Love In Many Ways

Love In Many Ways
Terbukti juga



Tapi ayah minta gue jadi juara 1."


"Mau lo juara 1 atau 2, lo pinter akademik atau enggak, itu semua tergantung lo sendiri. Itu pilihan lo, dan lo bebas jadi apapun yang lo mau tanpa paksaan orang lain." Saran Rey didengar dengan baik oleh Dinda, ia tersenyum sambil mengusap air matanya. "Berarti gue bebas ngelakuin apa yang gue mau?" Tanya Dinda polos.


Rey tersenyum, "Asal itu bener, lo bebas ngelakuin apapun kemauan hati lo kok."


Flashback Off


Ingatan itu masih saja membekas dalam hati Dinda sampai detik ini. Sejak saat itu ia memutuskan untuk melakukan apapun yang ia mau, termasuk mengejar Rey. Yah Rey tidak salah bicara sih, tapi memang Dinda yang salah mengartikan ucapan Rey.


"Haaahhh.... Kenapa sih, kenapa? Kenapa semua nggak berjalan sesuai ekspektasi gue sama sekali! Hidup ini bener-bener nggak adil tau nggak, sedangkan Lisa bisa dapat semua hal yang ia mau, kenapa gue nggaaaaak"


Dinda berteriak dalam mobilnya memukul-mukul setir mobilnya untuk melampiaskan kemarahannya saat ini.


Namun, tiba-tiba saja ada orang menyebrang yang tidak Dinda lihat. Spontan Dinda membanting mobilnya ke kiri hingga mobilnya menabrak sebuah pembatas jalan dan pohon.


"Ahhhh..."


Bruuakk....


Hantaman itu cukup keras, kepala Dinda terbentur dan terluka. Dinda berusaha keras untuk keluar dari mobilnya, para warga sekitar pun langsung menolong Dinda untuk segera dibawa ke rumah sakit.


...*****...


Di Rumah Sakit...


Untung saja luka Dinda tidak ada yang parah, kakinya hanya sedikit keseleo, keningnya yang terluka dan tangannya yang lebam-lebam. Tapi Dinda merasakan kaku dan sakit di sekujur tubuhnya.


"Aww..."


Dinda membuka matanya dan badannya benar-benar kaku, bergerak sedikit saja sakit. Mamanya terlihat menangis disampingnya.


"Mama..."


Mamanya sigap berdiri dan melihat keadaan Dinda. "Kamu kenapa sih? Kok bisa kecelakaan gini, kamu mikir apa sih Din? Mama khawatir tau nggak!"


"Kecelakaan?"


Dinda mengingat kembali kejadian sebelumnya, ia ingat kalau ia menghindari seseorang yang menyeberang lalu tak ingat apa-apa lagi setelahnya.


"Ayah mana ma?"


Mamanya mengusap air mata, "Ayahmu kerja, katanya ada hal mendesak di kantor jadi belum bisa lihat keadaan kamu."


Dinda hanya terkekeh kesal, "Heh... Pekerjaan lebih penting dari keadaan anak ya? Memang uang adalah segalanya." Ia kesal ayahnya memang tidak pernah berubah.


...*****...


Hari Sidang...


Dinda datang ke sekolah dengan beberapa tangan yang masih lebam dan kening yang di plaster. Ia memang masih merasakan lemas, namun ia juga tidak ingin tinggal di rumah. Anehnya tatapan mematikan ia selalu dapatkan dari anak-anak sepanjang koridor.


"Kenapa mereka segitunya natap gue? Hm gue cuma berharap moga-moga mereka nggak tau masalah ini, harus gue rahasiain semuanya!" gumam Dinda.


Dinda berjalan tanpa memperdulikan lagi omongan orang-orang menuju ke ruang pertemuan, ia harus terlihat biasa-biasa saja untuk menutupi ini semua.


"Masuk Dinda..."


Suara Bu Desi mengintruksikan Dinda agar segera masuk. Dinda pun masuk dan mengikuti pertemuan itu dengan serius.


Awalnya Dinda hampir tak terbukti bersalah, namun tiba-tiba saja muncul Tasya yang ikut menjadi saksi di pertemuan itu, tentu saja itu akan memberatkan Dinda. Dengan kehadirannya Tasya disitu, menjadi bukti untuk semua kejahatan Dinda.


Rani juga dihadirkan disitu, awalnya posisi Dinda masih meragukan namun setelah datangnya Tasya, posisi Dinda semakin terpojok hingga akhirnya semua terbukti dan ia dinyatakan bersalah. Semua sudah terbongkar, namun Dinda masih saja kekeuh dan tidak mau mengakui kesalahannya.


