Love In Many Ways

Love In Many Ways
Down



Putra langsung menghampiri Lisa, "Kamu nggakr papa?" Tanya Putra khawatir.


Lisa menghempas napas dengan kasar. "Nggak papa kok kak." Ucap nya pelan.


"Yaudah yuk masuk." Ajak Putra sambil merangkul Lisa.


Mereka berdua masuk kedalam rumah itu. Putra mengantar Lisa sampai di depan pintu kamar. "Kamu istirahat gih, nggak usah banyak di pikirin. Pikirannya juga harus istirahat, oke?"


Lisa mengangguk lemah, "Oke, makasih kak. Lisa masuk dulu yah."


Lisa masuk kedalam kamar nya dan langsung saja menghempaskan dirinya di atas kasur itu. Ia membenamkan wajahnya di bantal yang ada, hanya terdiam. Tidak senang, tidak sedih dan juga tidak menangis. Ia hanya merasa sedang tidak memahami dirinya sendiri.


"Aku ini kenapa sih?!"


Lisa berbalik dan menatap langit-langit kamarnya kemudian menghela nafas panjang. Tangannya menutupi mata dan wajahnya, ia memejamkan mata untuk menikmati tiap nafas yang ia hembuskan.


"Siapa yang sebenarnya aku benci? Dinda, Rey, situasi, atau diriku sendiri?"


Tiiingg...


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Lisa. Dengan malas Lisa mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Alfaro


Hai Lisa, besok ada waktu nggak?


Mau nggak jalan bareng aku?


Lisa terkejut melihat pesan dari Faro. Sungguh ini tak biasanya Faro mengajaknya jalan. Dan kenapa harus Lisa yang dia ajak jalan? Kenapa nggak yang lain aja.


^^^Me!^^^


^^^Kemana?^^^


^^^Mau ngapain?^^^


^^^Jam berapa?^^^


Lisa sedang malas mengetik, ia langsung saja menanyakan semua nya sekaligus. Faro yang masih online pun langsung membalasnya.


Alfaro


Besok aku jemput jam 8 pagi yah...


Lisa malas menjawabnya, ia lebih memilih untuk tidur. Ia mematikan ponselnya dan mengistirahatkan otak dan juga mentalnya yang sangat lelah.


.


.


.


Sore hari Lisa terbangun, ia ingin sekali mandi namun badannya seolah menolak. Ia seperti tak bisa merasakan apapun saat ini, semua terasa hampa.


Dengan memaksakan diri ia mengambil earbuds yang ada di laci meja sebelah kasurnya dan hendak mendengarkan musik, namun ponselnya ternyata mati.


"Huh ini siapa sih yang matiin hp, nyebelin banget sih!" Keluh Lisa.


Lisa segera menyalakan ponselnya, begitu Data Seluler nya menyala muncul puluhan hingga ratusan notifikasi yang ada di ponsel nya.


43 missed voice call from Fadil Ka*pret💣


30 missed voice call from Partner Gibah🙆🏻‍♀️🌈🖤


24 missed voice call Miramen🙆🏻‍♀️🌈🖤


13 missed voice call Si Vhino💣


Lisa geram sendiri melihat semua notifikasi yang masuk, "Mereka ini pada kenapa dah? Mereka pikir aku mati atau kenapa sih! Telfon segini banyak! Ini juga si Fadil ngapain ikut-ikutan!"


Spam-spam pesan juga banyak bermunculan dari teman-teman Lisa, tak ingin semakin pusing ia memilih untuk mengabaikannya saja dan mengaktifkan Plane Mode agar tidak dihubungi siapapun. Ia hanya ingin sendiri saat ini dan tak ingin di ganggu oleh siapapun.


Lisa mengenakan earbuds-nya lalu menyalakan musik. Ia mendengarkan musik yang ada di ponselnya, ntah kenapa semua terasa seperti lagu yang menyedihkan di telinga Lisa. Berkali-kali Lisa menangis tanpa sebab saat mendengarkan alunan musik yang masuk ke dalam telinganya.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Putra yang tidak melihat adiknya sejak siang pun mulail khawatir dengan keadaan adiknya, ia naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Lisa pelan.


