
Lisa menatap satu foto yang ada di ponselnya. Foto yang membuat dirinya tanpa sadar merindukan perhatian darinya, bahkan dia merindukan ocehan nya. Juga merindukan semua perintah dan larangan nya. Ntah sejak kapan Lisa selalu ingin melihat wajahnya yang sebenarnya dulu selalu membuat nya ennek, wajah yang dulu sangat-sangat dia benci, bahkan melihat nya pun bisa menaikkan emosinya. Tapi kini, ntah sejak kapan dia jadi merindukan nya. Manusia yang dirindukan nya yaitu Rey! Yah Rey. Manusia yang dulu benar-benar dia benci.
Setelah perubahan sikap dari nya kini membuat Lisa sadar akan kepentingan kehadiran nya. Yah, Lisa juga tak pernah mengerti kenapa akhir-akhir ini Rey bisa berubah. Tapi yang pasti dia merindukan sosok itu.
...*****...
🏠Rumah Keluarga Agrananda🏠
Saat matahari kembali menampakkan dirinya, dengan segera Lisa langsung pulang ke rumah keluarga Agrananda. Takut nya nanti di cariin sama Ayah Bunda.
Saat ini Lisa sedang berdiri di halaman rumah, menunggu pak Anto yang sedang mengambil mobil di garasi.
Eh itu bukan nya Fadil
Mata Lisa menagkap seorang lelaki yang naik motor sport masuk ke dalam halaman rumah nya. "Fadil!" Panggil Lisa.
Fadil menoleh pada suara teriakan yang memanggil nama nya. "Hoi, sini!" Panggil nya.
Lisa langsung berlari ke arah Fadil. "Ngapain ke sini?"
"Cuma mau ngecek keadaan rumah aja. Kamu ngapain di sana?" Tanya Fadil sambil menunjuk ke arah rumah nya Rey.
"Mmm... Itu anu eee... Nunggu pak Anto." Jawab Lisa terbata-bata.
"Kamu mau ke sekolah kan?"
"Iya."
"Yaudah bareng aja." Tawar Fadil.
"Nggak mau. Kita kan beda arah." Lisa menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
"Nggak papa aku anterin. Sekalian aku tebar-tebar pesona sama teman cewek kamu."
"Iddih, kayak yang ganteng aja."
"Emang aku ganteng kok."
"Perasaan kamu udah punya pacar deh."
"Ha ellah iya lupa. Yaudah kagak jadi TTP deh."
Mobil pak Anto berhenti tepat di depan Lisa dan Fadil yang sedang berdiri. "Yaudah sana gih pergi. Aku mau berangkat nih."
"Duluan aja sana."
"Oh yaudah."
"Hati-hati kepiting rebus..."
"Paan sih?!" Lisa masuk ke dalam mobil lalu menjulurkan lidahnya ke arah Fadil sebelum menutup pintu mobil nya.
.
.
.
🏫SMAN Bakti Husada🏫
Lisa berjalan memasuki gedung sekolah dengan perasaan heran dan bingung. Pasalnya ini udah jam 7 tapi sekolah kelihatan sepi. Tak ada siswa maupun siswi yang berlalu lalang seperti biasanya. Saat melewati koridor, matanya melihat sebuah pemandangan yang tak biasa. Dimana para siswa-siswi berkumpul di lapangan, ntah apa yang mereka lihat. Tapi itu sangat berisik.
Karena penasaran akhirnya Lisa memutuskan untuk menghampiri para kerumunan tersebut. "Ini ada apa?" Tanya Lisa pada salah seorang siswa.
"Itu Al lagi berantem sama Chris."
"Al? Al berantem lagi? Kenapa?"
"Ya denger-denger sih karena kemarin Chris godain Sarah dan bersikap kurang ajar sama Sarah."
"Trus Sarah mana?"
"Belum dateng."
"Oh yaudah. Makasih info nya." Lisa kemudian menyelusup masuk ke dalam kerumunan tersebut, berusaha mencari Al yang berada ditengah kerumunan tersebut. Namun, belum sempat Lisa melihat ke tengah, pandangan nya kembali melihat Sarah dan Mira yang sedang berdiri dengan tatapan bingung, Sarah berdiri tak jauh dari tempat kejadian. Mungkin saja dia baru datang.
Dengan sigap, Lisa langsung berlari menghampiri Sarah. "Sarah!" Panggil Lisa.
Sarah terlihat bingung, lebih bingung lagi saat melihat wajah panik Lisa. "Ini ada apa, Lis? Kok pada ngumpul gitu?"
"Iya jadi bingung." Tambah Mira.
"Al berantem, Rah." Jawab Lisa.
