Love In Many Ways

Love In Many Ways
Remot Tv



"Nggak usah kepedean deh, Rey." Ucap Lisa. "Pengen martabak nih." Sambung Lisa.


"Martabak?"


Lisa mengangguk cepat, "Mau martabak coklat." Ucap Lisa sambil menunjukkan wajah puppy eyes nya, yang berhasil membuat Rey serba salah.


"I-iya... Iya tunggu bentar!" Gugup Rey.


Rey keluar untuk membeli martabak kesukaan istrinya. Sementara Lisa duduk santai sambil menonton tv.


"Kak Lisa."


"Ya kenapa?" Tanya Lisa tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Kak Rey mana?"


"Lagi keluar bentar. Kenapa?"


"Aqeela mau keluar bentar yah, kak." Izin Aqeela.


"Mau kemana?"


"Mau ke rumah teman, cuma bentar kok."


"Yaudah, tapi pulang nya jangan kemaleman!" Pesan Lisa.


"Oke, Mbak Boss. Nanti tolong bilangin sama kak Rey yah." Sahut Aqeela lalu membuka pintu utama.


"Siiipp...!" Teriak Lisa.


.


.


.


"Icha... Ini martabak nya!" Rey menyodorkan martabak tersebut pada Lisa yang langsung di sambar oleh Lisa. Lisa cepat Lisa membukanya, melihatnya saja sudah membuatnya sangat girang.


"Wah makasih yah, Rey." Sahut Lisa lalu langsung melahap martabak tersebut.


"Cuma makasih doang?" Rey ikut duduk di samping Lisa.


"Trus apa dong?"


"Ya apalah gituloh. Yang bisa buat aku seneng juga."


Lisa mengernyit bingung namun detik berikutnya ia tersenyum, seolah tau apa yang harus ia lakukan. Hal yang bisa buat seneng suaminya.


Tanpa pikir panjang lagi, Lisa langsung saja mengecup singkat pipi Rey. "Makasih, sayang..." Lisa kembali asyik dengan makannya tanpa mempedulikan ekspresi wajah Rey yang terlihat terkejut. Hadeuhh, udah berapa kali sih Rey kamu di cium sama Lisa dan kamu masih belum terbiasa, ekspresi kamu tetap saja sama. Masih terlalu kaget padahal kan itu udah biasa bagi Lisa.


"Ekhem... Aku mau ke kamar aja." Ucap Rey dan langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sama sekali pada Lisa.


"Tuh anak kenapa dah?" Heran Lisa. Namun ia tak ingin memikirkan nya karena sekarang sedang sibuk melahap makanan nya.


.


.


.


"Icha." Panggil Rey.


"Hm?"


"Kamu nggak belajar? Bentar lagi ujian loh." Ujar Rey yang masih fokus dengan buku yang ada di tangannya.


"Ntar aja, tunggu sampe film nya selesai dulu." Jawab Lisa, matanya masih terfokus pada tv yang sedari tadi menyala.


Yah, memang ini sudah malam dan Lisa masih saja asyik dengan film nya yang sedari sore ia tonton. Sehabis mandi dan makan malam pun ia lebih memilih untuk melanjutkan aktifitasnya, yaitu rebahan di atas sofa sambil menonton. Lisa merebahkan dirinya di atas sofa, kepalanya ia letakkan di atas pangkuan Rey yang sibuk belajar, belajar dan belajar.


"Film nya kan bisa di nonton nanti, sayang. Belajar dulu gih!" Pinta Rey, tangan nya sibuk mengusap-usap dagu milik Lisa.


Rey tak ingin banyak bicara, ia tau Lisa tak suka di paksa. Jadi yah, yang bisa Rey lakukan hanya geleng-geleng kepala.


"Ha? Kok mati sih?" Sahut Lisa. Ia langsung terduduk, matanya menatap tv dengan serius.


"Siapa?" Tanya Rey.


"Itu tuh, ih kasian banget..."


Rey menghela napas, padahal kan ia sempat ikut kaget dengan sahutan Lisa. "Udah nonton nya!" Rey mematikan tv dengan remot yang ia ambil dari meja.


"Yah, kok di matiin sih Rey?" Keluh Lisa.


"Belajar dulu!"


"Nanti aja, 5 menit lagi. Beneran deh, film nya lagi seru banget."


"Nggak ada alesan, sekarang belajar!" Tegas Rey.


"Aaaahh... 5 menit lagi Rey... Serius deh, siniin remotnya!"


"Nggak ada! Sekarang waktunya belajar!" Rey meletakkan remot tv di tempat yang tinggi, yang nggak akan mungkin bisa digapai oleh orang sependek dan sekecil Lisa.


