
"Ngemeng-ngemeng Ghea mana? Tumben nggak ikut nimbrung?" Tanya Mira.
"Kagak tau." Jawab Sarah.
"Lah? Kamu sama Ghea kan kayak perangko, dimana ada Sarah disitu ada Ghea, dimana ada Ghea di situ ada Sarah. Masa nggak tau? Atau mungkin kalian udah jadi magnet kali yah, yang di bagian tertentu dapat tolak menolak." Ucap Mira yang mengundang gelak tawa pada Sarah dan Lisa. Tapi tidak dengan Al.
Al menatap Lisa yang sedang tertawa dengan sangat menggemaskan. Tawa yang sudah lama dia rindukan, kini dapat kembali dia nikmati. Dia sudah bukan alasan tertawa nya si manja, dia hanya bisa menikmati dari jauh. Padahal dulu, mungkin setiap saat dia selalu ingin membuat Lisa tertawa dalam setiap lawakan nya.
Lisa dan Mira duduk berhadapan. Sedangkan di bangku seberang Sarah dan Al juga duduk berhadapan.
"Assalamualaikum Ukhti..." Sapa Sarah dengan sopan.
"Waalaikumsalam."
"Tumben telat." Sindir Sarah.
"Ho-oh. Biasanya paling depan." Ujar Mira.
Ghea tak menjawab, dia duduk dan langsung menyahut salah satu cemilan yang ada di atas meja. "Gara-gara Bu Ria." Ujarnya santai.
"Ih Ghea itu punya aku." Seru Mira dengan kesal.
"Bagi dikit."
"Si ka*pret mana? Kok nggak nongol?" Tanya Sarah. Yang dia maksud adalah Vhino.
"Kagak masuk dia."
"Kenapa?" Tanya Lisa.
"Kagak tau. aku kan bukan mak nya."
"Lisa..." Seseorang memanggil Lisa. Semua mata memandang ke arah sumber suara.
Lisa yang melihat Rey sedang berdiri di samping kursinya langsung memberikan tatapan tajam. Ngapain sih nih orang, ngeselin banget deh. Aku kan lagi makan, liat muka dia tuh bikin nafsu makan aku jadi berkurang.
Rey tak menghiraukan tatapan tajam dari Lisa. Wajah Rey terlihat agak panik dan tersirat sedikit kesedihan. "Lisa, aku mau ngomong."
"Ngomong apa?" Lisa meneguk minum nya.
"Aku mau ngomong berdua sama kamu, penting!"
"Ah elah ngomong di sini aja!" Ujar Lisa dengan nada suara sedikit pelan. Agar semua teman nya tak curiga.
Rey mendekatkan wajahnya pada telinga Lisa. "Ini soal Daddy." Bisik Rey.
Mendengar ucapan Rey, Lisa agak penasaran di buat nya. "Daddy kenapa?" Tanya Lisa sambil berbisik pula.
"Nanti aku ceritain, sekarang kamu ikut aku dulu!"
Dengan terburu-buru Lisa menghabisi air minum nya kemudian berkata. "Em guys, aku mau ngomong dulu yah ama Rey." Ucap nya berpamitan.
"Oke."
"Hati-hati uyy." Ledek Sarah.
Rey langsung menarik tangan Lisa agar Lisa mengikuti langkahnya. Lisa yang tak terima langsung memberontak, "Rey apaan sih? Lepasin! Kita mau kemana sih?" Meskipun memberontak Lisa tetap mengikuti langkah kaki Rey.
Rey menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kedua mata Lisa dengan serius.
"Le-pa-sin. Gue udah bilang jangan pernah sentuh gue, tanpa se izin dari gue!" Sahut Lisa dengan tegas.
Rey melepaskan genggaman tangan nya."Sekarang kamu dengerin aku!"
"Apa an?" Tanya Lisa dengan santai.
"Tapi kamu harus janji dulu kamu harus tenang dan jangan panik!"
"Apaan sih ngomong yaaa tinggal ngomong lah, ngapain sih pake janji-janji segala. Emang kita lagi upacara?!" Ujar Lisa dengan kesal.
"Kalo nggak mau, aku nggak bakal kasih tau."
"Ck. Yaudah iya. Gue janji, sekarang cepetan ngomong nggak usah sok misterius!"
Rey terlihat menghela napas sebentar, mencoba menstabilkan emosi nya. "Jadi gini, tadi Ayah nelpon. Trus dia bilang Daddy masuk rumah sakit."
