
"Aw awhh kaki ku Rey," Ringis Lisa saat Rey membantunya memakai sepatu. Bekas air panas kemarin sungguh sangat membuatnya menderita.
"Kan udah ku bilang sayang nggak usah ke sekolah dulu, kan lagi sakit."
"Kan bosen Rey kalo di rumah terus-terusan." Ucap Lisa dengan nada sedih.
Rey bangun dan duduk di samping istrinya, "Kan cuma sampe kaki kamu sembuh doang, nanti kalo udah sembuh boleh kok kemana-mana. Daripada kamu kesakitan kayak gini." Nasehat Rey.
"Ck, bener juga sih. Yaudah deh aku nggak ke sekolah dulu deh."
Rey mengusap kepala Lisa. "Nah gitu, yaudah aku berangkat dulu yah, kamu jangan lupa ganti baju."
"Oke." Lisa menyalami tangan Rey kemudian Rey berlalu keluar menutup pintu dengan pelan.
"Huh, bosen banget pasti nya seharian dikamar nggak ngapa-ngapain." Keluh nya. "Kaki oh kaki, baru aja kemarin sembuh dari sakit eh udah sakit lagi."
...*****...
Rey berjalan dengan santai menuju kelasnya. Namun ntah apa yang aneh semua siswi yang ia temui di setiap penjuru selalu saja menatapnya. Huh, mungkinkah karena Rey habis cukur rambut kemarin? Makanya mereka segitunya?
"Hai Rey..." Sapa Sarah, terlihat ia datang bersama Al.
"Kenapa Rah?" Tanya Rey.
"Nggak, mau nanya aja. Keadaan Lisa gimana? Udah baik kan?"
"Oh itu, ia keadaannya Lisa udah baik kok. Cuman belum bisa masuk sekolah."
"Loh? Bukannya Kemarin pas pulang rumah sakit udah terlihat sehat?" Tanya Al juga.
"Hm iyasih tapi kemarin kaki nya ketumpahan air panas, perih katanya."
"Hai Rey, anggota OSIS di panggil tuh ke ruang rapat sekarang..." Beritahu Dinda.
"Oke." Jawab Rey sekenanya. "Aku rapat dulu yah, nanti kita ngobrol lagi." ucap Rey pada Sarah dan Al.
"Okelah."
Rey melanjutkan langkahnya menuju kelas nya terlebih dahulu, namun ia agak risih karena Dinda terus menempelkan di sebelah nya.
"Kamu duluan aja ke ruang rapat, aku mau ke kelas dulu." Pinta nya.
"Hehe nggak papa kok Rey. Aku mau nemenin kamu aja dulu."
"Nggak usah Din, kamu duluan aja nggak usah repot-repot." Tolak Rey.
"Nggak kok Rey, nggak repot kok."
Rey menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Dinda. "Din, plisss. Kamu ngerti dikitlah. Aku nggak mau di ganggu, kamu juga taukan aku udah punya Lisa, jadi stop ngedeketin aku!" Tegas Rey, kemudian langsung pergi meninggalkan Dinda yang kesal.
.
.
.
"Oke, apa semua anggota sudah berkumpul." Tanya Rey pada Dinda yang sebagai wakilnya.
"Sudah Rey." Jawab Dinda. Meskipun agak kesal pada Rey namun ia tetap berusaha untuk profesinal, apalagi ada beberapa guru disana.
"Baik saya akan membuka nya. Assalamualaikum warohmaatullahi wabarokatuh."
"Waalaikumsalam warohmaatullahi wabarokatuh..." Jawab para anggota dengan serempak.
"Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu hal yang sangat penting berkaitan dengan kelangsungan sekolah untuk kedepannya, maka dari itu saya meminta untuk para anggota agar tetap mendengarkan dengan baik dan memberi pendapat untuk mencapai kesepakatan bersama."
"Ada beberapa hal yang ingin di sampaikan oleh pak Rudi dan saya harap rapat ini bisa menyelesaikan secepatnya perihal ini, pak Rudi silahkan." Pinta Rey dengan sopan.
"Baik terima kasih Rey. Assalamualaikum warohmaatullahi wabarokatuh."
"Waalaikumsalam warohmaatullahi wabarokatuh."
"Puji syukur atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa sehingga kita masih bisa berkumpul di tempat ini. Shalawat serta salam tak lupa kita kirimkan kepada nabi Muhammad Saw, nabi yang menjadi suri tauladan bagi seluruh umatnya."
"Kali ini izinkan saya yang sebagai pembina OSIS untuk menyampaikan suatu hal. Kali ini kita akan membahas perkara lomba cerdas cermat yang diadakan tingkat sekolah. Apakah ada satu orang di antara kalian yang ingin mengajukan diri untuk mewakili sekolah kita?"
Terlihat tak ada yang menyahut, Rey buka suara. "Maaf pak sebelumnya, bagaimana kalau kita mempercayakan ini kepada Dinda, saya yakin dia lebih bisa dan dapat di percaya untuk mengharumkan nama sekolah kita." Saran Rey.
"Iya, betul juga. Bagaimana dengan Dinda? Apa kamu bersedia?"
"Maaf pak," Salah satu anggota mengacungkan tangan nya. "Kenapa bukan Rey?"
"Emm maaf pak, bukan nya saya nggak mau, tapi bukankah Rey lebih bisa di percaya memegang amanah ini, kan dia udah beberapa kali memberi yang terbaik untuk sekolah?"
"Kamu benar sekali. Namun Rey juga harus mewakili sekolah kita untuk olimpiade tingkat provinsi. Jika Rey yang harus mengambil semuanya tentunya ia akan pusing nantinya dan yang bapak takutkan hasilnya tak bisa maksimal."
Rapat terus berlanjut. Pendapat demi pendapat terus bermunculan. Semua anggota OSIS bersahut-sahutan memberikan pendapat. Beberapa anggota menyarankan beberapa siswa maupun siswi yang bukan anggota OSIS, menurut mereka cerdas dan cocok untuk mengikuti perlombaan yang lainnya.
"Oke teman-teman makasih sebelumnya aku ucapkan kepada kalian atas partisipasi nya dalam rapat ini. Dan saya juga minta doa kalian semua semoga tahun ini kita masih bisa memenangkan beberapa lomba tersebut untuk tetap memberikan yang terbaik kepada sekolah kita. Oh iya minta tolong untuk anggota OSIS yang mengikuti lomba tetap berada di ruangan ini, dan untuk anggota yang lain minta tolong siswa maupun siswi yang terpilih untuk mengikuti lomba tolong infokan untuk segera ke ruangan ini sekarang."
"Sekian dari saya, kita tutup rapat ini dengan bersama-sama mengucapkan 'alhamdulillahi robbil alamin.."
"Alhamdulillahi robbil alamin..." Ucap teman-temannya dengan serentak.
Satu per satu anggota keluar ruangan kecuali beberapa orang yang terpilih untuk mewakili sekolah tadi.
"Huu lega rasanya. Makasih yah nak atas bantuan nya, jujur bapak agak pusing dengan masalah perlombaan ini, di tambah lagi tugas yang di berikan oleh pak Kepala Sekolah masalah OSIS kedepannya."
"Sama-sama pak, ini juga berkat anggota OSIS yang lain kok, saya juga senang mereka begitu sangat antusias." Jawab Rey.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!