
"Ha? Maksudnya apasih? Ngaco banget!" Jawab Fadil.
"Ini serius, Dil. Seisi sekolah tuh lagi gosipin kamu." Bantah temannya dari balik telepon.
"Halla udahlah, lagi males gua."
"Eh dengerin dulu, sampe si Dita tau. Yakin dan percaya dia udah..."
Fadil segera menutup telponnya. Ia tidak ingin mendengar ocehan temannya yang nggak berfaedah.
"Ck, Lisa lama banget sih, jam istirahat udah lewat 5 menit." Oceh Fadil melirik arloji di tangannya.
Sementara itu...
"Okey makasih Melissa." Bu Suri meraih sebuah map berwarna kuning yang di sodorkan oleh Lisa.
"Sama-sama bu, saya permisi keluar."
Baru saja Lisa menutup pintu, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Tertera nama 'Mash Crush♡' di sana. Ia tersenyum kemudian mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo Cha, kamu baik-baik aja kan?"
Lisa mengangkat satu alisnya, "Baik, kenapa Rey?"
Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana, "Nggak kenapa-napa, cuma mastiin aja. Aku khawatir sama kamu."
Lisa malah tersenyum senang mendengarnya.
"Oh iya jangan lupa makan siang oke?"
"Iya."
"Kalo ada apa-apa langsung telpon yah."
"Hm, oke." Lisa menutup telponnya sambil tersenyum girang.
"Weh, kenapa?"
"Ehem..." Lisa langsung merubah ekspresi wajahnya dengan datar. "Nggak papa."
"Cieee yang di telpon sama ayang nya cie cie..." Ledek Fadil.
"Apaan sih?!"
"Yaudah ke kantin yuk, laper nih. Perutnya nagih jatah!" Ajak Fadil.
"Nggak ah mending ke kelas deh." Jawab Lisa cepat.
"Beneran? Nggak mau makan? Tadi di suruh loh sama ayang bebep nya."
"Fadil!" Sahut Lisa kesal karena sedari tadi Fadil terus saja mengejeknya.
"Hahahaaa iya oke oke."
.
.
.
"Mmm... Mumpun aku lagi baik hatinya hari ini, aku yang traktir deh. Kamu pesen aja sepuasnya." Ucapan Fadil barusan langsung membuat Lisa tersenyum sumringah.
"Ya ampun kesambet apaan dah lu sampe baik kayak gini."
"Heh, udah baik yah aku, jangan sampe berubah pikiran!"
"Hahahaaa iya deh." Lisa kembali menyeruput minumnya. "Emang kantin disini cuma satu?" Tanya nya.
"Ada lagi satu di samping kelas 11, tapi yaa gitu disana tuh rata-rata anak nakal kek gitu jadi males kesana, takut tertular soalnya." Jelas Fadil.
Lisa manggut mengerti, "Oh gitu, kayak terbagi yah."
"He-em disana itu gaduh banget, kamu jangan pernah coba kesana kalo cuma sendiri."
"Kenapa?"
"Ah bodo amat lah. Aku ke WC dulu bentar..." Ucap Lisa segera bangkit.
"Mau ditemenin nggak?" Tanya Fadil jahil.
Lisa menatap kesal kemudian berlalu pergi dengan cepat.
"Hahahahaaa...." Fadil langsung tertawa terbahak-bahak setelah kepergian Lisa. Baginya wajah kesal nya itu sangat menggemaskan. "Hadeehh, dasar kepiting rebus." Fadil kembali melahap steak di tangannya.
"We samlekom brow..." Sapa Bryan langsung duduk di sebelah Fadil.
"Makan makan nggak ngajak lu!" Sela Reza lalu mengambil segelas minuman Fadil dan langsung meminumnya tanpa rasa bersalah.
"Ya Allah sabar kan hamba mu ini..." Lirih Fadil. "Kalian semua kalo mau tuh pesen sana jangan punya gua yang kalian sikatt." Kesel Fadil.
"Boleh, tapi di traktirkan yah?" Tanya Bryan cengengesan. "Gimana gess?"
"He-emmm..." Jawab Reza, Andre, Ardi dan Devan berbarengan.
"Yang sultan kan orangtua bukan kita!" Jawab Andre.
"He-emmm." Jawab Bryan Reza, Andre dan Devan dengan kompak lagi.
