Love In Many Ways

Love In Many Ways
Gombalan anak IPS



"Mmm... Sejak kapan yah?" Ghea tampak berpikir.


"Mmm... Kalo nggak salah mungkin udah tiga Minggu. Yakan Samin?" Ucap Sarah.


"Mmm... Mungkin. Kita juga nggak ngitung sih."


"Samin tuh siapa?" Tanya Mira dengan dahi berkerut seperti sedang bingung.


"Namanya dia." Ujar Sarah.


"Kalo di lihat-lihat kalian udah akrab banget yah." Kata Vhino.


"Iya dong. Udah ah kok malah bahas kita sih." Ucap Ghea.


...*****...


Kelas 11 IPA 2πŸ‘ˆ


Setelah makan, Rey dan Vhino kembali ke kelas mereka. Sedangkan Ghea masih tinggal bersama Sarah, katanya mau bahas sesuatu yang penting.


"Rey, kok aku curiga yah!" Vhino memegang dagunya sambil berpikir.


"Curiga? Kenapa?" Tanya Rey.


"Menurut apa yang aku liat tadi, Lisa itu kayaknya selingkuhin kamu deh. Masa di depan kamu dia mesra gitu sama Al."


"Aku udah putus sama Lisa."


Mendengar itu Vhino sontak terkejut. "Putus? Kapan? Kok bisa? Ada masalah apa? Kok kamu nggak pernah cerita sih?" Tanya nya beruntun.


"Iya. Putusnya itu kemarin. Aku yang mutusin untuk ngelepas Lisa."


"Loh? Kenapa? Nggak rugi?"


"Ini juga untuk kebahagiaan Lisa. Dia itu sebenarnya suka nya sama Al, bukan sama aku."


"Trus kamu gimana? Perasaan kamu gimana?"


"Yaa... Aku berusaha tegar aja. Aku nggak papa kok. Ntar juga kalo udah lama pasti terbiasa."


"Tapikan kamu..." Belum selesai kalimat dari Vhino, seseorang tiba-tiba menyapa.


"Rey!" Panggil seseorang.


Rey menoleh. "Ya? Kenapa?" Tanya Rey pada seorang laki-laki yang sedang berdiri di samping meja.


"Kamu di panggil tuh." Siswa itu menunjuk ke arah pintu. Memperlihatkan seorang perempuan yang sedang berdiri di sana seperti menunggu seseorang.


"Ada apa?" Tanya Rey lagi.


"Nggak tau. Mending kamu samperin!" siswa itu berjalan pergi meninggalkan tanda tanya.


"Bentar yah, Vhin!" Ucap Rey pada Vhino. Lalu Rey berdiri dan berjalan menghampiri perempuan itu.


"Kenapa?" Tanya Rey pada perempuan yang bernama Dinda.


Dinda adalah anak Kelas 11 IPA 1 dan merupakan Wakil Ketua OSIS.


"Jadi gini, tadi pak Rudi bilang, untuk para anggota OSIS nanti jangan langsung pulang dulu karena ada rapat di ruang OSIS. Aku disuruh info in sama kamu." Dinda menjelaskan.


"Oh, oke. Makasih infonya."


"Yaudah aku pergi dulu yah, Daah." Dinda berbalik dan berjalan pergi.



Nama Lengkap ELVINA DINDA FRIANKA MARTIN


Nama Panggilan Dinda


...*****...


Kelas 11 IPS 5 πŸ‘ˆ


Sejak bel masuk berbunyi, kelas 11 IPS 5 masih tetap melakukan aktivitas masing-masing. Kelas begitu berisik, kacau dan berantakan. Kenapa? Ya karena jam kosong lah. Guru kelas tidak datang mengajar karena ada urusan, jadi semua murid merasa bebas.


Lisa sedang duduk di bangku nya sambil mencatat pelajaran yang ketinggalan tadi gara-gara main surat-suratan sama Al.


Kalau Al sih tak peduli soal pelajaran yang ketinggalan tadi. Dari tadi Al berusaha untuk menganggu Lisa yang sedang konsentrasi.


Al menatap Lisa yang sedang menulis sambil senyam-senyum. Lisa yang menyadarinya pun langsung merasa kikuk di tatap demikian.


"Jangan di liatin terus, kalo lebih dari tiga detik di liatin nanti terpesona loh." Ucap Lisa sambil tersenyum.


"Terpesona... aku terpesona." Al malah bernyanyi. "Biarin. Kalo soal itu mah emang udah dari dulu." Kata Al, masih melanjutkan tatapan nya.


"Oh yah? Kok aku nggak tau?" Tanya Lisa lalu menoleh ke arah Al, kemudian kembali melanjutkan catatannya.


"Ya iyalah kamu nggak tau. Kamu kan orangnya nggak peka!"


"Dih,siapa bilang. Kamu nya aja yang nggak berani nyatain, dasar penakut." Ledek Lisa.


"Aku tuh udah nyatain perasaan aku lewat sikap aku ke kamu selama ini."


