
Di Koridor
Lisa berjalan santai setelah kembali dari kamar mandi, namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Dinda. Lisa melangkah ke kanan untuk menghindari Dinda, tapi Dinda malah mengikuti langkah Lisa, seolah-olah menghalangi jalan Lisa.
Lisa berdecak kesal tak mau basa-basi lagi, "Ck, lo ngapain sih? Apaan? Mau ngomong apa sama gue? Buruan!" kesal Lisa.
"Jangan anggep hanya karena lo menang, berarti lo udah diatas gue ya! Gue tetep bakal buktiin kalo gue lebih baik daripada lo!" bentak Dinda yang masih tak terima.
Lisa memutar bola matanya jengah sambil berdecak, "Ck... Lu kenapa sih Din? Kayaknya obsesi banget buat kalahin gue? Kalo udah kalah ya udah, nggak usah kayak gini lah. Lo tau nggak apa arti kata 'SPORTIF'? Kalo udah ya udah, jangan kayak bocah lah Din! Gue kasihan tau nggak sama lo. Intinya, / winn, you lose. Game over!" ujar Lisa sudah tidak ingin meladeni Dinda.
Lisa sedang malas meladeni kelakuan Dinda yang makin lama semakin seperti anak kecil. Dinda hanya diam dan bingung harus apa sekarang, dari setiap penjuru sekolah sudah terdengar kata-kata yang menjelek-jelekkan Dinda.
"Gue nggak tahan lagi! Gue mau pindah sekolah! Gue udah nggak mau disini lagi, gue udah nggak bisa. Gue mau pindah!" tegas Dinda kesal pada dirinya sendiri.
Dinda berlari naik ke rooftop dan menenangkan dirinya sendiri disana. Dinda tak ingin kemana-mana ia duduk disana tanpa perduli apapun, saat ini otaknya benar-benar tak bisa diajak berpikir.
...*****...
Dinda sudah meyakinkan diri untuk pindah dari sekolah, ia tak akan mungkin bisa jika harus tinggal di sekolah itu yang sudah sangat mengotori nama baiknya, ia pulang dan berniat mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya.
Cklek...
Pintu terbuka, "Maaa!" panggil Dinda dengan lantang. Tak ada jawaban sama sekali, Dinda pun bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Bi, mama dimana?" tanya Dinda.
"Bibi nggak tau non, kayaknya ada di kamar deh non."
"Oh gitu oke bi..."
Dinda berlari naik kelantai 2 dan masuk kedalam kamar mamanya tanpa mengetuk.
Pintu terbuka, "Ma! Dinda pengen ngomong sesuatu sama mama papa!" ucap Dinda.
Dinda terkejut melihat mamanya menangis kaku dilantai dengan keadaan yang kacau dan berantakan, terdapat banyak barang berjatuhan dan juga barang-barang yang pecah di lantai.
"Ma? Mama kenapa ma?" tanya Dinda khawatir. Dinda langsung mendatangi mamanya dan memeluk mamanya itu. Ia bingung dengan semua ini, sebenarnya apa yang terjadi.
Mamanya pun membalas pelukan putri tunggalnya itu, "Papa Din... Papa..." ucap Mama Dinda disela tangisnya yang terisak.
"Papa kenapa ma? Papa kenapa?"
"Hiks... Papa kamu khianatin kita semua! Hiks..." ucap mamanya yang tersengal-sengal karena masih menangis.
"Berkhianat? Maksud mama?"
"Papa kamu selingkuh! Papa kamu selingkuh, hiks..."
Mama Dinda sudah menangis dan hampir tak sanggup menjawab pertanyaan putrinya itu. sementara Dinda terdiam tak berani bersuara, ia serasa tersambar petir di siang hari.
"M-mana mungkin papa selingkuh ma... Mama pasti salah dengar atau salah informasi, itu nggak mungkin!" dinda tetap membantah tak percaya dengan apa yang dikatakan mamanya.
"Hiks... I-itu bener Din, mama lihat sendiri hiks, tadi di ponsel papa kamu. Mama... Mama liat, Hiks..." Mama Dinda tidak berhenti menangis.
Dinda membantu mamanya berdiri dan duduk diatas kasur, Dinda membaringkan mamanya pelan-pelan dan menyelimutinya.
