
Mendengar rayuan Al, Lisa tersenyum malu-malu. Kemudian memukul pundak Al ringan. "Apaan sih, nggak jelas banget." Ucap nya masih tersenyum.
Dari tadi Al melajukan motor sport nya dengan kecepatan sedang tanpa arah tujuan yang jelas. Makanya Lisa sampai protes.
Al mengurangi laju motornya. Pacar..." Panggil Al.
"Apa?"
"Kamu tau nggak?"
Mendengar ucapan Al, Lisa sudah tau kemana arah percakapan selanjutnya. "Udah deh Al, nggak usah ngegombal mending kamu fokus aja ke jalan."
"Kok tua?" Ucap Al lagi. Maksudnya sih 'kok tau' hadeeh.
"Ya iyalah umurnya udah banyak." Sambung Lisa.
"Hahahaa..."
Mereka berdua tertawa lepas. Lisa merasa sangat sangat bahagia, apalagi bersama dengan orang yang dia cintai. Untuk beberapa menit mereka saling diam, menyusuri jalan dengan kebisuan.
"Pacar..." Panggil Al lagi.
"Apa?"
"Kamu tau kan aku mencintai mu!"
"Iya aku tau kok. Udah deh Al, ini bukan waktunya buat ngomongin hal-hal kayak gitu, kamu fokus aja. Dari tadi kita cuma muter-muter nggak jelas loh.
"Iya deh..."
Masing-masing kembali terdiam lagi. Namun tak cukup satu menit, Al kembali bersuara.
"Pacar..." Panggil Al.
"Apa lagi?" Kata Lisa dengan nada suara sedikit jengkel bercampur geram melihat tingkah cowok reseh itu. Ntah tujuan nya kemana, arah pembicaraan nya juga nggak jelas.
"Galak banget. Kamu udah makan?"
"Belum."
"Yaudah kita makan di depan situ yah." Al menujuk ke arah warung nasi pecel yang ada di pinggir jalan.
"Yaudah."
Al menepikan motornya di depan warung tersebut. Kemudian mereka berdua masuk dan memesan nasi pecel.
"Nasi nya mau yang pedes atau nggak?" Tanya Al pada Lisa.
"Pedes aja."
"Mbak, 2 nasi pecel. Sama es teh nya 1, teh anget nya 1."
"Oke." Jawab penjual tersebut.
"Loh? Yang anget buat siapa?" Tanya Lisa.
"Kamu lah pacar." Ucap Al dengan mesra.
"Aku mau nya yang dingin, biar seger!"
"Kamu nggak usah minum yang dingin-dingin. Nggak baik buat kamu."
"Trus kamu?"
"Kalo aku beda."
"Huh... Dasar nyebelin." Lisa memanyungkan bibir nya kesal.
Tak berapa lama makanan yang mereka pesan akhirnya siap juga.
"Ini mas, mbak, silahkan!"
"Makasih." Jawab Al sambil tersenyum pada penjual tersebut.
Lisa yang masih kesal jadi tambah kesal melihat tingkah Al. Lisa Lisa menatap Al dengan tatapan tajam.
"Pacar... Kok natap nya gitu banget sih."
"Ngapain kamu senyum-senyum sama mbak itu?" Tanya Lisa dengan nada kesal.
"Loh? Kenapa? Emang salah?"
"Ya salah lah. Senyuman kamu itu cuma buat aku, cuma buat aku, hanya untuk aku. Kamu nggak usah genit-genit sama cewek lain. Aku tabok juga lama-lama tuh mbak-mbak."
Mendengar ocehan Lisa, Al dapat menebak kalau Lisa sedang cemburu saat ini. Al berusaha membujuk nya. "Iya pacar ku. Semua cuma buat kamu. Hanya buat kamu. Jadi kamu nggak usah ngambek yah sayang."
"....." Lisa tak mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya masih meruncing lima senti hahaaa.
"Pacar ku... Nggak usah ngambek lah sayang. Aku janji deh nggak bakal gitu lagi. Yah?" Ucap Al dengan lembut.
"Bener nih?"
"Iya sayang."
"Yaudah deh."
"Udah yah. Ayo makan, atau mau aku suapin?"
"Nggak usah. Aku bisa sendiri." Lisa mengambil sendok dan menyendokkan nasi pecelnya kedalam mulut.
.
.
.
"Abis ini kita kemana?" Tanya Al saat mereka sudah ada diluar warung. Mereka sudah selesai makan.
"Aku mau pulang aja." Ucap Lisa.
"Loh?"
