
Melihat reaksi Rey, serasa Lisa ingin menggeplak wajah itu. Ingin rasa nya dia mencukur alis yang serasa meledek itu. "Huh." Lisa menyilangkan tangannya di depan dada dan dengan langkah nya yang kasar berjalan duluan ke arah pintu. Dalam hati dia terus mengumpat tanpa henti.
Sesampainya di depan teras, Lisa menghentikan langkahnya. "Mana mobil lo?" Tanya nya.
"Ada di garasi, di rumah ku. Tunggu bentar di sini, aku ambil dulu." Rey berjalan menuju seberang rumah untuk mengambil mobilnya.
"CEPETAN!" Teriak Lisa. Lisa menyilangkan tangan nya didepan dada, lalu memasang wajah muram.
Tak berselang beberapa waktu, mobil impor ukuran sedang melaju ke arah nya. Rubi sempat agak kaget melihat mobil itu. Kayaknya si Macan tutul abis beli mobil baru.
"Ayo masuk!" Rey membuka kan pintu mobil untuk Lisa. Namun dengan cuek nya Lisa menolak.
"Gue bisa buka sendiri!" Lisa melirik tajam pada Rey kemudian kembali berkata, "Tutup balik pintu nya, gue bisa buka sendiri!" Sahut Lisa dengan ketus.
Tak ingin cari masalah, Rey menutup pintu mobil kembali.
Sedangkan Lisa berjalan ke arah mobil lalu membuka pintu dan langsung masuk begitu saja. Ck ck ck tak tau malu yah. Rey berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu dan duduk di belakang kemudi.
Rey melihat sekilas pada Lisa. "Lisa pake sabuk pengaman nya." Pinta nya dengan halus.
"Gue gak mau!" Seru Lisa dengan ketus. Pandangan nya ke depan, tak ingin melihat wajah si Macan tutul. Tangan nya masih di silang kan di depan dada, dan wajahnya masih cemberut.
"Mau pake sendiri atau ku pake in?"
Tak ada jawaban dari Lisa, Rey mendekat ke arah Lisa. "Ck, iya iya. Maksa banget sih!" Dengan kesal Lisa buru-buru memakai sabuk pengaman.
Dengan pelan, Rey melajukan mobil nya memecah jalanan yang padat. Lisa menyandarkan kepalanya pada kursi lalu melirik sekilas pada Rey. Sejak kapan Rey bisa mengemudi? Perasaan aku nggak pernah liat dia bawa mobil. Dia kan selalu pake motor, au ah nggak urus.
"Kapan lo beli mobil?" Akhirnya rasa penasaran mengalahkan rasa gengsi nya untuk bertanya.
Rey yang sedang fokus mengemudi melihat sekilas pada Lisa. Sedikit heran sih, Lisa tiba-tiba bertanya pada nya.
"Lo budek yah? Gue tanya, kapan lo beli mobil?" Tanya Lisa kesal.
"Ini hadiah dari Ayah. Hadiah pernikahan kita." Jelas Rey.
"Gue sih oh aja." Ujar Lisa dengan sinis.
Rey menghela napas dengan sabar. Berusaha sabar mengahadapi tingkah istrinya yang agak agak... apayah?
Dengan pelan mobil memasuki gerbang sekolah, dan menuju ke arah parkiran. Setelah mobil berhenti, dengan sigap Lisa langsung ingin keluar dari mobil kalau bisa dia ingin melompat saja. Ingin segera jauh-jauh dari si Macan tutul. Namun, gerakan nya terhenti saat sebuah tangan mencegahnya. "Apalagi sih?" Lisa menoleh pada Rey. Lalu menatap tangan yang sekarang sedang memegang bahunya. "Jangan sentuh gue!" Ucap nya dengan tegas.
