
Mereka berdua makan bersama dan memaksakan diri untuk menghabiskan semuanya karena Putra yang memesan makanan terlalu banyak. Mereka makan sambil sesekali saling menyuapi dan bergurau.
"Kak... Lisa udah kenyang banget, beneran deh!" Keluh Lisa yang sudah berusaha menghabiskan banyak makanan.
"Sama! Kakak juga udah nggak kuat! Bungkus aja lah bawa pulang. Sayang kan, soalnya ini mahal-mahal loh kakak beli!"
Lisa hanya menatap Putra datar, "Kak Putra dari dulu sampe sekarang kagak berubah yah! Suka banget hambur-hamburin duit, beli ini beli itu semua, abis itu nyesel!" Celoteh Lisa.
"Ya abis gimana lagi? Baunya enak sih, yah kakak beli lah! Lagian nggak setiap hari kan makan kayak gini!"
"Iya deh iya. Kak Putra kan orang sibuk..."
"Hehehee... Tuh tau."
"Mmm... Kak Putra nggak mau nanya gitu Lisa ada masalah apa?" Tanya Lisa.
"Nggak." Jawab Putra cuek.
"Kenapa?"
"Ya kan kita kesini buat seneng-seneng, buat ngelupain semua masalah. Ngapain di ungkit-ungkit lagi. Masa iya dengan situasi yang udah membaik kayak gini kakak rusak lagi cuma karena kepo dengan masalah kamu. Lagian kakak juga udah tau semuanya karena Rey udah cerita semuanya."
Lisa hanya tersenyum lemah menanggapi kalimat kakak nya.
"Kakak cukup panik dan emosi mendengar masalah ini. Walaupun kakak nggak ngeliat kejadian sebenarnya tapi kakak selalu percaya sama kamu, kalo kamu nggak mungkin lakuin hal senonoh kayak gitu."
Lisa tersenyum tulus, "Makasih udah percaya sama Lisa kak. Lisa tau cuma kak Putra yang benar-benar selalu bisa ada buat aku."
"Awalnya kakak emosi dan pengen cepet-cepet selesaiin masalah ini. Tapi Rey nahan kakak, katanya biar dia aja yang urus semuanya, karena kamu udah jadi tanggung jawab dia sepenuhnya dan dia akan berusaha cari bukti yang kuat buat kamu."
Lisa tersenyum kecut mendengar nya, "Makasih kak."
"Yaudah nggak usah dibahas lagi. Pokoknya kamu nggak boleh sedih lagi!"
Putra membungkus beberapa makanan yang masih utuh karena mereka sudah terlanjur kekenyangan. "Abis ini kemana? Kakak masih kenyang nih..." ujar Putra.
"Pulang aja lah kak."
"Ha? Pulang? Ya ampun dek, jarang loh kakak punya waktu buat kayak gini. Kakak juga rindu jalan bareng, makanya kita manfaatin waktu ini."
"Hmm yaudah deh, enaknya kemana?"
Putra sok berpikir, "Nge-gym gimana?"
"Wow, ide buruk! Pasti kita bisa mati estetik di sana!" Kata Lisa dengan mata melotot.
"Hehehee nggak-nggak! Canda sayang, yuk temenin nyari buku di Gramed!" Ajak Putra.
Lisa menaikkan satu alisnya, "Buku buat?"
"Ya buat kamu lah. Kakak saranin yah kamu selalu baca buku yang bermanfaat supaya otak kamu tuh nggak nge- leg dan otak kamu selalu sehat. Kurang-kurangin tuh nonton film action, itu nggak bakal berguna buat masa depan!"
"Itukan tergantung mood Lisa. Dan nonton film itu kan hobi nya Lisa dari dulu."
"Makanya mulai sekarang tuh kurang-kurangin gitu, biar nilai nya nggak menurun."
Lisa memasang wajah malas nya, "Iya deh iya... Lain kali aja. Lisa lagi banyak pikiran loh kak, gimana mau baca buku coba kalo otak Lisa lagi penuh? Itu bukan nambah ilmu namanya, tapi nambah beban pikiran."