"Ha? Berantem sama siapa? Kok bisa?" Tanya Sarah ikutan panik.
"Nanti aku jelasin, sekarang kamu harus tenangin Al. Ayo, Rah."
Tanpa basa-basi lagi, Sarah langsung berlari ke arah kerumunan tersebut di ikuti oleh Mira di belakang nya yang juga berlari. Baru saja Lisa akan menyusul namun keburu terjatuh, dia menginjak tali sepatu nya sendiri yang ternyata ikatan nya tak kuat.
"Awww..." Keluh Lisa sambil meringis menahan sakit di lutut nya yang terlihat sedikit lecet. "Aww... Perih..." Ringis nya saat ia menyentuh lutut nya.
"Sini" Suara seseorang terdengar sangat dekat. Lisa melihat sebuah tangan yang terjulur di depan nya. Seolah menawarkan bantuan nya. Lisa mendongakkan kepala nya untuk melihat siapa si pemilik tangan tersebut.
"Faro?" Haih, ternyata Faro. Si cowok yang super duper datar dan dingin. Ntah mengapa sekilas tadi, Lisa mengharapkan pemilik tangan itu Rey. Rey yang selalu menolong nya dan membantu nya berdiri. Tetapi ternyata itu bukan dirinya. Ya mana mungkin lah, Rey kan lagi pergi jauh. Jauh sejauh jauh nya.
"Ayo sini aku bantu." Tawar Faro lagi, tangan nya dia masih julurkan untuk membantu Lisa.
"Nggak usah, aku bisa sendiri." Tolak Lisa. Lisa berusaha berdiri dengan lutut nya yang terasa ngilu. "Awww aww..." Baru setengah berdiri Lisa kembali jatuh terduduk, kaki nya serasa keseleo juga.
"Tuhkan, sini aku bantu."
Dengan sangat-sangat terpaksa Lisa menerima bantuan tersebut. Dia juga tak ingin duduk tersungkur di lapangan terus menerus.
"Kamu duduk di sana dulu." Ujar Faro sambil menunjuk kursi panjang yang ada di depan kelas.
"Eh tapi Sarah, itu Sarah lagi-..."
"Nanti aja. Emang kamu bisa kesana? Gak kan? Di sana juga banyak yang bantu kok. Sekarang yang terpenting diri kamu sendiri." Jelas Faro. Wah, ini kejadian langkah loh. Faro bisa ngomong panjang, lebih dari satu baris? Jarang-jarang loh si es dingin ngomong panjang kali lebar. Biasanya singkat-singkat. Dan ntah kenapa Faro jadi perhatian kayak gini sama orang lain, biasa nya dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan hidup nya. Kenapa dia jadi nggak tega ngeliat Lisa kesakitan?
Lisa terdiam mendengar ucapan Faro. Karena ucapan Faro itu benar ada nya. Kaki nya benar-benar sakit, berjalan pun dia tak sanggup. Dia aja nggak bisa jalan kok sok-sok an mau kesana. Faro memapah Lisa ke arah kursi panjang tersebut.
"Aww..." Keluh Lisa lagi.
"Masih sakit?" Tanya Faro lalu menduduk kan Lisa di kursi.
Lisa menangguk kemudian berkata, "Kayak nya kaki ku keseleo deh."
"Mana sini coba aku liat." Faro berjongkok di depan Lisa. Dan tentu saja itu membuat Lisa kaget.
"Eh mau ngapain?"
"Udah diem aja!" Pinta Faro.
Faro membuka sepatu Lisa dan benar saja, dia melihat kaki Lisa yang agak memerah. Faro menyentuh kaki Lisa, "Sakit?"
"Nggak."
Faro memberikan sedikit tekanan pada kaki nya Lisa dan itu berhasil membuat Lisa kembali meringis. "Aww... Sakit. Jangan di gituin!"
"Ini bener keseleo. Coba kamu lurusin kaki nya." Faro mengangkat kaki Lisa ke atas paha nya.
"Eh." Lisa yang kaget akan tingkah Faro, refleks ingin menurunkan kaki nya. Namun, di tahan oleh Faro.
"Nggak papa. Coba aku urut sedikit."
"Kamu bisa urut?"
"Coba aja."
Dengan pelan, Faro mulai mengurut kaki Lisa. Sesekali Lisa meringis menahan sakit. Benar-benar sakit. Dalam hati dia menggerutuki kebodohan nya yang tak mengikat tali sepatu nya dengan benar.
"Ngapain kamu?" Tanya seseorang.
Lisa dan Faro langsung menoleh ke arah sumber suara yang bertanya. Dan betapa terkejutnya Lisa saat melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di samping nya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!