
"APA?!" Sahut Lisa tak terima.
"Udah-udah, aku cuma bercanda kok. Yaudah ayo makan, aku bantuin deh."
"Mulai ngeselin yah." Gumam Lisa kesal.
Rey meminta sendok tambahan dan memakan eskrim dari tempat yang sama dengan Lisa. Mereka berdua sibuk memakan eskrim jumbonya dengan senang hati.
Rey tersenyum melihat Lisa yang dengan lahap memakan eskrim nya. "Gimana? Suka nggak?" Tanya Rey.
"Mm suka. Suka banget." Jawab Lisa.
"Menurut ilmiah coklat bisa merubah mood dan bisa membuat perasaan jauh lebih baik setelah memakan nya." Tutur Rey.
"Oh ya? Aku tidak tau itu. Yang aku tau coklat itu enak, udah itu aja." Jawab Lisa sambil kembali menyendokkan coklat kesukaannya kedalam mulut.
"Tapi menurut aku itu nggak sepenuhnya benar. Bagi aku, bahagianya seseorang itu tergantung seseorang itu sendiri. Apakah dia mau bahagia ataukah tetap terjebak dalam kesedihannya..."
Lisa berhenti makan sejenak mendengar ucapan Rey. "Iya sih. Aku pribadi juga lebih suka bahagia. Tapi terkadang aku butuh waktu buat sedih dan meratapi semuanya, aku butuh waktu sendiri dan beristirahat sejenak. Perlu waktu agak lama buat aku menerima semua ini. Dan setelah cukup waktu, aku bakal kembali untuk menghadapi kenyataan. Aku tau seberapa dalam aku bersedih, itu nggak akan merubah kenyataan."
Rey kembali tersenyum mendengar jawaban Lisa, "Tepat sekali. Dan ketika kamu nangis, jangan pernah merasa sendiri. Aku ngerti kok perasaan kamu. Kamu harus percaya, kalo aku akan selalu ada disamping kamu apapun yang terjadi. Kamu boleh meluk aku, nangis di depan aku, dan jadiin aku sandaran kamu. Aku nggak bakal pernah maksa kamu buat jadi kuat kalo saat itu tiba." Jelas Rey.
Lisa tertegun dan kagum dengan jawaban Rey. Ia sadar, setiap teman-temannya pasti selalu menguatkannya di saat-saat sulit, itu memang terdengar baik dan menenangkan, namun lebih menenangkannya lagi saat ada orang yang siap menjadi sandaran kita saat kita lemah. Tidak menuntut kita agar kita kuat ataupun menyemangati kita agar kita kuat. Hanya datang dan siap menjadi sandaran dan tempat bercerita keluh kesah, menjadi tempat menangis dan bisa menenangkan hati.
"Ada baiknya saat kamu merasa sedih kamu bisa cerita sama Tuhan lewat sujud. Percaya deh, rasanya akan berbeda jika kamu cerita sama teman. Dalam keadaan apapun kita nggak boleh lupain Tuhan yang udah ciptain kita jadi manusia. Tapi, jangan hanya karena susah atau sedih kamu inget sama Tuhan, jangan sampai kamu dalam keadaan bahagia udah lupa sama yang diatas." Jelas Rey lagi.
Lisa hanya mengaduk-aduk eskrim nya perlahan sambil mencerna kata-kata Rey. Ia merasa kalau kata-kata Rey itu semua benar adanya.
"Kurang baik apa coba Tuhan sama kita? Dia udah ngasih kita banyak kelebihan, inilah itulah. Kalo misalkan Tuhan yang lupa sama kita gimana? Kalo dia lupa ngasih kita oksigen gimana? Mengkhawatirkan sekali kalo sampe Tuhan yang lupa sama kita, itu menyangkut soal nyawa. Sebagian besar manusia hanya mengingat pencipta nya hanya ketika dalam keadaan sulit atau sedih, setelah nya udah lupain aja." Sambung Rey.
Lisa tersenyum mendengar penuturan Rey. "Makasih yah, Rey. Kamu selalu bisa jadi yang terbaik."
Rey menatap kedua mata Lisa dengan hangat, "Icha." Panggil Rey pelan.
"Hm." Jawab Lisa kemudian kembali memakan eskrim nya.
"Kamu... Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Tanya Rey.
"HA?" Sahut Lisa kaget. Matanya terbelalak menatap ke arah Rey. What? Ini terlalu tiba-tiba. Lisa mengira tadinya Rey cuma bercanda, akan tetapi setelah melihat ekspresi wajahnya, nyata nya dia serius beneran.
"Kamu maukan?" Tanya Rey memastikan.
