
"Gelap Rey... Hiks... Hiks... Aku, hiks... Aku takut..." Lisa masih saja terisak-isak. Kepalanya dia tenggelamkan di dada bidang milik Rey. Perasaan nya saat ini sangat tak menentu. Tadi nya dia sangat takut, saat melihat Rey berantem dengan para lelaki tadi, dia takut Rey kenapa-napa. Takut sendiri saat Rey tak ada bersama nya, takut dia sudah tak bisa bertemu Rey lagi, takut tak bisa pulang lagi dan masih banyak lagi rasa takut yang tak bisa dia sebutkan satu per satu.
"Tenang yah, ada aku kok." Rey mempererat pelukan nya, dagu nya dia sandarkan di puncak kepala Lisa. Salah satu tangan nya sibuk mengusap-usap rambut Lisa dengan lembut, mencoba untuk memberikan rasa aman pada perempuan yang dia cintai.
Perlahan-lahan suara isak tangis Lisa sudah agak mereda, mungkin saja dia sudah agak tenang. Sementara Rey, ia masih mengusap-usap kepala Lisa dengan lembut sambil memejamkan matanya. Ia sedang berpikir, apa yang harus dia lakukan sekarang, bagaimana cara keluar dari tempat sepi ini, dan yang paling buat ia penasaran adalah siapa yang menculik nya dan apa alasan nya mereka melakukan ini?
Terdengar suara hembusan napas Lisa dengan teratur, mata nya terpejam dan pelukan nya merenggang. Rupa nya dia sudah tertidur lelap. Ah, mungkin saja dia lelah setelah menangis beberapa lama. Rey yang tak ingin menggangu tidur Lisa, memilih untuk tetap pada posisi nya, tetap memeluk nya dan tetap berada di samping nya.
Rey tak tau apakah ini masih pagi, siang atau bahkan sudah malam. Dia tak dapat memastikan karena ruangan yang dia tempati sekarang.
...*****...
"Dimana mereka?" Tanya seorang lelaki yang sudah berumur itu memakai jas formal kepada dua lelaki yang bertopeng.
"Mari kita antar, Bos." Jawab lelaki salah satu dari mereka.
Sesampai nya di depan pintu, terlihat beberapa lelaki bertopeng lain nya yang bertugas untuk menjaga tahanan mereka.
"Silahkan Bos, mereka berdua ada di dalam." Ujar lelaki bertopeng yang lain nya.
"Oke." Lelaki berumur itu membuka pintu dengan pelan. Saat pintu terbuka dia sudah dapat melihat dua manusia yang sedang tertidur dengan pulas di sudut ruangan. Sebuah senyuman sinis tercipta di bibir nya. "Bawa air ke sini!" Pinta lelaki tersebut.
"Baik Bos." Dengan segera, salah satu dari lelaki bertopeng langsung pergi dan menagmbil kan air untuk tuan nya.
"Ini Bos." Ucap nya sambil menyerahkan se ember air.
Setelah menerima nya, lelaki tersebut melangkah kan kaki nya dengan pelan, masuk ke dalam ruangan yang gelap itu disusul oleh beberapa lelaki bertopeng lain nya. Dia menghampiri dua manusia yang masih di balut seragam sekolah dan sedang tertidur. Tak lupa ia kenakan topeng nya juga agar tidak di kenali nanti nya. Lelaki tersebut kembali tersenyum sinis, lalu mengambil ember yang berisi air tersebut dan...
Byuuurr...
Lelaki itu menyiram dua manusia yang sedang tertidur yang tak lain adalah Lisa dan Rey. Merasa kan ada sesuatu yang menimpa nya, Lisa membuka matanya pelan. Pertama ia melihat Rey yang sedang tertidur di samping nya, melihat baju Rey basah ia menunduk dan melihat baju nya sendiri.
"Basah?" Gumam nya dengan pelan.
"Sudah cukup tidur nya anak-anak, ayo sekarang kalian bangun!" Mendengar suara berat tersebut, Lisa langsung menoleh dan melihat kembali seorang lelaki bertopeng.
"Siapa kamu?" Tanya Lisa dengan perasaan takut, namun dia berusaha untuk tetap berani.
"Hahahaa..." Bukan nya menjawab lelaki itu malah tertawa. "Aku? Siapa? Ckckckck... Kamu tak perlu tau!" Kali ini suara nya terdengar menakutkan.
