
Merasa Lisa sudah agak tenang. Rey melanjutkan ucapan nya. "Aku bisa ngerasain perasaan kamu saat ini. Kamu nggak boleh pendam semua nya sendiri. Sekarang kan ada aku, Daddy nikahin kita karena dia ingin aku ngejaga kamu, itu amanah dari Daddy. Ya walaupun aku tau kamu sangat benci aku, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu. Kamu jangan pernah merasa sendiri, aku siap buat berbagi semua beban kamu, semua kesedihan kamu, semua masalah kamu, semuanya kita hadapi bersama, itu semua udah jadi tugas aku."
Rey terdiam sejenak, memikirkan kalimat apa yang harus dia katakan lagi biar Lisa bisa tenang. "Aku siap jadi sandaran kamu, kamu boleh cerita apapun dan kapan pun kamu mau, aku selalu siap. Jadi sekarang kamu tenang yah, jangan sedih lagi. Kalo kamu kayak gini terus aku ngerasa udah gagal jadi suami buat kamu." Rey melepaskan pelukan nya kemudian menatap kedua mata Lisa yang terlihat bengkak dan me merah. "Udah jangan nangis lagi, sekarang kamu tidur yah, ini udah larut malam." Rey memperbaiki bantal Lisa dengan telaten.
"Udah Rey! Gue bisa sendiri. Sekarang lo pergi aja, gue mau tidur." Ujar Lisa dengan nada suara dingin.
Rey tak ingin membuat Lisa merasa tak nyaman dengan kehadiran nya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rey melangkahkan kaki nya dan kembali duduk kursi yang dia duduki tadi, lalu meraih beberapa kertas.
Pandangan nya tertuju pada Lisa yang sedang berusaha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut kemudian berbaring. Saat melihat Lisa sudah tak bergerak lagi, baru Rey melanjutkan bacaan nya tadi.
~Dengan Caraku~
Tak mengerti apa yang telah terjadi
Kau tak lagi sama, engkau bukan engkau
Yang selalu mencari dan menelponku
Dering darimu tak ada lagi
Walau kau menghapus menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah, aku kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
Tak mengerti, mengapa engkau membisu
Kau tak lagi sama, engkau bukan engkau
Sampai aku ragu untuk menelponmu
Mengerti kah kamu aku rindu kamu
Walau kau menghapus menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah aku kan bertahan
Disepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
Aku tak suka bila hoo
Kau selalu dekat dengannya hooo
Jangan engkau cemburu
Dia hanya sahabat di kelasku
Walau kau menghapus menghempas diriku
Mengganti cintaku (Mengganti cintaku)
Semua tak mampu hilangkan cinta (Semua cinta yang kau beri)
Yang telah kau beri (Semua cinta yang kau beri)
Walau kau berubah aku kan bertahan
Disepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
Walau kau menghapus menghempas diriku
Mengganti cintaku (Tak akan mengganti)
Semua tak mampu hilangkan cinta
Walau kau berubah aku kan bertahan
Disepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
Tak usah cemburu
Aku tak ingin kita berpisah karena ini
Biarkan aku selalu untuk mencinta
Untuk selamanya
.
.
.
"Daddy..."
"Daddy mau kemana?"
"Daddy jangan tinggalin Lisa!"
Rey yang sedang tertidur, mendengar suara itu samar-samar. Rey nmengucek matanya perlahan, lalu menoleh pada Lisa yang berada di samping nya. Kayaknya Lisa lagi ngigau, benar saja matanya tertutup itu berarti dia masih tidur tapi mulutnya tak berhenti memanggil Daddy nya.
Rey menghela napas berat. Sungguh dia sangat sedih melihat keadaan istri nya saat ini. Lisa seperti nya belum bisa mengikhlaskan sepenuhnya almarhum Daddy. Sampai-sampai dia kebawa mimpi. Rey tau dan Rey paham bagaimana kedekatan Lisa dengan Daddy.
