Love In Many Ways

Love In Many Ways
Penyelamatan (2)



Mira sibuk menyapu ruangan dengan senternya, sampai matanya terpaku pada sebuah meja panjang yang ada di tengah-tengah ruangan. "Rah, Sarah. Itu apa?" Ucap Mira sambil menunjuk ke arah meja panjang tersebut.


Sarah mengikuti arah jari telunjuk Mira dan melihat ke arah sebuah meja. "Ha? Apa itu?" Kaget Sarah.


"Halo, Rah. Kamu kenapa? Ada apa?"


"Ha? I-iya. Nggak kenapa-napa kok. Udah dulu yah, Al. Telpon nya aku tutup."


"Eh, jangan. Beritahu dulu letak ruangan nya dimana?"


Sarah pun akhirnya menjelaskan secara rinci keberadaan nya dengan Mira agar Al dan Vhino bisa menyusul.


"Udah yah, Al. Aku tutup dulu."


"Hati-hati, Yank. Bentar lagi aku nyusul."


"Oke, daah..."


"Rah, apaan tuh? Kok aku tiba-tiba merinding yah." Ucap Mira dengan pelan.


"Kamu jangan nakutin dong. Ayo kita liat." Sarah melangkahkan kaki nya pelan ke arah meja tersebut diikuti oleh Mira dibelakang nya.


"Aku nggak kuat liatnya, kalo menyeramkan gimana, Rah? Kita nggak usah liat aja deh." Ucap Mira sembari menutup matanya dengan telapak tangan nya.


"Husshh... Jangan berisik." Sesuatu yang terletak di atas meja tersebut mulai terlihat jelas dari pandangan Sarah. Dan betapa terkejutnya Sarah saat melihat sesuatu itu adalah...


"Mayat?" Sarah terkejut setengah mati saat melihat ada seorang mayat wanita yang terbujur kaku di atas meja, seluruh tubuhnya di tutupi oleh kain berwarna putih hanya kepala nya saja yang terlihat. Dan yah, mayat itu sudah mengeluarkan bau yang busuk. Sepertinya mayat ini sudah lama berada di sini.


"A-apa? Ma-mayat apaan?" Mira membuka matanya dan benar saja itu adalah mayat. "Rah, mayat Rah." Kaget Mira.


"Iya aku liat. Tapi mayat siapa ini? Kenapa ada disini? Dan apa hubungan nya dengan si pelaku?" Tanya Sarah sambil berpikir.


"Sarah, kita nyari nya ditempat lain aja yuk. Aku takut disini, serasa ngeri-ngeri gitu." Ujar Mira sambil bergidik.


"Hahahaaa... Jadi lo marah sama gue?" Suara seseorang terdengar.


"Rah, kayaknya ada orang deh disini." Bisik Mira. "Kamu denger kan suara yang tadi?"


"Iya, aku juga mikir nya gitu." Sarah ikut berbisik. "Kayaknya ruangan ini cukup luas deh."


"Lo nggak mau ngomong sama gue? Lo marah? Yaudah nggak papa deh. Yang penting sekarang lo jadi milik gue. Hahahaaa..." Suara itu terdengar sangat bahagia. "Sekarang udah nggak ada lagi yang bisa merebut lo dari gue, karena lo itu cuma milik gue. Lo nggak boleh bahagia dengan orang lain selain gue."


"Hmm yaudah deh gue mau pergi dulu, gue ada urusan sebentar. Lo tunggu sini yah, sayang. Aku cuma sebentar kok."


"Mira, dia mau keluar. Ayo cepet kita ngumpet." Kata Sarah.


"Dimana?" Tanya Mira yang terlihat panik.


"Mmm... disitu, dibawah tangga." Sarah langsung menarik tangan Mira untuk bersembunyi dibawah tangga. "Matiin senternya."


"Haih, dia marah lagi." Ucap seorang wanita sambil menutup pintu. Oh ternyata ada sebuah ruangan di tempat ini. Eh nggak ding, masih ada lagi di pojok kanan. Tapi ruangan yang di pojok kanan tersebut terlihat lebih kecil.


Sarah dan Mira berjongkok dibawah tangga, memperhatikan wanita yang baru saja keluar dari ruangan. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat wanita tersebut.


"I-itu... Itu Ghea kan?" Bisik Mira yang sama kagetnya. Bahkan Sarah tak mampu berkata-kata lagi, mulutnya hanya menganga tak percaya dengan semua ini.


