Love In Many Ways

Love In Many Ways
What?



"Lisa, kamu mau cobain yang ini?" Tanya Rey dengan lembut.


Lisa menjawab dengan mengangguk, dan Rey kemudian langsung menyuapi Lisa.


Aku bisa membaca maksud tatapan Rey barusan. Sepertinya Rey bisa mengetahui ada gemuruh di hatiku.


"Kamu boleh cerita sama aku di sana." Ucap Rey. Rey mendadak menarik tangan Lisa beranjak dari kantin.


.


.


.


Rupanya Rey membawa Lisa ke atas gedung sekolah.


"Mulai hari ini kita nggak ada lagi hubungan. Kamu bukan lagi pacar aku." Ucap Rey dengan nada sedih.


Apa? Kenapa? Kok tiba-tiba...


"Kenapa Rey?" Tanya Lisa.


Rey terlihat menerawang membelah langit biru. "Aku udah perhatiin tingkah aneh kamu selama ini." Ucap Rey sambil tersenyum lemah. "Dan kemudian baru aku sadar kalo sebenarnya kamu nggak punya perasaan apa-apa kan sama aku? Kamu sebenarnya sukanya sama Al bukan sama aku. Iya kan?"


Tanpa terasa air mata Lisa sudah menggenangi pelupuk matanya. "Maafin aku Rey..."


"Udah nggak papa. Kamu udah coba ungkapkan isi hati kamu ini padanya?" Tanya Rey lembut.


Lisa hanya menggeleng, air matanya tak berhenti menetes satu per satu.


Rey membalikkan tubuh Lisa ke arahnya, memegang kedua pundak Lisa erat. Dia menatap kedua mata Lisa. "Harus Lisa... karena kamu nggak boleh seperti aku yang hanya jadi pengecut."


Lisa sudah tak tahan lagi, Lisa langsung memeluk Rey dengan erat. Meluapkan emosi nya dalam pelukan Rey.


"Nggak Rey, hiks. Aku nggak bisa melakukannya, hiks. Aku nggak mau dan nggak bisa melukai Sarah. Hiks, mereka hiks baru aja jadian. Aku nggak boleh egois. Biar aku sendiri aja yang sakit..." Ucap Lisa di sela tangisnya. Lisa masih memeluk Rey.


Rey tersenyum lembut sambil mengusap punggung Lisa agar dia tenang. "Kata siapa hanya hati kamu yang sakit? Hati aku juga sakit melepas kamu, rasanya beraaat banget. Tapi kamu lihat aku, aku nggak kenapa-kenapa, aku bisa tegar, dan kamu tau kenapa?" Rey melepas pelukannya lalu menatap kedua mata Lisa.


Hening sesaat. Lisa tak menjawab apa-apa, dia hanya balik menatap kedua mata Rey.


"Karena aku mencintaimu, karena aku mau kamu bahagia. Dan aku memutuskan hubungan ini, bukan untuk melihat kamu nangis seperti ini." Rey menyeka air mata Lisa sambil tersenyum.


"Tapi... tapi bagaimana dengan Sarah? Aku mau melihat Sarah bahagia sama Al..."


Rey meletakkan kepala Lisa di dadanya. Lalu mengusap kepala Lisa lembut. "Kamu harus memperjuangkan cinta kamu..."


"Rey, maafin aku." Ucap Lisa.


"Udah, nggak usah di bahas lagi. Aku nggak papa kok. Kalo kamu bahagia, aku pun akan bahagia melihat kamu, walaupun kamu nggak sama aku."


"Tapi kita masih bisa sahabatan kan?" Tanya Lisa.


Rey tersenyum. "Iya, bisa. Kenapa nggak?"


Lisa membalas senyuman Rey. "Rey, kamu janji kan nggak akan ngasih tau siapa-siapa tentang perasaan ku ini?"


Rey mengangguk.


"Terutama Sarah?"


Rey mengangguk lagi.


"Makasiihh yah, Rey..."


(Melepaskan bukan berarti menyerah, tapi memahami bahwa ada hal yang tak dapat dipaksakan. Adakalanya kita harus melepaskan seseorang yang sebenarnya paling ingin kita miliki.) - Muhammad Rahardian Fahreyzan Agrananda


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan sendu, mendengar pembicaraan mereka.


...*****...


Lapangan Basket🏀


Sepulang sekolah Lisa dan Sarah memutuskan untuk menonton latihan basket.


"Masuuuuuuuuukk!!" Teriak semua penonton saat bola masuk kedalam ring.


Dari puluhan orang yang berlaga di sana, terselip Rey dan Al di tengah-tengah sana. Suasana juga sangat ramai penonton seperti latihan-latihan biasanya, penuh teriakan.


Lisa menatap wajah Sarah beberapa detik, Sarah terlihat sangat bahagia menyaksikan Al latihan. Dia lompat-lompatan, dia teriak-teriak, tertawa, tersenyum...


