
Lisa menarik nafasnya lega setelah menyanyikan lagu tersebut, sungguh sangat menyenangkan saat ia bisa menikmati tiap alunan musiknya.
Tanpa sadar, Lisa merasa lebih enjoy dan lebih lega secara perlahan-lahan. Ia bernyanyi dengan sepenuh hati bersama dengan semua teman-temannya.
.
.
.
3 Jam Kemudian...
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, semuanya lelah setelah bernyanyi secara bergantian. Tenggorokan mereka terasa kering.
"Eh haus nih, cari minum dulu yuk!" Ajak Vhino.
"Aku juga. Sekalian makan aja, laper nih!" Sela Mira.
"Kuyy lah..."
Semuanya keluar dan pergi ke mall untuk membeli makanan dan minuman. Banyak orang yang memperhatikan teman-teman Lisa, bukan karena kagum hanya saja Lisa tampak seperti gembel yang berada di tengah-tengah anak-anak hits.
"Lis... Kamu di liat sama banyak orang tuh!" Bisik Mira.
Lisa melirik untuk melihat situasi sekitar, "Iya nih... Kenapa yah? Apa ada yang salah sama aku?"
Sarah yang mendengar kedua temannya saling berbisik pun ikut nimbrung, "Ya jelas! Lihat penampilan kamu! Kayak gembel tau nggak, diantara kita cuma kamu yang keliatan paling lusuh! Perasaan baju bagus kamu banyak deh trus mahal-mahal juga... Kenapa aku curiga kamu belum mandi yah...!"
"Enak aja! Aku udah mandi yah, tapi nggak nemu-nemu baju yang cocok makanya pake seadanya..."
Sarah dan Mira menggelengkan kepalanya kompak mendengar penuturan Lisa. "Jatuh sudah harga dirinya sebagai adik dari seorang CEO kaya raya..."
"Terserah kalian mau ngomong apa, nggak peduli. Gue mah bodo amat..." Ucap Lisa malas.
Fadil yang mendengarnya ikut bersuara, "Udahlah maklumin aja, kita semua ngerti kan dengan keadaan Lisa saat ini."
"Hm suka-suka hati kaulah..."
.
.
.
Di Food Court👈
Mereka semua makan semeja, dan seketika menjadi pusat perhatian karena penampilan mereka yang modis dengan visual yang juga menarik. Bak selebgram, orang-orang berdatangan meminta foto atau pun nomor mereka.
"Eh habis makan tunggu kita dulu yah! Mau nyari baju buat Lisa dulu, kasihan..., keliatan kayak anak tiri yang dirundung..." Ujar Fadil yang langsung mendapat tabokan di bahunya dari Lisa yang duduk di sebelahnya.
"Oh iya kapan-kapan kalian main ke rumah yah... Jarang-jarang loh aku undang teman ke rumah, palingan cuma Rey sama Ghea aja yang sering ke rumah, itupun sekarang udah jarang."
Semua memandang Vhino bingung, "Emang rumah kamu ada apaan? Ampe segitu nya."
"Nggak sih, kan udah lama nih aku nggak bawa teman ke rumah, kalo ada waktu kalian boleh kok main. Kalo pengen main game aku ada komputer di rumah, pengen nonton bioskop, di rumah ada LCD sama 3D proyektor... Kalo pengen main mobil-mobilan, ada 3D simulator car arcade di rumah. Lumayan buat refreshing lah..."
Semua melongo mendengar ajakan Vhino yang terkesan menggoda ini. Al ampe geleng-geleng kepala mungkin karena cukup tergoda, "Definisi sultan yang diakui, bukan mengaku-ngaku..."
Lisa memutar bola matanya jengah, "Andai aja Rey bolehin kayak gitu... pasti bahagia banget hidup ku... Apalagikan aku suka nonton. Tapi apaan, kamar isinya buku semua, ada TV aja jarang banget boleh dihidupin!" Kesal Lisa.
