
"Iya maap deh bu."
"Huuuuu...."
"Eh eh sudah-sudah! Oke Melissa silahkan kamu duduk di..." Bu Suri mengedarkan pandangan ke se isi ruangan.
"Saya bu saya..."
"Di dekat saya bu, saya kan ramah bu."
"Helle modus lo pada!"
"Syirik lu."
"Dekat saya kosong nih bu."
"Oh iya ketua kelasnya mana?" Tanya Ibu Suri.
"Saya..." Ucap seorang perempuan dengan wajah malasnya.
"Dita ya?"
"Bukan, ini Marko bu." Jawab Dita.
"Hahahaaa...." Seisi kelas kembali tertawa.
"Markonah bu." Sahut salah satu murid.
"Helle diem lu pada kalo nggak mau gua gepak satu-satu." Kelas langsung hening mendengar ancaman Dita. Dita langsung tersenyum miring melihat reaksi teman-temannya.
"Oke Melissa kamu bisa duduk di sebelah Dita, mungkin dia lebih bisa membantu kamu lebih mengenali sekolah ini."
Lisa mengangguk paham kemudian berjalan dan duduk di sebelah Dita.
"Ibu pilih kasiii..."
"Huuuuuuu..." Seisi kelas menyoraki ibu Suri dengan kesal.
"Eh, diam semuanya diam!" Sahutnya. "Ingat yah kalian ini anak IPA, kalian akan di tuntut untuk selalu bisa menampilkan yang terbaik, karena anak IPA itu harus selalu menjadi yang terbaik. Paham semuanya?"
"Paham bu..."
"Halo Melissa, berhubung gua ketua kelas yang baik... jadi kalo lo butuh apa-apa bilang aja sama gua, oke?" Ujar Dita dengan santai.
Lisa membalas tersenyum, "Makasih..."
.
.
.
Jam istirahat
"Jangan lupa halaman 129 di kerja di buku tugasnya yah, minggu depan ibu akan periksa." Pesan Ibu Suri. "Dita tolong kamu kembalikan semua buku paket ini ke perpustakaan."
"Oke Bos..." Sahut Dita semangat.
"Melissa tolong kamu bantu Dita yah, supaya kamu tau kemana arah perpustakaan nya."
Lisa mengangguk, "Baik bu."
Sesaat setelah bu Suri keluar ruangan, kelas menjadi riuh berisik.
"Woii Dit, lu nggak lama kan?" Tanya salah seorang cowok ketika Dita dan Lisa menghampiri meja guru untuk membawa tumpukan buku paket itu.
"Kagak, bentar doang gua. Kenapa? Takut kangen lu?" Tanya Dita pede.
"Iddih berobat lo." Sahut Ragi.
"Bangon-bangon..."
"Yaudah, kita tunggu di kantin yah Dit." Sahut temannya ceweknya yang biasa di panggil Nara.
"Jangan lupa ngajakin si murid baru, gue pengen kenalan ama dia lebih dalem." Sahut Rizal.
"Gua tabok lu, sana minum Adem Sari!" Pinta Nara.
"Serah." Jawab Dita singkat. Kemudian ia berjalan keluar kelas dengan membawa beberapa buku paket yang dibelakangnya di ikuti oleh Lisa.
"Lu pindahan dari sekolah mana Mel?" Tanya Dita saat mereka berjalan kembali setelah menyimpan buku-buku tersebut.
"Aku pindahan dari SMAN Bakti Husada." Jawabnya.
Dita manggut-manggut. "Oh... Sekolah yang terkenal itu." Dita memegangi perutnya, "Eh Mel gua mau ke toilet bentar, lo tolong ambilin ibu Suri map di Koperasi." Dita segera berlari menuju toilet karena sudah tak tahan lagi meninggalkan Lisa yang kebingungan. Dia kan masih baru disini, belum tau kemana ia harus pergi.
Lisa tetap berdiri di depan Perpustakaan sambil memikirkan ke arah mana ia harus melangkah terlebih dahulu, karena disini terdapat dua belokan. Ntah arah mana yang menuju koperasi sekolah. Dari kejauhan dia melihat seorang lelaki dengan susah payah membawa setumpuk buku paket menuju ke arah Perpustakaan.
Kayaknya aku harus bantu dia deh, ntar dia bisa bantu nunjukin arahnya. Ah ide bagus.
"Mmm... Makasih yah udah di bantuin." Ucapnya canggung.