Putra mencubit pipi Lisa gemas, "Uh banyak alasan yah. Yaudah sekarang kita beli aja, bacanya ntar urusan belakang."
"Hmm terserah.."
Mereka pergi ke Gramedia untuk membeli beberapa buku untuk Lisa. Yah walaupun belum tentu juga Lisa akan membaca dan mempelajarinya.
Lisa berjalan-jalan namun matanya tiba-tiba terpaku dengan salah satu novel dengan cover menarik, membaca sinopsisnya yang cukup menarik, membuat Lisa ingin membelinya.
Lisa pergi menghampiri Putra karena merasa sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun dari kejauhan ia melihat seorang gadis cantik yang menghampiri Putra.
"Eh Putra kan?" Tanya gadis itu.
"Eh Diska yah?" Tanya Putra sedikit kaget.
"Hehehee... Iya. Udah lama yah nggak ketemu. Sekarang jadi artis yah, makin sukses dan terkenal yah sekarang, aku biasa liat Grub Band kamu ada dimana-mana loh."
"Hehehee nggak juga." Putra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku kira kamu udah lupa sama aku, soalnya udah lama banget nggak ketemu trus kan sekarang udah jadi artis. Eh ternyata kamu masih sama yah kayak dulu nggak berubah sama sekali."
"Ya nggak lah. Putra tetap Putra nggak bakal berubah. Kamu pasti ngira aku bakal pura-pura nggak kenal trus jadi sombong. Iyakan?"
Diska mengangguk canggung, "Iya. Kan kebanyakan kayak gitu."
"Kuliah kamu udah selesai di LN?"
"Alhamdullilah udah. Ini baru kemaren aku pulang, soalnya kangen sama Mama di sini."
Lisa berjalan menghampiri keduanya. "Udah? Lisa udah nih..." Celetuk Lisa sambil memperlihatkan novel yang ia pegang.
"Oh oke, yuk bayar! Duluan yah Dis..." Ucap Putra.
"Ini siapa?" Tanya gadis cantik yang ada di depan Putra sambil menunjuk Lisa.
Putra yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya, "Oh ini? Ini Lisa..."
Lisa mengangkat salah satu alisnya, "Aku Lisa... Kamu siapa? Ngapain ketemuan sama..."
"Oh kenalin, aku Diska teman nya Putra dulu, teman SMA nya..." Jawab gadis cantik itu dengan ramah.
"Oh..." Lisa mengangguk-angguk kan kepalanya mengerti.
"Yaudah kita duluan yah Dis..."
"Iya..."
Putra menarik tangan Lisa untuk segera pergi. Dalam hati Lisa masih bertanya-tanya tentang siapa gadis tadi. Sejak kapan Putra sedekat itu dengan wanita, tentu saja itu mengherankan karena setahu Lisa, Putra itu orang nya cuek dan dingin apalagi kalo sama perempuan. Yah kalo Felice mah di kecualikan yah.
"Itu siapa kak? Kok kak Putra bisa seakrab itu sama dia?" Tanya Lisa penasaran.
"Diska." Jawab Putra singkat.
Lisa berdecak kesal mendengar jawaban Putra. "Iya tau. Tapi dia siapa kak? Siapa nya kak Putra? Kok seakrab itu?"
"Yaudah makanya dengerin kakak ngomong dulu! Diska itu pacar kakak dulu pas masih SMA."
"WHAT?!" Kaget Lisa. Siapa yang nggak kaget coba. Putra ternyata punya pacar saat SMA dan Lisa tak pernah tau itu. Dan ia juga tak menyangka kalau Putra punya mantan secantik Diska yang terlihat sangat lembut dan berkelas.
"Husshh... Jangan teriak-teriak!"
"Jadi dia mantan kak Putra? Ya Allah kak kok bisa sih kak Putra putus sama dia, padahal kan kalo diliat-diliat dari atas sampe bawah dia itu udah mendekati kata sempurna loh. Nyesel sih pasti, ck ck ck..." Lisa menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Haih udahlah itu udah nggak penting juga. Apalagi kan kakak sekarang udah bahagia, udah bersyukur dan beruntung banget punya Felice."
"Iya sih tapi kok kak Putra bisa putus sama dia?"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!