Love In Many Ways

Love In Many Ways
Perlombaan (2)



Lisa mulai serius karena babak ini adalah babak penentuan, ia memahami semua tak-tik permainan ini.


"Bisa atau nggak aku jawab pertanyaannya, itu urusan belakangan. Yang paling penting aku harus pencet bel biar punya kesempatan jawab!" batin Lisa.


Dinda melirik sekilas kearah Lisa dengan sinis, "Liat aja, gue bakal kalahin lo dan buat lo malu!" pikir Dinda.


Guru tadi kembali menjelaskan, "Kategori umum mungkin akan sedikit rumit karena 50% dari IPA dan 50% lagi dari IPS. Jadi tak ada jaminan untuk siapa pemenangnya, 10 pertanyaan Biologi, 10 pertanyaan sejarah, 10 pertanyaan matematika, 10 pertanyaan geografi, 5 pertanyaan Bahasa Indonesia dan 5 pertanyaan Bahasa Inggris. Bel telah diuji coba, begitu ada salah satu yang menyala maka yang lain tidak bisa menyalakan. So welcome to this competition and good luck!"


Perlombaan dimulai, guru itu memunculkan power point untuk menunjukkan pertanyaannya, sembari pertanyaan dibacakan, Lisa benar-benar menyimak dengan serius pertanyaannya.


"Pertanyaan pertama! Today is Monday, what day was four days ago?"


Teeettt....


Bel langsung berbunyi, guru langsung mempersilahkan siswa yang memencet bel untuk menjawab pertanyaannya. "Teruntuk nomer urut 3, dipersilahkan menjawab."


Lisa menggenggam kesal karena ternyata Dinda lah yang mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan pertama ini.


"It was Thursday!" jawab Dinda dengan percaya diri.


"5 poin untuk nomor urut 3!"


Poin Dinda bertambah. Dinda menunjukkan senyum yang nampak meremehkan ditujukan pada Lisa, Lisa hanya diam tak ingin menanggapi dan kembali fokus ke pertanyaan selanjutnya.


"Oke berarti ini cuma masalah cepat lambatnya aku menekan bel! Selama aku bisa cepat nekan bel urusan jawabannya benar apa nggak itu urusan belakang, kuncinya ada harus cepat, kesempatan untuk menang pasti besar! Semangat Lisa!" Lisa menyemangati dirinya sendiri.


Perlombaan kembali dilanjutkan sesuai aturan, Lisa tak main-main lagi setelah melihat ia melepaskan 1 pertanyaan untuk Dinda.


Hampir 1 jam 30 menit perlombaan ini diadakan. Lisa mengeluarkan keringat yang bercucuran karena lelah berpikir keras, hasil akan diumumkan setelah guru merundingkannya.


Lisa dan Dinda sudah tak bisa menebak siapa pemenangnya karena mereka terlalu fokus dengan pertanyaan dan selalu bersaing kecepatan untuk menjawab.


Lisa dan Dinda belum keluar, namun salah satu peserta sudah keluar dan menemui temannya. Tak sengaja Devan yang stay di luar untuk Lisa mendengar percakapan peserta itu.


"Eh gila, gue di dalem tiba-tiba kikuk tau! Di dalam itu auranya bener-bener suram plus panas, seolah-olah lomba ini diciptakan buat Dinda sama Lisa doang. Gue aja nggak bisa jawab sampe 5 pertanyaan gara-gara Lisa sama Dinda yang berebutan, gue nggak gak ngira Lisa ternyata sepintar itu..."


"Oh ya? Trus kelihatannya siapa yang menang?"


"Ya mana gue tau, di dalam sana kita cuma mikir tentang pertanyaan, nggak sempet ngitung berapa pertanyaan yang bisa kita jawab. Tapi sumpah serem banget di dalam sana tadi! Gue aja yang tahun lalu juara 2, ngeri ngeliat persaingan Lisa sama Dinda!"


Devan iba-tiba ikut deg-degan mendengar cerita salah satu peserta itu. Ia tak mengira Lisa ternyata secerdas itu, ia berharap semoga Lisa bisa menenangkan lomba itu dan mengharumkan nama sekolah itu.


Lisa keluar dengan keringat yang begitu banyak, ia tampak santai namun juga lelah. Devan yang melihatnya langsung menghampirinya dan memberinya sebotol minuman.


"Lisa ayo duduk dulu! Minum dulu ini!"


Ajak Devan yang melihat Lisa agak kelelahan, Lisa mengangguk dan duduk.


