Love In Many Ways

Love In Many Ways
Gue



Selebihnya nggak bisa kebaca karena terlipat. Rasa penasaran menyergap otak Lisa.


Jadi selama ini Al juga menulis catatan seperti aku? Jadi dia juga sedang menyukai seseorang? Siapa? Siapa orang itu? Apa mungkin Sarah?


Tangan Lisa refleks bergerak menuju kertas itu.


Satu


Dua


Ti...


Hap! Terlambat!


Mendadak tangan Al meraih kertas itu duluan.


"Kamu nggak berhak melihatnya." Ucap Al ketus. Al menatap Lisa dengan pandangan tajam dan lurus.


Lisa buru-buru mengalihkan pandangan dengan degup jantung tak menentu.


.


.


.


Beberapa saat kemudian. Setelah pelajaran yang membosankan.


Tiinggg...


Tiinggg...


Bel istirahat akhirnya berbunyi juga. Pak Ilham menyelesaikan pelajarannya kemudian keluar kelas.


Sebagian siswa sudah melangkahkan kakinya keluar kelas.


"Lis, ke kantin yuk!" Sarah berdiri di samping Lisa yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


Lisa berdiri dari duduknya. "Yok!" Lisa berjalan duluan.


"Eh tunggu, gue mau di PJ yah!" Sarah berteriak sambil menyusul Lisa.


.


.


.


Di Kantin👈


Lisa duduk di salah satu meja menunggu Sarah sambil melamun memikirkan sesuatu. Sementara Sarah sedang mengantri makanan yang antriannya sepanjang rel kereta api.


Tiba-tiba datang sekelompok siswi yang menghampiri Lisa.


"Heh, lo kan yang nama nya Lisa?" tanya salah seorang siswi yang bernama Rani yang merupakan ketua dari kelompok itu. Rani juga termasuk salah satu siswi yang berpengaruh di sekolah tersebut karena Papanya merupakan Ketua Yayasan.


Merasa di panggil Lisa mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara.


"Lo kok jadi orang ganjen banget sih. Pake santet apa lo sampai Rey bisa nganterin lo ke sekolah?" Kata Rani lagi yang semakin nyolot. Dia juga sebenarnya menyukai Rey.


Lisa tak menghiraukan mereka, dia hanya bersikap acuh dan melanjutkan acara melamun nya.


"Songong banget sih lo jadi cewek, kita lagi ngomong serius sama lo. Lo budek apa gimana?" teman Rani yang bernama Gina juga mulai kesal karena sikap Lisa yang menyebalkan.


Lisa masih tak menanggapi dan masih melamun.


"Apa perlu gue bor telinga lo biar bisa denger?" Mila ikut bersuara.


"LISAAA!" Rani menggebrak meja tepat didepan Lisa.


"Lo dengar nggak sih dari tadi kita tuh ngomong sama lo." Geram Gina.


"Why?" Lisa menatap mereka dengan tatapan jengah.


"Lo ada hubungan apa sama Rey, gue tanya?" Tanya Rani.


"Emang harus yah gue ngelapor sama kalian?" Lisa balik bertanya.


"Heh lo tuh ya, di tanya malah balik tanya." Sahut Gina.


"Gue peringatin yah sama lo, lo nggak usah caper deh sama Rey. Rey tuh nggak pantes buat lo!" Kata Rani sambil menunjuk-nunjuk Lisa.


"Emang lo merasa pantes? Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue. Lo bukan siapa-siapa gue!" Kata Lisa dengan santainya.


"Gue berhak ngatur semua yang berhubungan sama Rey. Rey itu cuma milik gue, lo nggak usah deket-deket sama Rey. Lo nggak pantes buat dia, Rey itu pantesnya buat gue. Dan lo tuh nggak ada apa-apanya dibandingin gue, gue itu jauh lebih cantik lebih kaya dari pada lo. Jadi lo nggak usah ke Pede an de jadi cewek. Belagu bener!" Rani berkata dengan sinisnya.


"Gue juga nggak bisa dibandingin sih sama hewan liar. Emang yang pilihin Rey jodoh itu kalian? Rey itu berhak pilih sendiri siapa yang ingin dia pilih. Ini hidup Rey kenapa kalian yang ngatur? Kalian kalo iri sama gue bilang aja, nggak usah panjang kali lebar ceritanya!" Kata Lisa lagi.


