Love In Many Ways

Love In Many Ways
Tidak Terima



Lisa menunjuk ke sebuah arah, "Eh liat!" spontan Dinda melihat apa yang ditunjuk Lisa. "Anj*ng pintar, gue pergi dulu, bye..." Lisa mengacak rambut Dinda gemas kemudian melenggang dengan anggun meninggalkan Dinda yang marah dan memaki-maki Lisa. Sementara Lisa hanya menanggapinya dengan senyuman manis.


"Ish... Kayaknya kiamat udah deket deh, sekarang hewan bisa ngomong, segera tobat aja deh gue" pikir Lisa.


"Melissaaaa..."Teriak seseorang dari jauh. Lisa menengok dan melihat Rey yang berlari ke arahnya.


"Kamu dari mana aja sih, udah di bilangin jangan berkeliaran masih aja nggak mau dengerin." Omel Rey.


"Hehehe... Yahh maaf, kan lagi kangen sama sekolah ini jadi wajar dong kalo aku keliling bentar." Lisa cengengesan.


"Tapi sekarang udah nggak kan? Yuk pulang, soalnya aku mau urusin lomba yang bentar lagi diadain."


"Emmm... makasih yah Rey buat hari ini, aku seneng banget kamu udah izinin aku buat masuk disini."


"Iya deh, kamu itu istri ku loh jadi nggak perlu sunkang, ayo kita pulang."


...*****...


Dinda sengaja pulang lebih telat untuk menghindari pertemuan dengan ayahnya hari ini. Semoga saja ayah masih di kantornya, begitulah harapannya. la celingukan melihat situasi sebelum masuk kedalam rumah.


"Ngapain di situ? Masuk!"


Suara itu membuat bulu kuduk Dinda berdiri. Dengan terpaksa Dinda memberanikan diri masuk kedalam rumahnya.


"H-hai ayah..." sapa Dinda gugup. Tangannya sedikit gemetaran melihat ekspresi wajah ayahnya.


Plakkk....


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Dinda dengan tiba-tiba. Spontan Dinda memegangi pipinya yang terasa panas dan mulai memerah.


"A-ayah kenapa tampar Dinda?" tanya Dinda dengan air mata yang ia tahan.


Ayahnya membuang nafas kasar, "Masih berani nanya? Kamu tau nggak? Gara-gara kelakuan kamu nama baik ayah jadi tercoreng, kenapa sih kamu rusak nama baik ayah? Kenapa kamu harus ngelakuin itu semua? Buat apa, padahal ayah udah percaya banget sama kamu. Ayah susah-susah bangun reputasi ini dan kamu hancurin gitu aja?" bentak Ayah Dinda dengan keras.


Dinda hanya menunduk diam tak berani melawan ayahnya. "Tapi Dinda beneran nggak ngelakuin apa-apa yah, itu semua cuma salah paham doang." Dinda tetap membela dirinya tanpa merasa bersalah.


"Ya kamu ngelakuin atau enggak sekarang gak penting, semua udah tau dan bakal anggep ayah gagal didik anak. Kamu itu anak satu-satunya, kenapa malah malu-maluin keluarga sih? Ayah malu tau nggak, kamu bikin ayah malu di depan semua pemegang saham." bentak Ayah Dinda.


Ayah Dinda kembali melayangkan tangannya ke atas, Dinda refleks menunduk. Sebelum tangan ayahnya kembali menamparnya, ibu Dinda lebih dulu meraih tangan ayah Dinda.


"Ayah... Ayah kenapa? Anak kita kenapa di pukul sih yah?" tanya Ibu Dinda yang ketakutan. Ibunya langsung merangkul Dinda yang mulai meneteskan air mata.


"Kamu tau? Anak kamu ini sudah buat reputasi ku hancur didepan orang-orang termasuk Pak Pradipta. Sekarang aku nggak tau harus apa gara-gara anak kamu ini! Punya anak satu gak berguna banget sih!" bentak Ayah Dinda.


"Yah! Cukup, jangan marahin anak kita lagi! Lagian kita belum tau Dinda salah apa enggak, itu semua belum tentu benar."


Dinda menunduk dengan wajah yang muram, "Cukup! CUKUP!!!"


"Dinda..." Ibunya ingin meraih Dinda ke dalam pelukannya, namun Dinda menghindarinya.


