
"Hiks... Lepaskan aku..." Suara isak tangis terdengar samar-samar di telinga Faro.
"Hahahaaa... Tutup mulutmu!" Bentak seseorang.
Faro yang mendengar suara bentakan tersebut, dapat menebak bahwa suara itu berasal dari suatu ruangan yang ada di depan nya. Perlahan-lahan Faro mendekati sebuah pintu. Dia memegang gagang pintu, dan membukanya dengan sangat-sangat pelan. Ia hanya membukanya sedikit, lalu mengintip.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Lisa yang sedang terbaring di sebuah kasur dengan kaki tangan yang diikat dengan kuat. Sekujur tubuhnya terlihat dipenuhi darah dan lebam-lebam. Penampilan nya terlihat sangat lusuh dan dekil. Lalu pandangan nya berpindah pada seorang wanita yang sedang berdiri di samping kasur tersebut sambil mengasah sebuah... Ha? Apa itu? Pisau? Mau apa dia?
I**tu benar Lisa? Tapi dimana Rey? Kenapa dia nggak ada?
Yang paling mengejutkan adalah saat Faro melihat benda-benda tajam yang terletak di atas nakas, disamping kasur. Apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia... Ah nggak, nggak mungkin
"Hiks... Lepaskan aku... Hiks..." Ucap Lisa tersedu.
"Hiks.. Ghea, aku sayang hiks... aku sayang sama kamu... Ka-kamu kamu jangan kayak ginj, hiks..." Sambung Lisa.
"Haih, udahlah. semua yang lo ucapin itu nggak ada buktinya. Basi tau nggak! Gue nggak pernah percaya sama lo!" Sahut Ghea ketus.
"Ghea... Hiks... Aku bener-bener sayang sama kamu. Kamu jangan lakuin ini. Aku takut..."
"DIAM!" Bentak Ghea. "Lo jangan ganggu konsentrasi gue. Apapun yang lo ucapin nggak bakal pernah gue percaya. Jadi lo jangan ganggu kesenangan gue!"
"Nah, ini juga udah selesai." Ujarnya sambil menyimpan pisau yang dari tadi diasah nya di samping jarum yang ada diatas nakas."Hmm... Sekarang kita mulai dari mana yah?!" Pikir Ghea.
"Nggak! Jangan! Jangan lakuin itu!" Lisa menggeleng, dia benar-benar takut dengan apa yang akan Ghea lakukan terhadapnya. Berlebih lagi saat melihat benda tajam tersebut.
"Husshh... Jangan berisik dong. Kita akan bersenang-senang hari ini. Kamu harus ceria dong!" Ujar Ghea. Kali ini suaranya terdengar sangat menakutkan, Lisa semakin takut dan dibuat merinding dengan ucapan 'kita akan bersenang-senang'
"Kita mulai dari ini dulu kali yah." Ghea meraih pisau dan memperlihatkan nya pada Lisa yang sedari tadi bergetar ketakutan. "Kalo pake ini... Gue potong yang mana dulu yah...!" Ucap Ghea berpikir sambil menatap seluruh badan Lisa.
"Haih, gue bingung deh. Atau gue pake ini aja kali yah." Ghea kembali meraih sebuah gunting. "Kalo ini kita mulai dari rambut lo aja botak in sekalian. Ah kayak nya nggak seru, atau kita mulai dari mata lo, kita cocol aja biar nikmat. Hahahaaa..." Sahut Ghea sembari tertawa senang, apalagi saat melihat wajah ketakutan Lisa.
Apa maksudnya? Apa dia benar-benar akan memutilasi tubuh Lisa? Gila! Apa dia sudah gila? Nggak, ini nggak boleh dibiarin!
Faro berjalan pelan masuk kedalam ruangan tersebut. Berusaha mendekati wanita yang sama sekali tidak ia kenali. Siapa tadi namanya? Ghea?
"Lo pilih mana? Langsung ditusuk keras? Atau tusuknya pelan aja?" Tanya Ghea. Lisa tak menjawab, dia hanya menangis dan terus menangis. "Ih gue tanya, lo gimana sih? Yaudah deh daripada berlama-lama gue tusuk nya keras aja, biar langsung nancep gunting nya. Hahahaa..." Ghea melayangkan tangan nya yang berisikan gunting untuk segera menancapkan nya ke arah Lisa. Lisa yang tak bisa melakukan apa-apa pun hanya bisa menutup matanya sambil berdoa dalam hati.
1...
2...
3...
HAP! Hampir saja. Sebuah tangan dengan sigap langsung mencengkram tangan Ghea dengan kuat.
