Love In Many Ways

Love In Many Ways
Cute



Lisa mengerjapkan matanya perlahan, ia merasakan sakit di perutnya. Ah sial, padahal kan tidurnya cukup nyenyak. Kenapa harus sekarang sih sakitnya. Lisa mendongak melihat ke arah jam dinding, menunjukkan pukul 23.27


"Rey..." Panggil Lisa saat matanya tertuju pada Rey yang sedang duduk di samping nya sibuk mencatat.


"Iya kenapa?" Tanya Rey tanpa menoleh.


"Kamu ngapain?" Tanya Lisa sambil mendudukkan dirinya.


"Ngerjain tugas." Jawab Rey. "Oh iya kamu kenapa bangun?"


Lisa mengusap perutnya pelan. "Aku laper."


Rey menghela napas sejenak, "Nahkan, tadi udah dibilangin. Itu sakit karena yang kamu makan cuma eskrim sama coklat."


"Heheheee... Ya maaf. Sekarang aku mau makan, temenin yah."


"Hm bentar aja yah. Ini tinggal dikit lagi kok. Kamu turun aja duluan, ntar aku nyusul kalo ini udah selesai."


"Haih nggak mau ah. Aku takut, ntar kalo ada lelaki bertopeng lagi gimana?"


"Nggak mungkin. Ini kan dirumah, Cha."


"Ya tetep aja aku takut. Yaudah aku nunggu kamu aja." Lisa kembali merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Rey.


"Nggak keburu sakit perutnya?" Tanya Rey.


"Nggak papa. Aku bisa nahan kok."


Rey kembali membaca catatan nya yang dari awal yang baru saja dia tulis. Semisal ada yang menurutnya kurang tepat dia aka mencoretnya dan menggantinya dengan kalimat yang lain. Sedangkan Lisa, Lisa yang terbaring di pangkuan Rey sibuk memainkan daun telinga Rey yang sedang konsentrasi. Ia mendongak dan memijat-mijat pelan daun telinga milik Rey.


Pandangan nya terpaku pada tonjolan yang ada di tengah-tengah leher milik Rey. Lisa tertarik untuk menyentuhnya. Perlahan-lahan Lisa mulai menyentuh tonjolan itu. Awalnya Rey tak peduli dengan apa yang dilakukan Lisa, namun sekarang sepertinya terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Lisa.


Rey menangkap tangan Lisa yang sedari tadi mengusap pelan jakun miliknya. "Jangan menganggu, atau pekerjaan ku nggak akan pernah selesai."


"Aku nggak ganggu kok."


"Trus ngapain? Itu tadi menganggu ku."


"Iya deh, maaf."


Lisa kembali terdiam, ia hanya menatap wajah Rey yang sedang konsentrasi. Wajah Rey nggak pernah berubah. Masih sama, masih ganteng dari dulu. Huh, aku beruntung sekali punya suami yang sempurna kayak Rey.


"Udah puas ngeliatin nya?" Tanya Rey tanpa mengalihkan pandangan nya.


Seketika Lisa tersadar kemudian menyembunyikan wajah malunya pada tubuh Rey. "Ih apaan sih. Siapa yang liatin coba?!"


Rey hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu dari Lisa. Rey bahagia bisa seakrab ini lagi, setelah sekian lama selalu berselisih.


"Mmmm... Rey. Masih lama nggak? Perut aku makin sakit nih." Keluh Lisa.


"Ini udah selesai." Jawab Rey sambil membereskan buku-buku nya.


Lisa langsung bangun secepatnya, "Yuk." Ajak nya sambil meraih boneka kesayangan nya.


"Boneka nya nggak usah di bawa." Cegah Rey.


"Ih emang kenapa? Aku sayang sama Emon." Ujar Lisa sambil memeluk boneka nya.


Rey mengerutkan kening nya bingung. "Emon? Apaan tuh?"


"Ck, nama boneka aku lah. Nggak peka. banget sih."


"Terserah." Rey berjalan keluar kamar lebih dulu. Di susul oleh Lisa di belakang nya yang terus bergumam nggak jelas.


"Kamu makan gih, aku tunggu nya di sini aja." Ucap Rey sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Yaudah, tapi jangan ditinggal yah. Oh iya kamu jaga Emon yah, nih." Kata Lisa, ia langsung menyelipkan boneka nya pada tangan Rey.


"Iya dijagain."


Lisa kembali melangkahkan kakinya ke arah meja makan. Namun, saat ia mencari makanan, secuel pun tak ada. "Ck, pake nggak ada makanan lagi."


"Reyyy..." Sahut Lisa sambil melangkahkan kaki nya kembali menghampiri Rey. "Rey nggak ada makanan." Keluh Lisa.


