
"Gimana? Suka?" Tanya Rey.
Lisa yang mulutnya di penuhi makanan hanya bisa mengangguk antusias. "Suka banget." Jawabnya. Lalu kemudian ia kembali menyendokkan mulutnya dengan makanan.
Rey menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ya ampun makan nya pelan-pelan, Cha."
"Hehehee... Laper Rey. Ini makanannya juga banyak banget..." Sahut Lisa bersemangat.
Mereka berdua sedang berada di sebuah Restoran yang ternama. Rey sengaja membawa Lisa dan memesankan nya banyak makanan agar Lisa senang. Yah kayaknya akhir-akhir ini Lisa sangat suka dengan makanan dan Rey menyadari itu.
Tiiingg...
Ponsel Rey tiba-tiba berbunyi, menandakan seseorang telah mengiriminya pesan.
Dinda!
Hai Rey...
Lagi ngapain?
Rey mengerutkan kening nya bingung, yah Dinda memang sering kali mengiriminya pesan. Yang dia tanyakan cuma hal-hal yang menurut Rey nggak penting. Meskipun agak risih, tetapi Rey tetap membalas nya, takutnya ada suatu hal yang penting atau ada urusan OSIS yang akan di laporkan oleh Dinda.
^^^Me!^^^
^^^Kenapa?^^^
Dinda!
Nggak papa hehee...
Kamu udah makan?
Atau udah mau tidur?
Rey hanya membaca pesan itu. Seperti biasanya Dinda hanya menanyakan suatu hal yang membuat Rey tak akan membalas pesannya. Yah karena itu bukan suatu yang penting. Rey tak ingin terus-terusan dekat dengan Dinda dan tak ingin Dinda berpikir seolah-olah ia memberikan harapan padanya.
"Siapa Rey?" Tanya Lisa kepo.
"Eh nggak, nggak ada. Itu cuma Vhino..." Jawab Rey. Ia segera meletakkan ponsel nya dan kembali fokus dengan makanannya. Rey sengaja tak memberitahu Lisa kalau itu sebenarnya Dinda, ia hanya tak ingin merusak mood Lisa yang tengah bagus saat ini.
"Bener?" Tanya Lisa tak percaya.
"Iya sayang..."
Rey menatap Lisa yang sedang asyik melahap makanan nya satu persatu. "Gimana tadi siang? Aku berhasil manas-manasin Dinda kan?" Tanya Rey.
Lisa menghentikan makannya sejenak kemudian menatap Rey, "Iya berhasil sih... Tapi jangan deket-deket mulu napa sih, kesel liatnya tau nggak!"
Rey menghela napas berat. "Aku udah selalu berusaha jauhin dia, deket kalo emang ada urusan OSIS doang, itupun nggak terlalu dekat. Aku tetap profesional, dianya aja yang selalu deketin aku. Mungkin karena aku aja yang terlalu ganteng kali yah?" Ucap Rey bercanda.
Lisa menatap Rey tajam, "Iddih, nggak usah sok ganteng! Kemarin aku habis di SMS sama cowok!"
"Cowok? Siapa? Faro? Atau jangan-jangan cowok lain yang mau deketin kamu yah?" Tanya Rey.
"Nggak... Dia nawarin jasa pesugihan tanpa tumbal, santet dan uang ghaib. Jadi jangan macem-macem yah, aku simpen WA-nya!" Ancam Lisa sambil menunjuk Rey dengan garpu yang ada di tangannya.
"Ya Allah, Cha... Tega bener. Kamu mau santet aku? Kamu mau janda muda apa gimana?"
"Ya nggak papa lah. Aku kan cantik gitu yekan, lelaki mana sih yang nggak mau!" Kata Lisa dengan pede-nya.
"Tuh mulut yah, minta di sumpal!" Geram Rey.
"Iya deh iya, eh btw kemarin aku dapet hadiah tau nggak?"
Rey mengangkat salah satu alisnya, "Hadiah apa?"
"Aku dapet hadiah 200 juta! Trus tiba-tiba kepikiran pengen beli mobil, dan aku liat dong mobil yang aku pengen, ternyata harganya 225 juta!"
"Terus?"
"Bales apaan?"
"Aku balesnya gini, 'Mas/Mbak, saya mau beli mobil tapi uangnya kurang. Kurang nya cuma 25 juta doang kok. Bisa nggak sih kalo ditambahin dikit? Anggep aja bonus gituloh' Eh tapi malah nggak di bales SMS aku!" Jelas Lisa yang terlihat kesal.
