Love In Many Ways

Love In Many Ways
Trauma



"Icha, ayo bangunlah." Rey menggapai tangan Lisa yang terasa dingin.


"Icha, jangan buat aku khawatir. Kamu bangun dong. Aku sedih liat kamu kayak gini."


"Maafin aku..." Ucap Rey dengan lirih sambil mencium punggung tangan Lisa.


Tangan Lisa bergerak pelan, kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pandangan yang semula buram perlahan tampak semakin jelas. Pandangan nya tertuju pada Rey yang sedang memegang tangan kanan nya sambil menunduk kan kepalanya.


"Rey..." Panggil Lisa dengan pelan. Rey mendongak dan melihat istri nya sudah tersadar.


"Icha, kamu sudah bangun. Alhamdulillah Ya Allah..."


"Rey, kamu nangis?" Tanya Lisa sambil memperhatikan pipi Rey yang terlihat agak basah begitupun dengan matanya yang tampak berair.


"Ha, nggak." Rey buru-buru mengusap pipi nya dengan punggung tangan nya. "Kamu nggak papa kan? Ada yang sakit nggak?"


"Ugh... Kepalaku sakit sekali..." Keluh Lisa.


"Kamu jangan banyak bergerak. Kamu tunggu sini dulu biar aku panggilin Dokter." Baru saja Rey akan pergi, namun tangan nya keburu ditarik oleh Lisa.


"Kenapa?" Tanya Rey sambil menatap Lisa.


"Jangan tinggal kan aku! Tolong!" Pinta Lisa yang sedikit menggigil ketakutan.


"Ada apa? Aku cuma sebentar kok, nanti balik lagi kesini."


"Aku takut, Rey..." Lirih Lisa.


Rey dapat merasakan tangan Lisa yang terasa gemetaran. Sepertinya dia syok atas kejadian kemarin. Maafin aku, Cha.


"Jangan pergi!" Pinta Lisa dengan air mata yang mengalir.


"Sshhtt... Tidak-tidak, jangan menangis! Aku akan tetap disini." Ujar Rey sambil menggenggam tangan Lisa dengan kuat.


Cklek!


Pintu ruangan terbuka, Rey menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"Eh Rey, kamu disini? Kamu nggak papa?" Tanya Fadil yang baru saja datang.


"Nggak papa." Jawab Rey.


"Kepiting rebus udah sadar, syukurlah." Ucap Fadil saat melihat Lisa. "Perasaan kamu gimana? Ada yang sakit nggak? Atau perlu ku panggilkan Dokter?" Tanya Fadil.


Lisa masih diam dengan air mata yang terus mengalir sambil menggenggam tangan Rey yang berada disamping nya. Sikap nya masih seperti orang yang ketakutan.


"Kamu mau makan?" Tanya Rey.


Lisa hanya menggeleng. Peristiwa kemarin membuat nya sangat ketakutan. Rey sungguh tidak tega melihat keadaan Lisa yang seperti ini. Yah, Rey sangat mengerti. Pasti Lisa sangat trauma dengan kejadian kemarin. Fadil pun hanya diam menatap Lisa dengan sangat prihatin.


"Makan yah, pasti kamu laper. Biar aku suapin." Tawar Rey.


"....."


"Tunggu sebentar yah." Ucap Rey.


"Jangan pergi!" Pinta Lisa sambil menarik tangan Rey.


"Lalu bagaimana? Oh iya, Dil tolong ambilkan makanan Lisa di meja itu." Pinta Rey.


"Oke." Jawab Fadil, lalu dia berjalan mengambilkan makanan yang ada di atas meja yang tak jauh dari ranjang.


"Makasih."


"Hm." Fadil memilih untuk menjatuhkan dirinya diatas sofa. Sangat lelah rasanya, semalaman dia tidak tidur. Ditambah lagi saat ini dia sedang dilema dan serasa banyak pikiran. Hmm... Sepertinya ini bukan waktu yang tepat memberitahu mereka kalo Mommy sekarang tengah di operasi. Keadaan Lisa saat ini memperihatinkan, dia sedang syok. Nggak akan mungkin bisa menerima berita ini. Dan semoga aja Mommy bisa menjalani proses operasi nya dengan lancar. Amin...


"Makan yah, aku suapin." Ucap Rey. "Aaahhh..." Kata Rey sambil berusaha menyendokkan bubur tersebut kedalam mulut Lisa.


"....." Lisa hanya terdiam melamun. Mungkin saja dia berusaha mengingat-ingat peristiwa yang menimpanya kemarin. Bagaimana dia dianiaya, berusaha dimutilasi, ditinggal dalam kegelapan dan masih banyak lagi yang membuat tubuhnya semakin bergetar saking takutnya.


"Makan, Cha... Nanti kamu sakit." Pinta Rey.


