
"Iiihh Al bisa aja. Aku kan jadi malu." Ucap Sarah dengan tersenyum malu-malu.
Lisa tersenyum melihat tingkah Al dan Sarah, dia jadi ingat betapa hebatnya Al yang selalu ngegombal dulu, pasti dia juga selalu melakukan hal itu pada Sarah.
Dan satu hal yang di sadari Lisa. Dia tak merasakan apa-apa saat melihat Rey dan Sarah kayak gini. Rasa cemburu yang dulu selalu hadir kini sudah tak di rasakan lagi begitupun dengan rasa sakit itu. Yang ada hanya rasa yang ikut bahagia dan senang melihat kedua insan tersebut.
"Ya Allah tolong lah hamba mu ini, jangan pernah biarkan ke uwuan seperti ini terus berlanjut di depan mata hamba ya Allah. Mata hamba ternoda ya Allah. Dan segeralah kirim kan jodoh untuk hamba agar tidak jadi jones ya Allah..." Sahut Mira dengan lebay.
"Iya tuh, pamer terooss, serasa dunia milik berdua. Hahahaaa..." Sambung Lisa sambil tertawa dan diikuti oleh Mira.
Nah kan wajah Sarah makin merah semerah tomat. Kan dia malu jadi nya guys. Kalau Al sih biasa aja, buktinya dengan santainya dia melanjutkan catatannya tanpa mempedulikan ledakan mereka.
.
.
.
Lisa berjalan ke arah belakang gedung sekolah. Karena hari ini jam kosong karena semua guru ada rapat. Niatnya sih dia ingin menenangkan diri aja di belakang sekolah. Karena belakang sekolah ada tempat yang tenang, nyaman dan damai. Dan yang paling pasti tidak akan ada orang di sana.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat ada dua orang disana. Seorang wanita dan seorang lelaki yang tampak asing di matanya. Gimana nggak? Lelaki itu memakai seragam yang berbeda dengan seragam sekolah nya Lisa. Lisa berinisiatif untuk bersembunyi dulu, dia ingin melihat dan mendengarkan apa yang di dibicarakan oleh keduanya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri wanita itu dengan keras. Jujur, saat melihat adegan itu Lisa meneteskan air matanya. Sungguh dia tak sanggup melihat kekerasan seperti ini terjadi apalagi itu pada seorang wanita... Terlihat wanita itu memegang pipi nya yang menyisakan bekas merah tapi aneh nya dia masih bisa bertahan buktinya aja dia tak menangis sama sekali. Padahal membayangkan nya saja rasa tamparan itu sangat sakit.
"Lo gimana sih? Gue tuh cuma minta sedikit aja, pelit banget!" Sahut lelaki itu dengan emosi.
"Tapi gue bener-bener nggak punya duit sekarang, Papa gue udah nggak percaya sama gue, katanya gue cuma bohong trus dia menyita semua yang gue punya."
"Halla itu pasti cuma alesan lo doang kan. Lo itu selalu pelit, gue minta duit dikit aja lo banyak alesan. Lo mau gue putusin?"
"Jangan..."
"Yaudah kalo gitu kasih gue duit. Lo tau kan gue ini banyak yang suka, gue bisa cari yang lebih baik dan lebih kaya dari lo."
"Jangan tinggalin gue.... Gue sayang sama lo. Pliiiss, gue janji gue akan segera ngasih lo duit tapi bukan sekarang."
Plak!
Tamparan keras kembali mendarat di pipi kanan si wanita. Kini dia mulai menangis, ntah itu karena rasa sakit dari tamparan itu atau karena pacar nya mengancam akan memutuskan dirinya.
"Lo modal sayang doang nggak bakal cukup. Gue perlu duit lo sekarang. Dari kemaren lo cuma janji-janji doang..."
Lisa yang sudah tak tahan melihat wanita tersebut akhirnya memutuskan untuk segera menghampiri keduanya. "Ada apa ini?" Tanya Lisa dengan tenang.
