
Felice berdiri dan menghampiri Lisa, pipi Felice terlihat basah karena air matanya yang sedari tadi mengalir. "Kamu yang sabar yah, dek..." Felice merangkul bahu Lisa sembari mengusap nya dengan pelan.
Lisa semakin heran, sudah dua kali dia mendengar kalimat tersebut. Ini sebenarnya ada apa?
Semua menangis? Menangisi siapa? Apakah Daddy? Ah nggak mungkin. Daddy kan dulu pernah janji nggak bakal tinggalin aku. Tapi Daddy dimana?
"Ini ada apa kak?" Lisa menatap Felice yang terlihat tak bisa menjawab pertanyaan nya. Felice hanya menggeleng, setetes demi setetes air matanya terus mengalir membasahi pipi nya.
Lisa menghampiri Putra dan duduk di samping nya. "Kak Putra, ini ada apa? Dan siapa yang ada di atas ranjang itu?"
Bukan nya menjawab, Putra malah meraih bahu Lisa dan membawa nya ke dalam pelukan nya. Dia memeluk dengan erat. Air matanya mulai mengalir, melihat adik kecil nya yang polos. Dia mengecup puncak kepala Lisa dengan lembut.Lisa yang dipeluk tak bereaksi sama sekali, dia belum paham dengan keadaaan ini.
Pandangan Lisa tepaku pada Mommy nya yang terlihat sangat terpukul, Lisa melepaskan pelukan kakak nya lalu berjalan menghampiri Mommy nya. "Mom, Mommy kenapa?" Mommy tak menjawab, Mommy malah memeluk Lisa dengan erat. "Daddy, hiks... Daddy kamu, hiks..." Mommy tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Daddy kenapa, Mom? Daddy kenapa? Daddy baik-baik aja kan? Iyakan?" Tanya Lisa.
"Hiks, hiks... Daddy, hiks... Daddy udah nggak ada." Jawab Mommy di sela-sela tangis nya.
Lisa langsung melepaskan pelukan Mommy nya. Kemudian Lisa menggeleng. "Nggak! Nggak mungkin! Daddy nggak mungkin pergi! Daddy udah janji ama Lisa!" Sahut Lisa tak percaya. Kemudian pandangan nya terarah pada seseorang yang sedang berbaring di atas ranjang tanpa bergerak sedikit pun, seluruh tubuhnya di tutupi kain putih, termasuk wajahnya. Dengan memberanikan diri, Lisa membuka kain itu dengan pelan. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok yang ada di balik kain putih itu. Itu adalah.... DADDY!
Wajahnya terlihat sangat pucat, tubuh dingin dan terbujur kaku tidak bernyawa. Lisa terdiam membeku!
"Ha? Ng-nggak nggak mungkin! Ini bukan Daddy, INI BUKAN DADDY!" Teriak Lisa tak percaya. Lisa mundur beberapa langkah menjauhi ranjang, sambil menggeleng tak percaya.
Mendengar teriakan adik nya, Putra tambah sedih begitupun dengan Felice. Mereka semua tak sanggup melihat semua ini. Sedangkan Rey, Rey terpaku melihat Lisa, teriakan kesedihan Lisa berhasil membuat setetes air matanya jatuh. Dia merasa gagal sebagai seorang suami, dia tak sanggup melihat Lisa menangis lagi untuk kesekian kali nya. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Lisa saat ini.
Rey berjalan menghampiri Lisa, dia meraih bahu Lisa berusaha menenangkan nya.
"Lepasin gue, Rey! Ini bukan Daddy, Daddy udah janji nggak bakal ninggalin Lisa." Lisa berjalan menghampiri Putra dan Felice yang duduk di sofa. "Kak putra, Daddy mana?" Tak ada jawaban, Lisa kembali bertanya."Kak Felice, Daddy mana kak?"
Tak ada yang menjawab, semua terdiam. Yang terdengar hanyalah isakan tangis pilu di dalam ruangan tersebut. Lisa kembali menghampiri ranjang tersebut. "Daddy, Daddy bangun... Lisa tau Daddy nggak bakal ninggalin Lisa kan? Iyakan Dad?" Air mata mulai menetes di pipi kiri nya. Dengan cepat Lisa menghapus setetes air matanya dengan punggung tangan nya.
"Jawab Dad! Lisa janji Lisa nggak bakal cengeng lagi! Daddy bangun dong, Lisa mau di beliin ice cream kesukaan Lisa. Ayo kita beli, Dad." Setetes air mata Lisa kembali terjatuh. "Dad... Jawab dong. Dad." Ucap Lisa dengan lembut.
