Love In Many Ways

Love In Many Ways
Ngambek



Kata-kata Rey barusan cukup membuat Dinda kesal mendengarnya. Lisa kembali tersenyum sinis dan semakin semangat untuk memprovokasi Dinda. "Lah iya sayang kan? Ayo ke Resto, aku laper... pengen makan, teman-teman lain juga udah ada disana nunggu kita!"


"Oh yah? Yaudah yuk kesana!"


Lisa dan Rey meninggalkan Dinda sendirian untuk pergi ke Restoran tempat teman-teman nya yang lain berkumpul. Dinda sangat kesal melihat kedekatan keduanya. Ingin sekali ia memaki Lisa, akan tetapi ia sadar kalau ia tidak boleh memiliki pencitraan buruk apalagi di depan Rey.


...*****...


"Huh capek banget..." Lisa langsung saja menjatuhkan dirinya diatas kasur.


"Yaiyalah capek, tadi kan kamu kayak orang yang nggak sadar. Semuanya mau di coba, ampe aku aja kewalahan padahal bukan aku yang main..." Rey menyimpan jaket nya di atas kursi.


"Heheheee... Ya abis udah lama banget aku nggak main-main gitu. Biasa nya kan aku main sama Daddy."


"Gimana? Seneng nggak?" Tanya Rey yang ikut merebahkan dirinya di samping Lisa.


"Seneng kok, seneng banget malah." Girang Lisa. "Makasih yah Rey. Meskipun aku cuma juara 2 tapi hadiah nya bikin aku bahagia banget..."


Rey terdiam sejenak, "Cuma makasih doang nih?" Tanya Rey.


"Iya makasih, terus apa dong?" Tanya Lisa polos.


"Masa cuma makasih doang. Aku aja kasih kamu hadiah, masa aku yang juara 1 nggak di kasih hadiah apapun gitu?"


Lisa mengerutkan dahinya bingung, "Emang kamu mau nya apa?" Tanya Lisa.


"Ya apa gitu, yang bisa bikin seneng suami. Masa kamu nggak tau?"


Lagi-lagi Lisa dibuat bingung dengan cara bicara Rey yang seperti penuh teka-teki. "Yang bisa bikin seneng suami? Hadiah apa emang nya?"


Rey tersenyum misterius, "Nggak susah kok sayang. Jadi kan bentar lagi kita udah kelas 3 udah hampir lulus kan..."


Lisa menaikkan satu alisnya bingung, "Hem? Terus?"


"Kamu nggak ada rencana gitu buat punya keturunan?"


Lisa terdiam berpikir, "Ada sih, siapa juga yang nggak pengen punya anak, anak yang lucu-lucu lagi trus imut juga. Uh pasti seru banget..." Lisa. seolah membayangkan bagaimana dirinya dan Rey yang sedang mengurus anak-anaknya.


"Yaudah kalo gitu kita bikin sekarang yuk..."


"Apaan?"


"Yah buat anak, sekarang aja yah. Itung-itung juga sebagai hadiah aku dari istri ku tercinta..." Ucap Rey sambil tersenyum jahil.


Lisa membulatkan matanya geram menatap ke arah Rey. Ia mengambil bantal lalu melempar nya ke arah Rey. "Ih Rey... Kamu mesum banget sihh..."


"Aww... Jangan di lempar dong sayang..." Keluh Rey. "Lagian kan itu emang udah jadi kewajiban istri."


"Kamu akhir-akhir ini selalu ngomong yang enak di denger, kamu belajar darimana sih, perasaan dulu nggak kayak gitu deh? Bikin kesal tau nggak!"


"Lisa cantik... Ini Rey suami kamu sayang, bukan teman sepermainan kamu dulu. Jadi wajar dong kalo aku pengen..." Rey sengaja menggantung kan ucapannya.


"Apa? Apa-apa? Ha? Mau mesum lagi?" Tanya Lisa sewot. "Ya aku tau emang kewajiban istri, tapi kan belum waktunya. Aku juga pengen nyelesaiin pendidikan aku tau..."


Rey semakin tersenyum jahil melihat kekesalan Lisa. "Tapi suami mu ini pengen... Dulu sih masih bisa nahan, sekarang kayak nggak bisa deh..."