Setelah Ghea pergi dari ruangan tersebut, Mira langsung histeris.


"Itu benar Ghea. Rah, apa ini semua perbuatan Ghea? Tapi kenapa? Perasaan kita semua tidak mempunyai masalah apa-apa, semua baik-baik aja deh. Tapi..." Yang ditanya hanya terdiam, Sarah terlalu kaget melihat semua kenyataan ini. Mira terlihat berpikir, memikirkan sebenarnya apa yang terjadi.


"Kamu diem dulu biar aku jelasin." Pinta Sarah. "Kamu inget kan dulu pas aku selalu ketemuan sama Ghea trus Ghea selalu ngajakin aku jalan?" Tanya Sarah.


"Iya inget. Yang pas dia selalu minta jalan berdua sama kamu dan nggak pernah ngajakin teman yang lain."


"Nah kan pas itu dia selalu curhat sama aku, selalu cerita sama aku tentang Rey. Katanya dia udah lama suka sama Rey,..."


"WHAT?!" Sahut Mira kaget. Sarah langsung menutup mulut Mira dengan telapak tangan nya.


"Sssttt... Kamu ribut banget sih!"


"Ya maap. Aku kaget tau. Masa sih Ghea suka sama Rey?"


"Ya iya, dia ngomongnya gitu. Kan dia udah sahabatan dari kecil sama Rey sama Vhino. Katanya dia nggak bisa liat Rey sama cewek lain."


"Dan aku nggak nyangka aja dia bakal senekat ini. Pantesan dari kemaren nggak pernah ngasih kabar." Sambung Sarah.


"Jadi sekarang kit-..." Belum selesai kalimat dari Mira, Sarah sontak langsung menutup mulut Mira dengan telapak tangan nya kembali.


"Ada yang datang." Bisik Sarah.


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga satu per satu dengan cepat. Terlihat Ghea berlari menuju meja panjang yang berada di tengah ruangan. "Mama..." Pangg Ghea sambil memeluk mayat yang ada di atas meja.


Sarah dan Mira yang mendengar itu, langsung saling menatap heran. "Mama?" Gumam Sarah.


Mayat itu... Mayat Mama nya Ghea? Tapi kenapa dia tidak menguburnya?


"Mama cepat bangun yah, calon suami Ghea udah dateng, Ma. Mama harus liat Ghea nikah yah." Ucap Ghea sembari mengusap-usap rambut Mama nya.


"Mama kok tidurnya lama banget sih. Ntar resepsi pernikahan nya bakal kita adain dengan mewah. Mama pengen liat Ghea bahagiakan? Ya pasti dong mau, iyakan Ma?" Ghea meraih tangan Mama nya yang sudah sangat kaku. Lalu menatap wajah Mama nya yang putih pucat. "Mama bangun dong, Ma. Oh iya, doa in Ghea yah? supaya Ghea bisa menghancurkan cewek yang mau ngerebut calon suami Ghea. Oke, Ma? Kalo gitu Ghea keluar dulu yah, tolong jagain calon suami Ghea di dalam sana. Dadaahh Mama..." Ghea mengecup singkat pipi Mama nya kemudian kembali berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Wah parah, kayaknya Ghea udah nggak waras." Ujar Mira.


"Aku juga mikirnya gitu. Aku kasihan banget sama dia. Padahal dia baik. Udah berapa lama yah mayat ini? Udah berbau nggak enak yah." Ucap Sarah sambil menutup hidungnya.


"Haih itu nggak penting. Sekarang kita cari Lisa sama Rey, kayaknya mereka ada di sekitar sini. Kamu ingat kan pas Ghea teriak-teriak tadi?" Tanya Mira.


"Iya, kayaknya ada di ruangan itu deh." Sambung Sarah.


"Yaudah ayo." Sarah dan Mira keluar dari tempat persembunyian nya, kemudian berjalan pelan ke arah ruangan yang tadi di masuki oleh Ghea.


"Nggak ke kunci."


"Yaudah buka." Pinta Sarah.


Mira membuka pintu ruangan tersebut dengan sangat pelan. Mira celingukan melihat ke dalam ruangan.


"Ada orang?" Tanya Sarah.


"Eh gelap. Bentar aku senter dulu." Mira menerangi ruangan dengan menggunakan senter ponselnya, mencari sosok kehidupan didalam nya.


"Eh itu..."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!