"APA?!" Lisa langsung kaget bukan main. Matanya membulat sempurna. "Daddy masuk rumah sakit? Gue harus ke sana sekarang!" Baru saja Lisa ingin melangkahkan kaki nya pergi, tangan Rey sudah lebih dulu menahan nya.
"Tunggu!"
Lisa memutar bola matanya jengah, kemudian kembali memandang Rey. "Apa lagi sih Rey? Gue mau ke rumah sakit sekarang!"
"Bareng aku aja. Tadi juga aku udah izin sama Bu Ria."
"Yaudah. Gue mau ambil tas dulu." Lisa langsung berlari. "TUNGGU GUE!"
.
.
.
"Rey cepetan!" Lisa terlihat sangat panik. Dia takut akan terjadi hal yang tak di inginkan pada Daddy nya.
"Iya, ini udah cepet kok. Kamu tenang yah." Ujar Rey menenangkan.
"Gue nggak bisa tenang Rey,perasaan gue nggak enak gue nggak mau terjadi apa-apa sama Daddy."
"Yaudah lo cepetan! Kagak usah bawel deh!"
Sesampai nya di rumah sakit, Lisa lansung berlari masuk ke dalam. Di susul oleh Rey yang juga berlari. Lisa melihat Ayah dan bunda nya Rey yang sedang duduk di depan sebuah ruangan, dia langsung menghampiri nya. "Yah Bund, Daddy mana?" Tanya Lisa dengan panik.
"Kamu yang sabar yah, nak." Bukan nya menjawab pertanyaan dari Lisa, Bunda malah menyuruhnya sabar. Ada apa ini? Di wajah Ayah dan Bunda pun tersirat sebuah kesedihan.
Merasa tak puas dengan jawaban tersebut, Lisa lansung membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat ada kak Putra yang sedang duduk di salah satu sofa, kak Putra menundukkan kepalanya. Di samping nya ada kak Felice yang terlihat merangkul Putra dan berusaha menenangkan kan. Kemudian pandangan Lisa berpindah pada Mommy nya yang sedang menangis histeris di samping ranjang sambil memeluk seseorang yang ada di ranjang tersebut, terlihat seluruh tubuh nya di tutupi oleh kain berwarna putih, Lisa tak dapat mengetahui siapa yang ada di balik kain itu. Lisa melihat semua isi ruangan dengan tatapan bingung.
Ada apa ini? Kenapa semua nya menangis? Daddy mana? Daddy baik-baik aja kan? Trus yang di ranjang itu siapa?
"Cha..." Rey memegang bahunya untuk berusaha menenangkan kan nya.
Namun, Lisa tak mempedulikan Rey. Lisa masih bingung dengan suasana ini. Perlahan Lisa memasuki ruangan tersebut. "Mommy..." Panggil nya dengan lirih.
Seketika semua pandangan tertuju ke arah nya. Putra mendongak ke arah Lisa dan terlihat mata nya memerah. "Dek..." Panggil Putra.
"Ini ada apa kak?" Tanya Lisa.
Felice berdiri dan menghampiri Lisa, pipi Felice terlihat basah karena air matanya yang sedari tadi mengalir. "Kamu yang sabar yah, dek..." Felice merangkul bahu Lisa sembari mengusap nya dengan pelan.
Lisa semakin heran, sudah dua kali dia mendengar kalimat tersebut. Ini sebenarnya ada apa?
Semua menangis? Menangisi siapa? Apakah Daddy? Ah nggak mungkin. Daddy kan dulu pernah janji nggak bakal tinggalin aku. Tapi Daddy dimana?
~Catatanku~
Lagu: Melly Goeslow
Awan-awan menghitam
Langit runtuhkan bumi
Saat aku tahu
Kenyataan menyakitkan
Mengapa semua menangis
Padahal 'ku selalu tersenyum?
Usap air matamu
Aku tak ingin ada kesedihan
Burung sampaikan nada pilu
Angin terbangkan rasa sedih
Jemput bahagia di harinya
Berikan dia hidup
Tuhan, terserah pada-Mu
Aku ikut mau-Mu, Tuhan
Kucatat semua ceritaku
Dalam harianku
Mengapa semua menangis
Padahal 'ku selalu tersenyum?
Usap air matamu
Aku tak ingin ada kesedihan
Burung sampaikan nada pilu
Angin terbangkan rasa sedih
Jemput bahagia di harinya
Berikan dia hidup
Tuhan, terserah pada-Mu
Aku ikut mau-Mu, Tuhan
Kucatat semua ceritaku
Dalam harianku
Tuhan, terserah pada-Mu
Aku ikut mau-Mu, Tuhan
Kucatat semua ceritaku
Dalam harianku
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!