"Ha? SIAPA LO?! Kenapa lo bisa masuk kesini?" Sentak Ghea kaget. Perasaan penjagaan rumah ini sangat ketat, kenapa lelaki itu bisa masuk? Gunting yang ia pegang terjatuh ke lantai, akibat cekalan tangan Faro.
"Aw, lepasin gue!" Keluh Ghea saat cengkeraman tangan Faro semakin kuat.
"Lo mau apain dia? Mutilasi? Gila yah lo!" Sahut Faro yang sedang emosi.
Mendengar suara itu, Lisa langsung membuka matanya. Faro? Alhamdulillah ya Allah makasih engkau telah menyelamatkan hamba.
"Sini lo!" Faro menarik tangan Ghea agar mengikutinya. Tangan kirinya mencengkeram tangan Ghea, sedangkan tangan satunya berusaha melepaskan ikatan tangan dan kaki Lisa dengan menggunakan gunting tadi.
Ghea yang melihat Faro lengah, berinisiatif untuk mengambil pisau yang terletak di atas nakas.
"Ayo cepat bangun!" Pinta Faro saat ikatan nya telah terbuka.
"FARO! AWAS!" Teriak Lisa.
Faro langsung berbalik dan melihat Ghea, sontak ia langsung menepis tangan Ghea dan pisau itu terjatuh. "Lo bener-bener nggak waras yah!" Sahut Faro.
"Jangan bawa dia! Aku belum puas bersenang-senang!" Sahut Ghea.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Faro langsung mendorong tubuh Ghea dengan keras ke arah kasur.
Phaaakkk!
Kepala Ghea terbentur cukup keras di tepi kasur, darah segar mengalir membasahi pelipisnya.
"Aww... sshhh..." Ringis nya sembari memegangi kepalanya.
"Ghea..." Lisa sudah akan mendekati Ghea untuk segera membantunya. Namun tangan nya segera ditahan oleh Faro.
"Ayo cepat kita keluar!" Sahut Faro.
"Tapi Ghea..."
"Sudah jangan pikirkan dia, yang terpenting adalah keselamatan kita." Sahut Faro sambil menarik tangan Lisa agar mengikuti langkahnya.
"HEI! JANGAN BAWA DIA!" Teriak Ghea. "Ah! Sialan!" Gerutu Ghea sambil berusaha berdiri.
"Faro aku udah nggak kuat." Ucap Lisa sambil terus berusaha menyamai langkah Faro yang cepat.
"Kamu yang kuat yah. Kita harus segera pergi dari sini." Kata Faro. Ah sial! Dia mengejar. Bisa saja dia teriak dan memberitahu seisi rumah ini. Ucap Faro membatin saat tak sengaja menoleh kebelakang dan melihat Ghea yang juga berlari mengejar.
Tak ingin ambil resiko, Faro menarik Lisa masuk ke dalam sebuah ruangan. Lalu menutup pintu nya rapat. "Kita ngapain kesini?" Tanya Lisa.
"Kamu tenang dulu, wanita tadi mengejar kita. Dia pasti sudah memberitahu para lelaki bertopeng di rumah ini untuk mencari kita. Aku nggak mungkin sanggup melawan mereka semua, yang ada kita malah jadi ketangkep." Jelas Faro.
"Jadi sekarang gimana? Aku takut..." Ucap Lisa dengan pelan.
"Kamu tenang dulu yah. Oh iya wanita itu... Apakah dia psikopat?" Tanya Faro.
"YUHUI... KALIAN DIMANA? AKU AKAN MENEMUKAN KALIAN!" Teriak Ghea dengan keras dari arah luar.
"Ah dia datang." Kesal Faro. "Ayo cepat sini ikut aku!" Faro langsung menarik tangan Lisa. Mereka berdua langsung bersembunyi di bawah meja yang cukup besar.
Cklek!
Pintu terbuka. Ghea melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan santai.
"Ekhem... Mereka dimana yah..." Ujar Ghea sambil melipat kedua tangan nya di depan dada. "Ayolah cepat keluar, nggak usah main petak umpet deh. Gue nggak suka." Ghea membuka pintu lemari, mengira Lisa dan Faro akan bersembunyi disana.
"Ish, kemana sih kalian?! Ayo cepat keluar! Kalian nyerah aja deh, kalian nggak bakal mungkin bisa selamat." Ghea kembali berjalan pelan di dalam ruangan itu mencari-cari.
Faro dan Lisa tetap tak bergeming. Mereka berdua terdiam dari bawah meja. Mereka tau kalo saat ini Ghea sedang berjalan pelan ke arah nya.
"Hahahaa.... akhirnya aku menemukan kalian!" Sahut Ghea terdengar senang.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!