
"Itu soal pernikahan ka-..."
"Ng, Mom. Lisa masih butuh waktu untuk memikirkan soal itu, jadi biarin Lisa pikirin dulu yah, nggak papa kan?"
"Yaudah nggak papa. Tapi Mommy cuma mau ngasih tau kalo kemarin, Rey dan kedua orang tuanya dateng ke sini buat jenguk Daddy kamu, sekalian bahas soal pernikahan kalian."
Untuk saat ini Lisa sama sekali tak ingin membahas soal itu. "Yaudah, Mom. Lisa masuk kamar dulu yah." Lisa memulas senyum tipis lalu berlalu pergi.
Setelah sampai di kamar nya Lisa mengganti seragam sekolah nya, lalu mengirimi pesan pada Sarah.
^^^Me!^^^
^^^Rah^^^
^^^Ketemu yuk^^^
^^^Ada yang pengen aku ceritain^^^
Partner Gibah๐๐ปโโ๏ธ๐๐ค
Mau ngomong apa?
^^^Me!^^^
^^^Ntar aku ceritain^^^
^^^Kita ketemu di kafe biasa^^^
Partner Gibah๐๐ปโโ๏ธ๐๐ค
Oke. Otw
.
.
.
Kafe๐
"Hai, Lisa." Sapa Sarah yang baru saja datang.
Lisa yang sedang duduk pun balas menyapa. "Hai."
"Suruh duduk dong." Pinta Sarah yang sedari tadi hanya berdiri.
Lisa memutar bola mata nya jengah. "Silahkan duduk, Nona." Pinta nya dengan malas.
"Baik, terima kasih." Sarah duduk berhadapan dengan Lisa. "Mau ngomong apa? Kayak nya serius banget nih."
Lisa terlihat berpikir sejenak, kalimat apa yang harus di ucapkan Untuk memulai nya.
"Lisa?" Panggil Sarah.
"Ha?"
"Mikirin apa sih? Ntar kesambet loh." Gurau Sarah.
"Aku udah putus sama Al." Ucap Lisa dengan pelan.
Ucapan Lisa sontak membuat Sarah kaget. "Ha? Bener? Masa sih? Bercanda yaaa... Bercanda kan? Pasti prank. Nggak lucu ah."
"Rah. Aku serius." Lisa memperlihatkan ekspresi wajah yang benar-benar serius.
"What?" Sahut Sarah kaget.
Sahutan nya itu membuat Lisa menatap nya kesal. "Nggak usah teriak-teriak bisa nggak? Di sini banyak orang, suara kamu itu ngeganggu mereka."
Sarah menutup mulut nya sambil mengedarkan pandangan nya kepada semua orang yang sedang menatap nya. "Ya maaf, kan kaget." Ucap nya Lirih. "Tapi kamu beneran putus? Kapan? Kok bisa? Perasaan kemaren kalian baik-baik aja deh." Tanya Sarah beruntun.
"Satu-satu aja nanya nya."Ucap Lisa dengan mimik wajah yang datar. "Sekarang kamu dengerin aku. Oke?"
Sarah mengangguk polos.
"Bakal ku kasih tau. Tapi kamu jangan ngasih tau siapa-siapa!"
Sarah mengerutkan dahi nya. "Mira? Ghea? Nggak di kasih tau?"
"Nggak. Bukan karena aku nggak percaya sama mereka berdua, tapi aku nggak mau aja banyak orang yang tau masalah ini. Aku juga cerita sama kamu karena aku ngerasa kamu lebih bisa ngerti keadaan aku sekarang."
Sarah kembali mengangguk. "Iya aku ngerti kok, kita kan sahabat dari kecil. Jadi kenapa? Aku udah bener-bener penasaran ini. Kapan kamu putus sama Al dan kenapa kamu putus?"
"Tadi di sekolah."
"Pas jam istirahat itu?"
Lisa mengangguk lemah. "Iya."
"Trus-trus kenapa kamu putus?"
"Aku... aku mau dijodohin sama Daddy."
Kali ini Sarah lebih kaget lagi. "APA?!"
Sarah menggebrak meja saking kaget nya. Dia berdiri dan menatap Lisa.
"Ih Sarah, kan aku udah bilang kamu jangan teriak-teriak. Noh liat semua orang, pada liatin kita." Ucap Lisa berbisik.
Sarah kembali mengedarkan pandangan nya ke semua orang. Dengan kikuk dia kembali duduk. "Kan kaget." Bisik nya. "Tapi kok bisa Daddy kamu cepet banget jodohin kamu, kamu kan belum lulus? Trus dijodohin nya sama siapa?"
