
Lisa buru-buru menyimpan kembali buku dan foto itu di tempat nya semula. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci nya. Di dalam sana Lisa menangisi sejadi-jadi nya.
Sarah aku sayang sama kamu. Sayang banget. Kenapa, Rah? Kenapa kamu harus kayak gini? Kenapa kamu harus ngorbanin perasaan kamu? Kenapa kamu harus ngerelain Al? Dan, dan kenapa saat itu kamu harus berbohong?
Kamu begitu pandai bersandiwara saat itu.
Kamu terlihat baik-baik saja dan dengan mudahnya kamu mengatakan kalo kamu cuma pura-pura suka sama Al, dan hanya untuk membantu nya untuk jadian sama aku? Gimana perasaan kamu saat itu? Gimana hancur nya kamu? Aku bener-bener teman nggak guna! Nggak tau diri! Bisa-bisa nya bahagia di atas penderitaan orang lain. Dan selama ini Sarah memendam perasaan itu, cuma buat ngebahagiain aku sama Al. Kenapa sih aku ini, jadi orang nggak peka banget!
"Hiks... hiks..." Lisa menangis sambil menutup mulutnya, tak ingin bersuara. Takut Ghea yang berada di luar mendengarnya.
Maafin aku, Rah! Aku bener-bener minta maaf. Aku bener-bener nggak nyangka kamu beneran suka sama Al. Dan sekarang... Rasanya aku sudah memastikan, tentang keputusan apa yang akan aku ambil.
Ak**u bener-bener bingung. Aku bingung harus berbuat apa?! Daddy ingin menikahkan ku dengan Rey sedangkan aku udah bahagia dengan Al. Aku harus memilih antara permintaan Daddy atau kebahagiaan ku dengan Al.
"Hiks... hiks..." Suara isakan tangis terdengar sangat-sangat memilukan.
"Hoi bangun!" Teriak seseorang dari kamar Sarah. Ternyata Sarah dan Mira sudah pulang.
Terdengar percakapan di antara para manusia di dalam kamar.
Lisa yang mendengar bahwa Sarah dan Mira sudah pulang, langsung menyudahi tangisan nya. Dia menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan nya. Lalu mencuci wajahnya dengan agar tak terlalu terlihat bahwa dia telah menangis.
Cklek!
Lisa membuka pintu kamar mandi, dan terlihat lah Sarah, Mira dan Ghea sedang berada di sana. Semua mata memandang ke arah Lisa, seketika aktifitas mereka terhenti, Mira dan Ghea sedang berebutan cemilan dan Sarah sibuk menyalakan tv. Semua memandang Lisa dengan tatapan kaget.
Lisa yang menyadari diri nya jadi pusat perhatian. Langsung memulas senyum tipis.
Sarah berjalan mendekati Lisa yang masih berdiri di depan pintu. "Lisa... Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan? Kok mata kamu bengkak gitu, trus merah juga? Kamu habis nangis? Siapa yang buat kamu kayak gini? Siapa yang bikin kamu nangis?" Tanya Sarah beruntun.
Mira dan Ghea masih menatap Lisa heran.
Lisa terdiam tak menjawab, dia tak tau harus menjawab apa.
Sarah yang melihat Lisa hanya terdiam pun semakin khawatir. "Lisa... Kenapa? Kamu kenapa? Cerita sama kita!"
Lisa menatap Sarah dengan tatapan sendu. Gimana aku harus cerita sama kamu? Kamu begitu baik sama aku, sangat-sangat baik. Tapi, kenapa aku harus jahat sama kamu. Maafin aku, Rah.
"A-aku... Aku..." Lisa berusaha berucap namun tak tau harus berkata apa.
"Kenapa, Lisa?" Sarah memegang pundak Lisa berusaha menenangkan. "Yaudah kita duduk dulu!" Sarah menuntun Lisa untuk duduk di tempat tidur. Lisa duduk diantara Mira dan Ghea. Sarah duduk di samping nya.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Mira.
"Cerita dong sama kita!" Pinta Ghea.
"Daddy kenapa? Daddy nggak papa kan?" Tanya Sarah penasaran.
