Love In Many Ways

Love In Many Ways
Married



Setelah satu minggu berlalu, tiba hari dimana pernikahan dilaksanakan. Lisa masih berada di kamarnya, menatap bayangan nya di cermin sambil asyik berlabuh dengan pikiran nya sendiri.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Lisa.


"Nak, Mommy masuk yah!" Ucap Mommy Lisa dari balik pintu.


"Iya, Mom."


Mommy membuka pintu kamar dan melihat Lisa masih duduk dengan wajah muram. Mommy menghampiri Lisa lalu mendekap bahu nya dari belakang. "Nak... Ayo turun. Semua orang udah nunggu."


"Mom, Lisa gugup."


"Lisa berusaha tenang, yah. Ayo turun!" Ajak Mommy.


Lisa melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan pelan dan pasti. Jantung nya dag-dig-dug serr tak karuan, kaki nya serasa lemas dan pikiran nya sama sekali tak karuan.


Semua mata memandang ke arah Lisa. Termasuk Rey. Mata Rey terpaku pada keindahan ciptaan Tuhan di depan mata nya. Jantung Rey berdegup kencang saat melihat penampilan Lisa.


Ya Tuhan cantik sekali. Apakah benar dia akan jadi istri ku?



Lisa duduk di samping Rey. Mereka berdua saling menatap canggung. Benar-benar canggung. Rey berusaha tenang, lalu memulas senyum pada Lisa, jangankan membalas senyum itu, Lisa sepertinya sama sekali tak mempedulikan nya.


Semua terlihat bahagia, yaaa mungkin hanya Lisa yang tak bahagia sama sekali. Dia terlihat sangat-sangat muram, terlihat jelas dari mimik wajahnya bahwa dia sedang sedih saat ini. Pernikahan ini memang tak semeriah pernikahan Putra dulu, pernikahan ini di laksanakan di rumah mempelai wanita. Yang di undang pun hanya beberapa tamu inti. Rencana nya setelah lulus sekolah nanti baru di adakan acara resepsi nya. Daddy yang duduk di atas kursi roda terlihat sangat bahagia melihat anak bungsu kesayangan nya menikah.


"Oke bisa kita mulai?" Ucap Pak penghulu.


"Ya silahkan."


Pak penghulu mulai menjabat tangan Rey. Sudah siap?" Tanya nya pada Rey.


"Bismillah siap." Ucap Rey yang sedang gugup namun berusaha tenang.


Pak penghulu mengangguk tanda mengerti. "Bismillahirahhamirahim, saya nikahkan dan kawinkan..." Mohon maaf ya para readers Author nggak tau ucapan selanjutnya, jadi readers bisa bayangin sendiri nanti nya😂


"SAH..." Sahut semua orang.


"Alhamdullilah..."


"Kedua mempelai memasangkan cincin nya."


Rey yang tangan nya bergetar berusaha amat keras memasangkan cincin tersebut pada jari Lisa. Begitupun sebalik nya, Lisa yang dari tadi jantung nya lompat keluar tangan nya begitu gemetar saat memasangkan cincin di jari Rey.


"Alhamdulillah..."


"Selamat yah..."


"Pengantin baru nih..."


Banyak sorakan bahagia dari keluarga kedua mempelai. Setelah itu mereka bersalam-salaman dengan semua keluarga untuk meminta restu serta doa. Lisa dan Rey lebih dulu menjabat tangan Daddy yang sedari tadi sudah menitikkan air mata haru. "Jadi istri yang baik yah, nak. Princes Daddy harus nurut sama suami." Daddy mencium puncak kepala Lisa dengan lembut.


"Iya, Dad." Jawab Lisa.


Rey juga menjabat tangan Daddy. "Tolong jaga anak, Daddy. Daddy percaya sama kamu, nak."


"Iya, Dad."


Lisa memeluk Mommy nya yang juga menitikkan air mata. "Yang bahagia yah, nak."


Rey dan Lisa menyalami Ayah dan Bunda. "Selamat menempuh kehidupan baru yah, nak."


"Lisa di jaga, sekarang dia udah jadi istri kamu berarti dia tanggung jawab kamu."


"Ayah percaya kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab."


Begitu pun seterusnya sampai selesai, Lisa dan Rey menyalami semua keluarga nya.