Lisa menggeser duduk nya pada Rey. Jujur, dia takut, sangat-sangat takut. "Rey." Lisa berusaha membangun kan Rey yang masih tertidur. "Rey, aku takut."
Terlihat Rey mengerjapkan matanya beberapa kalo, lalu kemudian membuka nya. Dia melihat Lisa yang berada di samping nya dengan ketakutan.
"Kenapa?" Tanya Rey dengan suara serak nya.
Belum sempat Lisa menjawab, lelaki tadi kembali tertawa. "Hahahaaa... Gimana tidur nya? Nyenyak kah?" Tanya nya.
"Siapa kamu?" Tanya Rey.
"Eh, mau apa kalian?" Rey terkejut saat beberapa lelaki meraih tangan nya ke belakang. Rey berusaha melawan dengan menendang kaki lelaki yang ada di depan nya, namun lelaki yang lain langsung memberikan sebuah pukulan pada bahu nya, sehingga dia tak dapat berkutik.
"Diam!" Tangan Rey dan Lisa di bawa kebelakang dan di pegangi oleh lelaki bertopeng.
Lelaki tersebut berjongkok lalu mendekatkan dirinya pada Rey. "Ckckck... Kasian yah kalian." Ledek nya.
"Berikan aku alat nya, aku ingin bersenang-senang sejenak. Hahahaaa..." Suara tawa lelaki tersebut terdengar sangat menyeramkan.
"Siapa yang mau duluan?" Tanya nya sambil menunjuk kan cambuk yang ada di tangan nya.
Rey menoleh pada Lisa kemudian menggelengkan kepala nya. "Aku saja, jangan sakiti dia. Biar aku saja!" Sahut Rey.
Lisa ikut menggeleng, "Tidak, aku saja!" Seru Lisa. Ya dia memang takut, tapi dia akan lebih takut jika melihat Rey kenapa-napa. Rey sudah banyak berkorban untuk dirinya, mungkin ini saat nya dia membalas segala kebaikan Rey.
"TIDAK! Jangan, Cha. Aku saja!" Sahut Rey lagi.
"Aku saja." Balas Lisa.
"DIAM!" Sentak lelaki itu dengan kesal. "Kalian berdua diam! Kita akan memulai dari tahap awal. Hahahahaa... Sebagai lelaki harus mengalah dong, biarkan wanita mengambil bagian nya. Hahahaaa..."
Mendengar ucapan lelaki tersebut, Rey membulatkan matanya terkejut. "Nggak! Jangan sakiti dia!" Sahut Rey.
"Awww... Shhh..." Ringis Lisa saat cambuk itu mengenai kulit mulus nya, menyisakan bekas berwarna merah. Air mata Lisa mulai mengalir menahan sakit dan perih.
"Jangan!" Rey mendekati Lisa, dia berusaha membawa Lisa ke dalam tubuhnya. Cukup sudah, suara ringisan Lisa tadi sudah cukup mengiris hati nya.
"Minggir! Urusan ku dengan cewek ini belum selesai." Pinta lelaki tadi.
"Nggak! Jangan sakiti dia!" Seru Rey. Namun, para lelaki bertopeng yang lain langsung menyeret Rey menjauh dari tubuh Lisa. "Nggak! Jangan!" Rey memberontak, namun percuma saja. Dia tak bisa melakukan apapun karena para lelaki bertopeng tadi memegangi tangan dan tubuhnya agar tidak mengganggu kesenangan Bos nya.
"Okeyyy..." Lelaki yang memegang cambuk menangguk-anggukkan kepala nya meremehkan. Dia kembali mengayunkan cambuk nya, dan...
"Aww... shhh... Aww perih..." Keluh Lisa.
"Nggak! Lepasin aku!" Rey yang melihat nya terus saja memberontak agar para lelaki tersebut melepaskan nya. Setetes air mata Rey mengalir melihat Lisa yang kesakitan.
"Ckckckck... Gak sabaran banget sih, tunggu aja bentar lagi giliran kamu kok." Ledek lelaki tersebut. "Gimana? Masih kurang?" Tanya nya pada Lisa. Namun Lisa tak menjawab apapun. Dia hanya menangis dan terus menangis
" Yaudah kalo gitu kita tambah lagi."
"Shhh... Hiks... Hiks..." Satu cambukan kembali mendarat di kulit mulus nya. Lisa terisak-isak menahan sakit dan perih di tubuhnya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!