
Lisa yang mendengar nya langsung protes. "Saya juga mau es cincau!" Sahut nya cukup keras.
Bapak penjual nya agak bingung, akan di serahkan kemana es cincau nya yang hanya tinggal satu.
"Yaudah es nya buat dia aja." Ujar Faro sambil tersenyum.
Lisa melirik pada Faro dengan tatapan aneh, kemudian mengambil mie ayam dan es cincau nya. "Ini berapa Pak?" Tanya Lisa menanyakan harga.
"25 ribu, dek." Lisa merogoh saku nya. Namun dia tak menemukan uang nya sama sekali. Loh? Uang nya mana? Apa tertinggal di kelas yah? Aduh, pikun banget sih, pake lupa ambil uang nya lagi.
"Mmm... Maaf Pak, uang nya tertinggal di kelas..." Ucap Lisa dengan pelan. "Boleh saya ambil dulu uang nya?"
"Aduh, gimana yah, dek?!"
Faro yang melihat Lisa sedang dalam masalah pun langsung ingin membantu nya. "Ini pake uang saya aja, Pak." Faro menyodorkan uang nya pada bapak penjaga kantin.
"Eh nggak usah." Cegah Lisa.
"Nggak papa." Jawab Faro sambil tersenyum menunjukkan lesung pipi nya yang terlihat sangat manis.
"Yaudah." Ucap Lisa cuek kemudian berjalan pergi dari antrian tersebut sambil membawa makanan dan minum nya. Seseorang tolong ingatkan Faro untuk tidak berharap apapun dari Lisa, terutama ucapan terima kasih dari nya. Sama suami nya aja Lisa jarang mengucapkan 'terima kasih' apalagi kalo sama manusia baru yang dia kenal.
Lisa duduk di salah satu kursi yang ada di kantin. Dia menyantap makanan nya sendiri dengan tenang. Saat ini Lisa memang sendiri. Sarah sama Al lagi berduaan dan bucin-bucin ngan di depan kelas, sedangkan Mira lagi ke perpustakaan ngerjain tugas.
"Aku boleh duduk di sini gak?" Tanya seseorang.
Lisa mendongak dan melihat ada Faro yang sedang berdiri di samping kursinya sambil tersenyum. Ramah banget dah, kan tambah ganteng kalo lagi senyum.
Lisa bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia nggak suka sama orang baru, apalagi seorang laki-laki tapi di sisi lain lelaki tersebut telah menolong nya. Kalo saja tidak keberatan Lisa sudah menjawab dengan judes kalo dia nggak suka cowok itu terus mendekatinya.
Melihat Lisa melamun, Faro kembali bertanya. "Boleh kan?"
"Ah iy-iya. Duduk aja." Jawab Lisa.
Faro duduk tepat di depan Lisa, dia meletakkan nasi goreng dan es teh nya di atas meja.
Keadaan saat ini benar-benar canggung. Lisa sudah sangat bosan dengan situasi seperti ini. Ingin rasa nya dia menghabiskan makannya dengan cepat lalu pergi dari sana. Sampai akhir nya...
"Oh iya. Uang kamu tadi ntar aku ganti." Ucap Lisa.
Faro tersenyum untuk kesekian kali nya. "Nggak usah, aku ikhlas kok bantuin nya."
"Nggak papa. Aku nggak mau ngerepotin. Nanti aku kasih uang nya."
"Nggak papa. Aku ikhlas kok, serius deh."
Lisa terdiam, mau ngomong apapun orang itu dia akan tetap mengganti nya. Apalagi dia tak mau berhutang budi.
Tanpa Lisa sadari, semua siswa-siswi di kantin sekolah dari tadi memperhatikan nya. Bahkan ada yang memotret nya dan memasukkan nya di forum sekolah, sebagai bahan gosip. Kenapa? Ya karena Lisa duduk dan makan bersama Faro, siswa baru yang tak kalah tampan nya. Ada yang iri karena Lisa terus saja di kelilingi oleh cowok ganteng dan ada juga protes, kenapa Lisa sama cowok lain? Bukan nya Lisa lagi pacaran sama Rey? Dia nggak mikirin perasaannya Rey? Begitulah kira-kira maksud tatapan mereka.