Devan membiarkannya minum air yang ada di botol. "Jadi gimana?" tanya Devan penasaran.


"Gimana apanya?" Tanya Lisa. Sebelum Devan menjawab Rey tiba-tiba datang.


"Ehem" Rey berdehem memberi kode. Devan dan Lisa berbalik. "Siapa?" Tanya nya pada Devan.


"Eh Rey..." sapa Lisa.


"Dia siapa Cha?" Tanya Rey pada Lisa tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan.


Lisa sudah mencium aroma kecemburuan pada Rey, "Devan, ketua OSIS di sekolah." Jawab Lisa.


Rey manggut-manggut, sesungguhnya dia tau kalau Devan itu ketua OSIS namun ia cukup cemburu melihat mereka berdua.


Rey membalas uluran tangan itu, "Haii..."


"Yaudah kalo begitu aku ke pak Setyo bentar yah Lis, kalo ada apa-apa langsung telpon aja." Devan pamit pergi.


Setelah Devan pergi, Rey duduk di samping Lisa. Memberikannya air minum, "Gimana tadi?" Tanya nya.


"Apanya?" Tanya Lisa setelah meneguk air minum tersebut.


Rey sedikit canggung untuk menanyakan hasilnya, ia menggaruk kepala belakangnya. "Bisa jawab nggak tadi?" tanya Rey basa-basi.


"Ya bisa lah... Kan udah belajar juga."


"Y-ya terus? Hasilnya?"


Lisa melirik Rey yang sedikit gugup karena bertanya hasil. "Ya mana tau, kan belum diumumin juga. Katanya tunggu aja pengumumannya nanti di umumkan."


"Oh iya..."


Lisa merasa Rey yang tiba-tiba aneh, "Kamu kenapa sih? Kok aneh banget deh. Otak kah berubah gara-gara lomba apa gimana? Sok-sokan malu, padahal aslinya gatau malu!" gurau Lisa.


Rey pun mencubit hidung Lisa gemas, "Yee... kamu yang gatau malu ya, aku mah masih cool gitu."


"Dih, sok ke-pd an banget jadi orang..."


"Ya harus pd lah! Lagian kalo nggak cool, mana bisa jadi punya Lisa." Rey mencubit kedua pipi Lisa gemas.


"lh... Apa-apaan sih, nyubit mulu deh. Sakit semua wajah aku, aku teraniaya hiks... Ih, nyebelin!" keluh Lisa yang tampak begitu imut dan menggemaskan dimata Rey.


"Lagian kenapa sih, rasanya kamu ngemesin banget hari ini? Pengen aku karungin trus bawa pulang! Trus simpen di kamar biar nggak ada yang tau!" ujar Rey.


"Yee, kan udah sama kamu juga tiap hari Mas..."


Rey langsung menengok dan menatap Lisa dengan fokus, "Kamu manggil apa tadi? Coba ulangin sekali lagi deh..."


"Apaan sih?" jawab Lisa dengan sedikit canggung dan malu.


"Enggak! Coba ulangin lagi, kamu manggil aku tadi apaan! Buruan! Apa aku cium di sini?" ancam Lisa.


"Mas..."


Rey langsung berdiri, berbalik lalu melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil. "Ahahaha... Demi apa gue dipanggil Mas Ya Allah!" gumam Rey kegirangan.


"Kamu kenapa?" tanya Lisa yang merasa aneh dengan tingkah Rey


Rey berbalik, ia meremas jari-jari didepan wajah Lisa karena gemas. "Udah, mulai sekarang panggil aku Mas terus ya! Sumpah gemoy kalo manggilnya Mas!" pinta Rey dengan senyum manisnya.


"Yee kira apaan..."


"Udah, pokoknya diteruskan saja ya! Lanjutkan hal itu, saya suka!" kata Rey yang berusaha keras agar tidak semakin salah tingkah.


Melihat Rey yang terus-menerus salah tingkah, Lisa pun berniat menjahili Rey. Lisa ikut berdiri dan menangkup kedua pipi Rey, "Kamu kenapa sih Mas? Padahal biasanya aku juga manggil kamu pake kata-kata Mas juga loh..." kata Lisa dengan wajah imutnya.


Rey menggigit bibirnya karena tak kuat menahan keimutan Lisa. "Y-ya beda, kamu biasanya manggilnya kan Mas Husband... Kalo cuma dipanggil Mas doang rasanya ah mantap."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!