Love In Many Ways

Love In Many Ways
Duel



"Apa kau sudah selesai berpikir? Cepat! Jangan membuang-buang waktuku!" Sahut Pak Bram tak sabaran.


"Saya tak ingin kehilangan kedua nya. Ku mohon jangan lukai mereka!" Ucap Putra dengan lirih.


"Saya tidak butuh permohonan mu, sekarang cepat panggil Mommy mu kesini." Pinta wanita tersebut dengan smirk nya.


"Dimana Puteri ku?" Tanya seseorang.


Semua yang berada ditempat itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat dua orang wanita datang mendekat.


"Mommy, Felice." Gumam Putra kaget.


"Wah... Wah... Belum juga dipanggil orangnya sudah datang sendiri. Bagus sekali." Ucap Pak Bram.


"Dewi!" Kaget Mommy saat melihat wanita yang sedang duduk disamping pak Bram.


"Hai Marissa. Rupanya kau masih mengingat ku yah. Dengan datang kesini sepertinya kau sudah siap untuk memberikan nyawa mu." Sahut Dewi.


"Mommy. Kenapa kesini? Mommy kesini cuma berdua sama Felice?" Tanya Putra sambil memeluk Mommy nya.


"Nggak. Tadi Mommy bareng Bryan dan dua orang teman nya." Jawab Mommy.


"Trus mereka dimana, Mom?" Tanya Putra.


Mendengar percakapan mereka, pak Bram sudah dapat menebak kalau pasti ke tiga lelaki yang dimaksud pasti sedang berada di rumah tempat ia menyekap Lisa dan Rey. Ah sial, mereka tak sebodoh yang aku kira. Kalau saja hal ini sudah aku duga sejak awal pasti aku nggak bakal terkecoh.


Pak Bram melirik Felice yang berdiri tak jauh darinya. Dengan secepat kilat pak Bram langsung menarik Felice dan memegang tangan nya dengan kuat, lalu mendekapnya dari belakang. Sebuah pistol ia arahkan pada kepala Felice.


Putra dan Bu Marissa sangat terkejut dengan reaksi pak Bram. "Lepaskan dia! Dia tak tau apa-apa!" Sahut Bu Marissa.


"Mommy..." Lirih Felice.


"Lepaskan? Tak semudah itu. Kalo aku nggak bisa membunuh salah satu dari kalian, membunuh wanita ini pun sudah cukup. Hahahaa..." Ucap Pak Bram sambil tertawa.


"Jangan sakiti istriku, dia tidak terlibat dalam semua ini." Cegah Putra.


"Kenapa tidak? Aku tau dia penyebab kau menolak Vanessha kan? Jadi nggak masalah kalo dia meninggal." Ketus Bu Dewi.


"Kumohon jangan sakiti dia." Ucap Bu Marissa.


"Ibu sama anak sama saja. Sama-sama suka menghancurkan hidup orang lain!" Ketus Bu Dewi.


"Kalian harus merasakan yang aku rasakan selama ini. Bagaimana rasanya kehilangan seorang puteri yang sangat ku sayangi." Kata Pak Bram.


"Aku tak tau apa maksudmu." Ucap Bu Marissa.


"Kau telah merebut Hariwijaya dariku, oke itu bisa kurelakan. Tapi setelah aku tenang, dan melupakan semuanya. Anak mu ini kembali mengacaukan hidupku, kalo saja dia tak membunuh anak semata wayang ku ini semua tidak akan terjadi!" Sahut Bu Dewi.


"Apa maksud mu? Saya tidak pernah membunuh siapa pun!" Tegas Putra.


"Hahahaa... Kau sangat bodoh! Andai saja kau tak pernah mengenal Vanessha, mungkin saat ini Vanessha sudah bahagia bersama Galang!" Bentak Bu Dewi.


"Kenapa kau menyalahkan anak ku atas kematian anak kalian? Itu semua terjadi semata hanyalah karena kecelakaan." Jelas Bu Marissa.


"Kecelakaan? Kecelakaan kau bilang? Jika saja dia tidak bertemu dengan mu hari itu, maka tidak ada hari dimana ia pergi untuk selamanya!" Bentak Pak Bram.


"Mereka meninggal karena sudah takdir! Kenapa kalian tak bisa mengerti?" Ujar Bu Marissa.


"Takdir... Takdir... Aku tak percaya takdir! Hebat yah, Putra. Kau bisa membunuh dua orang dalam satu waktu. Dan sekarang aku akan memberitahu kan kalian apa itu kehilangan!" Sahut Pak Bram.


"Anda jangan gegabah, kumohon jauh kan pistol anda!" Pinta Putra.


"Mommy!" Teriak Lisa dari kejauhan. Semua mata menoleh kearah nya yang tengah berusaha mendekat berjalan gontai sambil menyeret kaki nya, wajah bahagia terlihat terukir di wajahnya.