"Ih Rey ngeselin!" Sahut Lisa, ia memanyungkan bibirnya kesal.


Rey tak peduli dan kembali melanjutkan belajarnya, dan tentu itu membuat Lisa menatap ke arah nya dengan sinis.


"Rey ambilin dong! Mentang-mentang kamu tinggi, bukan berarti kamu bisa semena-mena sama aku. Kamu jahat banget Rey, remotnya tinggi banget. Ambilin dong ih..." Gerutu Lisa sambil melompat-lompat untuk mengambil remot tersebut.


"Itu nggak tinggi, kamu nya aja yang..." Rey menggantung kan ucapannya.


"Yang apa? Yang pendek? Iya aku tau itu. Ntar aku minum susu peninggi badan baru tau rasa kalo aku lebih tinggi dari pada kamu..." Lisa terus saja mengomel nggak jelas.


"Terserah!"


"Ngeselin!" Ketus Lisa. "Ayo dong dikit lagi, uuuuhh... Tinggi banget sih!" Lisa berusaha melompat untuk mengambil remot itu namun naas tak bisa sama sekali.


Rey menghela napas berat, "Jangan lompat-lompat, Cha!"


Lisa tak peduli dan tetap saja melompat, padahal kan tinggal dikit lagi. Kenapa nggak sekalian bisa digapai sih? Kan ngeselin jadinya. "Remot ayo sini, turun sini! Jangan di atas situ, ayo turun nanti aku tangkep! Susah yah kamu dibilangin, ntar aku beli yang baru kamu udah nggak dipake, mau?"


"Ih aku kan orang waras, ngapain ngomong ama remot. Aaaahhh... Dikit lagi padahal..."


Karena Lisa tak bisa dibilangin akhirnya mau tak mau Rey bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Lisa yang masih melompat-lompat, Rey akhirnya menyerah dan berniat mengambilkan remotnya untuk Lisa.


"Yaudah sini aku ambilin. Kamu mundur dulu." Pinta Rey. Lisa menurut dan berdiri di belakang Rey.


Rey berjinjit untuk mengambil remot itu, namun sepertinya ia pun kesusahan untuk menggapainya. Lisa yang geregetan karena melihat Rey hampir mencapainya langsung teriak-teriak. "Ayo Rey dikit lagi, sebelah situ... Itu itu..." Tunjuk Lisa.


"Cha nggak usah berisik, aku jadi nggak konsen ambilnya."


"Ya maap. Tapi beneran deh dikit lagi. Ayo dikit lagi... Sebelah kanan Rey, ayo Rey!" Sahut Lisa menyemangati di belakang Rey.


"Yah dapat!" Sahut Rey saat tangan nya berhasil menggenggam remot tersebut. Namun, seekor tikus kecil tiba-tiba saja melintas di atas nya dan tentu saja itu membuat Rey terkejut. Refleks Rey berbalik dan kehilangan keseimbangan nya. Ia terjatuh dan menimpa Lisa yang sedari tadi berdiri.


Bugghh...


Rey berada di atas badan Lisa. Lisa yang sama terkejutnya hanya bisa membulatkan matanya kaget dan tubuhnya seolah membeku tak dapat bergerak sama sekali. Lisa menatap kedua mata Rey. Begitupun dengan Rey yang menatap balik Lisa. Wajah mereka begitu dekat, pandangan mereka seolah terkunci, dan waktu seolah berhenti. Tak ada yang berkedip, seolah pandangan mereka baru saja bertemu, dan seolah membeku tak mampu bergerak.


Perlahan-lahan Rey mendekatkan wajahnya pada Lisa. Mungkin karena khilaf atau apa, ntahlah tak ada yang tau apa yang akan Rey lakukan selanjutnya. Seseorang tolong teriaki Rey untuk mengingatkan akan janjinya, atau tidak Rey tidak akan mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai ia melanggar janjinya sendiri yang telah ia buat.


Rey tolong jangan pernah berbuat sesuatu yang bisa membuat mu menyesalinya seumur hidup. Jangan sampai kau melewati batasan mu tanpa ada izin dari Lisa. Udah ah, Rey nggak mau dibilangin, bandel banget. Author diem aja dah...


Rey semakin mendekatkan wajahnya, kedua nya sudah dapat merasakan deru napas masing-masing. Seolah napas mereka bertempur dan bertarung. Lisa memejamkan matanya pasrah, ia pasrah dengan apa yang akan Rey lakukan selanjutnya. Seakan dirinya sudah siap dengan apa yang akan Rey lakukan terhadapnya, ia sudah menyerahkan seluruh jiwa dan raga nya pada Rey. Toh dia sudah sangat yakin dan sangat mencintai Rey sekarang dan untuk selama nya.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!