Love In Many Ways

Love In Many Ways
Kalah telak



Di Koridor...


"Ran! Rani!..."


Panggilan itu membuat Rani berhenti berjalan dan diam tanpa menengok karena sudah hafal suara siapa.


Dinda segera berlari menuju kedepan Rani, ia berdiri menatap Rani dengan serius. "Ran, makasih udah belain gue, maaf buat semuanya gue bener-bener nyesel dengan semua masalah ini. Gue nggak sengaja, ini semua gara-gara Lisa. Harusnya Lisa..."


"Stop!"


Rani memotong ucapan Dinda dengan tegas sebelum melebar kemana-mana, "Cukup Din! Gak usah jadiin orang lain buat kambing hitam, ini semua kesalahan lo sendiri. Yang ngelakuin semua ini lo, ini ide lo juga, jangan limpahin kesalahan lo pada orang lain. Dan juga ini terakhir kalinya gue bantu lo, dan anggep aja semua ini impas. Setelah ini kita nggak ada hubungan lagi, lo gak usah ngomong atau sekedar nyapa gue karena kita udah jadi orang lain."


Rani pergi dengan begitu dingin, ia tak perduli lagi pada Dinda. la benar-benar marah, tapi bagi Rani ini adalah cara balas dendam paling kejam untuk Dinda. Jadikan pengalaman ini sebagai kenangannya seumur hidup.


Dinda menatap kepergian Rani dengan hati yang teriris-iris. Ia kembali berjalan dengan tatapan kosong, ia sudah tak bisa berpikir lagi. Gunjingan demi gunjingan ia dengarkan dari setiap sudut sekolah, semua orang sedang membicarakannya. Ia benar-benar stress sekarang, ia tak sanggup melawan opini publik. Nama baiknya yang selama ini ia bangun lenyap begitu saja, yah ini semua salahnya.


Lisa melompat-lompat sambil bersenandung untuk mencari Rey, aneh sih akhir-akhir ini ia sering ke sekolah lamanya. Namun tiba-tiba saja ia bertemu dengan Dinda lagi. Melihat raut wajah Dinda sikap usil Lisa keluar lagi.


Lisa menghampiri dengan dengan wajah yang benar-benar memelas, "Dinda... Kamu nggak papa kan? Kamu kelihatan nggak baik-baik, kamu sakit yah?" ucap Lisa dengan 1000 dramanya.


Dinda menatap Lisa penuh kebencian yang tak bisa terungkapkan sekarang. Ia hanya bisa diam, rasa takut pada opini publik selalu membayangi Dinda. Ia benar-benar sakit hati dengan semua ini, kalau bisa ia ingin menghilang saja.


"Kalo ada masalah, kamu bisa kok cerita sama aku," tambah Lisa. Ia benar-benar menunjukkan puppy eyesnya, "Kalo kamu cerita, nanti aku ketawain. Hahahaha..."


Lisa tertawa terbahak-bahak, Dinda tampak semakin emosi melihatnya ia hanya bisa menahan amarahnya hanya bisa diam melihat semua tingkah Lisa.


"Jadi gini, awalnya gue mau bantu lo sih. Tapi dipikir-pikir lo julid banget loh sama gue dulu, suka banget jahilin gue, jadi daripada bantuin lo, lebih asik kalo ketawain penderitaan lo aja hehehe.... Kenapa? Gue kejam? Jangan sok, ini juga yang lo lakuin waktu gue jadi korban kan? Oke gue ada kepentingan, byee...."


Lisa melambaikan tangannya anggun, tapi baru beberapa langkah ia menengok, "Oh iya... Kuat-kuatin ya hatinya, jangan bunuh diri loh. Satu lagi, sampai jumpa di podium pemenang cerdas cermat." Lisa melenggang pergi meninggalkan Dinda, tak terbayang seperti apa kemarahan Dinda saat ini. Tapi Dinda hanya bisa diam, karena banyak anak yang sedang memperhatikannya.


Lisa terkekeh melihat wajah kesal Dinda tadi, "Hehehe... kasian juga sih, tapi mau gimana lagi yah udah takdir. Hahahaaa..." Dari kejauhan ia melihat Rey yang sedang berjalan sambil memegang beberapa kertas di tangannya.


"Reeeeyyyy...." Teriaknya yang membuat Rey menoleh.