Faro mengangkat salah satu alisnya, "Apa hubungannya sama Rey? Kan dia cuma pacar kamu doang..."
Lisa membelalak agak panik, "Oh nggak gitu, bukan gitu maksudnya. Maksud aku tuh dia pasti aduin ke kak Putra trus aku dimarahin gitu..." Jawab Lisa asal.
.
.
.
Di Apartemen Faro...
Faro mengajak semua teman-temannya menuju apartemen pribadi nya yang jarang ia kunjungi. Tujuannya mengajak semua temannya ke apartemen nya tak lain hanya ingin membuat Lisa lupa masalahnya sejenak. Ntah sejak kapan ia mulai khawatir dengan keadaan Lisa.
"Ini apartemen aku.... santai aja, anggep rumah sendiri. Ini pribadi punya aku. Kalian tenang aja, nggak ada yang bisa masuk tanpa ijin dari aku kok..." Ujar Faro.
Semua temannya hanya bisa terpaku menganga lebar melihat desain apartemen Faro yang terlihat minimalis namun berkelas.
"Kenapa ngajak kita kesini?" Tanya Lisa.
"Kalian bisa santai dan ngelakuin apapun yang kalian pengen disini, pokoknya terserah kalian deh." Jelas Faro.
Seketika semua bersorak penuh kemenangan mendengar penjelasan Faro. "Yeiy, makasih yah Ro..."
"Punya temen sultan mah enak hehehe..."
"Oh iya, aku mau keluar bentar sama Fadil." Ujar Faro.
"Kemana?" Tanya Sarah.
"Cuma mau ketemu sama teman-teman yang lain kok, soalnya udah janjian." Jawab Fadil.
"Ceritanya reuni nih?"
"Hahahaa iya, kan udah lama juga Faro nggak gabung sama kita-kita gara-gara dia pindah sekolah." Jawab Fadil lagi.
"Oh oke..."
"Eh iya Ro, aku boleh pake nih alat-alat musik?"
"Boleh..."
Semuanya bersenang-senang, Faro dan Fadil keluar. Sementara Lisa baru ingat kalau dia ingin menanyakan sesuatu pada Fadil. Ia berniat keluar untuk menyusul Fadil dan Faro.
"Fadil..."
Langkah Lisa seketika terhenti begitu melihat Dinda yang tiba-tiba muncul di depan pintu yang berseberangan dengan pintu yang baru saja Lisa masuki. "Lo ngapain di sini?" Tanya Lisa ketus.
"Serah gue, lo juga ngapain disini?" Tanya Dinda balik.
"Justru gue yang harus nanya ke lo! Gue emang teman dekatnya Faro, wajar kalo gue disini sama yang lain. Lo sendiri siapanya Faro? Ngapain kesini?" Tanya Lisa.
"Gue, yah terserah gue! Bukan urusan lo juga!"
"Sejak kapan lo kenal sama Faro?" Lisa berpikir sejenak. "Ooohh... Gue tau. Lo kesini pasti mau nyamperin Faro kan? Iddih... Udah puas yah godain pacar orang makanya sekarang yang lo deketin itu Faro, sebagai mangsa lo selanjutnya..." Ketus Lisa.
"Lo pikir gue kesini buat ketemu Faro? Iddih sorry yah... Lo pikir seluruh apartemen disini cuma punya Faro? Cih..." Dinda mendecih sini.
Lisa memutar bola matanya jengah, "Ya udah... pergi sana, males gue liat muka lo!"
Dinda menunjukkan smirk-nya, "Kenapa? Kesel yah sama gue? Hahahaa... Emang lo itu s*mpah, dan selamanya tetep s*mpah! Liat aja nanti, gue pastiin lo nggak bakal bisa nyaingin gue, lo akan jatuh di bawah gue! Gue bakal jatuhin nama baik lo termasuk dengan semua prestasi lo di sekolah di depan semua orang, terutama di depan Rey!"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!