Rey menjauhkan tangan nya dari bahu Lisa. Kemudian terlihat dia mengambil sesuatu dari dompetnya yang di penuhi dengan uang berwarna merah dan juga biru. "Nih." Rey menyodorkan selembar uang ratusan pada Lisa. "Ntar buat jajan."
Lisa mengambil uang itu. "Oke." Tanpa mengucapkan terima kasih atau sejenis nya, Lisa langsung keluar dari mobil meninggalkan Rey. Sebetulnya dia tak terlalu butuh dengan uang, toh selama ini dia jajan nggak pernah pake uang sebanyak itu. Tapi yaaa mau gimana lagi, Lisa kan mata duitan dan kalo nggak di ambil ya rugi dong apalagi itu jatah dari suami, lumayan lah buat nambah-nambah. wkwkwk...
Lisa menghela napas lalu mulai melangkahkan kakinya. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk melihat Al dan Sarah. Dia sudah tau apa yang akan hati nya rasakan ketika melihat sang mantan terindah dengan sahabatnya. Hadeh, Lisa Lisa ini Author bilangin, 'tidak ada mantan yang terindah, karena yang terindah tidak akan jadi mantan' hahahaha....
Lisa masuk ke dalam kelas dengan berusaha tersenyum. Dia menyetel senyum nya yang paling manis, untuk menunjukkan bahwa saat ini dia baik-baik saja dan sedang sangat bahagia. Oke, guys acting dimulai. Kamera rolling action...
Lisa duduk di kursi nya dengan tenang, sebelum nya dia sempat melirik pada meja Al yang terlihat kosong. Huft, setelah putus apakah Lisa merindukan sosok reseh itu? Setelah sekitar satu minggu tidak bertemu dengan mantan pacar nya itu apakah Lisa tak merindukan sosok nya? Merindukan bercanda kayak dulu lagi? Ntah lah, tak ada yang tau.
Lisa menoleh pada Sarah yang terlihat sibuk dengan hp nya. Mungkin Sarah juga tak menyadari dengan keberadaan Lisa saat ini. Lisa menghampiri Sarah dan duduk di samping kursi nya. "Rah, kamu ngapain?" Tanya Lisa sembari melirik pada ponsel Sarah.
Sarah menoleh pada Lisa. "Eh udah dateng, kamu kapan masuk? Kok aku nggak liat?"
"Baru aja. Kamu liat apa sih, kayak nya serius banget?"
"I-ini ini lagi chatingan." Jawab Sarah dengan malu-malu.
"Oh. Sama siapa? Mana, coba aku liat?" Lisa menyahut hp Sarah dengan cepat dan mulai men- scrol chat nya Sarah.
"Ih Lisa. Kalo mau ambil bilang dulu dong."
"Hehee, ya maap. Ini siapa sih?" Tanya Lisa saat melihat nama kontak itu di beri nama my Dear, trus ada lope-lope nya juga guys.
"Itu itu... Al." Ujar Sarah dengan malu-malu.
Deg! Jantung Lisa serasa berhenti berdetak. Jadi dari tadi Sarah chatingan sama Al. Ya wajar lah Lisa mereka kan pacaran, gimana sih? Jadi mantan itu harus move on. Lisa berusaha santai saat melihat semua pesan Sarah dan Al yang sudah agak panjang macam rel kereta api. Mungkin Sarah tak pernah menghapus sedikit pun riwayat percakapan nya dengan Al.
"Ih Lisa, kenapa kamu baca semua sih? Kan aku jadi malu." Ujar Sarah berusaha mengambil kembali hp nya.
"Nggak papa kok. Aku cuma baca." Lisa kembali membaca semua nya tanpa ketinggalan satu kata pun. Di dalam pesan itu terlihat Sarah begitu perhatian, dan pesan nya begitu romantis dan panjang-panjang. Sedangkan Al malah sebalik nya. Jelas Al begitu cuek, jawabnya singkat-singkat dan sesekali juga tak menjawab pesan dari Sarah.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!