"REY! STOP! Minta di cincang yah mulutnya. Tuh mulut udah nakal yah!" Kesal Lisa. "Udah ah aku mau ke kamar mandi!" Lisa bangun dan berjalan dengan kesal.


"Sayang, mau ikut..." Sahut Rey.


PHHAAAKKK...


Lisa langsung menutup pintu dengan sangat keras. Sungguh ia sangat di kesal dengan tingkah Rey yang menurutnya sangat menyebalkan. Sejak kapan Rey jadi jahil kayak gitu?


"Bwwwaahahhaaa...." Rey langsung saja tertawa terbahak-bahak. Sedari tadi ia sudah menahan tawanya saat melihat kekesalan Lisa. Huh, sangat menyenangkan rasanya bisa menjahili istri kecilnya. Yah meskipun agak aneh juga tapi sudah pasti menyenangkan lah. Itu tadi bercanda kan? Ya iyalah bercanda, tapi kalo mau dianggap serius juga nggak masalah lah, yang penting Lisa udah kesal.


Sementara Lisa yang sedang berada di dalam kamar mandi hanya bisa bergumam-gumam kesal. Ntah apa yang di ucapkan mulutnya tapi yang pasti ia sangat kesal.


"Cha, nggak makan dulu?" Tanya Rey.


Hening, Lisa tak menjawab apapun. Nampaknya dia sedang merajuk.


"Icha... Ayo makan dulu, kamu belum makan malam loh. Tidur nya ntaran aja, ini kan masih jam 8."


Krik krik, krik krik....


Lisa masih saja terdiam. Rey menghela napas kemudian mendekati Lisa. Ia tau Lisa sedang ngambek, mungkin karena bercandaan nya tadi yang dianggap serius oleh Lisa.


"Kamu marah yah?" Bisik Rey tepat di belakang Lisa.


"Cha, jangan marah lah. Tadi itu aku cuma bercanda, nggak usah di anggap terlalu serius lah, anggap aja aku nggak pernah ngomong gitu..."


"Sayang, maafin aku. Iya aku ngerti pendidikan itu sangat penting juga buat kamu dan aku nggak pernah maksa. Terserah kamu lah, aku ngikut aja."


Lisa memutar bola mata nya malas, kemudian ia menutup telinganya dengan menggunakan selimut.


"Icha sayang, maafin aku yah. Aku janji aku nggak akan pernah maksa kamu, aku akan tetap menunggu kamu sampe benar-benar siap, lagian kan tadi itu aku cuma bercanda doang."


"Nggak lucu!" Ketus Lisa.


"Yaudah maafin lah, yah sayang. Sekarang kita makan, kamu belum makan kan sepulang dari bermain tadi? Ayo bangun..."


"Nggak mau! Aku nggak laper!" Ketus Lisa lagi.


"Gimana kalo kita makan nya di luar aja? Kamu mau nggak makan diluar?" Tawar Rey.


Ucapan Rey cukup membuat Lisa tertarik. Tetapi Lisa masih saja keras kepala, ia tetap bersikeras untuk melanjutkan acara ngambek nya.


"Emmm... Kita makan nya bukan diluar di depan kompleks yah. Tapi malam ini kita makan nya di tempat yang agak jauh, gimana? Kamu mau kan?" Tawar Rey lagi.


"Mau! Yaudah yuk berangkat!" Sahut Lisa antusias. Ia langsung bangun dan langsung menarik tangan Rey agar segera berangkat.


"Yuk capsus!" Ajak Lisa.


Rey menggelengkan kepalanya melihat Lisa yang sangat antusias. Giliran makan dan jalan-jalan aja dia semangat bener...


"Eits, tapi syaratnya..." Ucap Rey yang terdengar misterius.


"Apalagi nih?"


Rey mengetuk pipi nya pelan mengunakan jari telunjuknya sebanyak dua kali. Lisa yang mengerti arti dari apa yang dilakukan Rey langsung tersenyum.


Cup!


Ciuman singkat berhasil mendarat di pipi Rey. Rey langsung tersenyum senang saat Lisa benar-benar mengecup pipinya.


"Ayo sekarang berangkat..." Ajak Lisa.


"Bentar aku ambil kunci mobil dulu."


"Kita naik motor aja Rey."


"Kenapa emang nya?"


"Nggak papa, emang mau naik motor aja."


"Yaudah yuk."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!