"Daddy sakit, udah dua hari Daddy sakit... Hiks..." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Lisa kembali menangis. Bukan karena dia berbohong, tapi karena mengingat tulisan Sarah dalam buku harian nya. Dia merasa sangat bersalah pada sahabatnya tersebut.
"Hush, nggak usah nangis. Daddy kamu pasti baik-baik aja kok!" Ucap Mira sambil mengusap pundak Lisa berusaha menenangkan nya.
"Iya, Daddy nggak bakal kenapa-kenapa kok. Percaya deh sama kita!" Sambung Sarah.
"Udah nggak usah nangis. Katanya Lisa kuat." Kata Ghea.
"Aku takut aja, hiks. Daddy bakalan ninggalin aku... hiks..." Ucap Lisa tersedu-sedu. Kini dia menangis bukan karena Sarah lagi tapi lebih tepat nya saat dia mengingat keadaan Daddy nya saat ini. Sungguh dia tak bisa membayangkan jika Daddy nya harus pergi.
"Nggak usah ngomong kayak gitu. Daddy pasti sembuh kok, kamu harus doa in yang baik-baik." Ucap Sarah lagi.
"A-aku hiks, aku takut...hiks. Aku nggak mau sendiri..."
"Di keluarin semua nya! Nggak papa kok, jangan di tahan!" Pinta Ghea. Seolah-olah dia mengerti dengan apa yang di rasakan Lisa dan dia juga pernah mengalami nya. Ghea ingat, waktu dia mengalami keterpurukan juga. Tapi beda nya, Ghea itu kuat, dia bisa mengatasi semua nya sendiri, dan dia juga agak cuek dengan masalah. Saat terpuruk pun dia bisa melalui nya sendiri. Jadi yaaa enjoy aja. "Pasti dada kamu agak sesak kan? Kamu tau kenapa? Itu karena selama ini kamu nahan semua beban kamu. Akhirnya sekarang kamu bisa, keluarin semua nya! Biar kamu lega."
Mendengar ucapan Ghea, tangisan Lisa semakin menjadi-jadi. Dia kembali mengingat semua beban-beban pikiran nya, mengingat Daddy nya yang sedang sakit, mengingat permintaan Daddy nya, mengingat hubungan nya dengan Al dan yang paling sakit adalah sat mengingat pengorbanan Sarah.
Melihat Lisa semakin tak bisa mengontrol emosi nya, Sarah berusaha menenangkan dengan memeluk nya. Mira dan Ghea ikut memeluk Lisa. Akhir nya terjadi lah peluk-memeluk, hwaaa...
Semua terdiam, yang terdengar hanyalah isak tangis dari Lisa. Lisa benar-benar mengeluarkan semua sesak yang ada di dada nya. Sarah, Mira dan Ghea hanya diam sambil memeluk Lisa, mereka memejamkan mata nya.
"Udah yah. Kamu tidur aja!" Sarah melepaskan pelukan nya begitupun dengan Mira dan Ghea.
"Kamu istirahat aja. Atau mau makan apa gitu?" Tanya Mira.
"Mau cemilan?" Tanya Ghea. "Sarah sama Mira beli banyak banget. Noh liat!" Ghea menunjuk ke arah meja belajar, yang terlihat ada beberapa kantung plastik. Mungkin is nya cemilan semua.
Lisa menggeleng sambil mengusap sisa-sisa air mata nya. "Aku mau tidur aja." Lisa naik ke atas tempat tidur, dan merebahkan diri nya, dia memiringkan tubuh nya ke arah kiri.
Sarah langsung menyelimuti tubuh Lisa dengan selimut yang hangat. "Selamat tidur." Ucap Sarah pelan.
Mendengar suara itu, air mata Lisa kembali jatuh dengan perlahan membasahi pipi nya.
Lisa memejamkan mata nya, namun dia tak benar-benar tidur. Bukti nya dia masih bisa mendengar percakapan teman-temannya.
"Jadi gimana? Kita nonton atau langsung tidur?" Tanya Ghea dengan suara pelan.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!