Love In Many Ways

Love In Many Ways
Sandaran



"Kak Putra kenapa? Maksud kak Putra apa?" Tanya Lisa heran.


"Mommy... Mommy udah ninggalin kita..." Ucap Putra dengan air mata yang terus berurai.


Sekuat apapun lelaki, sejarang apapun dia meneteskan air mata, pasti ada saatnya ia mencapai titik terendahnya dimana ia sudah tak sanggup dan jalan satu-satunya adalah menangis, maka ia akan melakukan nya.


Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Putra sendiri membuat Lisa sudah tak sanggup menahan air mata yang sedari tadi memaksa keluar.


"Nggak, nggak mungkin. Kak Putra jangan bercanda, aku nggak percaya sama kak Putra. Aku mau liat sendiri keadaan Mommy." Lisa ingin melepaskan pelukan kakak nya namun ditahan oleh Putra.


"Jasad Mommy udah di bawah ke rumah, Dek. Kita harus belajar ikhlasin Mommy, biar Mommy bisa tenang disana. "


"Mommy nggak mungkin pergi secepat ini, nggak."


Putra menghela napas, "Kita harus kuat, Ini udah jadi takdir. Kamu jangan terlalu banyak bersedih nggak baik buat mental kamu yang saat ini masih down." Ucap Putra sambil mengusap punggung adiknya.


Lisa hanya diam tak menjawab. Putra yang merasa aneh mengendurkan sedikit pelukannya. Tubuh Lisa terasa melemas. Ternyata dia sudah jatuh pingsan.


"Astagfirullah, Dek..." Sahut Putra kaget. "Rey, bantuin kakak." Pinta Putra.


Rey dan Putra membopong tubuh Lisa kembali naik ke atas ranjang. Melihat keadaan adik iparnya membuat Felice tak sanggup berdiri, ia terduduk di lantai dengan tetesan air mata yang tiada hentinya.


Putra mengusap kepala Lisa dengan lembut, "Maafin aku, Dek. Ini semua salah aku. Kalo saja aku nggak pernah kenal sama para pelaku itu ini semua nggak bakal terjadi."


Putra mengusap pipinya yang basah dan matanya yang merah, "Rey, tolong jaga dia. Kalo misalkan dia udah sadar dan masih tetep kekeuh mau ketemu sama Mommy, kamu boleh anterin dia buat ketemu Mommy untuk terakhir kalinya." Pesan Putra.


"Iya kak."


"Aku percaya sama kamu." Putra menghela napas sejenak." Yaudah, Felice ayo kita pulang, kita harus mengurus jasad nya Mommy." Putra menghampiri Felice yang masih terduduk di lantai kemudian membantu nya berdiri.


"Kita pulang yah, jaga adikku Rey." Pinta Putra.


"Iya kak." Jawab Rey dengan pelan.


Putra dan Felice berlalu pergi meninggalkan ruangan tesebut. Rey menatap sendu ke arah Lisa. "Ini yang aku takutin. Aku ngerti perasaan kamu. Kamu kembali sedih dan perasaan kamu lagi lagi dan lagi hancur. Dan aku paling benci saat aku nggak bisa ngapa-ngapain. Suami apa aku ini?!" Ujar Rey sedih.


Rey meraih tangan milik Lisa. "Aku takut mental kamu makin parah kalo kamu kayak gini terus... Maafin aku, aku nggak bisa apa-apa."


"Mommy..." Panggil Lisa sesaat setelah dirinya tersadar.


"Lisa..."


"Mommy, Mommy mana Rey? Mommy nggak pergi kan? Itu tadi cuma mimpikan Rey? Iyakan?" Tanya Lisa memastikan. Namun tampak nya Rey tak ingin menjawab apa-apa. Rey hanya terdiam sambil menunduk.


"Rey jawab! Itu tadi cuma mimpi..." Suara Lisa mulai bergetar. Ia langsung bangun dan terduduk. "Mommy nggak boleh pergi! Nggak boleh, aku nggak akan pernah izinin! Hiks..." Perlahan buliran air matanya kembali terjatuh, isakan tangis mulai terdengar memenuhi seisi ruangan. "Hiks... Mommy... Maafin Lisa, hiks..."


"Hei, jangan menangis." Ucap Rey sambil mengusap pipi Lisa. "Kamu jangan kayak gini, aku sedih liatnya."


"Mommy, Rey... Hiks..." Tangisan Lisa bukannya mereda malah tambah kenceng.


Rey langsung berdiri, duduk di tepi ranjang samping Lisa, dan dengan cepat membawa Lisa kedalam pelukan nya yang menghangatkan. "Husshh... Udah yah. Kita nangis juga Mommy nggak akan kembali, yang kita lakuin cuma bisa memgikhlaskan nya biar Mommy bisa tenang." Rey mengelus-elus dengan lembut kepala istrinya.


"Tapi aku nggak bisa... Hiks... Aku nggak kuat, hiks..." Lisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik lelaki yang ia banggakan.


"Sssstt... Udah yah. Udah-udah... Kamu kayak gini nggak baik buat mental, apalagi kamu masih belum terlalu pulih."


"Reeeyy... Hiks... Rasanya sesak banget... Ini semua, hiks... Gara-gara aku..."


"Suuutt... Kamu nggak boleh ngomong gitu..."