Mendengar penjelasan dari Lisa, Rey geleng-geleng kepala. "Cha... Icha... Bocah pun tau kalo itu penipuan, masih aja di bales!"
"Eh tunggu dulu! Setelah beberapa jam aku baru sadar kalo itu penipuan! Jadi aku bales lagi..."
"Gimana lagi?"
"'Mas nggak takut nipu yah? Inget mati, Mas. Inget akhirat! Hidup itu cuma sekali loh, Mas coba diperbaiki jalan hidup nya. Ntar kalo udah meninggal, Mas nya jangan lupa telpon yah, kita VC. Saya penasaran sama suasana neraka kalo lagi nyiksa manusia sejenis Mas..."
"Huh, untung aku jadi pelajar Cha, kalo jadi penipu terus ketemu kamu, mungkin udah bunuh diri aja deh aku."
"Jangan solimi yah kamu!"
"Makan yang banyak sayang..." Sahut Rey mengalihkan pembicaraan.
"Jangan deket-deket sama Dinda lagi! Awas aja, aku punya nomor tukang santet yah!"
"Iya sayang... Udah ah, ini makanannya di habisin!"
"Dah kenyang Rey..." Keluh Lisa sambil memegangi perutnya yang terasa sudah penuh.
"Loh, habisin yah, ini masih banyak loh."
"Udah nggak bisa Rey, kalo aku makan lagi aku udah nggak tau mau di taroh dimana lagi makananya." Keluh Lisa. "Ini makanannya di bawa pulang aja, ntar di rumah boleh dimakan lagi."
"Hm, yaudah deh..."
...*****...
Beberapa Hari Kemudian...
Hari ini adalah jadwal gladi bersih untuk acara perpisahan kelas 12 di sekolah. Yang hadir hanya beberapa murid tertentu, anggota OSIS dan juga beberapa guru yang ada di sekolah untuk mengatur persiapan persiapan acara.
Kebetulan Rey sengaja mengajak Lisa ke sekolah agar Dinda menjaga jarak darinya dan tidak terus-terusan mengikuti nya."Kamu tunggu disini aja yah! Aku mau ke ruang OSIS dulu!" Pesan Rey.
"Oke, semangat kerjanya pak Rey!"
"Makasih sayang..." Rey mengusap puncak kepala Lisa pelan.
Lisa hanya melihat pekerjaan anak-anak lain dari lantai 2, dan pandangan nya tak sengaja tertuju pada Rani yang tampak mendapat masalah dengan kakak kelas.
"Aduh! Lo tuh jalan nggak liat-liat yah? Liat nih, tinta yang gue bawa tumpah dan kena baju gue!" Bentak Rani pada salah satu kakak kelas.
"Tapi kan yang salah kamu! Kamu yang nabrak aku, aku juga kena tintanya." Bela kakak kelas itu.
"Ih dasar yah, lo yang salah malah nyalahin orang lain!" Gertak Rani.
Lisa mendatangi keduanya dan berusaha untuk menengahi, "Rani, kenapa kamu teriak-teriak sih? Gila yah? Lagian kan yang salah itu kamu, kamu yang nabrak kakak ini. Dan baju dia kena tinta lebih banyak daripada baju kamu!" Jelas Lisa.
Rani menatap kesal ke arah Lisa, "Lo itu kenapa sih? Suka banget sih ikut campur urusan orang lain!"
"Aku nggak bermaksud ikut campur, tapi cuma mau ingetin kamu. Kamu itu salah, kenapa malah balik salahin kakak ini? Gimana sih pola pikir kamu!" Nada suara Lisa semakin meninggi.
"Heh, lo taukan siapa gue? Berani banget lo ngomong kayak gitu?" Sinis Rani.
Lisa jadi kesal dengan Rani yang sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali. Rani hanya selalu mengandalkan kekuasaan orangtua nya jika ia sedang mendapat masalah.
"Yah gue tau lo itu kaya, tapi bukan berarti orang kaya itu harus selalu benar! Salah yah salah! Kebenaran itu nggak bisa di beli dengan semua kekayaan!" Sahut Lisa.
"Lo kan sekolah di sekolah yang dikenal sangat populer, semua muridnya juga dikenal berkualitas, harusnya lo punya etika dan sopan santun apalagi bicara sama yang lebih tua! Setinggi apapun pendidikan lo kalo lo nggak bisa ngehargain orang semua bakal sia-sia!" Bentak Lisa yang semakin emosi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!