"Jangan... Jangan pergi..." Sahut Lisa yang semakin takut.


"Suutt... Tenang lah, aku disini!" Jawab Rey.


"Jangan tinggalkan aku... Aku takut, aku takut..." Sahut Lisa.


Air mata terus saja mengalir dari pelupuk mata Lisa, rasa trauma saat disiksa masih saja melekat pada dirinya.


"Udah yah, kamu nggak usah takut." Rey mengusap-usap punggung Lisa pelan. "Sekarang kamu makan dulu yah, aku suapin."


Lisa hanya mengangguk tanda setuju. Rey kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap Lisa yang mendongak menatap wajahnya. Rey tersenyum lembut kemudian mengusap puncak kepala Lisa dengan pelan.


"Jangan nangis dong, kan udah janji sama Daddy nggak bakal nangis lagi. Daddy bakal sedih kalo liat kamu nangis kayak gini." Rey mengusap pipi Lisa yang basah, kemudian kembali meraih mangkuk yang berisi bubur tersebut.


"Makan... Aaaahh..." Lisa menurut pada Rey dan makan dengan di suapi oleh Rey.


Fadil yang sedang berada di sofa hanya cuek saja. Dia sibuk memainkan ponselnya. Serasa kayak nyamuk yang tak dianggap oleh dua insan yang sedang bermesraan. Ia membiarkan Rey saja yang menenangkan Lisa, karena dia tau kalo Daddy Lisa tak salah mengambil keputusan dalam menikahkan Rey dengan Lisa. Rey dapat dipercaya dan juga mampu menjaga Lisa dengan baik.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu terdengar.


"Masuk aja." Sahut Fadil cuek.


"Gimana keadaan Lisa?" Tanya Faro. Matanya langsung terpaku melihat seorang lelaki yang terlihat menyuapi Lisa.


Fadil yang mendengar suara yang tak asing baginya langsung menoleh. "Faro? Kamu..." Fadil sudah tak mampu melanjutkan ucapannya. Mulutnya terasa kaku. Dia terlau terkejut dengan kedatangan Faro yang sepagi ini.


"Itu siapa?" Tanya Faro tanpa peduli dengan reaksi kaget dari Fadil..


"It-itu Rey..." Jawab Fadil. Gila! Itu beneran Faro kan? Ini nggak mimpi kan? What? Sepagi ini si es batu datang? Seperhatian itu kah dia? Seingin tau nya dia tentang kondisi Lisa? Apa mungkin dugaan ku benar. Kalo Faro itu...


Faro terlihat berjalan mendekat menghampiri Lisa dan Rey. Rasa sesak sangat terasa di dalam hatinya saat melihat kedua manusia itu terlihat sangat romantis.


"Hai. Gimana kondisi kamu, Lis?" Tanya Faro.


"Faro? A-aku udah agak baikan kok." Gugup Lisa.


"Oh iya, Rey. Kamu udah sembuh?" Tanya Faro.


"Iya. Aku baik-baik aja." Jawab Rey.


"Eh, makasih yah buat kemarin. Kamu udah banyak nolongin aku." Ucap Lisa sambil tersenyum.


"Iya sama-sama."


"Makasih yah, Ro. Kamu udah nolongin Lisa. Aku nggak tau deh apa yang terjadi kalo kamu nggak dateng tepat waktu." Kata Rey.


"Iya sama-sama." Jawab Faro.


"Rey, aku udah kenyang." Ucap Lisa.


"Kok makan nya dikit banget? Ini habisin dulu yah."


"Nggak mau, Rey. Aku udah kenyang." Keluh Lisa.


"Sekali lagi yah. Satu sendok lagi." Pinta Rey.


Lisa menggeleng, "Nggak mau."


"Nanti kamu sakit loh. Ayo... Aaahh..." Rey menyendokkan bubur tersebut kedalam mulut Lisa. Namun Lisa tetap saja menolak.


"Nggak mau."


"Yaudah kamu minum."


Melihat Rey yang seperti akan beranjak, Lisa sontak langsung menangkap tangan Rey. "Kemana? Jangan tinggalin aku!" Pinta Lisa.


"Aku cuma mau ambil minum." Rey membungkukkan badan nya untuk mengambil segelas air minum yang ada di dalam kardus terletak di samping ranjang, dengan tangan yang masih saja ditarik oleh Lisa.


"Jangan pergi!"


"Nggak. Ini minum!" Rey menyerahkan segelas air minum tersebut.


Faro yang sedang berdiri tak jauh dari mereka berdua dan menyaksikan adegan mesra ini hanya bisa menatap dengan sedih. Ntah kenapa dari tadi rasa sesak terus saja menghampiri perasaannya. Dua nyamuk didalam ruangan yah.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE !