
"Isshh... Sakit..." Rintih Lisa.
"Sakit yah? Oh... Ini tak sebanding dengan rasa sakit gue. Kalau saja lo nggak pernah ngerebut kebahagiaan gue, semua ini nggak bakal mungkin terjadi sama lo." Ghea melepaskan jambakan nya dengan keras dan mendorong kepala Lisa ke arah tembok yang digunakan Lisa bersandar. Darah segar mengalir deras dari kepala Lisa akibat benturan yang keras. Yang bisa di lakukan Lisa hanyalah merintih kesakitan tanpa bisa melakukan apa-apa.
Sementara Rey sudah sangat lemas, pukulan demi pukulan terus saja mendarat di bagian wajah dan juga pipi nya.
"Hahahaaa... Bahagia nya diriku..." Sahut Pak Bram sembari tertawa.
"Gimana? Enak kan? Ini belum seberapa. Suatu saat nanti gue bakal mengoyak-oyak seluruh tubuh lo, tapi bukan sekarang. Ini belum waktunya! Tunggu aja tanggal main nya. Heh!" Ujar Ghea dengan ketus.
"Papa, udah. Jangan pukuli Rey terus!" Pinta Ghea saat melihat Rey yang sudah tersungkur lemas.
"Hentikan!" Sahut Pak Bram kepada seluruh anak buah nya.
"Maafin aku Rey, maafin aku karena aku nggak bisa ngeliat kamu bahagia dengan orang lain." Ucap Ghea pada Rey dengan sendu. Sebetulnya dia tak ingin menyiksa Rey seperti ini, tapi karena ada suatu hal yah akhirnya dia mau tak mau harus menerima nya.
Rey tak bisa menjawab apapun. Di cambuk beberapa kali ditambah dengan pukulan yang tak ada henti nya membuat tenaga nya terkuras habis.
"Yaudah ayo kita keluar, Pa." Ajak Ghea pada Papa nya. Ghea dan Pak Bram keluar ruangan di ikuti dengan para anak buah nya di belakang. Pintu kembali tertutup, keadaan ruangan kembali gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah-celah.
"Li...sa..." Ucap Rey lirih. Dia melihat Lisa yang sedang memegangi kepalanya yang sedikit berdarah. Pandangan nya mulai kabur, tenaga nya sudah habis. Perlahan matanya tertutup rapat, Rey jatuh tersungkur di lantai, dia pingsan!
"Rey..." Mata Lisa sudah sangat merah, air matanya tak kunjung berhenti mengalir yang tak ada habis-habis nya. Terlebih lagi saat melihat keadaan Rey. Lisa merangkak dengan pelan, berusaha mendekati Rey yang sudah pingsan. "Rey, kamu baik-baik aja kan? Rey, bangun..." Lisa berusaha membangunkan Rey.
"Rey, wajah kamu Rey... Hiks... Rey..." Lisa kembali terisak saat melihat keadaan tubuh Rey. Sekujur tubuhnya lebam-lebam dan luka. Dan terlebih lagi wajahnya Rey. Lisa tak sanggup melihat nya.
Lisa mengangkat kepala Rey dan membawa nya ke atas pangkuan nya. "Rey... Maafin aku... Hiks, hiks... Maafin aku hiks..." Lisa terisak-isak.
"Kenapa sih dari dulu kamu kayak gini? Selalu berkorban buat aku tanpa mikirin diri kamu sendiri... Padahal selama ini aku udah jahat sama kamu dan selalu nyusahin kamu... Hiks... Rey bangun..." Sahut Lisa di sela-sela tangis nya. Air mata Lisa terus-terusan mengalir tanpa henti, tanpa dia sadari air matanya tersebut dari tadi menetes dan membasahi wajah Rey juga yang berada di pangkuan nya.
"Ichaa..." Panggil Rey lirih.
Lisa menundukkan kepala nya dan melihat Rey sudah tersadar. "Rey, Rey kamu udah sadar." Lisa mengusap air matanya dengan cepat.
Rey menatap Lisa, "Kenapa nangis?" Tanya nya.
"Nggak, aku nggak nangis." Ucap Lisa berbohong. Tanpa Lisa sadari, darah yang masih tersisa di kepalanya menetes pelan dan mengenai kening Rey.
Rey mengusap kening nya dengan tangan. "Darah?" Gumam Rey saat melihat darah yang ada di tangan nya. Kemudian menatap Lisa denagn insten. "Cha, kepala kamu berdarah." Kaget Rey. Rey bangun dan duduk di samping Lisa.
Lisa memegangi kepalanya yang terasa ngilu. Ternyata masih saja mengeluarkan darah sejak tadi. Rey membuka seragam sekolah nya yang terlihat sudah sangat lusuh, sudah tak berwarna putih lagi. Rey hanya memakai kaos putih polos saat ini.
"Sini." Rey mengusap darah dari kepala Lisa dengan mengunakan baju nya dengan telaten.
Lisa yang menatap Rey dengan seksama. Jujur saja dia terus saja kepikiran. Saat ini Rey juga sedang terluka, bahkan jauh lebih parah dari dirinya. Tapi kenapa Rey seolah-olah tak peduli? Bahkan ia lebih peduli pada Lisa. Lisa heran dari dulu Rey selalu saja begitu, bahkan dia tak mempedulikan nyawanya jika itu menyangkut Lisa. Dia akan lebih peduli dengan Lisa dibanding nyawanya sendiri.
Lisa sadar bahwa Rey masih lemas tapi tetap mencoba untuk lebih kelihatan baik-baik saja. Terlihat saja dari tadi dia terus memegangi perut dan pipi nya.
Melihat Lisa terus saja menatap nya, Rey tersenyum tipis. "Udah puas liatin nya?"
Lisa buru-buru mengalihkan pandangan nya. "A-apaan sih?! Ge-er banget, siapa yang liatin coba?" Ucap Lisa dengan kikuk.
Rey hanya tersenyum mendengar jawaban Lisa. Kemudian menyimpan baju nya di dekat dinding. "Sekarang kamu tidur dulu, kamu pasti capek kan, dan luka luka kamu pasti sakit kan? Istirahat dulu, ntar aku pikirin gimana cara nya keluar dari sini."
"Rey." Panggil Lisa dengan pelan.
"Oh yah, kamu pasti laper yah? Kamu tahan dulu yah, disini kayaknya nggak ada makanan. Maafin aku nggak bisa jaga kamu dengan baik." Rey mengusap pipi nya yang terasa ngilu.
Melihat Rey tak merespon panggilan nya, Lisa langsung memeluk Rey, menenggelamkan lepasnya di dada bidang milik Rey. "Kamu nggak perlu minta maaf." Ucap Lisa.
Rey sontak terkejut dengan reaksi Lisa yang tak terduga. Rey membeku tak bergerak sedikit pun. Dia terlalu kaget saat tiba-tiba Lisa memeluk nya.
"Kamu nggak salah apa-apa kok Rey. Selama ini kamu udah jaga aku dengan baik. Bahkan sangat baik. Makasih yah, Rey. Harusnya aku yang minta maaf, selama ini aku selalu jahat sama kamu, selalu nyusahin kamu. Maafin aku." Haih, akhirnya Lisa sadar juga. Coba aja dari dulu dia kayak gini, pasti deh hidupnya akan jauh lebih baik.
Mendengar penuturan Lisa, Rey tersenyum. Rasanya sudah ada sedikit perubahan, buktinya aja Lisa udah nggak pake 'lo-gue' sekarang pake 'aku-kamu' awal yang baik yah. Rey kemudian membalas pelukan Lisa dengan pelan. "Nggak papa kok. Itu udah jadi tugas aku."
"Aku nggak nyangka kalo Ghea bis-..."
"Udah, aku nggak mau bahas itu." Ucap Rey. Rey sudah amat sangat kecewa dengan Ghea. Wanita yang dia anggap saudara sejak dulu kini mengkhianatinya, itu sangat menyakitkan.
Masing-masing mulai terdiam, tak tau harus ngomong apa lagi. Rasanya cukup canggung saat ini, sampai akhirnya...
"Yaudah kamu tidur aja dulu disitu." Pinta Rey memecah keheningan. Rey kembali memegangi pipi nya yang lebam. Perih iya sakit iya. Nasib... Nasib...
Lisa malah mempererat pelukan nya pada pinggang Rey. "Nggak mau, aku mau tidur nya kayak gini!" Nahkan manja nya keluar.
Rey lagi lagi dan lagi tersenyum melihat tingkah Lisa. "Yaudah, kamu tidur yah."
"Tapi kamu janji yah nggak bakal ninggalin aku, aku takut..."
"Iya, janji." Rey mengusap-usap kepala Lisa dengan lembut.
Mendengar ucapan Rey, tanpa Rey ketahui Lisa tersenyum sumringah. Hatinya benar-benar bahagia, ntah kenapa. Bersama Rey serasa membuat nya lupa akan semua rasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka. Juga melupakan rasa takut saat berada di ruangan gelap seperti ini.
~Kamu~
Lagu: Nano
Tak banyak perhatian kamu mengerti
Tak harus ada bunga kamu mengerti
Ku tak selalu ada kamu mengerti
Cinta tanpa terucap kamu mengerti
Mestinya kamu bisa
Namun kau tak menyerah
Memelukku seutuhnya
Kamu kamu
Yang terus mengerti aku
Tak pernah terlukiskan
Betapa besar hatimu
Kamu kamu
Dengarkan ini janjiku
Kau milikku, aku milikmu
Hingga akhir waktu
Ku tak selalu ada kamu mengerti
Cinta tanpa terucap kamu mengerti
Mestinya kamu bisa
Namun kau tak menyerah
Memelukku seutuhnya
Kamu kamu
Yang terus mengerti aku
Tak pernah terlukiskan
Betapa besar hatimu
Kamu kamu
Dengarkan ini janjiku
Kau milikku aku milikmu
Hingga akhir waktu
Ku bukan orang yang bisa mengungkapkan
Perasaan cintaku besar padamu
(Aku aku kan terus mengerti kamu)
Tak pernah terlukiskan
Betapa besar hatimu
Kamu kamu
Dengarkan ini janjiku
Kau milikku aku milikmu
Hingga akhir waktu
(Aku aku kan terus mengerti kamu)
Tak pernah terlukiskan
Betapa besar hatiku
Kamu kamu
Dengarkan ini janjiku
Kau milikku aku milikmu
Hingga akhir waktu
Kau milikku aku milikmu
Hingga akhir waktu
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!