Love In Many Ways

Love In Many Ways
Bully



"Ijin ke WC bentar bu!" Jawab Lisa.


"Ya sudah sana. Cepat!" Pinta Bu Ria.


Lisa pun berjalan keluar kelas melangkahkan kakinya ke arah WC.


"Lo tuh nggak ada apa-apa nya disini!"


Lisa menghentikan langkah kakinya mendengar suara tersebut berasal dari arah menuju WC.


"Iyya, jadi lo nggak usah macem-macem sama kita!" Sahut Mila.


Lisa mengintip dari balik tembok. Matanya melihat sekelompok siswi yang sedang berbicara dengan seorang siswi lain.


Itukan Rani sama teman-temannya tadi. Kenapa mereka ada disini? Bukannya ini masih jam pelajaran?


Rani mengangkat tangan kanannya dan menarik kerah baju siswi itu.


"Lo nggak usah songong jadi cewek, lo denger baik-baik, gue bisa ngelakuin apapun sama lo dan keluarga lo!"


Siswi tersebut hanya terdiam, terlihat dari raut wajahnya dia tak takut sama sekali, dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Tatapannya terlihat dingin dan terlihat tak berniat untuk membela diri sama sekali.


Mereka lagi bully anak itu? Atau lagi pada ngapain? kok ngumpul-ngumpul? lagi arisan?


"Gue nggak pernah bermaksud kayak gitu. Tadi Gina yang nyenggol gue, makanya minuman itu tumpah!" Kata siswi tersebut menjelaskan.


"Jadi lo berani nyalahin gue? Jelas-jelas lo yang numpahin itu ke gue. Masih bisa ngelles aja lo yah." Ucap Gina dengan nada sinisnya.


"Tapi... tapikan gue..." Siswi tersebut belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah keburu dipotong oleh Gina.


"Hallah, nggak usah banyak bacot deh lo, lo sengaja kan numpahin itu ke gue karena lo masih punya dendam sama gue? ngaku aja deh lo?" Ucap Gina lagi yang suaranya semakin meninggi.


"Nggak, gue bener-bener nggak sengaja. Tadi emang bener tangan gue kesenggol." Siswi tersebut masih mencoba membela dirinya.


"Trus lo pikir kita percaya? Nggak kali. Kami tuh lebih percaya sama Gina dibanding lo. Lo nggak berhak nerima kepercayaan dari gue!" Ucap Rani dengan sombong nya.


"Sekarang lo minta maaf sama gue. Lo udah numpahin minuman itu ke gue dan buat baju gue basah." Perintah Gina.


"Tapikan baju lo cuma kena percikan doang. Dan baju gue yang basah bukan baju lo." Siswi tersebut masih berusaha melawan karena merasa disini bukan dia yang salah.


"Berani ngelawan gue yah lo sekarang?" Emosi Gina sudah memuncak. Gina mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar siswi tersebut. Refleks siswi itu memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya.


Satu


Dua


Tiga...


Tapi semua tak sesuai ekspektasi. Tangan Gina seperti ada yang menahan nya dari belakang. Kemudian mereka berbalik dan melihat Lisa disana.


"Ngapain lo disini? Awww... lepasin nggak? Sakit..." Keluh Gina karena cengkraman tangan Lisa semakin keras.


"Lepasinn..." Gina menghentakkan tangannya keras hingga cengkeraman tangan Lisa terlepas.


"Ngapain? Kok ngumpul disini? Kan masih jam pelajaran?" Tanya Lisa pura-pura tidak tau. Padahal dari tadi dia menyaksikan semua adegannya dari awal.


"Bukan urusan lo! Lo sendiri ngapain?" Rani balik bertanya.


"Nggak ngapa-ngapain sih!" Jawab Lisa.


"Yaudah. Saya persilahkan anda untuk angkat kaki dari tempat ini." Sahut Mila.


"Mmm... tapi gue mau tanya dulu. Tadi lo ngapain mau pukul dia? Adu panco lo?" Tanya Lisa lagi.


Lisa tersenyum sinis. "Tapi gue nggak mau pergi sebelum lo jawab pertanyaan gue. Gimana dong?"


"Lo tuh yah."


"Nggak usah ikut campur deh lo. Kalo lo mau selamat sana gih pergi. Balik kelas kek atau apa!"


"Mmm... sebenarnya gue tau sih apa yang kalian lakuin. Kalian bully dia kan?" Lisa menunjuk ke arah siswi yang sejak tadi hanya terdiam tak berkata apapun.


"Heh jaga yah mulut lo. Lo nggak usah sok tau, nggak usah berlagak lo tau tentang semuanya. Lagian kalo lo mau lapor ya tinggal lapor aja, nggak bakal ada yang percaya sama lo, lo nggak punya bukti sama sekali!" Ucap Rani dengan santainya.


Lisa melipat kedua tangan nya di depan dadanya dengan santainya dia berkata "Sayangnya gue udah rekam semuanya dari awal. Jadi tinggal gue serahin ke guru BK, yaudah gue pergi dulu yah." Lisa berbalik dan sudah akan melangkahkan kakinya pergi. Wajah Rani dan kedua temannya tampak panik. Rani buru-buru menahannya.


Rani menahan pundak Lisa dengan tangan kanannya."Eh mau kemana lo? urusan kita belom selesai!"


"Ihh apasih pegang-pegang!" Lisa menghempaskan tangan Rani kemudian kembali berbalik berhadapan dengan Rani dan teman-temannya. "Gue alergi sama orang kayak lo tau nggak."


"Apa hak lo ikut campur urusan kita hah!" Bentak Rani.


"Lo juga nggak punya hak buat mukul dia ya! Gue mau pergi ah, disini gue gerah!" Baru saja Lisa berbalik hendak pergi. Rani menjambak rambut Lisa kebelakang.


"Aww... lepasin!" Keluh Lisa.


Siswi itu yang sejak tadi hanya terdiam terlihat panik melihat Lisa kesakitan. "Ran, lepasin Ran!"


"Lo siapa sampe sok banget mau ngelawan gue? Mentang-mentang lo udah pacaran sama Rey dan gue bakal takut sama lo? Nggak bakal!" Tegas Rani.


Lisa hendak melayangkan pukulan kerasnya ke wajah Rani, namun setelah melihat Bu Desi, Lisa langsung menahan tangannya.


"Rani! Lisa! Apa yang kalian lakukan?" Bentak Bu Desi. Seorang guru BK.


"Aw... bu tolongin saya bu!" Teriak Lisa.


Rani pun melepaskan jambakannya. Bu Desi langsung menyuruh mereka berlima masuk keruang BK untuk di sidang.


.


.


.


Ruang BK👈


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berkelahi? Kalian ini yah, bisa-bisa nama terbaik sekolah kita tercoreng karena ulah kalian!" Tegas Bu Desi.


"Lisa Bu yang mulai duluan!" Rani menunjuk Lisa.


"Loh kok saya? Kalau saya yang mulai duluan, kenapa saya yang jadi korban?" Ucap Lisa dengan santainya.


"Bu dia bohong dia duluan yang..." Ucapan Rani terpotong. Karena Lisa buru-buru menyela ucapannya.


"Bu, begini nih cerita yang sebenernya yang paling benar. Awalnya saya hendak ke WC eh saya denger tuh Rani lagi bentak-bentak orang, sayakan penasaran jadi saya intip aja Bu dari balik tembok. Trus saya liat Gina hendak memukul siswi ini bu." Jelas Lisa sambil menunjuk siswi tadi.


"Bohong Bu, bukan gitu ceritanya." Rani sudah terlihat panik.


"Tunggu dulu, gue belum selesai. Main potong aja lo kayak ayam." Ucap Lisa kepada Rani. "Trus gini Bu saya menghampiri mereka dan mencegah kekerasan yang akan terjadi. Eh malah saya yang dijambak, sakit tau Bu...!" Keluh Lisa sambil mengusap kepalanya berulang.


Bu Desi tampak berpikir dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!