Love In Many Ways

Love In Many Ways
Comeback



Udah berhari-hari aku cuma awasin Lisa dari jauh, kira-kira dia masih marah sama aku nggak yah?" Gumam Rey.


Rey pergi ke rumah Putra untuk menemui Lisa di sana. Ia benar-benar tak sabar ingin segera menanyakan keadaan Lisa dan melihatnya secara langsung. Dalam hati ia terus berharap semoga keadaan Lisa sudah membaik dan juga Lisa sudah tidak marah lagi padanya. Berhari-hari Rey hanya mendengar kabar Lisa dari Putra saja.


.


.


.


Lisa menelpon seseorang sambil berjalan- jalan keluar rumah. Kebetulan Rey juga baru sampai dan melihatnya dari jauh dan langsung saja menghampirinya.


"Hai Cha..." Sapa Rey.


"Ngapain di sini?"


"Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan?" Tanya Rey basa-basi.


"Baik."


Rey menarik nafasnya berusaha untuk tidak gugup, "Kapan kamu balik ke rumah? Ayah sama Bunda nanyain kamu, trus Aqeela juga kangen sama kamu..."


"Terus..."


"Ayo balik Cha... Aku minta maaf buat semuanya, aku bakal tetep selidiki masalah ini, aku bakal tetep cari kebenaran nya dan buktiin kalo kamu itu nggak salah. Cha pliss... Mau sampai kapan sih kamu marah sama aku?" Rey memegang kedua tangan Lisa dengan tulus.


Lisa melepaskan genggaman tangan Rey, "Tolong... Gue masih belum terbiasa sama keadaan ini. Dan juga, saat ini gue perlu benci sama seseorang agar gue nggak benci diri gue sendiri!"


"Cha..."


"Awas, gue mau pergi!" Lisa pergi meninggalkan Rey dengan cueknya.


"Lisa..."


Lisa tak menghiraukan panggilan Rey. Ia pergi naik taksi yang telah ia pesan dan meninggalkan Rey yang masih terdiam melihat kepergiannya. Rey ingin sekali membawa Lisa pulang ke rumahnya, namun ia juga tidak ingin memaksa Lisa yang sepertinya belum benar-benar pulih.


...*****...


Di Tempat Makan


Lisa, Sarah dan Mira duduk di satu meja. Mereka bertiga memesan makanan dan mengobrol santai dan melepaskan penat setelah lama berbelanja.


"Kamu sama Rey gimana Lis?" Tanya Sarah tiba-tiba.


"Lisa menghentikan acara makannya, ia menatap Sarah dengan ragu, "Ng-nggak tau..."


"Ini sih pandangan pribadi aku, aku nggak bisa maksa kamu ikutin sih. Tapi menurut aku, lebih baik kamu baikan deh sama Rey. Waktu itukan dia juga punya pertimbangan sendiri buat lakuin itu semua...." Ujar Sarah.


Mira mengangguk setuju, "Iya Lis... Kak Rey itu baik dan pintar kok, pasti tau jalan keluarnya. Jangan lama-lama diemin dia, dia pasti rindu banget sama kamu."


Lisa menghela nafas berat, "Sebenarnya aku juga pengen banget segera balik sama dia. Tapi entah kenapa aku masih ragu, nggak jelas alasannya apa, aku merasa kalau ini bukan waktu yang tepat buat balik ke rumah."


Sarah memegangi pundak Lisa, "Lisa... Menurut aku, kamu bakal lebih aman dan terlindungi kalo kamu bareng Rey lagi."


"Dengan kamu kayak gini, tentu itu membuat Rey selalu kepikiran dan khawatir sama kamu dan itu membuat dia nggak bisa fokus untuk mencari bukti. Maka dari itu kamu harus baikan, dan semuanya bakal jadi lebih mudah, nggak akan terlalu sulit lagi..." Ucap Mira.


Lisa terdiam sejenak memikirkan kata-kata kedua sahabatnya. "Hm iya deh nanti aku pikirin lagi."


...*****...


Keesokannya...


Lisa sudah memantapkan hatinya, ia ingin kembali ke rumah Rey lagi. Jika belum bisa berbaikan dengan Rey, setidaknya ia bisa membuat Ayah dan Bunda tidak khawatir lagi dengan dirinya.


Cklek...


Lisa membuka pintu rumah, ia membawa koper sendiri yang berisikan baju-baju serta semua buku-buku nya.


Bunda yang kebetulan sedang berada di dapur pun mendengar ada seseorang yang masuk. Ia melihat Lisa tengah berdiri di depan pintu masuk, Bunda pun segera menghampirinya dan langsung memeluk Lisa dengan erat.


"Ya Allah Lisa... Akhirnya kamu pulang nak! Bunda kangen banget sama kamu, Bunda khawatir sama kamu. Gimana keadaan kamu sekarang? Baik-baik aja kan? Kamu tenang aja, Rey sama Ayah pasti bakal bisa selesaikan semuanya!" Kata Bunda meyakinkan.


Lisa hanya mengangguk sambil tersenyum, "Bun... Lisa mau ke atas dulu yah, Lisa capek!"


"Iya, kamu istirahat yah!"


Bunda tidak ingin terlalu memaksa Lisa karena tidak ingin melukai hati Lisa yang sepertinya sudah sedikit mendingan. Lisa mau kembali ke rumah dengan keinginan nya sendiri saja itu sudah merupakan keajaiban.


Lisa menaiki tangga satu persatu dengan ragu, ia berpikir akan sangat canggung jika saat ia masuk kamar ternyata ada Rey. Lisa bingung harus apa dan bagaimana.


.


.


.


Di Kamar Rey


Dengan penuh keraguan, Lisa membuka pintu dengan pelan. Sambil berharap dalam hati semoga Rey sedang tidak ada di dalam kamar.


Cklek...


Lisa menengok ke kanan dan ke kiri, hening, sepi dan tidak ada orang. Lisa menghela nafas lega, ia masuk dan langsung menata baju-baju serta buku nya. Menyimpannya di tempat yang seharusnya.


Ia mengeluarkan baju-baju lamanya yang berada di dalam lemari yang sepertinya tidak akan terpakai lagi. Kemudian memasukkan baju-baju kedalam lemari yang ia bawa dari rumah Putra.


"Ini baju masih bagus... Tapi nggak tau mau di pake kapan lagi, sayang sih... Tapu nggak papa deh, kumpulin aja dulu!" Gumam Lisa.


Rey tiba-tiba keluar dari ruang shalat yang terletak disamping ruang belajarnya yang berada didalam kamarnya. Ia masih mengenakan peci, baju koko dan sarungnya. Rey berdiri terdiam melihat Lisa di hadapannya.


"Ha-hai..." Sapa Lisa canggung.


Rey langsung melangkahkan kakinya cepat, lalu memeluk Lisa dengan erat. Sungguh, seperti mimpi baginya, baru saja ia berdoa agar Lisa kembali. Dalam hati tak henti-hentinya ia berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengabulkan doa nya.


"Akhirnya kamu balik Cha! Aku khawatir banget sama kamu, aku kangen banget sama kamu dan aku pengen banget selalu lindungin kamu saat ini!" Kata Rey yang masih memeluk Lisa.


Lisa sontak terdiam, terpaku dengan reaksi Rey. Dan yah, ia tak tau harus merespon dengan apa dan harus bagaimana. Rey memejamkan matanya dan memeluk Lisa dengan sepenuh hati. Mencoba untuk melepaskan seluruh rasa rindu nya pada wanita yang selalu membuat nya resah.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!