Semua pandangan mengarah pada Lisa. "Wah wah siapa ini? Cantik juga." Lelaki itu memperhatikan penampilan Lisa dari bawah ke atas dengan tatapan yang menurut Lisa itu menjijikkan.
"Owh galak juga yah, bagus-bagus. Seneng gue sama cewek kayak gini gue serasa tertantang, tapi yah gue harus selesaiin masalah gue dulu sama nih cewek satu." Ujarnya sambil melihat ke arah wanita yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang pipi nya. "Jadi sekarang mau lo gimana? Lo kasih gue duit yang gue minta atau kita udahan aja?" Tanya nya.
"Nggak, gue nggak mau putus. Gue janji gue bakalan kasih lo duit."
"Halla lo cuma janji doang, gue butuh duit nya sekarang."
"Tapi gue nggak punya duit untuk sekarang." Jawaban dari wanita tersebut membuat lelaki tersebut emosi.
"APA LO BILANG?!" Bentak lelaki tersebut.
"Jangan kasar dong jadi cowok." Sela Lisa.
Lelaki tersebut terlihat menghela napas dengan kasar. "Cewek cantik nggak usah ikut campur yah. Ini urusan gue sama dia. Kalo lo nggak mau kena juga mending lo pergi aja."
"Oke gue pergi, tapi gue bawa dia." Lisa memegang tangan wanita tadi.
"Dia itu pacar gue, jadi yah terserah gue mau ngapain dia. Bukan urusan lo!" Lelaki tersebut melepaskan genggaman tangan Lisa pada pacarnya dengan kasar.
"Iya emang dia pacar lo. Tapi bukan berarti dia milik lo yang lo bisa apain aja. Dia ini masih pacar lo kan? Bukan istri lo? Jadi dia masih bukan hak lo sepenuhnya. Lo cowok bukan sih?! Kasar banget sama cewek, se umur hidup gue baru nemu cowok kayak lo!" Ucap Lisa dengan ketus. Ya emang Lisa baru aja bertemu dengan cowok kasar kayak dia , selama ini Lisa selalu bertemu dengan lelaki-lelaki yang selalu lembut dan selalu memanjakan dirinya.
"Heh, gue udah cukup sabar yah sama lo karena lo cantik. Jadi lo nggak usah nguji kesabaran gue." Sahut lelaki itu.
"Oh jadi lo cuma ngehargai cewek dari paras nya yang cantik doang? Lo tuh anak sekolah mana sih, nggak diajarin tata krama?! B***ngan lo!" Sahut Lisa.
"Berani nya lo ucapin kalimat kayak gitu ke gue. Cantik doang asli nya cewek m*rahan!"
Amarah lelaki tersebut memuncak mendengar ucapan Lisa yang terdengar merendahkan nya. Baru kali ini ada cewek yang berani bentak-bentak dia lebih parahnya merendahkan nya. Lelaki tersebut melayangkan tangan kanan nya hendak memukul Lisa. Refleks Lisa menutup matanya, bersiap untuk merasakan rasa sakit dan ngilu yang akan segera dirasakannya.
Satu...
Dua...
Tiga...
Eits, nggak jadi. Tangan lelaki tersebut di tahan oleh tangan seseorang. Semua mata memandang pada lelaki yang baru saja datang ntah dari mana. Matanya terlihat merah menahan amarah.
"Rey?" Gumam Lisa saat melihat sosok yang telah menyelamatkan nya dari pukulan lelaki tersebut.
Rey terlihat mencengkeram tangan lelaki tersebut dengan sangat keras dan penuh emosi. "Jangan pernah sentuh pacar gue!" Ujar Rey dengan dingin. Membuat semua telinga yang mendengarnya akan merinding. Serasa ngeri gitu.
Lisa memandang wajah Rey, matanya benar-benar memerah, mungkinkah saat ini Rey sedang menahan amarahnya yang terlihat memuncak? Mungkinkah dari tadi Rey melihat semua adegannya, sehingga dia bisa semarah ini?
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!