
Rey terkejut mendengar semua kalimat Lisa barusan. Dia sungguh tak menyangka semua itu bisa keluar dari mulut Lisa. "Lo? Gue? Kenapa cara bicara kamu kayak gitu?" Tanya Rey dengan pelan.
"Kenapa? Nggak suka? Ya suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue!"
Rey menghela napas berat. "Asal kamu tau. Aku juga nggak mau kayak gini. Aku juga belum siap untuk semua ini. Tapi mau gimana lagi? Aku nggak bisa ngapa-ngapain, ini semua sudah jadi keputusan orang tua kita."
Lisa memutar bola mata nya jengah. Hadeh, sok polos banget sih. Jijik gue liat nya.
"Udahlah, gue nggak butuh penjelasan dari lo. Kemana Rey yang dulu gue kenal? Rey yang selalu buat gue seneng, buat gue bahagia. Gue benci dengan Rey yang sekarang, Rey yang udah hancurin hidup Gue..."
"Icha, den-..." Belum selesai kalimat dari Rey, Lisa sudah keburu menyela.
"Apa? Lo seneng kan buat gue menderita kayak gini. Udah lah Rey, gue capek gue mau tidur." Lisa berdiri dari duduknya. Namun dia ingat satu hal lagi. "Oh iya satu lagi. Lo jangan pernah campurin urusan pribadi gue!"
Rey mengangguk. "Iya, aku nggak akan pernah ganggu hubungan kamu sama Al." Rey mengira bahwa Lisa masih berhubungan dengan Al. Mendengar semua kalimat yang di lontarkan Lisa barusan, Rey merasa sangat bersalah pada Lisa. Dia merasa dia sudah merenggut kebahagian Lisa. Dia merasa semua yang diucapkan Lisa itu benar adanya dan wajar saja jika Lisa membenci dirinya.
"Baguslah." Ucap nya dengan sinis. Lisa berbaring di atas tempat tidur, dan memejamkan matanya. Namun, sebelum dia benar-benar tidur, tak lupa dia menaruh bantal guling di samping nya sebagai pembatas antara dirinya dan Rey jika nanti Rey tidur di samping nya.
.
.
.
Adzan subuh sudah berkumandang dengan merdu. Menggema ke seluruh penjuru. Seolah meminta semua penghuni bumi untuk segera bangun dan melaksanakan kewajiban masing-masing.
Rey mengucek mata nya, mendengar suara adzan tersebut Rey ingin bangun. Namun, saat menoleh pada Lisa yang ada di sebelahnya, pandangan nya serasa terkunci. Tidur Lisa terlihat begitu lelap. Rey menatap wajah yang terlihat sempurna itu, alis tebal, kulit putih bersih, bibir yang tipis, dan hidung yang terlihat agak mancung. Tidur nya begitu tenang.
Perlahan garis tipis membentuk lengkungan tercipta di bibir Rey, menciptakan sebuah senyuman tulus.
Astagfirullah...
Rey langsung tersadar dan buru-buru bangun. Dia pergi mengambil wudhu dan segera mendirikan shalat. Sebenarnya Rey ingin mengajak Lisa, namun mengingat kejadian kemarin malam rasanya tak mungkin. Mungkin Lisa masih marah atau mungkin masih kesal, kalo tidurnya di ganggu dia mungkin akan bangun dengan marah-marah. Begitu yang di pikirkan Rey.
Dalam doa nya Rey meminta petunjuk kepada Allah agar diberi kemudahan dan kesabaran dalam menjalankan kewajibannya dalam sebagai suami dari Lisa. Selesai sholat, Rey mengambil Al-Qur'an lalu membaca nya sampai sang surya menampakkan diri nya.
Saat pagi menjelang, Rey menyudahi aktifitas nya. Rey kembali melihat Lisa sebelum berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
...*****...
Lisa kembali berdiri di samping jendela saat selesai mandi, melihat keindahan sang surya yang muncul. Kembali melamun, kembali merenungi nasib nya. Saat membuka mata, dia sudah tak melihat Rey di dalam kamar. Ingin rasa nya dia kembali menangis, agar sesak di dada nya perlahan berkurang. Akan tetapi, dia merasa air matanya sudah habis. Dia sudah cukup banyak menangis akhir-akhir ini.