Acara ini di akhiri dengan acara makan-makan. Setelah acara selesai, keluarga hanya berbincang-bincang sampai hari mulai gelap.


"Kalian akur, yah. Besok hari terakhir kalian libur kan? Kalian nginep di sini dulu satu minggu." Ucap Bunda.


"Nggak papa. Toh rumahnya juga deket, tuh di seberang."


"Kita tetanggaan yah, udah jadi jadi besan. Hahaa..."


"Iya kak Rey nginep dulu di sini, kamu jangan nakal!" Pesan Rey pada adik nya.


"Siap Pak Bos." Jawab Aqeela.


"Kita pulang dulu yah. Rey, di jaga istri nya!" Pesan Bunda.


"Iya Bunda." Jawab Rey.


"Kita pulang yah besan." Gurau Bunda.


"Hahaa... Iya. Hati-hati yah."


"Daahh..." Aqeela sempat melambaikan tangan nya sebelum benar-benar berlalu pergi.


"Dad, Mom. Putra juga mau pulang yah." Pamit Putra.


"Pulang?"


"Mau pulang ke rumah mertua. Putra sama Felice mau nginep dulu di sana."


"Oh yaudah, hati-hati."


"Jangan lupa pulang ke sini." Pesan Daddy.


"Iya, Dad." Putra menyalami kedua orang tua nya begitupun dengan Felice.


Putra menepuk bahu Rey dan memberi pesan. "Jagain adik ku yang tersayang ini, kakak percaya sama kamu."


Rey tersenyum. "Iya kak."


Lalu Putra memeluk Lisa dengan hangat. "Selamat menempuh hidup baru. Yang nurut sama suami, tetap jadi Bolot ku yang paling menggemaskan. Oke?"


Lisa mengangguk mengiyakan. "oke, Kang. Jangan lupa pulang ke sini."


Putra melepaskan pelukan nya. "Oke. Felice yuk pulang."


Felice mengangguk dengan patuh, dan mengikuti langkah suami nya keluar.


"Lisa, ajak suami kamu masuk ke kamar, segera mandi dan istirahat lah." Pinta Mommy.


"Oke, Mom." Jawab Lisa. "Rey, yuk masuk." Kata Lisa dengan nada datar. Lalu dia berjalan duluan menaiki tangga.


"Rey masuk kamar dulu yah." Ucap Rey berpamitan, lalu menyusul Lisa.


.


.


.


Rey membuka pintu kamar dengan sangat pelan, seolah takut akan mengganggu penghuni nya di dalam. Dia melihat Lisa sedang berdiri di jendela kamar dan memandang ke arah luar. Dia berjalan mendekati sosok yang di balut dengan gaun yang indah itu. Namun, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah nya. "Jangan mendekat!" Ucap Lisa dengan dingin, tanpa menoleh sama sekali.


"Icha..." Panggil Rey. Rey kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Lisa.


Icha adalah nama panggilan Lisa dari kecil. Rey selalu memanggilnya dengan nama itu.


"Aku bilang jangan mendekat!" Ucap Lisa lagi. Kali ini ucapan nya dia tekan kan.


Rey terlihat khawatir pada Lisa. "Kamu nggak papa?"


Tak ada jawaban, Rey kembali bertanya dari jauh. "Kamu nggak papa kan, Cha?"


"Aku butuh sendiri!" Ujar Lisa dengan nada datar.


Rey yang tak ingin membuat Lisa tak nyaman dengan kehadiran nya, akhir nya mengalah. Rey paham akan kondisi Lisa saat ini karena dia juga merasakan nya. Dia lebih memilih untuk segera mandi dan ingin segera beristirahat.


Setelah mengetahui bahwa Rey sudah masuk ke dalam kamar mandi, Lisa sudah tak dapat menahan tangisan nya lebih lama lagi.


Lisa menangis tertahan, mulutnya dia tutup agar tak terdengar oleh siapa pun. Mata nya yang memandang keluar jendela terus mengeluarkan air mata yang sangat deras, melebihi hujan. Wah bisa banjir ini...


"Hiks... hiks..." Lisa terus menangis sesegukan. Ingin rasa nya dia mengeluarkan semua kepedihan yang ia rasakan saat ini. Apalah daya nya, semua sudah terjadi dan dia pun tak bisa mengubah nya. Jangan kan mengubah, menolak saja dia tak bisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!