"Aku... Ak-aku..." Gugup Lisa. Akhh... Kenapa aku jadi gugup gini sih? Rey kenapa sih jadi minta pacaran segala.
Lisa menatap kedua bola mata Rey yang menatap nya hangat. "Bukan nya kita udah nikah?" Tanya Lisa. Ngapain juga pacaran kalo udah nikah? Kan sama aja. Ini Rey lupa apa gimana dah. Buat aku salah tingkah aja. Nahkan kaki ku dingin sekarang.
"Ya nggak papa, jadi pacar halal aja. Aku cuma mau menjalani pernikahan ini dengan tulus, dan ini caraku untuk menyatakan perasaan aku sama kamu." Ujar Rey.
"Double kill gitu yah? Dua sekaligus. Pacaran plus nikah." Ucap Lisa dengan polos.
Rey tersenyum tulus, "Ya gimana aja, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu bukan sekedar cinta yang di ucapkan dimulut tapi aku ingin buktiin kalo aku tuh tulus cinta sama kamu."
Lisa terdiam mendengar ucapan Rey. Ia kembali mengaduk-aduk eskrim nya. Yah benar saja, pacar halal gitu. Lisa memang sangat merasakan cinta Rey terhadapnya, dan tanpa Rey ngomong pun Lisa sudah tau kalo cinta Rey itu memang tak biasa. Itu aja Lisa sudah dapat melihat dari sikap Rey terhadapnya. Bagaimana Rey selalu melindungi dan menjaga nya, memberikan kehangatan, dan bagaimana Rey memperlakukan nya dengan sangat-sangat baik.
Kepala Lisa berpikir keras apa yang harus dia katakan, pasalnya dia belum tau pasti perasaan nya yang sebenarnya pada Rey. Jarang-jarang loh ada cowok seumuran Rey yang mempunyai sikap seperti itu, mungkin hanya sebagian kecil di dunia ini. Saran Author sih kalo kamu nggak cinta, mending kamu tolak aja deh, Rey nya buat Author aja. Huhuhu...
"Gimana? Mau kan?" Tanya Rey.
"Aku... Aku mau kok jadi pacar halal kamu." Tutur Lisa.
"Beneran?"
Lisa tersenyum sambil mengangguk setuju.
Rey tersenyum senang. "Makasih yah." Ucap Rey berusaha tenang. Padahal dalam hati nya sudah berpesta ria. Baru kali ini Lisa terlihat tulus menerima nya tanpa paksaan dan tekanan.
"Eh, eskrim nya meleleh." Sahut Lisa.
"Astaga, iya."
Mereka berdua kembali sibuk menghabiskan eskrim nya. Setelah habis, mereka pergi untuk segera pulang ke rumah.
.
.
.
Di Perjalanan...
Sebelum perjalanan pulang, Rey sempat menelpon seseorang. Lisa tak ingin ambil pusing soal itu, ia lebih memilih fokus untuk bersantai setelah makan banyak eskrim coklat. Lisa menyandarkan kepalanya sambil memeluk boneka yang berukuran sedang tadi. Sementara boneka bear nya yang jumbo dia letakkan di jok belakang.
"Puas makan coklat?" Tanya Rey yang masih sibuk menyetir.
"Puas banget. Makasih yah." Jawab Lisa sambil tersenyum.
"Iya. Seharian kamu ngomong nya 'makasih' terus, coba hitung udah berapa kali!" Pinta Rey.
"Mmm... Berapa yah... Oh banyak!" Sahut Lisa.
"Ya iya emang banyak."
Rey menghentikan mobilnya di depan sebuah toko, ia turun dari mobil dan berpesan agar Lisa menunggu nya sebentar.
"Dia mau ngapain lagi sih? Aku kan udah ngantuk ini." Gumam Lisa sambil menutup matanya perlahan.
"Icha, Cha." Panggil Rey.
Perlahan Lisa membuka matanya kembali, ia menoleh pada arah suara. "Eh Rey? Sejak kapan kamu disitu? Urusan kamu udah selesai?" Tanya Lisa saat melihat Rey sudah kembali duduk di belakang kemudi.
"Nih buat kamu." Rey menyodorkan dua parcel yang isinya coklat semua.
"Ini? Buat aku?" Tanya Lisa tak percaya.
"Iya ini buat kamu. Agar kalo kamu sedih kamu bisa segera makan coklat ini."
"Wah makasih Rey." Girang Lisa. Ia sangat senang karena coklat yang diberikan oleh Rey begitu banyak. Bagaimana lah nanti ia menghabiskan semua itu?
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!