"Sikap kamu yang reseh itu nggak mungkin bisa buat aku peka, yang ada cuma buat aku kesseelll sama kamu, resseehh..." Lisa melirik ke arah Al dengan tatapan tajam.


"Reseh tapi akhirnya suka kan? Cinta kan? Ngaku aja deh!"


"Nggak ih. Paan sih." Ucap Lisa sambil tersenyum malu-malu, lalu melanjutkan catatannya lagi.


"Lisa." Panggil Al.


"Apa?" Menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.


"Kalo orang ngomong tuh, di liat dong!" Pinta Al.


"Iya deh." Lisa menoleh ke arah Al, lalu menatap nya serius. "Apa?"


"Nggak tau." Jawab Lisa.


"Jangan di jawab dulu!" Ucap Al dengan kesal.


"Oh gitu..."


"Kamu tau nggak?" Pertanyaan yang sama di lontarkan Al.


"....." Lisa tak menjawab apapun.


"Di jawab dong. Tanya 'apa' gitu loh!"


"Tadi katanya nggak boleh jawab."


"Aelah... jawab aja 'apa' nanti, oke!"


"Hmm..."


"Lisa. Kamu tau nggak?"


"Apa?"


"Kamu tau nggak bedanya proses erupsi dengan cinta aku ke kamu itu? Kalo erupsi gunung berapi terbentuk karena magma yang menerobos lapisan bumi yang menimbulkan letusan kemudian lelehan magma keluar ke permukaan bumi. Kalo cinta aku ke kamu terbentuk karena rasa suka yang menerobos dinding hati yang menimbulkan sayang kemudian keluar menjadi rasa cinta karena meleleh lihat senyum kamu." Ujar Al sambil tersenyum ke arah Lisa.


Lisa terdiam sejenak seperti berpikir. "Au ah... kagak paham!"


Ekspresi wajah Al seketika berubah yang tadinya penuh harapan bakal buat Lisa tersenyum malu-malu atau malah salah tingkah, lah ini? Lisa malah nggak paham. Mimik wajah Al berubah menjadi kecewa namun berusaha dia tahan dengan senyum yang dipaksakan.


Lisa melanjutkan catatannya tak menghiraukan Al lagi.


...*****...


Pulang Sekolah...


"Rey! Yuk pulang." Ajak Vhino.


"Kalian duluan aja, aku ada rapat di ruang OSIS."


"Oh, oke."


"Dadaahh Rey..." Ghea melambaikan tangannya pada Rey. Kemudian berlalu pergi bersama Vhino.


Rey mengambil tas nya dan berjalan menuju ruang OSIS.


.


.


.


Ruang OSIS πŸ‘ˆ


"Eh Rey, ayo cepet sini." Panggil Dinda saat melihat Rey sedang berdiri di depan pintu.


Rey berjalan masuk, duduk di sebelah Dinda.


"Udah mulai?" Tanya Rey.


"Belum, nunggu kamu dulu."


Semua sudah lengkap di sana. Sudah ada Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan beberapa anggota OSIS lainnya serta ada tiga guru yang ikut serta dalam rapat ini.


"Oke anak-anak karena yang di tunggu sudah datang dan semuanya sudah lengkap. Maka bisa kita mulai?" Tanya Pak Rudi.


"Bisa Pak!" Ucap semua siswa-siswi yang sudah ada di ruangan tersebut dengan serempak.


.


.


.


Setelah rapat selesai Rey berjalan keluar ruangan beriringan dengan Dinda.


"Rey, aku duluan yah." Ucap Dinda.


"Oh oke."


Dinda berjalan meninggalkan Rey. Berjalan ke arah gerbang sekolah. Biasanya supirnya akan menunggunya di sana saat pulang sekolah. Tapi, sesampainya Dinda di sana dia tak melihat supirnya sama sekali.


"Loh... Pak Jaya mana?" Dinda mengambil hp nya untuk menghubungi supirnya. "Lah... hp nya kok lowbet? Aduuh...Gimana nih."


Dinda sudah mulai panik, tak tau harus bagaimana. Di sekitar sekolah pun jarang ada kendaraan melintas. Mau pakai Taksi atau Ojek tak bisa. Karena apa? Papa nya Dinda melarangnya untuk naik kendaraan umum, apalagi Ojek.


"Loh? Dinda? Kok belum pulang?" Tiba-tiba Rey datang dan mengejutkan nya.


"Astaga Rey. Kaget tau!" Dinda mengusap dadanya berulang yang masih berdebar-debar.


"Maaf. Kok nggak pulang?"


"Ini supir aku belum dateng. Mau ku telpon hp ku lowbet. Kamu bawa hp kan? Boleh pinjam bentar nggak?" Ucap nya pada Rey.


"Aku lupa bawa hp tadi."


"Yaaah... Gimana nih?" Gumam Dinda. Tapi cukup di dengar oleh Rey.


"Yaudah aku anterin."


"Oh, eng-enggak. Nggak usah." Dinda menolak.


"Udah nggak papa. Daripada kamu sendirian disini, sekolah kan udah sepi, ntar ada preman yang godain kamu. Mau? Kalo kamu di culik gimana?"


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!