
Sepulang sekolah Rey memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rani. Beberapa hari setelah kepindahan Lisa di sekolah barunya, kabar Rani sudah tak pernah terdengar lagi. Yah meskipun semua masalah sudah selesai akan tetapi ia tidak ingin Lisa masih di cap sebagai bersalah oleh semua orang. Rey masih kekeh akan tetap mencari bukti.
Rey pergi ke rumah sakit dengan tujuan untuk menanyakan Rani, apakah ia sudah mengingat kejadian saat dia jatuh.
"Lebih cepet aja deh di sininya nanti, biar Lisa nggak lama-lama sendirian di kamar." Gumam Rey.
Langkah Rey langsung terhenti ketik melihat Tasya ada didalam ruangan Rani.
Tasya? Ngapain dia disini?
"Oh iya, dia kan temen deketnya Rani juga. Yaudah tunggu aja deh, jangan ganggu mereka."
Mata Rey terpaku pada Rani yang sedang tertidur di ranjang. Tentu itu membuat Rey heran melihatnya karena Tasya tampak seperti orang yang berbicara.
"Rani kan tidur? Tasya lagi ngomong sama siapa? Kenapa dia ngomong sendiri?"
Kebetulan pintu tidak tertutup rapat, karena sangat penasaran diam-diam dan perlahan Rey memperhatikan untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Tasya.
Rey berdiri Dibelakang Tasya diam tanpa suara. Hanya mendengarkan kata tiap kata yang diucapkan Tasya.
"Hai Rani... Gue disini lagi, maaf yah Ran gue baru dateng lagi, kemarin-kemarin sedikit sibuk soalnya. Gimana keadaan lo sekarang? Gue kangen banget sama lo tau nggak, dan tiap gue dateng lo selalu tertidur, tapi nggak papa deh. Gue lebih mampu cerita tentang semua ini saat lo tidur, gue sama sekali nggak bisa cerita ini langsung sama lo. Jujur setiap waktu gue selalu di hantui rasa bersalah. Yah meskipun masalah nya udah di anggap kelar tapi tetap aja gue nggak bisa tenang."
"Gue makin takut Ran. Gue bingung harus apa, sekarang Lisa udah berubah 180°. Dia bukan Lisa yang dulu, dia udah beda. Dia semakin berani dan kuat, dan gue takut dia bakal tau kalo gue bohong selama ini, gue takut dia tau semua kebenarannya."
Rey terkejut dengan kata-kata Tasya barusan, tapi ia mencoba tetap tenang dan diam sembari mendengarkan kata-kata Tasya selanjutnya. Ia mengambil hp kemudiaan diam-diam merekam setiap ucapan Tasya.
"Apa gue jujur aja yah, kalo yang bikin semua ini terjadi itu Dinda, yang bikin lo kayak gini itu sebenarnya Dinda. Tapi gue takut banget kalo keluarga gue kena masalah, lo tau kan dia anak orang kaya. Dia bisa lakuin apa aja ke keluarga gue, gue juga sama sekali nggak nyangka kalo dia bisa sekejam ini. Korbanin orang cuma buat jatuhin Lisa. Tapi juga gue nggak mau hidup dalam bayang-bayang kebohongan, gue nggak bisa tenang rasanya. Kenapa sih gue yang harus terlibat dalam masalah ini?!"
Rey mengepalkan tangannya penuh emosi, ia benar-benar berusaha menahan emosinya saat ini saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
"Gue udah cerita ini setiap gue kesini, gue benar-benar nggak tau harus cerita dimana lagi kalo bukan sama lo, lo jatuh karena Dinda taruh pelicin lantai ditangga itu, gue yang disuruh ngepel biar nggak kelihatan ada buktinya. Itu yang harusnya gue cerita saat di suruh bicara sama Bu Alya, tapi gue takut."
Tasya menghela nafas, "Gue bener-bener merasa bersalah banget sama lo sama Lisa yang harus jadi korban. tapi gue bener-bener nggak tau harus gimana. Maafin gue, tolong biarin ini jadi rahasia kita yah, Mental gue terlalu lemah buat ngomong saat lo bangun, gue cuman lebih berani kalo lo masih tidur."
Rey sudah tak bisa menahan emosinya lagi, ia mematikan rekamannya lalu masuk dan menyeret Tasya keluar dengan kasar.
Rey sedikit menghempaskan Tasya kedepan, "Jelasin semuanya! Apa yang lo maksud tadi!" tegas Rey.
Tasya sedikit gelagapan melihat Rey yang tampak begitu marah dihadapannya, ia juga mengutuki kebodohan nya yang langsung mengutarakan semua kebenarannya tanpa melihat ada orang lain di ruangan tersebut, "A-apa maksud lo? Gue nggak ngerti, gue pergi dulu ya..."
Tasya bermaksud untuk pergi, namun tangan Rey lebih cepat untuk menarik tangan Tasya kembali.
"Mau kemana? Urusan kita belum selesai!"
Tasya kembali berusaha melepaskan genggaman tangan Rey, "Rey tolong lepasin! Gue nggak ngerti maksud lo! Gue nggak tau apa-apa Rey!"
Rey semakin muak dengan semua basa-basi ini. Ia langsung mengambil ponselnya kasar, dan memutar kembali rekaman suara Tasya tadi.
Tasya diam melongo mendengarnya tak tau harus berbuat apa lagi, "Rey itu nggak sepenuhnya bener! Gue cuma asal ngomong doang! Gu- gue cuman mau cerita-cerita aja sama Rani."
Rey mematikan rekaman itu dan kembali memasukkan ponselnya ke saku, "Jujur aja kenapa sih Tasya! Apa susahnya jujur! Lo takut apa? Lo takut sama Dinda? Keluarga lo di celakai Dinda? Gue bisa lindungi keluarga lo Tasya, asal lo mau jujur." Rey terus-menerus mendesak Tasya.
"Bukan itu!"
"Terus apa? Lo takut apa?"
"Banyak Rey! Banyak!" jawab Tasya dengan nada meninggi. Perlahan, Tasya meneteskan air matanya, "Gue takut adik gue nggak bisa sekolah lagi, gue takut bokap gue dipecat, gue takut nyokap gue sedih, gue takut keluarga gue kenap-napa, dan gue takut dikeluarin dari sekolah! Keluarga gue emang masih mampu, tapi kalo buat nandingin keluarga Dinda jelas masih jauh Rey!" jelas Tasya dengan air mata yang terus menetes.
"Terus gimana? Lo mau hidup dalam kebohongan gitu? Lo nggak pernah gitu mikirin gimana perasaan Lisa selama ini? Gimana Rani? Ini udah termasuk pencemaran nama baik dimana Lisa nggak tau apa-apa tapi harus nanggung semuaa kesalahan orang lain."
"Rey, gue juga bingung harus bagaimana sekarang, semua udah terjadi gitu aja. Gue nggak mau keluarga gue jadi korban, gue sayang mereka. Udah yah Rey, lupain aja. Lagian Lisa juga udah tenang kan di sekolah barunya."
"Ya nggak bisa gitu juga. Percaya nggak percaya beberapa tahun ke depan masalah kemarin pasti masih jadi bahan pembicaraan siswa-siswi di sekolah dan gue nggak mau Lisa masih di cap sebagai orang yang mencelakai Rani. Lo suka orang lain sengsara gara-gara omongan lo? Fitnah itu dosa besar Tasya! Tolong perbaiki kesalahan lo saat ini, jangan sampe kedepannya lo dapet karma yang lebih menyakitkan!" bujuk Rey.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!