"Tapi kan itu sesuai dengan apa yang kamu dapat. Kamu dapat uang jajan lebih, baju kamu bagus-bagus, kamu punya mobil, bisa main sesuka kamu dan kamu punya segalanya! Apa yang salah kalo ayah punya harapan sama kamu? Kamu anak ayah satu-satunya!" ayah Dinda membela dirinya.


"Iya nggak salah, tapi yang salah itu ayah yang terlalu memaksakan Dinda buat jadi sempurna! Ayah pernah tanya apa keinginan Dinda? Pernah nggak?"


Pertanyaan Dinda membuat kedua orang tuanya terdiam seribu bahasa. Akhirnya Dinda mengeluarkan segala uneg-unegnya yang terpendam selama bertahun-tahun.


"Nggak kan? Pernah tanya Dinda sebenarnya pengen apa, trus bakatnya apa, potensinya apa, dan cita-cita Dinda apa? Kalo gitu nggak usah terlalu nuntut Dinda buat jadi anak yang sempurna, lagian kalian berdua bukan orang tua yang sempurna buat Dinda, itu menurut Dinda. Maaf kalo kasar, tapi itu kenyataannya!"


Dinda berbalik dengan kasar pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Ia keluar rumah dengan kunci mobil ditangannya, dengan tatapan dingin ia pergi begitu saja.


Dinda menyalakan mesin mobilnya dan pergi begitu saja dengan seragam sekolahnya yang masih melekat ditubuhnya. Ia teringat awal kenapa semuanya bisa jadi seperti ini di jalan.


"Hiks... Gak ada yang bisa ngertiin gue, hiks. Rey, kenapa sih lo harus datang ke hidup gue? Kenapa waktu itu lo kasih gue minuman dan tenangin gue sih anj*r, kalo ga ada lo di hidup gue mungkin gue udah jadi nomor 1 dan selalu sempurna dimanapun, dan pasti ini semua nggak mungkin pernah terjadi." Dinda sangat kesal dan memukul-mukul setir mobilnya karena kesal.


Flashback On...


Hari ini pengumuman juara untuk rapor kelas X. Dinda santai karena merasa yakin kalau ia mendapat juara 1 dikelas kali ini karena ia juga juara 1 paralel dari dulu.


Tapi sayang, mata Dinda membelalak sangat terkejut saat melihat kenyataan ia mendapat posisi nomor 2, yang mendapat juara 1 adalah Rey. Setelah pengambilan rapor, diam-diam Dinda menangis dibelakang bangku taman karena dimarahi ayahnya.


"Hiks... Kenapa sih, kenapa harus nomer 2. Gue jadi dimarahin papa. Hiks, kenapa harus juara 2, aku udah berusaha semaksimal mungkin semester pertama ini dan hasilnya sangat mengecewakan gue, kenapa?!"


Tiba-tiba Rey menyusulnya yang kemudian duduk disamping Dinda "Lo ngapain di sini? Nih minum..." Rey memberikan sebotol minuman ke Dinda untuk menenangkannya.


Dinda menerimanya lalu mengusap air matanya pelan, ia berusaha tak akrab dan tak mau kenal dengan Rey karena kesal mendapat juara 2. Akhirnya Rey mengawali percakapan, "Lo kesel sama gue? Kesel karena dapet juara 2?"


Dinda tetap diam dan meminum air yang dibawa Rey hingga ia tersedak, "Uhuk... Uhuk... Uhuk-uhuk!"


Rey terkejut dan menepuk-nepuk punggung Dinda pelan, "Gimana sih? Lo minum apa ngapain sih? Pelan-pelan napa."


Mereka berbincang-bincang sebentar sampai Dinda akhirnya mau sedikit membuka pembicaraan pada Rey. "Lo kenapa sih harus juara 1, gue dimarahin ayah gara-gara juara 2 tau nggak."


Rey hanya tersenyum, "Tenang aja kali... Dapet juara 2 bukan berarti dunia udah berakhir kali, lo kan bisa berprestasi di bidang yang lain dan masih ada kesempatan buat lebih meningkat lagi."


"Tapi ayah minta gue jadi juara 1."


"Mau lo juara 1 atau 2, lo pinter akademik atau enggak, itu semua tergantung lo sendiri. Itu pilihan lo, dan lo bebas jadi apapun yang lo mau tanpa paksaan orang lain."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!