"Iri? Iri lo bilang? Helloow! Dimana mana gue tuh lebih baik dari lo. Jadi lo nggak usah ke Pede an deh. Gue nggak mungkin iri sama manusia kayak lo." Ucap Rani dengan nada mengejek.


"Lisa!" Sarah datang menghampiri Lisa dengan dua mangkok mie ayam di tangannya, menatap Rani dengan teman-temannya dengan tatapan heran.


Sarah duduk di sebelah Lisa. "Ada apa?" Sarah berbisik pada Lisa.


"Nggak tau nih. Kayaknya mereka lepas deh dari Kebun Binatang!" Kata Lisa dengan nada berbisik juga.


"Bisa aja deh!" Sarah tersenyum mendengar lawakan Lisa yang garing.


"Mmm... udah ngomong nya? Gue mau makan nih?" tanya Lisa pada mereka.


"Belum! Gue belum selesai. Gue peringatin lo sekali lagi. Lo nggak usah deket-deket sama Rey, lo harus jauhin Rey. Kalo nggak gue bakal buat lo nyesel seumur hidup." Kata Rani dengan nada mengancam.


Mendengar ucapan Rani, Sarah langsung naik darah.


Prak...


Sarah menggebrak meja kemudian berdiri dari duduknya. "Lo siapa berani ngatur-ngatur Lisa? Lo nggak punya hak yah. Oh gue tau, lo suka kan sama Rey? Sini biar gue kasih tau, Rey itu suka nya sama Lisa bukan sama lo. Jadi yang harus ngejauh itu ulat bulu yang mau ngerusak hubungan Lisa sama Rey."


"Gue nggak ngomong yah sama lo, gue ngomong nya sama Lisa. Emang siapa sih yang bilang kalo Rey sama Lisa ada hubungan?" Tanya Rani.


"Gue! Nggak denger lo? Barusan gue bilang kan? Lu budek apa gimana?" Tanya Sarah dengan sinis.


Lisa tak mengatakan apapun, dia hanya makan dan mendengarkan perdebatan antara Sarah dan Rani. Lisa tau kalau emosi Sarah sudah meledak, sangat sulit untuk menenangkannya.


"Lisa? Rey? Ada hubungan? Mimpi kali yeee. Sejak kapan Rey mau sama cewek kayak dia? Rey tuh nggak pantes sama dia? Kalian nggak usah deh nyebarin hoax yang bakal malu-maluin diri kalian sendiri." Ucap Rani dengan nada mengejek.


"Siapa sih yang nyebarin hoax? Lo nya aja yang nggak bisa nerima kenyataan. Rey itu lebih milih Lisa dari pada lo. Gue harus pake bahasa apa biar lo bisa ngerti? Gue bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Bahasa Mandarin sedikit, atau gue Bahasa Binatang aja biar lo ngerti. Hadduhh gue gerah banget nih. Kalian mending pergi aja deh. Mama gue bilang sama gue kalo gue nggak boleh deket-deket sama binatang." Kata Sarah sambil kembali duduk dengan santainya.


"Lo..!" Gina merasa semakin kesal dengan omongan Sarah. Gina hendak angkat bicara tapi dicegah oleh Rani.


"Oke, gue tanya sekali lagi. Emang bener Lisa sama Rey usah jadian? Atau kalian nya aja yang lagi nge halu, halunya lancar jaya sampai tingkat dewa yah. Siapa sih yang bilang kalo Lisa sama Rey itu ada hubungan?"


"Gue!" Tiba-tiba seeorang menjawab sebelum Sarah akan bicara. Semua pandangan beralih ke arah sumber suara yang menghampiri mereka.


"L-lo?" Rani dan teman-temannya menatap dengan tatapan tak percaya.


"Kan? Apa gue bilang?" Sarah mengejek.


Rey menghampiri mereka. "Kalian nggak usah Bully Lisa karena Lisa itu emang bener pacar gue. Dan semua yang diucapin Sarah tuh semuanya bener!" Rey berjalan dan duduk di tepat di depan Lisa mereka saling berhadapan. Lisa hanya melotot tak percaya bahwa Rey mengatakan itu.


"Dan tolong bilangin sama anak-anak lain bahwa siapa pun yang berani jelek-jelekin Lisa bakal berhadapan sama gue, gue nggak bakal tinggal diem aja!" Ucap Rey dengan tegas.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!