Rey mendekat pada Lisa kemudian mengusap kepalanya dengan lembut. "Hush, Cha..." Rey mengusap kepala Lisa dengan pelan, sebagaimana yang sering di lakukan oleh Daddy saat akan menidurkan puteri kesayangan nya. Dan benar saja perlahan-lahan Lisa kembali terlelap, mulutnya sudah diam dan tak bergerak lagi. Napas nya juga sudah mulai teratur.
Melihat Lisa sudah terlelap, Rey kembali pada posisi nya dan kembali tertidur. Sungguh dia sangat lelah, banyak hal yang harus dia lakukan dan urus, mulai dari tugas nya sebagai Ketos di sekolah, menyusun dan mengontrol semuanya agar tetap berjalan dengan baik, dia juga harus mengurus dan menjaga istri nya yang keras kepala. Dan masih banyak lagi, semangat Rey.
.
.
.
"Icha ayo bangun. Ntar kita telat kesekolah!" Rey menepuk-nepuk bahu Lisa dengan pelan. "Cha, ini udah hampir jam 7 loh. Ayo bangun..." Ujar nya dengan lembut.
"Ck." Lisa berdecak kesal. Ada pergerakan sih, namun Lisa malah menutup wajahnya dengan bantal, kemudian melanjutkan tidurnya.
Rey menghela napas berat. "Icha ayo bangun."
"Gue nggak mau ke sekolah Rey!" Sahut Lisa dengan kesal.
"Kenapa?"
"Ck, kalo gue bilang nggak mau yaaa nggak mau. Gue sekolah nya besok aja. Gue masih bad mood."
Rey mengangguk mengerti. Dia paham mungkin Lisa butuh waktu untuk sendiri. "Yaudah kalo gitu. Ntar aku izinin sama wali kelas. Tapi kamu jangan lupa makan yah, trus jangan lakuin hal aneh-aneh!" Pesan Rey.
"Iya. Bawel banget sih, udah sana gih pergi gue mau tidur lagi!"
"Yaudah aku berangkat yah." Rey beranjak mengambil tas nya kemudian keluar kamar.
"Terserah!" Sahut Lisa judes.
Setelah kepergian Rey, Lisa lansung bangun dan berlari ke dalam kamar mandi. Setelah semua nya beres Lisa turun ke lantai bawah, niat nya sih mau ngambil cemilan banyak-banyak.
"Loh? Lisa kok nggak masuk sekolah?" Sialnya saat ingin kembali ke kamar nya, dia malah berpapasan dengan Mommy.
"Hehee...Lagi nggak mood, Mom. Lisa lagi mager."
"Trus mau ngapain? Kok cemilan nya banyak banget?" Mata Mommy melirik ke arah tangan Lisa yang penuh dengan cemilan.
"Lisa mau nonton di kamar, Mom."
"Oh yaudah, kalo gitu Mommy kerja dulu yah kamu baik-baik di rumah."
"Oke, Mom."
Lisa langsung berlari masuk ke dalam kamar nya. Meletakkan cemilan di atas kasur, Lalu menutup semua tirai. Ini Lisa mau nonton atau mau main petak umpet sih?
Setelah semua nya sudah beres, Lisa menyalakan TV dan duduk di atas kasur sambil ngemil. Film yang dia tonton sejenis film action. "Nah kan kalo gini nama nya mantap jiwa, nggak ada yang ganggu, nggak ada si Macan tutul yang bawel itu, heran deh kenapa sih muka nya dia itu ngeselin banget." Gumam Lisa sembari mengunyah. Matanya memang tertuju pada TV tapi tidak dengan pikiran nya. Lisa yang merasa agak bosan, memilih untuk rebahan. Dia benar-benar guling-guling di atas kasur itu. Tanpa dia sadari, perlahan matanya terasa berat, ah mungkin mau tidur lagi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!