Sepertinya aku sudah benar mengambil keputusan.


"Lisa, abis ini kamu jadi ikut aku dan Al jalan-jalan ke Mal kan? Pliiiisss..."


Jelas isi hati ku menolak untuk ikut. Aku nggak mau semakin sedih. Tapi aku sadar, kalo begini terus, aku nggak akan bisa menghadapi kenyataan. Aku harus berubah! Aku harus kuat melihat kebahagiaan Sarah dan Al.


"Lisa?" Panggil Sarah, saat melihat Lisa hanya melamun. "Jadi gimana? Mau kan?"


Lisa menganggukkan kepalanya mantap.


"Siip deh, makasiiihh" Sarah memeluk Lisa senang.


.


.


.


🏭Mal🏭


Tempat Makan👈


"Gimana kalo abis ini kita nonton?" Cetus Sarah tiba-tiba setelah menyuapkan sekali lagi daging steak ayamnya ke mulut. "Maukan Lis? Ya-ya-ya? Oke?"


Setelah menelan habis kunyahan daging ayam, baru Lisa menjawab dengan tersenyum kemudian sebagai jawaban untuk Sarah.


Sudah satu jam berlalu dengan cepat karena acara bermain mereka di Timezone. Mereka tertawa dan bercanda. Makanya sekarang mereka sedang mengisi perut.


Sarah tampak bahagia sekali. Kalau begini kan aku ikut senang juga jadinya.


Sarah dan Al tertawa lepas. Lisa hanya memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Tanpa sadar dia jadi ikut memperhatikan raut wajah Al. Al tahu hal itu, dan langsung membalas tatapan Lisa. Kontan Lisa buru-buru memalingkan muka dan menyibukkan diri dengan memotong kecil-kecil steak yang padahal sudah dari tadi dia memotong nya.


Sadar dong Lisa! Dia itu milik Sarah.


.


.


.


Teater dua yang akan memutar film The Incredible Hulk baru saja di buka. Berarti film akan di mulai lima belas menit lagi. Untung mereka bertiga keburu membeli tiket nya. Tiga berjejer, yaahh meskipun rada nggak enak posisinya, tapi mau gimana lagi?


Al menghampiri Lisa dan Sarah yang menunggunya di depan pintu teater setelah membeli popcorn dan coke. Suara pemberitahuan yang berkata kalau pintu teater dua telah di buka kembali berkumandang. Lisa menarik tangan Sarah, mengajaknya untuk segera masuk.


Tapi Sarah malah menahan langkah. "Aku nggak ikut nonton Lis."


"Loh? Kenapa?" Tanya Lisa bingung.


"Kamu dan Al aja yang nonton berdua." Sarah tersenyum tipis.


"Maksud kamu?" Lisa masih nggak mengerti.


Tapi pertanyaan Lisa malah di jawab dengan...


Sarah meraih satu tiket dari tangan Lisa dan... merobek nya?!!


Lisa menatap ke arah Al meminta jawaban maksud dari tindakan Sarah. Namun Al hanya diam saja tak mengatakan apapun.


"Rah? Kok tiket nya malah di robek? Kamu kan juga mau nonton?"Lisa bertanya duluan sebelum Al membuka mulut. Tapi lagi-lagi Sarah hanya tersenyum tipis.


"makasih untuk pengorbanan kamu, Lis." Sarah mendekap hangat pundak Lisa. "maafin aku... tapi bukan kamu yang seharusnya membuatku bahagia, melainkan aku. aku yang semestinya membuat kamu bahagia." Sarah meraih gelas minuman di tangan Al dan menaruhnya di kursi tunggu disampingnya. kemudian Sarah meraih tangan kanan Lisa lalu menyatukannya dengan tangan Al. "Kalian berdua kan saling suka..."


"APAAAAA?" Kontan Lisa dan Al sama-sama tersentak, menjauhkan tangan masing-masing.


"Nggak, Rah! kamu salah paham!" Lisa berusaha menyanggahnya.


Tapi saran malah tersenyum kecil. "Udah, Lis. Kamu nggak usah bohong lagi. Aku udah tau semuanya. Aku denger semua ucapan kamu dan Rey tadi siang di atas gedung sekolah, aku mengikuti kalian berdua dari kantin."


Apaa? Jadi Sarah...


"Kamu suka kan sama Al?"


Degh!


Jantung ku serasa berhenti berdentum! Ya Tuhan, sekarang apa nih yang harus aku lakukan? Sarah dan Al menunggu jawabanku? Aku kan nggak bisa jujur sekarang! Aku kan mau Sarah yang bahagia dengan mengubur perasaan ku ini dalam-dalam. Tapi kenapa semuanya malah jadi berjalan di luar rencana ku?


Al terlihat sangat terkejut dengan berita tak jelas itu. Dia masih menatap sepasang bola mata Lisa, menunggu jawaban dari mulut Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!