Love In Many Ways

Love In Many Ways
Acuh



"Jadi dia mantan kak Putra? Ya Allah kak kok bisa sih kak Putra putus sama dia, padahal kan kalo diliat-diliat dari atas sampe bawah dia itu udah mendekati kata sempurna loh. Nyesel sih pasti, ck ck ck..." Lisa menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Haih udahlah itu udah nggak penting juga. Apalagi kan kakak sekarang udah bahagia, udah bersyukur dan beruntung banget punya Felice."


"Iya sih tapi kok kak Putra bisa putus sama dia?"


Putra menghela napas sebentar, "Yah gimana lagi, pas lulus SMA dia harus ke luar negeri buat lanjutin pendidikan nya, yah yaudah kakak sama dia langsung udahan aja gitu plus pas kuliah kakak ketemu sama Felice jadi yaudah lanjut nya sama Felice."


Lisa hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Putra. Kalo di pikir-pikir hebat juga yah Putra, cepet banget ngelupain mantan nya dan langsung ketemu penggantinya. Lisa merasa kayak ada yang ngejanggal aja gitu apalagi mantan nya yang ini bisa di bilang hampir sempurna lah. Udah cantik, ramah, bodygoals, berkelas, pendidikan tinggi trus kaya raya lagi. Ada yang aneh aja gitu apalagi kalo diliat dari mimik wajah Putra, tapi yaudah lah nggak usah di pikirin. Toh itu privasi nya, ntar juga kalo dia mau cerita yah pasti taulah.


"Eh tapi beneran dia cantik, tapi kok kayaknya Lisa nggak suka sama dia nggak tau kenapa."


"Kenapa? Kalah cantik yah?"


"Iddih, nggak gitu." Jawab Lisa dengan wajah juteknya. "Eh btw kenapa ketemuan lagi? Reunian apa gimana nih?"


"Nggak. Nggak sengaja ketemu aja, udahlah biarin, yok bayar!"


Pandangan Lisa tertuju dengan beberapa buku yang ada di tangan Putra. "Kok beli buku yang kayak gini? Katanya buku buat belajar nanti."


"Lah iya. Kakak beli ini juga beli buku buat belajar juga kok. Nih ada beberapa, ntar buat kamu." Jawab Putra sambil menunjukkan beberapa buku.


"Yang buku pelajaran buat Lisa kan, trus komik segitu banyak buat siapa?"


"Hehehee klo yang ini buat kakak."


Lisa menatap tajam Putra, "Untuk?"


"Yah buat kakak baca lah. Otak kakak ini juga butuh hiburan tau, selama kakak kerja otak kakak tuh terasa penuh banget."


"Tapi kenapa sebanyak ini?"


Putra menghitung komik yang ada di tangannya. "Banyak apanya, ini cuma 7, dikit kok."


"Terserah kak Putra aja deh. Itu mahal loh kak, mubazir banget. Ntar kalo mau beli lagi dan udah nggak punya duit jual ginjal aja kak, Lisa dukung deh." Celetuk Lisa.


Putra menatap Lisa datar lalu mencubit pipi serta hidung Lisa dengan gemas. Sementara Lisa menatap Putra dengan tajam.


Tanpa mereka berdua sadari, Diska sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh. "Bertahun-tahun nggak ketemu, Putra masih sama aja kayak dulu. Pacarnya manis juga yah, pasti dia bahagia sama pacarnya sekarang... Huh, dulu aku juga salah sih, mutusin dia dan lebih fokus sama ambisi aku sendiri. Hmm tapi udahlah, semoga aja dia bahagia sama pacarnya yang sekarang..." Gumam Diska yang melihat Lisa dan Putra bergurau.


.


.


.


"Pengen beli? Ambil aja!" Ujar Putra.


"Lisa nggak bisa main ginian."


"Udah ambil aja, ntar belajar deh."