Lisa menghela napas berat. "Kamu tau kan Daddy lagi sakit? Trus Daddy minta aku nikah aja karena kata nya dia pengen liat aku nikah sama Rey."
Sarah membulatkan mata nya sempurna, benar-benar kaget. "Rey?"
Lisa melanjutkan kalimat nya. "Aku nggak mungkin kan nolak permintaan Daddy, aku takut, Rah. Daddy bilang ini permintaan nya yang terakhir." Lisa menetes kan air mata nya.
Sarah mengusap bahu Lisa. "Sabar yah, Lis. Aku tau ini berat buat kamu. Jadi ini penyebab kamu mutusin Al?"
Lisa mengangguk, air mata nya belum berhenti menetes. "Dan sekarang, aku punya satu permintaan sama kamu." Lisa menghapus air mata nya berusaha tegar. "Kamu tau kan kalo aku sangat sayang sama Al? Aku nitip Al yah, Rah. Aku ingin kamu sama Al menjalin hubungan yang baik."
"Tapi itu semua nggak mungkin."
"Nggak ada yang nggak mungkin, Rah. Aku percaya sama kamu. Aku ingin kamu bahagia in Al, buat dia lupa sama aku dan buka hati untuk kamu."
Untuk membujuk Sarah agar menerima Al nanti nya, Lisa menggunakan alasan tersebut. Dia tak ingin mengatakan kalau dia sudah tau kalau Sarah benar-benar suka sama Al. Biar saja Lisa terlihat pura-pura tak tau tentang perasaan Sarah. Dia tak ingin Sarah tau kalau dia pernah membaca buku harian nya, nanti nya Sarah bakal kepikiran.
"Tapi..." Sebetulnya Sarah juga ingin, tapi dia juga memikirkan tentang perasaan Lisa.
"Nggak papa, Rah. Aku percaya kok sama kamu. Aku hanya ingin liat Al bahagia dan kamu juga bahagia. Jadi jika suatu saat nanti Al nembak kamu, aku ingin kamu harus nerima nya. Oke?"
Sarah masih terlihat ragu. "Bener nggak papa?"
"Nggak papa kok." Lisa tersenyum tulus. "Kamu janji yah soal ini kamu jangan cerita sama siapa-siapa. Kamu simpen aja buat diri kamu. Biarin aja mereka tau dengan sendiri nya."
"Oke, aku janji."
Piiingg...
Hp Lisa berbunyi pertanda seseorang mengirimi nya pesan. Lisa mengambil hp nya di saku celana nya dan membuka pesan tersebut.
Alfahreizy!
Aku udah sampe.
Melihat pesan dari Al, Lisa melihat ke arah Sarah sekilas.
^^^Me!^^^
^^^Oke.^^^
^^^Aku sama Sarah^^^
^^^kesana sekarang^^^
Setelah mengirimi Al pesan balasan, Lisa menyimpan kembali hp nya.
"Rah, yuk." Ajak Lisa sambil berdiri.
"Kemana?"
"Ntar kamu juga tau, yuk." Lisa menarik tangan Sarah agar segera pergi.
"Kemana dulu ini?" Sarah masih belum berhenti bertanya.
Mereka berdua sudah berjalan keluar tetapi Sarah masih saja bertanya.
"Diem aja, nggak usah bawel!"
.
.
.
Mereka berdua sampai di sebuah taman yang indah, sangat-sangat indah. Terlihat jelas bahwa taman itu sengaja di dekorasi. Suasana nya terlihat sangat romantis. Bunga-bunga yang bermekaran di sana-sini, trus balon-balon yang berbentuk love berwarna-warni sengaja di letakkan begitu saja, menambah kesan romantis. Jalanan yang di taburi bunga-bunga mawar merah dan putih dan masih banyak lagi hal lain nya. Ah, semuanya terlihat sangat indah.
Siapakah yang sudah membuat tempat itu menjadi sangat indah? Apakah Al? Oh tidak.
Sejujurnya, Lisa yang sudah mempersiapkan semua ini, dia yang sudah membuat tempat itu menjadi sangat indah, sebelum dia datang ke kafe dan menemui Sarah dia mempersiapkan semua nya lebih dulu. Saat dia selesai mendekor tempat itu, dia menyuruh Al untuk datang dan menunggu nya.
Kepala Sarah masih di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dengan semua ini.
"Kamu tutup mata dulu." Lisa mengeluarkan sebuah kain dari tas nya.
"Kenapa pake tutup mata segala? Nggak ah, nggak mau." Tolak Sarah.
"Udah nggak usah protes, nurut aja!"
"Emang mau ngapain sih? Main petak umpet?"
"Nggak usah banyak bercanda deh, nurut aja. Lama-lama aku usir kamu dari rumah!"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!