Love In Many Ways

Love In Many Ways
Bimbang



"Lain kali... Kalo ada masalah apa-apa jangan di pendam sendiri. Kan ada aku, apa gunanya aku sebagai suami kalo nggak bisa jadi tempat cerita dan berbagi untuk kamu. Jadi lain kali kamu harus cerita sama aku, tenang aja aku nggak bakal cegah kamu nangis..."


Lisa heran dengan jawaban Rey, "Kenapa gitu?"


"Karena, yang seharusnya aku lakuin itu diem, dengerin semua cerita dan keluh kesah kamu, setelah itu semangatin dan selalu support pilihan kamu. Aku nggak berhak buat cegah kamu nangis, karena sekuat apapun manusia, mereka pasti akan merasakan titik terendahnya."


Lisa tersenyum manis mendengar Rey, dia benar-benar yakin kalau Rey memang merupakan pria yang tepat baginya. Ia sangat bersyukur karena Rey di takdirkan untuknya dan didatangkan dalam hidupnya.


.


.


.


Di Panti Asuhan


Lisa dan Rey menurunkan sekitar 3 kardus besar dari mobil. Kemudian mereka berdua membawanya kedalam rumah pengasuh panti asuhan, dan berbincang-bincang.


"Apa kalian mau bertemu anak-anak juga?" Tanya pengasuh panti asuhan.


Lisa mengangguk setuju dengan senang hati. Rey tersenyum melihat Lisa yang terlihat antusias.


Mereka berdua pun pergi mengikuti sang pengasuh panti asuhan untuk menemui anak-anak.


Lisa senang melihat anak-anak yang bermain dengan bebas dan tertawa lepas. Pengasuh panti asuhan memperkenalkan Lisa dan Rey pada anak-anak, dan dengan cepat mereka dekat dan akrab.


"Hai semua... namaku Lisa, kalian bisa panggil aku kak Lisa yah..." Sapa Lisa dengan ramah sambil tersenyum.


"Halo kak Lisa..."


"Kalo yang ini namanya kak Rey."


"Halo kak Rey..."


"Halo semuanya..."


"Rey pergi menemani anak laki-laki untuk bermain bola, sementara Lisa belajar dengan sebagian anak lainnya. Lisa mengajari mereka menulis, membaca dan juga berhitung. Lisa dan Rey beristirahat saat Ibu pengasuh membuatkan minuman untuk mereka.


Rey mengusap keringatnya yang bercucuran karena baru saja selesai bermain sepak bola. Lisa yang melihatnya pun mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan membantu mengelap keringat Rey.


"Capek yah?" Tanya Lisa.


Rey menggeleng, "Nggak sih, cuma seru aja gitu main sama anak-anak. Jadi aku bisa menang terus meskipun nggak serius." Gurau Rey.


Lisa memukul pundak Rey ringan kemudian meliriknya sinis, "Dih... seneng banget bisa menang tanpa berjuang."


"Iyakan kapan lagi." Rey terdiam sejenak, "Kok kamu bisa kepikiran kesini sih?" Tanya Rey.


Lisa menatap lurus ke depan, tatapannya jelas menunjukkan kesedihan yang mendalam.


"Andai aku punya permintaan yang bisa dikabulin sama Tuhan, aku mau balik lagi ke masa kecil aku dan nggak pernah mau dewasa. Mommy daddy masih ada, dan nggak akan ada kemunafikan dalam hidup."


Rey mengusap puncak kepala Lisa pelan kemudian menyingkap rambut Lisa ke belakang telinganya. "Jangan merasa sendiri terus, kan ada aku disini yang selalu ada untuk temani kamu. Kalo masih merasa kesepian, mending kita bikin anak biar rame..." Gurau Rey.


Lisa membelalak mendengar gurauan Rey yang terasa membuatnya merinding. Ia memiliki ide konyol di kepalanya. Ia memeluk Rey dari belakang dan menghembuskan nafasnya dengan pelan di leher Rey kemudian berbisik.


"Apasih, kok ngomong nya gitu Mas..."


Lisa langsung berlari setelah mengucapkan kata-kata itu. Rey yang agak kesal pun ikut berlari mengejar Lisa. Hingga mereka kejar-kejaran di depan anak-anak.


...*****...


Di Rumah Sakit


Tasya sedang duduk di samping Rani yang masih tertidur. Tasya sering dihantui rasa bersalah semenjak berbohong atas kejadian yang menimpa Rani yang sebenarnya.


"Hai Ran... Apa kabar? Jujur gue nggak baik, sekarang gue lagi bingung banget. Kalo gue ngaku tentang kejadian yang sebenarnya, bokap gue pasti di pecat, gue di keluarin dari sekolah dan keluarga gue pasti bakal dapat banyak masalah. Tapi kalo gue diem, gue juga merasa bersalah banget sama lo dan Lisa. aaarghhh... kenapa gue harus di tempatin di situasi kayak gini sih?!" Kata Tasya tanpa sadar.


Tasya menyelesaikan kata-katanya lalu pergi meninggalkan Rani yang masih tertidur. Rani sebenarnya mulai bangun saat mendengar kata-kata Tasya, namun karena Tasya terdengar risau, Rani hanya diam mendengarkan dan berpura-pura tertidur.


Rani perlahan duduk dan melihat kepergian Tasya, "Maksud dia apa? Merasa bersalah? Kenapa? Kenapa dia curhat ke gue? Emangnya dulu gue kenal dia?" Rani merasa sangat bingung. Sangat sulit rasanya mencerna semua ucapan Tasya barusan.


Karena gegar otak yang dialami Rani, ia sedikit kesulitan mengingat masa lalu nya. Tapi kata Dokter, seiring waktu pasti akan pulih dengan sendirinya.


Sekilas bayangan tentang Rani yang jatuh dari tangga muncul tiba-tiba di otak Rani. Itu membuat Rani sedikit kesakitan, terutama di bagian kepalanya.


"Awww... Aww..." Keluh Rani sambil memegangi kepalanya yang sakit. "Ingatan apa itu tadi? Kenapa gue jatuh? Apa itu kejadian waktu gue jatuh? Tapi kata Dokter, gue mungkin aja berhalusinasi karena cedera di kepala... trus itu tadi apa?" Tanya nya pada diri sendiri.


...*****...


2 Hari kemudian...


Tasya kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Rani. Karena kejadian kemarin, Rani benar-benar berusaha mengingat kejadian saat ia jatuh.


Begitu mendengar Tasya berjalan mendekat, Rani langsung berpura-pura tidur. Tasya duduk dan menaruh parcel buah di atas meja, "Hai Ran... Gimana kabar lo hari ini? Kemaren lo lagi tidur, sekarang tidur lagi? Huh... mungkin ini cara Tuhan buat ngurangin rasa bersalah gue." Pikir Tasya saat melihat Rani yang tertidur.


Tasya duduk dengan tatapan sendu, "Gimana Ran? Gue masih sama aja, gue bener-bener pengen jujur kesemua orang. Sebenci-benci nya gue ke Lisa, gue nggak pernah berani main-main sama nyawa."


Bersambung...


Note: Mohon maaf yah temen-temen jarang up. Soalnya Author juga sekolah, jadi harus ngerjain tugas dulu nggak sempet deh buat up ceritanya. Maafin yah para readers udah buat kalian nunggu lama. Jadinya up nya tiap minggu, karena cuma di hari minggu Author punya sedikit waktu. Tapi ke depan nya Author usahain deh buat up cepet-cepet. Makasih buat yang udah nunggu. Love you all💙


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!