"Tapi bener Rey, Mommy kena peluru gara-gara nolongin aku..."


"Udah jangan nangis lagi. Kamu nggak boleh menyalahkan diri kamu." Ujar Rey. "Nangis nya udah yah. Sekarang kita pulang, temui Mommy untuk yang terakhir." Ujar Rey dengan lembut.


"Husshh husshh... Udah dong, Cha. Kita pulang sekarang. Oke?"


Lisa menangguk tanda setuju.


"Yaudah jangan nangis." Rey melepas pelukan nya lalu mengusap pipi Lisa. "Udahkan? Udah lega? Sekarang kita pulang."


.


.


.


Rey dan Lisa sudah sampai di rumah. Karena jarak rumah sakit dengan rumah milik Lisa agak jauh, itu cukup membutuhkan waktu beberapa lama, sekitar setengah jam. Anehnya, tak ada seorang pun di dalam rumah. "Loh? Kok nggak ada?" Tanya Rey bingung sambil menatap seantero rumah. Benar-benar sepi, tak ada kehidupan sama sekali.


"Bentar aku telpon dulu." Rey merogoh sakunya dan mengambil hp nya berniat untuk menelpon Putra. Rey duduk di atas sofa, diikuti oleh Lisa yang langsung menyandarkan kepala nya dibahu lebar sang suami. Melihat tingkah Lisa, Rey langsung merangkul Lisa dan berusaha memberikan ketenangan. Mata Lisa terlihat merah dan sembab, dan yah dia masih memakai baju pasien nya tanpa berniat untuk mengganti nya.


"Halo kak, kakak dimana? Kenapa di rumah sepi sekali?"


"....."


"....."


"Oh yaudah, Rey sama Lisa kesana sekarang."


"Kenapa?" Tanya Lisa sambil mendongak kan kepalanya ke arah Rey.


"Katanya mereka udah di pemakaman."


"Yaudah kalo gitu kita kesana sekarang."


"Kamu nggak papa? Kuat kan?" Tanya Rey khawatir.


"Kuat kok."


"Yaudah yuk."


.


.


.


Tempat Pemakaman Umum!


"Mommy...!" Lisa langsung berlari dari kejauhan saat melihat pemakaman telah usai. Semua orang telah pergi, yang tinggal hanyalah Putra yang sedang memeluk nisan Mommy nya dan juga Felice yang sedang menangis tersedu-sedu disamping Putra.


"Eh, Cha. Jangan lari-lari!" Panggil Rey sambil berusaha mengejar Lisa. Namun Lisa tak peduli dan tetap terus berlari ke arah makam Mommy nya.


"Mommy jangan pergi..." Lisa langsung memeluk kuburan Mommy nya tanpa peduli bajunya akan kotor. Ia terduduk ditanah.


"Dek." Panggil Putra.


"Hiks... Hiks... Mommy..." Tangis Lisa seketika pecah begitu saja. Dia sungguh tak bisa menahan tangisan nya. "Mommy jangan ninggalin Lisa..."


Putra bergeser dan berjongkok disamping Lisa. Putra merangkul Lisa dengan lembut. "Kamu harus belajar ikhlasin Mommy."


"Mommy... Mom, hiks... Maafin Lis... Lisa..." Lisa tersedu-sedu, ia bersusah payah mengucapakn kalimat tersebut.


Putra membawa Lisa kedalam pelukannya. "Kak Putra... Hiks... Mom-mommy..."


"Biarkan Mommy pergi dengan tenang. Jangan buat dia ikutan sedih liat kamu kayak gini." Ucap Putra. Ia mengecup puncak kepala adiknya dengan lembut.


Tangisan Lisa mulai mereda mendengar ucapan Putra yang benar adanya.


"Jangan nangis lagi, sekarang kita pulang. Ini udah hampir maghrib." Ajak Putra.


"Kak Putra duluan aja. Aku masih mau disini." Jawab Lisa.


"Tapi, Dek..."


"Nggak papa, kak. Kak Putra pulang duluan."


"Yaudah kakak pulang dulu, kamu pulangnya jangan sampai malam."


"Oke."


Putra berdiri lalu merangkul Felice yang masih berurai air mata. Ia menangis tak mengeluarkan suara apapun. "Kita pulang yah."


"Rey jaga Lisa yah." Pesan Putra sebelum berlalu.


"Iya kak." Rey mendekati Lisa lalu berjongkok di samping nya.


"Icha... Kita pulang yah. Ini udah hampir maghrib." Ajak Rey dengan pelan.


Bukannya menjawab, Lisa malah langsung memeluk Rey yang berada disamping nya dengan erat. Ia kembali menangis. "Reeeyy... Aku nggak kuat... Hiks..." Tangis Lisa.


Rey yang mengerti akan keadaan istrinya, membalas pelukan Lisa. "Nangis aja, nggak papa. Aku ngerti perasaan kamu. Kalo dengan menangis bisa buat kamu lebih lega, nggak bakal ada yang cegah."


Mendengar ucapan Rey, Lisa langsung menangis sejadi-jadinya. Ia tau Rey sangat mengerti perasaannya.


"Keluarin semuanya. Keluarin semua yang buat kamu sesak agar kamu bisa lebih tenang. Nggak papa, ada aku. Aku akan selalu ada buat kamu, aku akan selalu berusaha buat jadi sandaran kamu." Sambung Rey.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!