
Sambil menunggu, mereka kembali membaca dan mempelajari buku mereka untuk mempersiapkan diri mereka. Lisa juga ikut belajar sambil mendengarkan musik.
Dinda dan Lisa sama-sama mengambil kategori umum, sedangkan Rey mengambil kategori Sains. Yah Rey juga ikut berpartisipasi pada lomba tersebut, yah apalagi kalau bukan suruhan dari Lisa. Padahal sesungguhnya Rey tak ingin ikut. Hari ini anak-anak benar-benar heboh karena berita tentang Dinda yang akan bertanding melawan Lisa sudah tersebar luas.
Triinngg....
Bel sudah berbunyi, menandakan kalau lomba akan segera dimulai. Bertepatan dengan pak Setyo dan Devan yang datang menghampiri.
"Begini, ruang untuk kategori umum berada di ruang berbeda dengan ruang kategori sains. Jadi kita juga bagi kelompok juga." Jelas pak Setyo.
"Saya dampingin Lisa saja pak." Ucap Devan cepat. "Nanti Baim bisa ikut sama bapak saja."
"Oke kalau begitu. Kamu antar Lisa ke ruangannya yah Van." Pinta Pak Setyo.
"Siap pak." Lisa dan Devan berjalan menuju tempat lomba diadakan, tempatnya cukup dekat namun saat didepan pintu mereka berpapasan dengan Dinda.
Saat melihat Lisa, Dinda menunjukkan senyum sinisnya, "Heh... Lu bakal kalah hari ini! Gue bakal buat lo malu hari ini agar lu nggak bisa bicara tinggi lagi!"
Lisa memutar bola matanya jengah dan berdecak, "Ck... Jangan pernah halu, walaupun gue kalah, gue nggak bakal semalu itu kok. Justru kalo lo yang kalah, berita tentang percobaan pembunuhan lo itu bakal semakin tersebar luas. Belum kalah aja lo udah malu, apalagi nanti kalo udah kalah, jadi jangan sok keras yah sayang."
Lisa langsung to the point menyenggol luka Dinda yang saat ini masih membekas, hal itu membuat Dinda sedikit tersinggung dan pergi dengan tatapan sinisnya.
Lisa hanya terkekeh kecil melihat tingkah Dinda, "Sok-sokan mau jatuhin gue, padahal gue ladenin dikit aja langsung ngambek. Lucu gan!" Lisa menunjukkan senyum sinisnya.
Devan yang tidak tahu apa-apa hanya ingin situasi baik-baik saja, ia pun langsung menengahi, "Udah Lis, ayo sekarang kita masuk tuh udah mau mulai." Ajak Devan.
Lisa mengangguk kemudian mengikuti Devan berjalan menuju ruang perlombaan."Lisa aku tunggu disini yah, kalo butuh sesuatu langsung bilang aja sama aku." Ujar Devan. "Kamu harus yakin, selesaiin soal yang menurut kamu gampang dulu dan jangan pedulikan sekitar kamu, ingat semua yang disampaiin kepala sekolah tadi. Oke? Semngatt!" Kata Devan memberi semangat pada Lisa.
Lisa mengangguk, "Pasti Van, makasih yahh..." Lisa melangkah pergi.
Saat mengantri nomor undian, ia bertemu dengan Rey. Mereka berdua sengaja mengambil urutan paling terakhir setelah semua orang masuk ruang lomba.
"Hai sayang... Gimana? Udah siap buat hari ini?" tanya Rey dengan sedikit genit.
"Nggak usah genit! pasti udah siap lah, kan aku udah belajar. Kamu sendiri gimana? Siap apa belum?" tanya Lisa to the point.
"Kenapa aku tidak bisa uwu-uwu dengan istriku Ya Allah, kenapa ia berbeda," gumam Rey. "Udah ayangie, nggak mau kasih ucapan gitu biar suaminya semangat?" tanya Rey sembari menunjukkan senyum termanisnya.
Lisa mencium telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi Rey. "Semangat yah mas husband! Awas sampe kalah! Kalo nggak juara 1, satu bulan nggak usah tidur sama gue! Tidur sendiri!" ancam Lisa.
Lisa gemas melihat Rey yang merengek ketakutan seperti anak kecil ini. Ia mencubit gemas kedua pipi suaminya itu, "Iya-iya... Tapi beneran harus juara 1 ya! Awas kalo nggak juara 1!" ancam Lisa.
Lisa mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke kedua matanya lalu diarahkan ke mata Rey.
"Iya juara 1, juara 1 deh! Istriku juga harus juara 1 yah, aku tetep dukung istriku kok walaupun beda sekolah!" Rey mendekat ke telinga Lisa lalu berbisik. "Kalo nggak juara 1, aku minta debay yah!" Rey terkekeh kecil.
Lisa spontan memukul kepala Rey ringan dengan nomor undian yang ada ditangannya. "Jangan ngadi-ngadi ye! Udahlah aku mau masuk, bisa gila kalo lama-lama disini sama kamu!"
Lisa berjalan masuk kedalam ruangannya. Lalu Rey sedikit berteriak meledek Lisa, "Kalah aja ya biar hidup kita makin harmonis dan bahagia! Gak papa, kalah aja!"
Lisa langsung menengok lalu melotot, hal itu membuat Rey semakin tertawa melihat Lisa yang sedikit salah tingkah.
...*****...
Di dalam Ruangan...
Lisa melihat seisi ruangan. Ia mendapatkan nomor undian ke-13. Sedangkan Dinda mendapatkan nomor 3. Begitu Lisa baru saja masuk, ia sudah mendapatkan tatapan sinis dari Dinda.
Lisa hanya cuek dan masa bodoh, ia melihat tempat duduk yang kosong lalu duduk. Awalnya ada 30 peserta yang mendaftar, tapi setelah diseleksi tinggal 5 peserta. Untuk urutan nomor, tidak berubah dari awal. Jadi Lisa tetap nomor 13 meski pesertanya tinggal 5.
5 orang itu duduk dengan tatapan ambisius kedepan. Tiap pertanyaan dengan jawaban yang benar akan mendapatkan 5 poin, dan telah disediakan sekitar 50 pertanyaan.
Seorang guru memasuki ruangan itu dengan berkas ditangannya, "Selamat pagi anak-anak. Sudah siapkah kalian mengikuti lomba hari ini?" tanyanya.
"Siap bu!" jawab seisi ruangan dengan serempak.
Guru itu duduk di meja yang telah tersedia mikrofon diatasnya. "Aturan masih sama, siapa yang bisa menjawab dengan benar maka akan mendapatkan poin! Tidak semua dapat kesempatan menjawab, tapi siapa yang tercepat memencet bel, dia dapat kesempatan menjawab. Tiap pertanyaan yang benar akan diberi poin 5, siswa dengan poin tertinggi akan jadi pemenangnya!" jelasnya.
Lisa mulai serius karena babak ini adalah babak penentuan, ia memahami semua tak-tik permainan ini.
"Bisa atau nggak aku jawab pertanyaannya, itu urusan belakangan. Yang paling penting aku harus pencet bel biar punya kesempatan jawab!" batin Lisa.
Dinda melirik sekilas kearah Lisa dengan sinis, "Liat aja, gue bakal kalahin lo dan buat lo malu!" pikir Dinda.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!