"Lisa... Lagi apa? Kakak boleh masuk nggak?"


Panggilan itu tidak direspon sama sekali oleh Lisa, tentu saja itu membuat Putra merasa semakin khawatir dan cemas, ia langsung masuk begitu saja karena takut Lisa kenapa-napa.


Cklek...


Putra sontak terkejut melihat kamar Lisa yang gelap gulita, "Dek... Dek kamu dimana?" Panggilan Putra kembali tidak direspon, Putra semakin panik.


"Dek kamu dimana?!!!" Teriak Putra.


Lisa yang sejak tadi berbaring di kasur dengan earbuds di telinganya pun merasa seperti ada yang memanggil nya. Ia melepas salah satu earbuds-nya dan menyahut, "Apa kak?"


Mendengar suara itu, Putra langsung menyalakan lampu dan lega setelah melihat Lisa yang sedang bermalas-malasan di atas kasur. "Kamu nggak papa kan? Kamu kenapa nggak turun dari tadi? Felice udah masakin makanan kesukaan kamu tuh dibawa, ayo sekarang makan!"


"Iya bentar lagi..."


Putra memperhatikan penampilan Lisa yang masih memakai baju yang sama sejak pagi tadi, "Kok masih pake baju itu? Kamu belum mandi yah?"


"Emang ini jam berapa mau mandi?"


Putra geleng-geleng kepala melihat keadaan Lisa yang bisa dibilang sangat kacau. Ia duduk di samping Lisa, "Sedih boleh, tapi harus tetep makan! Mandi juga, harus tetep rawat diri!"


"Mager kak... Lagian Lisa juga nggak ngerasa laper, beneran deh."


"Orang kalo terlalu sedih itu emang nggak bisa rasain laper, kalo terlalu terpuruk mah udah nggak bisa rasain apa-apa soalnya yang dipikirkan hanya masalah itu-itu aja."


Melihat Lisa terdiam, Putra melanjutkan ucapannya, "Jatuh boleh, tapi harus tetep bangkit lagi. Harus tetep berdiri buat jalanin hidup yang terus berjalan ini. Waktu nggak bakal mungkin berhenti nunggu kamu jadi kuat lagi." Kata Putra bijak. "Udah yuk makan, ntar sakit loh."


"Ntar aja kak, nanti kalo Lisa udah laper Lisa turun makan deh!"


"Yaudah makannya ntar aja, sekarang mandi dulu!"


"Hehehee kalo itu nanti juga deh kak, Lisa lagi mager banget sumpah."


Putra secara paksa membawa Lisa ke kamar mandi, "Mandi sekarang! Kamu tau nggak, bau kamu itu udah menyebar ke seluruh pelosok dunia, kasihan masyarakat ntar mati keracunan lagi! "


Lisa menatap Putra datar, ia benar-benar tak ada keinginan untuk melakukan apapun saat ini.


"Kamu mandi abis itu makan! Kalo mau mati, potong aja tuh urat nadi, jangan nggak makan! Nanti hilang pencitraan kita sebagai orang kaya." Gurau Putra.


Lisa ingin tertawa mendengar gurauan Putra, tapi ia seperti malas melakukannya. Dan pada akhirnya ia hanya bisa tersenyum kecut. "Ya udah iya, keluar gih! Lisa mau mandi dulu!"


"Nah gitu... Oke. Oh iya jangan tenggelemin diri di bak mandi biar mati yah! Cara gitu nggak epic, kalo mau tenggelemin diri itu di kawah Bromo sekalian oke!" Gurau Putra lagi. Ia sengaja untuk membuat Lisa tertawa tapi sepertinya kali ini nggak mempan deh, buktinya aja Lisa b aja tuh.


"Iya-iya bawel, udah sana gih!" Lisa mendorong Putra agar segera keluar kamar mandi.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!