"Hm yaudah deh kalo kak Putra maksa." Tanpa pikir panjang Lisa langsung saja mengambil bola itu sesuai perintah Putra. Padahal ia tau kalau dirinya itu tidak bisa main bola basket.


...*****...


Putra membawa Lisa pulang ke rumah nya sementara agar Lisa bisa lebih tenang dan mudah menenangkan dirinya. Yah, ini juga permintaan Lisa sih, karena saat ini ia memang tidak ingin bertemu dengan Rey untuk sementara waktu. Mungkin karena masih emosi atau karena masih kecewa dengan Rey.


Saat mobil memasuki pekarangan rumah Putra, terlihat Rey sudah duduk menunggu di depan rumah nya.


Lisa yang semula senang tiba-tiba raut wajahnya berubah saat melihat Rey. Putra yang melihat perubahan ekspresi Lisa jadi semakin khawatir, ia khawatir kalau Lisa akan emosi dan akan marah lagi.


"Kamu nggak kenapa-napa kan dek?" Tanya Putra lembut.


"Nggak papa kak, yuk masuk ke dalam!"


Lisa keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Rey sama sekali yang tengah berdiri menatapnya. Ia bersikap seolah-olah tak orang disana. Ia benar-benar mengacuhkan Rey sepenuhnya. Ntah kenapa saat melihat Rey barusan, itu membuat rasa sesak di dada nya seketika dan seketika itu juga merubah mood nya.


Rey menatap kedatangan Lisa senang, "Cha, syukurlah kamu nggak papa. Aku khawatir banget sama kamu, seharian ini aku cari kamu kemana-mana. Kamu kemana aja? Tapi yaudahlah nggak penting, yang penting kamu nggak papa." Ujar Rey sambil tersenyum senang. Mata Rey terlihat memerah, dan ia terlihat di penuhi keringat yang bercucuran.


Namun, Lisa malah berjalan melewatinya dan bersikap seolah tidak melihat Rey yang baru saja berbicara padanya. Rey menarik tangan Lisa agar berhenti. "Icha, tunggu dulu! Aku pengen ngomong!" Pinta Rey.


Lisa memasang wajah datarnya, "Sorry gue butuh waktu, jadi tolong jangan ganggu gue! Tolong jangan buat gue semakin benci sama lo! Kehadiran lo saat ini malah buat perasaan gue semakin nyesek dan buat mood gue hancur. Selagi gue masih ramah, mending lo pergi aja! Kalo lo nggak mau pergi sekarang, gue yang akan pergi selamanya dari hidup lo dan gue pastiin lo nggak akan pernah liat gue lagi!" Ancam Lisa dengan tatapan mata yang dingin dan datar.


Mendengar ancaman Lisa barusan, Rey melepaskan genggaman tangannya perlahan dan ia mundur selangkah. Ia tau dalam kondisi seperti ini ia harus bertindak dengan hati-hati apalagi melihat Lisa yang sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan dengan emosi yang sulit ia kontrol. Rey hanya khawatir dengan keadaan Lisa sekarang terutama pada mental nya. Ia takut situasi ini malah mempengaruhi mental Lisa yang mudah down.


Rey menghela napas berat, "Yaudah tenangin diri kamu dulu. Aku pulang dulu yah, aku bakal balik lagi buat liat keadaan kamu. Kamu harus tetep semangat dan jangan pernah menyerah..." Pesan Rey pada Lisa.


Rey berbalik dan berhenti di depan Putra. "Kak, maafin Rey, Rey udah buat Lisa sedih kayak gini. Titip Lisa dulu yah kak, kalo situasi udah membaik, Rey jemput dia lagi!"


"Iya, kakak nggak salahin kamu kok. Kamu sabar dulu yah, Lisa juga perlu waktu buat nerima semua ini."


"Iya kak, Rey pergi dulu!" Rey pamit untuk pulang dan meninggalkan Lisa untuk saat ini agar situasi tidak semakin memburuk.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!