"Lisa... Ayo sini..." Teriak Mommy dari lantai bawah.
Lisa menghela napas kemudian balas berteriak. "Sebentar Mom..." Lisa masuk kedalam kamar mandi, lalu mencuci wajahnya dengan air. Tujuan nya agar wajah nya terlihat lebih fresh dan wajah muram nya tak terlihat. Dia berusaha menyetel senyum nya yang paling manis agar lebih terlihat bahagia. Hahaa... Akting yang sangat bagus, mari kita beri dia penghargaan untuk diapresiasi atas keberhasilan nya dalam menggeluti dunia akting dan memainkan peran dengan sangat baik.
"Kenapa, Mom?" Tanya nya saat melihat Mommy nya berada di dapur.
"Panggil Rey untuk sarapan!"
"Dimana, Mom? Rey nggak ada di kamar." Ucap Lisa dengan malas.
"Tadi Rey pulang bentar ke rumah nya, katanya dia mau ambil sesuatu. Kamu panggil gih sana."
"Udah sana. Ajakin dia sarapan, jangan banyak alasan."
"Ck." Lisa berdecak kemudian berkata sambil tersenyum. "Oke, Mom."
Lisa berjalan keluar rumah dan melangkahkan kaki nya menuju rumah seberang. Rumahnya si Rey yang nyebelin.
"Bi, Rey mana?" Tanya Lisa pada ART yang terlihat sedang menyiram tanaman di depan rumah mewah milik keluarga Rey.
"Ada didalam, Non. Non Lisa masuk aja."
"Panggilin aja, Bi. Saya tunggu dia sini."
"Em, maaf nih, Non. Bukan nya nggak mau tapi ini air nya nggak bisa di tinggal. Hehee... Non Lisa masuk aja, Den Rey mungkin lagi di kamar nya."
"Ck, yaudah makasih Bi." Lisa menggerutu kesal sembari masuk ke dalam rumah Rey. Tak ada siapa-siapa di dalam, Ayah dan Bunda Rey tak ada.
Saat sampai di depan kamar Rey, serasa Lisa ingin langsung menggebrak pintu kamar, masuk kedalam dan dengan cepat menyeret nya kembali ke rumahnya untuk sarapan. Namun, Lisa tak melakukan itu. Meskipun dia sedang marah pada Rey, lebih tepat nya dia membenci Rey. Namun Lisa tetap ingat dengan tata krama. Anak dari keluarga Hariwijaya yang terhomat dan terkenal itu sangat mengutamakan tata krama dan etika sopan santun.
Lisa mengetuk pintu kamar Rey.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa?" Sahut seseorang dari dalan kamar. Itu mungkin Rey.
"Ini gue!" Teriak Lisa dengan kesal.
Cklek!
Rey membuka pintu kamar nya dan melihat Lisa yang sedang berdiri di sana dengan wajah yang terlihat kesal.
"Kenapa?" Tanya Rey.
"Mommy manggil lo untuk sarapan!" Ucap nya sambil melihat ke arah lain. Tak ingin melihat wajah Rey yang menurutnya akan menaikkan emosi nya.
"Oh, aku sarapan nya ntar aja. aku belum laper."
"Mommy manggil lo sekarang, jadi lo nggak usah banyak alasan. Lagian kok lo pulang sih?"
Mendengar pertanyaan Lisa, Rey terlihat tersenyum. "Aku ada PR. Jadi aku pulang dulu."
"Kan bisa di kerjain di kamar gue. Ngapain lo mesti pulang segala, nyusahin gue aja."
"Buku ku ada di sini."
"Kalo gitu lo cepetan balik. Mommy nunggu lo buat sarapan, sekarang! Jangan nyusahin gue!" Kata Lisa dengan kesal kemudian berjalan pergi meninggalkan Rey yang masih berdiri dan menatap kepergian nya.
Saat menuruni tangga Lisa menghentikan langkahnya dan kembali berteriak. "LO BALIK SEKARANG!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Lisa melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah nya yang dia rasa cukup indah dan nyaman dari pada rumah si Rey yang selalu bikin kesel.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!