"Eh aku malah salfok sama kursi yang ini, kamu habis makan bareng siapa Dil?" Tanya Bryan.
Fadil memutar bola matanya malas, "Ini itu tad-..."
"Oh aku tau aku tau, ini pasti cewek kan?" Tanya Reza kaget.
"Yang mana lagi?" Tanya Andre.
"Apa cewek yang sama dengan yang digosipin sama kamu pagi ini?" Tanya Devan.
"Kalo bener si Dita nasib nya gimana?" Tanya Bryan histeris.
"Itukan udah jadi masalalu Bryan... Kamu ini gimana sih, ya Fadil bisalah makan sama siapa aja." Sahut Reza.
Fadil memijit pelipisnya, gini amat nasibnya. "Aduuuuh kalian ini bisa nggak sih kasih cela buat aku ngomong, bentar doang plisss..."
"Adoh ngamookk..."
"Uuuhh ngerwiii..."
"Nahkan pas banget, tuh orangnya udah dateng." Sahut Fadil saat melihat Lisa dari kejauhan dan berjalan ke arahnya.
Sontak semua temannya langsung berbalik melihat orang yang ditunjuk oleh Fadil.
"Loh, loh..." Kaget Reza.
"Ohmaigattt ini bukan mimpi kan." Bryan histeris. "My baby honey ada di sini?"
"Hai semuanya..." Sapa Lisa ramah.
"Loh kok kamu disini?" Tanya Andre heran.
Fadil mengangkat salah satu alisnya, "Kenapa emang nya?" Tanyanya sembari menarik kursi ke samping nya. "Duduk sayang..." Pintanya pada Lisa.
"Ya nggak kenapa-napa sih, aneh aja Lisa tiba-tiba pindah kesini." Ucap Reza.
"Ah elah kalian ini apa-apaan sih, ya biarin aja lah, justru seneng lah kalo kayak gini. Itu tanda nya Lisa nggak bisa jauh-jauh dari abang Bryan." Pede Bryan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lisa.
"Iddiih berobat sana!"
"Udah-udah, nggak usah bahas yang itu itu. Makan aja udah, entar lagi masuk loh." Sahut Devan yang sedari makan.
"Eh ngemeng-ngemeng si Dita and the gank mana yah?" Tanya Andre.
"Tau tuh."
"Dil, Dita mana?" Tanya Andre lagi.
"Ya mana ku tahu." Jawab Fadil.
"Jiakhh yang putus." Ledek Bryan.
"Si Dita biar buat aku aja dah." Sahut Andre semangat. "Mana yah si Dita?"
"Mungkin di kantin sebelah kali."
Semua makan dengan khidmat, tapi tidak dengan Lisa. Ia merasa aneh dengan siswa siswi di sekolah ini. Semua melihat ke arahnya, tentu saja ia merasa tidak nyaman. Tapi anehnya kenapa semua teman nya Fadil terutama Fadil sendiri bertingkah seperti tidak ada yang terjadi. Mereka seolah terbiasa dengan hal itu.
.
.
.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar ruangan.
"Ngapain kesini?" Tanya Lisa saat melihat Fadil yang berdiri di samping pintu kelas.
"Ngapain lagi? Udah yuk pulang biar aku anter." Fadil langsung menggenggam tangan Lisa untuk pergi. Namun Lisa langsung menghempaskan tangannya.
"Ih apaan sih Dil, aku nggak mau pulang bareng kamu."
"Kenapa emangnya? Ayah Rey kan udah amanahin aku buat jaga kamu."
"Ck, jaga doang kan? Bukan anterin pulang? Aku di jemput Rey soalnya." Lisa menunjukkan smirknya.
"Yaelah tau gitu aku langsung ke lapangan aja, nggak usah pake susah-susah kesini."
"Ngapain ke lapangan?" Tanya Lisa.
"Latihan basket lah. Oh iya kamu nggak mau nonton apa? teman-teman aku semua ada disana yang ganteng yang macho." Tanya Fadil.
"Tidak terima kasih. Suami ku jauh lebih keren. Yaudah aku duluan, bayy!" Lisa berjalan pergi meninggalkan Fadil.
Fadil menggelengkan kepala nya melihat tingkah Lisa. "Bener-bener nyusahin tuh si kepiting rebus, untung masih keluarga, kalo nggak udah ku buang tuh anak di dasar jurang."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!