Baru saja Rey akan menutup matanya, teriakan Lisa membuatnya kembali bangun. "Kenapa?"


"Nggak ada makanan Rey. Beliin yah di luar. Aku mau makan nasi pecel."


"Ya pasti ada lah. Aku beneran laper deh, beliin yah." Pinta Lisa dengan wajah sedihnya.


"Hm yaudah, kamu tunggu sini aja jangan kemana-mana!"


"Siap Bos!" Sahut Lisa sambil hormat bak tentara.


Lisa duduk di sofa untuk menunggu, ia menonton acara tv sambil memeluk boneka nya.


Baru saja Rey ingin membuka pintu rumah, seseorang telah mendahului nya. "Eh Bunda." Rey langsung menyalami tangan ibundanya.


"Kok jam segini belum tidur, mau kemana?" Tanya Bunda.


"Mau keluar bentar, Bunda. Beli makanan." Jawab Rey.


"Mana ada penjual buka jam segini, semua udah tutup sayang."


"Tapi Lisa nya Rey laper Bunda." Ucap Rey dengan pelan.


"Lisa nya mana?" Tanya Bunda sambil celingukan.


"Tuh, lagi nonton." Tunjuk Rey.


"Lisa..." Panggil Bunda. Mendengar panggilan itu Lisa langsung berdiri dan menoleh.


"Bunda..." Sahut Lisa sambil berlari memeluk Bunda. "Bunda, Lisa kangen."


Bunda membalas pelukan Lisa dengan penuh kasih sayang. "Bunda juga kangen, nak. Oh iya kamu laper kan? Kamu suka martabak? Ini Bunda ada martabak coklat." Ucap Bunda sambil memperlihatkan martabak yang dibawa nya.


"Suka Bunda. Suka banget. Kebetulan Lisa lagi laper, hehehee..."


"Yaudah nih buat kamu, dihabiskan yah. Bunda mau ke kamar." Bunda menyodorkan martabak tersebut.


"Oke Bunda." Jawab Lisa.


"Yaudah yuk Rey." Lisa langsung menarik tangan Rey untuk kembali duduk di ruang keluarga sambil memakan martabak.


"Emang ini udah cukup?" Tanya Rey sambil memperhatikan Lisa yang sibuk membuka kotak martabak.


"Cukup kok."


"Tadi katanya kamu mau makan nasi pecel."


"Nggak jadi, ini aja." Tanpa pikir panjang, Lisa langsung melahap martabak tersebut dengan rakus nya.


Rey yang melihat tingkahnya hanya bisa menggeleng. Rey menyandarkan kepalanya di sofa. Rasanya hari ini capek banget.


"Oh iya aku lupa nawarin." Lisa cengar-cengir saat menyadari dirinya lupa memberikan Rey juga. "Rey kamu mau juga nggak? Ini enak loh. Sini aku suap-..." Ucapan Lisa terhenti seketika saat ia melihat Rey yang sudah tertidur.


"Rey..." Lisa menyentuh tangan Rey pelan. Namun tak ada reaksi sama sekali. Tidur Rey terlihat sangat lelap dan nyenyak. "Kasian, pasti Rey capek banget seharian ini kan dia main sama aku, trus malem nya dia ngerjain tugas." Gumam Lisa sambil memperhatikan wajah Rey.


Lisa segera menyelesaikan makannya kemudian membereskan bekas nya.


"Rey." Lisa ingin membangunkan Rey, namun rasanya ia tak tega mengganggu tidur Rey yang nyenyak.


Wajah Rey terlihat sangat menggemaskan, seperti bayi kecil yang sedang tertidur. Lisa segera mengambil ponselnya, ia dengan jahilnya memotret wajah Rey saat tertidur.


Ckrek...



Rey tertidur di sofa sambil memeluk si Emon, boneka kesayangan Lisa. Lisa gemas sendiri melihatnya, serasa ingin mencubit kedua pipinya.


Wajah Rey kok jadi imut gini sih, seimut Emon. Hehehee...


Lisa segera menyelimuti tubuh Rey dengan selimut yang baru saja dia ambil dari kamarnya. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Rey, kepala nya berada di pangkuan Rey yang tertidur.


Lisa tak langsung tidur, ia ingin mengagumi makhluk ciptaan Tuhan dulu. Lisa memandang wajah Rey sambil tersenyum. Beruntung nya aku. Untung kamu suami aku. Uuhh imut banget sih kamu Rey, sejak kapan kamu jadi seimut ini sih hm? Aku janji aku nggak akan mungkin pernah biarin wanita lain memandang wajah imut kamu. Cuma aku yang boleh!


Lisa kembali memandang wajah imut Rey yang ada di ponsel nya sambil senyam-senyum kagak jelas.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!