Love In Many Ways

Love In Many Ways
Menghindar



Sementara itu...


🏠Rumah Keluarga Pradipta🏠


Kamar Sarah👈


Sarah hanya ingin tinggal di kamarnya. Berbaring di atas tempat tidur dengan perasaan kacau, tanpa mengganti seragam sekolahnya. Dia tak ingin bertemu siapa-siapa.


Melamunkan nasibnya yang selama ini tak di sadarinya.


Teringat lagi kejadian saat di lorong depan toilet tadi.


FlashBack *O**n*


"Jadi gara-gara dia juga kamu nggak bisa nerima aku?" Suara itu terdengar pilu.


Suasana tegang terasa pekat menyengat.


"Maafin aku Rah, tapi aku nggak bisa membohongi isi hatiku sendiri. Aku nggak mau melukai perasaan kamu nantinya."


Al terlihat tak bisa menerima hadiah dari Sarah dengan perasaan bersalah.


"Aku nggak bisa Rah. Maafin aku. Saat ini hati aku hanya mencintai Lisa." Al mendekap pundak Sarah erat. Sarah tampak sedih dan jelas air matanya terjatuh dan mengalir lembut di pipinya.


"Tapi Lisa udah sama Rey!" Sahut Sarah.


"Iya. Aku tau! Aku tau Rah. Saat aku ngeliat catatan rahasia Lisa, perasaan ku bener-bener hancur. Saat ku tau kalo dia sukanya sama Rey. Tapi aku berusaha, berusaha untuk nerima kenyataan ini. Aku berusaha menyatukan Rey dan Lisa karena mereka saling mencintai. Aku nggak mau jadi benalu di antara mereka berdua. Aku tau kebahagiaan Lisa itu adalah Rey. Dan sekarang mereka bersama, aku seneng kok saat melihat Lisa bahagia." Mata Al memerah.


"Maafin aku yah!" Ucap Al lemas.


"Udah Al!" Sarah melepaskan dekapan tangan Al di pundaknya. "Aku ngerti sekarang." Sarah melangkahkan kakinya pergi.


"Rah!" Panggil Al. Sarah menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik. "Maafin aku, aku nggak pernah bermaksud buat kamu kayak gini, buat kamu nangis. Aku juga nggak ngerti kenapa aku harus suka sama Lisa, yang jelas sudah milik orang lain. Maafin aku!"


Sarah tak menjawab apapun dia pergi meninggalkan Al dengan perasaan hancur dan air mata yang berlinang.


FlashBack Off


Mengingat kejadian itu, air mata Sarah kembali berjatuhan tanpa izin. Kembali menangis, perasaannya benar-benar kacau.


Setelah lama menangis, Sarah mengambil hp nya yang ada di atas meja.


Inikan Lisa sama Mira, kompak yah mereka. Sayang banget aku nggak bisa ikut, aku bener-bener nggak mood buat ketemu siapapun saat ini.


Sarah kembali meneteskan air matanya, melihat postingan Lisa dan Mira. Sarah bangun dan berjalan ke meja belajarnya, dan mengambil buku dear diary nya. Dia membuka buku itu, ternyata di buku itu sudah banyak tertulis tentang kisah-kisah masalalu nya yang selalu dia tulis. Kemudian dia kembali menulis.


Dear Diary


Saat cinta tak terbalaskan ternyata begini rasanya. Aku baru saja merasakannya. Perasaan ku saat ini tak bisa ku ungkapkan.


Dulu, aku begitu sangat berharap, berharap banyak, dan harapan yang begitu tinggi. Dan saat ini harapan itu seolah-olah hancur hanya dengan sekejap mata. Kini aku sadar saat ekspektasi itu tak sesuai realita rasanya seperti... Ah ntahlah.


Dulu, aku berharap tinggi bisa memilikinya. Namun dalam sekejap dia menghancurkan harapan ku.


Saat dia mengatakan 'hati aku hanya mencintai Lisa' aku merasa harapan ini telah hancur. Ternyata yang di cintai itu bukan aku, tapi sahabat ku sendiri. Sekarang aku seolah-olah lenyap dan tak ingin bertemu siapa-siapa untuk saat ini.


Untuk Lisa, aku tak pernah menyalahkan nya. Aku mengerti Lisa tak tau apa-apa. Lisa tidak akan pernah mengkhianati aku. Saat ini aku tak ingin bertemu Lisa. Bukannya aku membencinya, tapi saat ini aku benar-benar tak punya pilihan lain. Selain menghindarinya untuk waktu yang tak tertentukan. Aku benar-benar tak ingin dia tau semua yang terjadi, agar aku bisa menenangkan diri ini dengan tenang dan bisa dengan cepat melupakan semua terjadi kini, melupakan perasaan ini untuk Al.


Memang yang salah disini itu aku, yang salah itu perasaan aku. Kenapa aku harus suka sama orang yang nyatanya suka sama sahabat aku sendiri? Tapi aku janji, demi kebahagiaan Al, aku akan berusaha menyatukannya dengan Lisa. Menyatukannya dengan orang yang dia sayang.


Selasa, 29 Desember 2020


Sarah Almahira Tsalsaniah Pradipta


Setelah menulisnya, Sarah membacanya ulang. Lagi-lagi air matanya tak bisa dia bendung, air matanya mengalir dipipinya yang lembut.


Keesokannya...


🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠


"Kak Putra." Lisa membuka pintu kamar Putra. Tapi tak ada siapapun didalamnya.


"Kak..." Masuk kedalam kamar sambil memanggil Putra.


"Di kamar mandi!" Sahut Putra dari dalam kamar mandi.