"Jangan mendekat!" Teriak Putra.


Namun terlambat lah sudah, tiba-tiba Bu Dewi menangkap tubuh Lisa dan mendekap nya dari belakang, tangan nya mencengkram dengan kuat pergelangan tangan Lisa.


"Mom... Mommy..." Panggil Lisa ketakutan.


"Kenapa aku harus mendengarkan mu? Dia sendiri yang menghampiri ku. Oh dia kah Puteri mu? Melissa..." ucap Bu Dewi dengan sinis. Terlihat ia mengeluarkan sebuah pisau, kemudian dia arahkan pada leher Lisa.


"Mommy tolong Lisa..." Lirih Lisa.


"Lepaskan dia, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik." Putra berjalan perlahan mendekati pak Bram.


"Jangan mendekat! Aku tak main-main dengan ancaman ku! Aku benar-benar akan membunuhnya jika kau memberikan perlawanan!" Bentak Pak Bram.


"Tolong jangan sakiti mereka berdua! Aku bisa menggantikan mereka. Asal lepaskan mereka berdua." Ujar Bu Marissa lemas.


"Mom! Jangan nekat!" Cegah Putra.


"Jangan mencegahku! Kesabaran ku sudah habis!"


Bu Marissa maju selangkah demi selangkah mendekati Bu Dewi diikuti dengan Bu Dewi yang terus melangkah kan kaki nya kebelakang.


"Ku bilang jangan mendekat! Atau aku akan benar-benar memotong leher anak mu ini!" Ancam Bu Dewi.


"Lakukan saja. Aku tidak takut! Justru jika dia tidak bersama mu, aku sudah tidak punya alasan lagi untuk mengampuni mu!" Tegas Bu Marissa.


Bu Dewi sedikit gugup dan takut. Ia takut jika Marissa berani berbuat nekat karena Lisa ditangannya.


"Serahkan Puteri ku sekarang! Atau aku tak akan pernah mengampuni mu lagi!" Tegas Bu Marissa.


"Jangan mendekat!" Ancam Bu Dewi dengan pisau yang semakin mendekati leher Lisa.


Felice yang melihat Pak Bram sedikit lengah, langsung mengenai perut Pak Bram dengan keras menggunakan siku nya. Pistol yang ada ditangan pak Bram langsung terjatuh ke bawah. Felice langsung berlari dan memeluk Putra.


"Ah kurang ajar!" Gerutu Pak Bram.


"Maafkan saya, saya sudah cukup menghormati anda." Setelah mengucapkan kalimat itu Putra langsung melayangkan tinju nya dan berhasil mengenai hidung Pak Bram.


"Berani sekali kamu!" Sentak Pak Bram. Pak Bram melayangkan pukulan nya dan...


Buagghh...


Pukulan keras berhasil mendarat di perut kekar Putra, Putra sedikit meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Felice yang sedang berdiri di belakang Putra.


"Aku nggak papa. Kamu sedikit menjauh!" Pinta Putra. Lalu dia kembali melakukan adu fighthing bersama Pak Bram.


"Jangan maju!" Bentak Bu Dewi.


Marissa melompat dengan gesit kearah samping Dewi, ia memukul leher samping Dewi. Dewi yang merasa kesakitan pun melepaskan tangannya dari badan Lisa. Lisa terjatuh fan tergelak setengah sadar di tanah.


"Jangan pernah sakiti anak ku!" Tegas Bu Marissa.


Saat Marissa hendak kembali memukul, Dewi melihat sebuah pistol yang tergeletak di tanah, dengan cepat ia langsung mengambil nya dan mengarahkan nya pada pada Marissa. Hal itu membuat Marissa sedikit mundur untuk menghindar.


"Mundur!" Bentak Dewi.


"Marissa sedikit mundur, kini ia harus berpikir bagaimana memindahkan Lisa ke tempat yang lebih aman. Dewi hendak kembali meraih badan Lisa yang masih tergeletak di tanah, belum sempat meraihnya, Marissa menendang keras badan Dewi sampai Dewi sedikit terlempar karena tendangan Marissa.


"Jauhi Puteri ku!" Bentak Marissa.


"Awww... Dasar j*lang!" Keluh Dewi.


Marissa berusaha secepatnya untuk memindahkan Lisa ke tempat yang lebih aman, baru saja dia berdiri, Dewi sudah berdiri lagi dan berlari menuju Marissa. Melihat pistol yang ada ditangan Dewi, Marissa segera mendorong tubuh Lisa agar Lisa terjatuh ke tanah. Dan pada akhirnya...


Dorrr...


Sebuah peluru dari pistol tersebut berhasil mengenai bagian perut Marissa. Darah segar mengalir deras, Marissa memegangi perutnya yang terasa ngilu. Marissa yang awalnya berdiri langsung jatuh terduduk sambil memegangi luka dalam dibagian perut kanannya.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!