Dinda bergegas turun untuk mengambilkan mamanya air minum, di dapur dia bertemu dengan asisten rumah tangganya.
"Non, nyonya nggak papa kan? Dari pagi nyonya nggak keluar kamar, dan belum makan apa-apa non. Saya ketuk-ketuk pintu kamarnya tetep nggak ada respon," jelas salah satu asisten rumah tangga nya yang terlihat khawatir.
Dinda terkejut mendengarnya, "Ya sudah tunggu apa lagi? Buatin bubur bi, agak cepet ya! Apa beli aja, yang penting cepet!" pinta Dinda.
"Siap non."
Dinda naik keatas dengan nampan berisi air dan beberapa buah-buahan. Ia menyuapi mamanya beberapa buah, setelah itu ia kembali turun untuk mengambil bubur yang sudah disiapkan.
"Ini non buburnya..."
"Iya makasih bi..."
Pintu rumah tiba-tiba terbuka saat Dinda hendak kembali ke kamar mamanya dengan semangkuk bubur ditangannya.
"Din, mana mama kamu? Saya perlu bicara!" tegas seorang wanita dengan dress longgar yang memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit itu.
"T-tante Mala? Ada perlu apa tan? Papa kan di kantor, m-mau bahas masalah apa sama mama? Mama lagi nggak enak badan tan..." jawab Dinda yang sedikit gugup.
Wanita cantik dengan tubuh putih mulus itu bernama Kumala, wanita berusia 27 tahun yang masih single dan menjadi sekretaris pribadi Ayahnya Dinda di kantor.
Kumala tersenyum manis menanggapi kata-kata Dinda, "Dinda... Kamu harus ikut seneng ya, soalnya mau punya saudara tiri."
Pikiran Dinda mulai kemana-mana, tapi Dinda masih berusaha positif thinking. "M-maksud Tante apa ya? Dinda nggak paham."
"Dinda, Tante nggak mau bicara dua kali, tante mau langsung bicara aja sama mama kamu, ntar kamu juga tau. Mana mama kamu? Saya perlu bicara!" tegas seorang wanita dengan dress longgar yang memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit itu.
"ta-tapi maksud Tante barusan apa? Dinda nggak ngerti sama sekali."
"Kamu lihat dong... Di perut Tante kamu yang cantik ini, ada calon adek kamu. Ini anak papa kamu loh..." ujar Kumala tanpa rasa malu ataupun ragu.
Ctaarrr....
Seketika, bubur ditangan Dinda langsung jatuh hingga mangkuknya pecah. Ia seperti tersambar petir seketika. Perihnya serpihan mangkuk yang mengenai kaki nya tak lagi terasa, hatinya lebih sakit mendengar kata-kata Kumala barusan. dinda terdiam tak percaya dengan kata-kata Kumala.
"Tante jangan aneh-aneh deh... Nggak mungkin, itu bukan anak papa aku, nggakk nggak mungkin! Tante bohong, papa itu pria yang baik, nggak mungkin hamilin Tante! Pasti Tante cewek yang nggak baik, hamil diluar tapi ngaku sama papa aku! Iya kan!" bentak Dinda dengan emosi yang mulai kacau.
Plakkk....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Dinda. Sakit dan panas, itu yang terasa di pipi Dinda. Tapi sayangnya, rasa sakit hatinya lebih dari apapun.
Mama Dinda yang mendengar keributan itu pelan-pelan turun berjalan menghampiri Kumala dengan anggun dan mencoba tetap tegar.
Plakkk..
Mamanya Dinda membalas tamparan Kumala atas putrinya, "Atas dasar apa kamu berani menampar anak saya? Seburuk-buruknya putri saya, dia tidak mur*han dan tidak merebut suami orang seperti kamu! Lantas kenapa kamu tampar putri saya?!" bentak Mama Dinda yang berdiri didepan Dinda untuk melindungi anak kesayangannya itu.
"Ahh..." keluh Kumala sambil memegangi pipinya yang tertampar. "Bukan saya yang mur*han, tapi suami kamu yang memaksa saya untuk melakukan hal itu, maka dari itu salahkan saja suami kamu itu!" bantah Kumala.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!