Dan diantara para siswa-siswi tersebut ada Vhino dan juga Ghea yang juga sedang sibuk memperhatikan kedua nya di kursi seberang.
"Eh kamu mau ngapain?" Tanya Vhino saat melihat Ghea mengeluarkan ponselnya dabn mengarahkan kamera nya pada Lisa dan Faro.
"Udah kamu diem!" Ujar Ghea.
"Kok kamu pake foto segala? Kamu mau ngirimin Rey yah?" Tanya Vhino lagi.
Ghea terlihat sibuk dengan hp nya. "Kalo iya emang kenapa?"
"Ya Allah Ghea, kamu jangan kayak gitu dong. Ntar Rey cemburu gimana? Kalo mereka berantem gimana?"
"Ghea. Aku kan udah bilang, berhenti ganggu mereka. Kamu udah nggak ada harapan lagi, mereka berdua itu udah nikah Rey udah jadi suami. Sia-sia juga kalo kamu berusaha ganggu hubungan mereka."
"Bodo amat. Aku nggak bakal pernah peduli. Kamu ngerti nggak sih sama perasaan aku saat ini?"
"Iya aku ngerti. Tapi nggak gini juga. Aku bilang gini sama kamu tuh karena aku sayang sama kamu. Aku peduli sama kamu. Biar nanti kamu nggak nyesel." Ujar Vhino dengan pelan.
"Tapi mau gimana lagi? Perasaan aku ini nggak bakal mudah hilang." Tegas Ghea.
"Haih, terserah." Sahut Vhino, lalu melanjutkan makannya. Kapan sih kamu ngerti perasaan aku ini? Kapan sih kamu ngerti kalo selama ini aku nggak main-main sama perasan aku ke kamu? Dan kapan kamu berhenti berharap sama Rey?
...*****...
Pulang Sekolah...
Sekitar 20 menit yang lalu Lisa sudah menunggu jemputan di samping gerbang sekolah. Bolak-balik dia melihat jam tangan nya dan menatap jalanan, mencari jemputannya. Lisa sudah mengirimi pesan pada pak Anto agar segera menjemputnya, namun pesan nya tersebut terlihat tak pernah di balas.
"Mau bareng nggak?" Tanya Sarah dari arah samping Lisa. Terlihat dia berboncengan dengan Al menggunakan motor sport nya.
Lisa menoleh. "Nggak mau, udah sana kalian pulang."
"Bener nggak mau?" Tanya Al.
"Ih paan sih kalian berdua. Kalo aku bareng kalian aku duduk nya dimana? Emang cukup?"
"Kamu di ban motor nya aja." Ledek Al.
"Haih udah sana kalian pulang. Aku nanti ada jemputan kok."
"Bener nih?" Tanya Sarah.
"Iya sana pulang. Hati-hati loh."
"Yaudah daaahh..." Sarah melambaikan tangan nya pada Lisa.
"Duluan yah, hati-hati ntar ada rampok loh. Hahahaa..." Sahut Al sambil menjalan kan motor nya.
"Ter-se-rah." Teriak Lisa dengan kencang. "Huh dasar bucin yah mereka." Gerutu Lisa kesal.
Melihat seseorang yang di kenal nya sedang berdiri di samping pagar, Faro menghentikan laju mobil nya tepat di samping Lisa yanv sedang berdiri. Faro turun dari mobil sport nya dan mencampuri Lisa. "Lagi nunggu siapa?" Tanya nya.
Lisa menoleh lalu kemudian menghela napas. "Nunggu supir." Jawab Lisa.
"Oh, mau bareng nggak?"
"Nggak makasih." Lisa merogoh saku nya dan mengeluarkan uang nya. "Nih, aku kembaliin uang kamu tadi."
"Nggak usah. Aku udah bilang nggak usah. Aku ikhlas kok." Tolak Faro.
"Nggak papa ambil aja. Ini buat kamu."
"Eh nggak usah."
"Udah ambil aja." Lisa meraih tangan kanan Faro kemudian meletakkan uang nya di telapak tangan Faro. "Ambil aja, makasih buat yang tadi."
"Hm, yaudah sama-sama." Akhirnya Faro menerima nya dengan terpaksa. "Yaudah kalo gitu aku anterin pulang yah."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!