"Oh. Lisa tunggu disini yah." Jawab Lisa dengan nada sedikit berteriak.


Lisa duduk di sofa sambil memainkan hp nya.


Piiingg...


Suara notifikasi mengalihkan perhatian Lisa kepada hp yang terletak di tempat tidur.


Karena merasa penasaran Lisa berjalan ke arah tempat tidur dan ingin melihat siapa yang mengirimi pesan kakaknya pagi-pagi.


Belum sempat Lisa mengambilnya sudah keduluan oleh Putra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Eh kak Putra. Hehee..." Lisa cengar-cengir.


"Mau ngapain?"


"Hehee... Nggak kok. Lisa penasaran aja. Emang dari siapa sih kak? Pacar? Pendamping hidup? Atau sumber kebahagiaan?" Lisa mengejek Putra.


"Kamu.... Nggak perlu tau. Ini privasi kakak." Jawab Putra.


"Dasar pelit!"


"Ngapain ke sini? Bukannya kamu harusnya ke sekolah?" Tanya Putra sambil melihat siapa yang mengiriminya pesan.


"Kak Putra kan nggak kuliah, anterin dong kak...!"


"Kan ada Pak Anto di luar. Masa mau di anterin lagi sih."


"Nggak mau! Maunya di anterin sama kak Putra."


"Lain kali aja yah, dek ku sayang. Kakak lagi ada urusan penting. Mending kamu berangkat aja yah sekarang, ntar telat loh." Putra berusaha membujuk adiknya yang keras kepala dan manja.


"Ya... Anterin Lisa dulu lah." Masih keras kepala.


"Yaudah deh. Yuk!" Akhirnya Putra menyerah.


Lisa menunggu Putra yang sedang mengambil motornya di bagasi.


"Lisa!" Panggil seseorang. Lisa menoleh dan melihat Rey yang sedang mengendarai motor dan melaju ke arahnya.


"Eh, Rey." Sapa Lisa.


Rey berhenti tepat di samping Lisa yang sedang berdiri.


Putra pun datang dengan motornya.


"Rey!" Sapanya.


"Kak Putra." Sapa Rey juga.


"Kamu mau ke sekolahkan?" Tanya Putra pada Rey.


"Iya kak."


"Pas banget. Kamu bareng aja sama Lisa. Kakak nggak bisa anterin, soalnya ada urusan penting. Nggak papa kan?"


"Nggak papa kok kak." Ucap Rey.


"Tapikan...." Lisa sudah akan protes tapi ucapannya di potong oleh Putra.


"Udah, kamu bareng Rey aja. Kak Putra pergi dulu yah." Putra pun pergi tanpa mendengar jawaban dari Lisa.


"Ya udah yuk." Lisa terpaksa bareng Rey lagi ke sekolah.


🏫SMAN BAkti Husada🏫


Kelas 11 IPS 5👈


"Lis, tugas yang kemarin kamu udah kerjain?" Tanya Mira.


"Udah."


"Pinjem dong, sebentar lagi kan bel bunyi. Aku belum selesai, boleh yah!"


"Yaudah nih." Lisa menyodorkan bukunya pada Mira.


"Makasih Bby!" Mira mengambilnya dengan girang.


"Sarah kok belum datang yah, aku khawatir nih!" Ucap Lisa cemas.


"Sarah nggak bisa datang. Katanya dia nggak enak badan." Jawab Mira sambil masih mencatat dari bangkunya.


"Beneran? Tau dari mana?"


"Kemarin Sarah chat aku katanya disuruh izinin sama wali kelas soalnya dia nggak enak badan."


"Kok dia nggak kasih tau aku sih?"


"Ntah!" Mira mengangkat kedua bahunya.


Sarah kenapa sih? Kok akhir-akhir ini di kayak menghindar dari aku. Al juga akhir-akhir ini dia jadi pendiam banget, udah nggak jahil, nggak reseh, apalagi nyebelin. Kok aku malah ngerinduin sikap reseh nya itu sih?


Kantin👈


Setelah jam belajar usai, dan bel tanda istirahat pun telah berbunyi, Lisa dan Mira sepakat untuk pergi ke kantin. Mereka makan berdua bersama.


"Lisa." Seseorang menyapa.


Lisa mendongakkan kepalanya dan melihat Rey sedang berdiri di sana.


"Eh Rey." Sapa Lisa.


"Boleh ikut duduk?"Tanyanya.


"Oh iya boleh. Duduk aja kak Rey!" Jawab Mira.


Rey pun duduk berseberangan dengan Lisa dan Mira. Tepatnya berhadapan dengan mereka berdua.


"Kalian udah lama sahabatan?" Rey memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.


"Baru aja kak Rey." Jawab Mira.


Pembicaraan terus berlanjut, namun Lisa tak mengeluarkan sepatah kata pun, Lisa dari tadi hanya tersenyum menanggapi nya. Hanya Rey dan Mira yang berbincang.


"Emm... Aku udah kenyang, kalian lanjut aja yah. Aku mau ke kelas." Lisa berdiri dari duduknya.


"Loh, ntar aja. Kan aku masih makan, tungguin dong." Ucap Mira.


"Aku tunggu di kelas aja." Jawab Lisa sambil tersenyum. " Rey, duluan yah." Lisa berlalu pergi.


Rey menatap kepergian Lisa sambil berpikir.


Lisa makin hari makin aneh deh. Aku ngerasa dia sengaja ngehindarin aku, sengaja ngejauh. Aku ajak ngomong pun dia cuma jawab singkat. Apa aku punya salah yah sama dia?


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!