"It's okay, oh iya kalo mau ke Koperasi ini kemana yah?"
"Koperasi? Kamu murid baru?" Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
"Iya, baru masuk hari ini. Koperasinya dimana yah?" Tanyanya ulang.
"Kamu belok kiri disini, abis itu kalo ketemu aula kamu belok kiri lagi, nah di samping sanggar seni disitu ada Koperasi." Jelasnya.
"Gitu yah?" Lisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Bisakan?"
Lisa tersenyum canggung , "Bi bisa.., makasih."
"Okey."
Lisa berjalan pergi sambil melihat-lihat sekitar. Yah sekolah barunya tak beda jauh dengan sekolahnya dulu. Ternyata yang ini juga cukup luas dan bersih juga cukup nyaman. Yah Lisa merasa sekolah ini lumayan bisa membuatnya nyaman. Matanya tertuju pada sekumpulan siswi yang tengah duduk melingkar di taman sekolah itu. Mereka terlihat bahagia, tertawa dan bercanda bersama. Lisa tersenyum sedih melihatnya. Ia benar-benar merindukan teman-temannya.
Sarah, Mira, Al, Vhino dan juga Rey. Huh i miss...
"Hay kepiting rebus..." Sapa seseorang.
Lisa menoleh, ia tersenyum kecut mendapati Fadil yang tersenyum konyol padanya. "Oh haiii..." Balas Lisa.
"widdih ternyata bener kamu pindah disini, senengnya gua ada lu." Ucap Fadil senang.
"Dih, siapa lu? Kok kamu tau kalo aku pindah?"
"Itu ayahnya Rey yang bilang kemarin, trus dia pesen biar aku jagain kamu terus."
"Oh." Jawabnya singkat.
Lisa melipat kedua tangannya di depan dada kemudian melanjutkan langkahnya. Fadil segera menyusul langkahnya.
"Mau kemana?"
"Koperasi."
"Tau koperasi?"
Lisa melirik sekilas pada Fadil, "Ya taulah, emang aku anak TK?!"
"Maksudnya, kamu tau tempatnya?"
"Kagak, hehehe... Anterin yah Dil..."
"Okay, apasih yang nggak buat Princess nya Rey." Cibir Fadil.
Lisa cengengesan, "Tuh tau. Tumben lu kagak nyebelin."
"Halla males berantem mulu."
"Baguslah."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju koperasi. Tapi sepertinya ada yang membuat Lisa merasa bingung, ia merasa ada yang aneh disini. Kenapa tidak, setiap siswa maupun siswi yang dilewatinya tak jarang ada yang menatapnya insten kalo tidak ada yang berbisik-bisik. Apa karena aku murid baru? Lisa membatin. Tapi masa sampai segitunya, bahkan ada yang menatap tajam dirinya seperti memiliki dendam.
"Dil, kamu ngerasa aneh nggak?" Tanya Lisa.
Dahi Fadil mengerut, "Aneh apanya? Kamu kali yang aneh, hahahaaa..."
"Ih aku serius."
"Au ah, lu nya yang aneh. Udah sana masuk, aku tunggu disini."
"Eh itu siapa? Kayaknya deket banget sama Fadil."
"Kayaknya murid baru deh, tapi kok bisa sih dia sama Fadil sedeket itu."
"Iiiiihh kak Fadil kok sedeket itu sama cewek, nggak rela banget."
"Arghhh saingan baru, malah cewek itu cantik banget lagi, udahlah nggak pantes gua ada di posisi dia."
"Hadeeeh belum juga apa-apa, udah di kalah duluan sama tuh cewek, mana cewek itu cantik banget lagi. Udah ngerasa bukan apa-apa lagi."
"Caper mah dia."
"Pasti dia pake dukun. Kan aneh siswi baru langsung akrab gitu sama calon pacarku, huhuhuhu.."
"Tapi kayaknya emang udah kenal duluan."
Begitulah kira-kira yang di gosipkan oleh seisi sekolah yang seketika heboh melihat keberadaan Lisa di sekolah. Dari kelas satu sampe kelas tiga. Yah karena rata-rata dari mereka lebih mengagumi Fadil beserta teman-temannya. Mungkin keberadaan Lisa di dunia ini meresahkan penduduk bumi hahahaaa. Kenapa tidak buktinya dimana pun dia berada ada aja yang mencibirnya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!