Rey kembali hendak meraih bahu Lisa. "Lisa..." Panggil nya pelan.
Namun tiba-tiba Lisa terjatuh ke lantai. Semua panik melihat Lisa, Lisa jatuh pingsan!
Rey buru-buru membantu Lisa. "Lisa bangun... Lisa."
"Sini Rey." Putra langsung menggendong Lisa meletakkan nya di sofa. "Yank, tolong kamu ambilin minyak kamu putih yah!" Pinta Putra pada Felice. Felice mengangguk kemudian keluar ruangan.
...*****...
🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠
Lisa mengerjapkan matanya pelan. Dengan perlahan dia membuka matanya. Dia terlihat terkejut saat menyadari bahwa dia sedang terbaring di kamarnya. Ada Sarah, Mira dan Ghea di samping nya.
"Rah, Daddy mana?" Tanya Lisa sambil menatap Sarah.
"Lisa, kamu tenang yah." Ujar Sarah pelan.
Lisa mendudukkan tubuhnya. "Daddy mana?"
Lisa..." Ghea memanggil Lisa dengan pelan.
"GUE TANYA, DADDY MANA?!" Bentak Lisa dengan keras.
"....."
Semua terdiam. Sarah, Mira dan Ghea tak ada yang menjawab. Lisa kehilangan kesabarannya, ia langsung berlari turun kebawah. Saat melihat banyak orang dibawah, dengan pelan Lisa menuruni tangga. Sudah terdapat banyak orang yang membaca Yasin. Mayat Daddy nya sudah terbujur kaku di tengah-tengah kerumunan orang mengaji.
"Daddy..." Gumam Lisa.
Felice yang sedang duduk di tengah-tengah kerumunan itu, menghampiri Lisa yang sedang berdiri mematung. "Dek... Sini ikut kakak aja!" Felice merangkul pundak Lisa, membawanya kembali ke kamarnya. Mendudukkan nya di kasur. "Kalian keluar dulu!" Pinta Felice pada ketiga teman Lisa.
"Iya kak."
"Dek... Dengerin kakak. Kamu harus kuat yah, Tuhan sayang sama Daddy, juga sayang sama kita semua. Oke? Jadi Lisa nggak boleh kayak gini. Daddy nggak bakal suka liat Lisa sedih terus, nanti Daddy juga akan sedih di sana."
Melihat Lisa tak menjawab, Felice memeluk Lisa. Mengusap punggung nya dengan lembut. "Lisa... Lisa jangan kayak gini. Lisa harus kuat! Lisa harus yakin kalo ini semua ujian dari Allah untuk kita. Sekarang Lisa ganti baju dan kita pergi makamin Daddy yah. Temui Daddy untuk terakhir kali nya, yah."
Lisa mengangguk pelan. Felice menunggu nya diluar kamar. Setelah Lisa selesai berganti pakaian serba hitamnya, mereka kembali turun ke bawah.
Semua orang mulai mengiringi keranda mayat Daddy Lisa menuju pemakaman setempat.
.
.
.
Sarah merangkul bahu Lisa sambil memperhatikan semuanya. Lisa hanya diam melihat semuanya, ia tak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Namun air matanya tak pernah berhenti mengalir membasahi pipi nya. Semua teman-temannya juga datang. Setelah berdoa semua orang pergi. Tinggal Lisa, Mommy, Putra, Felice, Rey, Al, dan teman-teman yang lain nya.
"Lisa, Rey, Ayah Bunda kesana dulu yah." Ujar Ayah Rey.
"Iya Yah."
Mommy berjongkok memegangi nisan suami nya. Felice ikut berjongkok berusaha menenangkan Mommy dengan mengusap bahunya.
"Lisa, kamu yang kuat yah." Ujar Ghea.
"Kamu harus kuat, kamu nggak boleh sedih!" Sambung Mira.
"Iya Lis. Daddy kamu nggak mungkin suka liat kamu sedih terus." Ucap Vhino dengan pelan.
"Iya, makasih yah." Jawab Lisa.
Sedangkan Al, Al hanya terdiam menatap Lisa. Dalam hati dia sangat ingin berada di samping Lisa, menguatkan nya, menjadi sandaran nya serta ingin berbagi rasa sedih itu. Dada nya sesak melihat Lisa seperti ini. Namun apalah daya nya dia hanya bisa melihat nya dari jauh. "Aku turut berduka cita yah, Lis. Kamu harus kuat!" Ucap Al pelan.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!