"Lain kali kita jalan lagi. Aku udah mau pulang Al. Ntar aku di cariin lagi sama Daddy Mommy."
"Hmm... Yaudah deh. Lain kali kita jalan yah."
.
.
.
🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠
Teras Rumah👈
Setelah sampai di depan rumahnya, Lisa langsung turun dari motor.
"Makasih yah." Ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama. Lain kali kita jalan lagi yah."
"Iya deh. Udah sana gih kamu pulang!" Pinta Lisa.
"Kok ngusir sih?"
"Yaa... Maksud aku bukan gitu. Tapi ntar kalo diliat ama orang rumah atau sama tetangga gimana? Kamu pulang yah." Ucap Lisa dengan halus.
"Cium boleh?" Tanya Al dengan asal.
Mendengar ucapan Al, mata Lisa langsung membulat sempurna. Antara kaget dan geram dengan tingkah cowok reseh yang ada di depannya itu.
"Apaan sih Al. Nggak boleh lah, kita kan belum muhrim. Kita pacaran yah sewajar nya aja, nggak boleh berlebihan apalagi kelewat batas." Kata Lisa menceramahi.
"Iya deh. Kan cuma bercanda. Besok-besok aku lamar kamu aja kali yah biar halal." Gurau Al.
"Isi pikirannya mulai nggak terkontrol nih. Udah sana gih kamu pulang, bercanda mulu."
"Nggak lah. Besok kan ketemu!"
"Sampai ketemu besok. Lopyu."
"Lopyu tu." Balas Lisa.
Al berlalu pergi, Lisa memandangi Al sampai Al benar-benar hilang dari pandangannya.
Tanpa Lisa sadari dari kejauhan, tepatnya di rumah seberang ada seseorang yang memandangi nya dengan tatapan sendu.
.
.
.
Malam Hari🌛🌃
Setelah makan malam, Lisa langsung masuk ke dalam kamarnya. Berbaring di atas tempat tidur nya, memainkan hp nya sambil senyam-senyum sendiri.
Si CoRe🔥🖤
Pacar...
^^^Me!^^^
^^^Apa?^^^
Si CoRe🔥🖤
Kamu udah makan?
^^^Me!^^^
^^^Udah^^^
^^^Kamu?^^^
Si CoRe🔥🖤
Udah juga.
Telponan yuk.
^^^Me!^^^
^^^Aku nggak bisa^^^
Si CoRe🔥🖤
Kenapa?
^^^Me!^^^
^^^Ntar kedengaran lagi^^^
^^^dari luar.^^^
Si CoRe🔥🖤
Kita ngomong nya
pelan-pelan aja.
^^^Me!^^^
^^^Yaudah deh.^^^
Drrttt...
Hp Lisa bergetar, Lisa langsung mengangkat telepon itu.
"Pacar?"
Suara penelpon di seberang sana.
"Ya?"
"Kirain udah meninggal. Hahaa...
"Sembarang kalo ngomong, kamu nyumpahin aku mati?"
"Hahaa... nggak lah pacar. Nggak mungkin. Aku cuma bercanda doang kok.
"Reseh nya makin hari makin parah yah. Trus kamu lagi ngapain?"
"Mikirin kamu"
Mendengar ucapan Al yang satu itu. Lisa sudah bisa menebak kalau arah pembicaraan Al ini pasti ujung-ujungnnya ngegombal.
"Mulai deh. Aku serius"
"Aku juga serius."
"Kenapa mikirin aku?"
"Aku cuma mikirin yang buat aku seneng."
"Kamu seneng mikirin aku?"
"Seneng dan bingung. Bingung gimana cara berhentinya."
"Kamu mau berhenti mikirin aku?"
"He-em. Maunya deket terus. Kalo deket kan nggak perlu mikirin."
"Iddih. Itu mah kata-kata Dilan buat Milea."
"Pinjem bentar."
"Ntar Dilan nya marah loh"
"Nggak kok. Aku udah izin.
"Masa sih? Mana bisa?"
"Bisa lah. Aku dapetin hati kamu aja bisa, masa izin sama Dilan nggak bisa."
"Kamu ini makin hari makin jago ngegombal yah."
"Iya dong, aku udah pro kalo masalah gituan."
"Belajar dari mana?"
"Aku nggak belajar. Emang dari lahir aku udah jago."
"Hem. Iya in aja biar seneng."
"Hehee..."
Lisa terdiam. Tak tau harus ngomong apalagi.
"Pacar?"
"Hem."
"Kok diem? Kamu udah ngantuk?"
"Belum."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!