangan itu.


Gadis itu berjalan menghampiri Bu Desi, "Saya bisa membuktikannya bu! Saya tau kebenarannya, dan saya yakin kalian semua pasti akan mempercayai saya kan? Karena tidak ada yang bisa mengubah pendapat saya!"


"Ran-rani... Kamu ngapain ke sini? Kamu masih sakit nak!" Papa Rani tampak risau melihat putrinya datang dengan baju pasien rumah sakit.


Papa Rani langsung berdiri dan membawa Rani duduk karena khawatir. "Kamu kenapa ke sini? Kamu kan belum pulih nak..."


"Pa... Ingatan aku udah agak pilih dan aku udah inget semuanya. Aku mau buktikan semuanya, aku korbannya dan yang mengalami semuanya. Siapapun yang celakai aku, bakal ku balas!" ucap Rani geram.


Ayah Dinda tampak sedikit risau karena takut kalau tuduhan yang diberikan oleh Bu Desi itu benar-benar nyata.


Setelah suasana ruangan sedikit tenang, Rani duduk didepan Bu Desi untuk melakukan tanya jawab.


"Rani, ibu akan menanyakan beberapa hal. Kamu harus jawab dengan jujur dan jangan berbohong! Siapa yang sebenarnya menyelakai kamu?" tanya Bu Desi dengan serius.


Rani menatap ke arah Ayah Dinda, sebenarnya ia tak ingin membuat masalah dengan keluarga Dinda karena mereka masih teman dekat. Tapi mengingat kelakuan Dinda yang membuatnya celaka dan menjadikannya korban hanya membuat Rani semakin sakit hati.


"Dinda bu!" jawab Rani dengan tegas.


Semua orang didalam ruangan itu membelalakkan matanya tak percaya. Ayah Dinda spontan langsung berdiri.


"Rani, kamu jangan mengada-ada. Dinda itu masih teman dekat kamu, mana mungkin dia celakain kamu!" bantah Ayah Dinda spontan.


Rani menatap Ayah Dinda dengan ragu, "T-tapi Dinda emang yang celakai Rani, om. Rani nggak bohong."


Para anggota pemegang saham pun langsung berbisik dan merundingkan ucapan Rani yang mengejutkan dan tiba-tiba ini.


"Tapi kan Dinda ada di atas saat kejadian, mana mungkin dia dorong kamu. Dinda lihat kejadiannya aja setelah kamu jatuh!"


Brak... Brak... Brak...


Ayah Rey menggebrak meja pertemuan hingga semua langsung terdiam. "Pak, tolong dengarkan penjelasan Rani juga! Kita di sini untuk musyawarah, bukan saling fitnah! Tolong perilakunya di jaga!" tegas Ayah Rey.


Ayah Rey berkata dengan tegas. Selama ini Ayah Rey selalu diam untuk urusan apapun, ia tak akan ikut campur jika masalah tak benar-benar serius. Karena Ayahnya Rey hanya bekerja dari belakang, tidak terlalu memperlihatkan diri.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!