Tetap saja, kebenaran lebih penting. Dinda mendapatkan skors 4 minggu dan ancaman untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib, namun tiba-tiba Rani menghentikan hal itu.


"Maaf Dinda, sengaja atau tidak, yang kamu lakukan itu sudah termasuk tindak pidana. Kami sebagai perwakilan pihak sekolah harus membawa kamu ke pihak yang berwajib untuk mencegah hal seperti ini terulang."


Kata-kata Bu Desi membuat Dinda semakin gugup gemetaran saat ini. Bayang-bayang menjadi tahanan dan ejekan banyak orang membuatnya takut sendiri.


Tangan Bu Desi sudah memegangi Dinda siap membawanya keluar. Dinda hanya bisa menunduk menahan malu dan kesal saat semua akhirnya terbukti.


"Tunggu!"


Suara itu membuat semua mata memandangnya. Rani berdiri dan melepaskan pegangan tangan Bu Desi dari Dinda." Bu, bukankah jika pihak korban memaafkan semuanya, maka masalah ini bisa diselesaikan baik-baik bu?" tanya Rani to the point.


Bu Desi terkejut dengan pertanyaan Rani yang seperti itu, "Maksudnya apa Rani? Kamu mau Dinda nggak di hukum?" tanya Bu Desi spontan.


"Saya sama sekali nggak perduli pihak sekolah mau kasih dia hukuman apa, tapi jangan bawa dia ke kantor polisi. Cukup masalah ini di selesaikan dengan cara kekeluargaan saja bu."


Satu sisi Dinda adalah teman kecil Rani, namun disatu sisi Dinda memang benar-benar salah. Ayah Rani juga masih mengikuti alurnya, ia sebagai orang dengan profesi jaksa tak mau asal tuntut orang semaunya sendiri meskipun itu menyangkut masalah puterinya.


"Tapi ini hal yang fatal Ran, nggak bisa diselesaikan cuma seperti ini. Ini berkaitan dengan nyawa orang, harus sesuai jalur hukum! Ia harus diberi sanksi lebih dari Lisa, karena selain dia nyelakain kamu dia juga berusaha fitnah Lisa." bantah Bu Desi.


Ayah Rey ikut menyela menengahi, "Bu, biarkan Rani berbicara, sebagai korban dia juga punya hak untuk bersuara. Semua yang disini tetap kalah sama yang merasakan semuanya, Rani... Kamu pikir baik-baik nak, hal seperti ini nggak sepele. Kamu yakin semua diselesaikan hanya dengan kekeluargaan saja?" tanya Ayah Rey.


Rani mengangguk dengan berat hati, "lya om... Saya ingin selesaikan semua ini dengan kekeluargaan saja, kalau sekolah bebas memberikan sanksi apa aja untuk Dinda."


Semua orang didalam ruangan itu menghela nafas berat, kesal karena Rani membiarkan begitu saja perbuatan Dinda ini. Para pemegang saham yang lain pun tak terima, mereka takut kalau kedepannya Dinda juga berani mencelakai anak-anak yang lain. Hal itu pasti akan mencoreng nama baik sekolah.


Setelah mengambil keputusan bersama, Dinda diharuskan pindah sekolah jika tidak berurusan dengan polisi. Ayah Dinda benar-benar memohon agar Dinda tidak dipaksa pindah, tapi suara yang setuju lebih banyak.


"Bapak-bapak tolong tenang! Dari semua suara saya menyimpulkan, bagaimana jika Dinda akan pindah tapi setelah ujian semester nanti. Lagipula jika pindah sekarang tentu saja akan sulit untuk Dinda, tolong di mengerti yah." Ayah Rey mengusulkan sebuah saran.


Saran itu diterima cukup baik oleh yang lain, akhirnya mereka sepakat untuk memindahkan Dinda setelah ujian dilakukan. Wajah Dinda benar-benar pucat pasi saat ini, ia bingung bagaimana nanti harus menghadapi orang-orang diluar sana dan lebihnya lagi ayahnya. Kemarin saja belum pasti ia bersalah tapi ayahnya sudah semarah itu, apalagi sekarang.


Setelah pertemuan itu selesai, Dinda keluar dengan lemas. la berjalan seperti orang yang pikirannya kosong dan tidak fokus, saat ia melihat Rani ia langsung mengejarnya dan berterima kasih.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!