Lisa berlari menghampiri Rey, "Hai sayang..." Sapanya mesra. Yah gimana yah, suasana hatinya sekarang sedang bahagia nya jadi wajarlah.


"Cha? Kenapa kesini?" Heran Rey.


"Hehe, mau kesini aja. Ketemu sama teman-teman yang lain juga, plus ngajak kamu pulang."


"Loh, tadi kesini sama siapa?"


"Ya sama Fadil, trus nyari kamu. Lagian kamu ngapain sih ini udah jam pulang sekolah loh, ngapain masih disini?"


"Ya maaf sayang, kamu tau kan akhir bulan bakalan ada lomba tingkat kabupaten jadi aku ngurusin itu. Di tambah lagi Dinda lagi nggak bisa terlalu aktif di OSIS karena masalahnya kemarin jadi mau nggak mau aku harus ngerjain semuanya." Jelas Rey. Lisa hanya berdecak kesal mendengar ucapan Rey. "Tapi ini udah mau pulang kok sayang, tunggu bentar aku ambil tas dulu."


"Oke bossss..."


...*****...


Lisa sedang sibuk mengunyah martabakmya sambil sesekali melihat ponselnya, tiba-tiba Rey menjatuhkan dirinya di atas kasur di samping Lisa.


"Makan apaan tuh?" Tanya Rey.


Lisa hanya melirik sekilas, "Makan hati! Yah udah tau makan ini masih aja nanya.


Rey memindahkan kepalanya di paha Lisa manja, "Galak banget sih cinta, kan cuma nanya." Lisa tak peduli dengan ucapan Rey barusan ia sibuk dengan hpnya.


"Emmm... masalah Dinda, kan aku bantu banyak loh... Masa nggak mau kasih hadiah?" tanya Rey penuh harap.


"Lisa meletakkan hp nya kemudian kembali mengambil sepotong martabak, "Emang mau apa?"


"Cium boleh?" Lisa kaget dan langsung menyuap Rey dengan martabak di tangannya.


"Jangan aneh-aneh deh! Sono kerjain tugas ketua OSIS kamu." ujar Lisa santai sembari menatap ponselnya yang baru saja bergetar.


Rey kesal dan menyipitkan matanya menatap Lisa sinis. "Kamu itu istri apa pajangan sih! Pegang tangan susah, cium juga nggak boleh, masih bagus juga aku nggak minta anak!" ketus Rey ngambek.


"Bodo amat..."


Cup...


Rey langsung mencium pipi Lisa tanpa aba-aba karena kesal, Lisa membelalakkan matanya terkejut, ia menunduk dan menatap Rey dengan mata yang terbelalak.


Sementara Rey yang berada di pangkuan Lisa hanya cengar-cengir tanpa rasa bersalah, Lisa yang geram pun memukul-mukul lengan Rey ringan.


"Ih, ngapain sih cium-ciun segala! Siapa yang bolehin cium hah?!" ucap Lisa kesal sembari memukul-mukul Dada Rey ringan. "Nih bibir nakal banget..." Ia memukul bibir Rey pelan.


"Ah, aduh... Aduh Cha, sakit Cha! Cha sakit woy, udah-udah!" keluh Rey yang masih terus dipukuli Lisa tanpa ampun.


Lisa pun berhenti memukuli Rey, "Siapa yang suruh l cium hah? Emang aku udah bilang kalo boleh hah?"


"Ya apa salahnya sih Cha? Kan kamu istri, aku suami, suami lain bebas tu mau nyium atau ngapain aja sama istrinya. Kok gue nggak?" protes Rey dengan wajah memelas.


Pertahanan Lisa runtuh melihat wajah Rey yang terlihat menggemaskan, "Y-ya jangan mendadak juga! Kan


nggak siap juga."


"Berarti harus ijin dulu?"


Rey semakin menjadi, ia benar-benar menunjukkan wajahnya yang paling imut. Lisa semakin kalah telak, "Y-ya udah deh, kalo mau cium boleh tapi harus tanya dulu. Jangan langsung nyosor aja, kan kaget!"


Rey memeluk Lisa gemas, "Istriku ngegemesin banget tau nggak sih! Jangan deket-deket sama cowok lain ya, ntar mereka naksir!"


Bersambung...


*J**ANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE*!