
Faro menatap Rey tak suka, "Lo sendiri ngapain ikut campur urusan orang lain? Ini urusan gue sama Lisa ya!" tegas Faro.
"Urusan Lisa, urusan gue juga. Karena gue suami sah Lisa, mau apa lo?"tanya Rey dengan nada mengejek.
Faro terkekeh sinis, sebenarnya dia tidak ingin punya masalah dan musuhan begini dengan Rey. Namun rasanya Rey sangat membuatnya kesal. "Heh... Lo nggak usah halu ketinggian deh! Mana mungkin Lisa itu istri lo, bangun woii tamat SMA aja belum. Udah mending lo pergi, ini urusan gue sama Lisa dan lo gak usah ikut campur!"
Faro dan Rey saling melempar tatapan sinis serta tajam. Lisa benar-benar bingung dengan situasi ini.
Tangan kanannya dicengkeram oleh Rey, sementara tangan kirinya dicengkeram oleh Faro.
Lisa sedikit menghempaskan tangan kirinya hingga cengkraman Faro terlepas, "Faro lepasin dulu! Kalo mau ngomong di luar aja, gue mau bayar ini dulu. Lo pikir ni toko punya kakek lo apa?!"
Lisa berjalan dengan langkah kasar karena merasa kesal menuju kasir dan membayar beberapa barang yang ia beli. Sedangkan Rey dan Faro menunggu diluar dengan suasana yang mencengkram dan selalu bersitegang.
Lisa menatap Faro serius, "Faro tolong... Aku udah anggep kamu temen dengan tulus, dan jujur pengakuan kamu ini buat aku kecewa. Aku kira kamu temenan sama aku itu tulus, tapi ini apa. Jadi tolong kamu nggak usah ganggu gue dulu, kita jalani hidup masing-masing mulai sekarang!" tegas Lisa.
"T-tapi Lis, aku punya alasan... Perasaan gue ke kamu itu nyata, bukan mainan! Lisa tolong kasih aku kesempatan buat tetap ada di hidup kamu, tetap selalu bisa jaga kamu. Maaf buat semua pengakuan ini tapi aku bener-bener nggak bisa mendem semuanya!" Faro kembali hendak memegang tangan Lisa.
Dengan lebih dulu Lisa menepis tangan Faro, "Sorry tapi aku udah ada hak paten. Aku udah ada yang punya, sah secara agama dan hukum. Kamu nggak bisa lakuin apapun lagi, aku emang bukan jodoh kamu Ro. Bener kata Rey aku ini istri sah Rey, jadi kamu jangan ganggu aku lagi please! Aku udah bener-bener kecewa. Aku pergi dulu Faro, Maafin aku. Rey ayo pergi!" Lisa menarik tangan Rey lalu pergi meninggalkan Faro sendiri.
Faro langsung terduduk lemas mendengar kebenaran dari mulut Lisa.
Ia tak mengira kalau ia benar-benar sudah tak punya kesempatan itu. Faro mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal, ia tak perduli lagi dengan sekitarnya. Ia sangat menyesal harus mengatakan itu tadi pada Lisa, harus nya itu tadi tidak terjadi. Arghhh harusnya ia masih bisa berteman baik dengan Lisa dan seharusnya ia juga tidak pernah mengetahui kebenaran itu.
...*****...
Alun-alun...
Lisa mengajak Rey kembali ke Alun-alun untuk meneruskan makan es krim. Mereka berdua kembali duduk dan saling menatap canggung. Dalam hati,Rey merasa sangat senang dengan ucapan Lisa tadi.
"Kamu..."
Kata itu terucap secara bersamaan dari mulut Rey dan Lisa. Kini suasana diantara mereka semakin canggung.
"Kamu duluan aja hehe..."
"Hah? Enggak, kamu dulu aja."
Mereka kembali saling terdiam, Lisa kesal sendiri dengan timing ini, ia pun membuka pembicaraan. "Kamu kok bisa di sana tadi? Bukannya udah ku suruh tunggu di sini?" tanya Lisa memulai percakapan.
"Awalnya aku duduk di sini liatin kamu dari jauh, tapi tiba-tiba liat Faro yang juga masuk ke sana. Aku agak khawatir aja dan akhirnya nyusul aja, dan ternyata bener, dia ganggu kamu." Rey menjelaskan.
"Oh..."
Lisa gelagapan dengan pertanyaan Rey, "Em... Ng-nggak papa kok, cuma udah bosen aja diganggu Faro terus dan ternyata dugaan Fadil bener dia memang suka sama aku. Makanya aku kasih alasan biar dia menjauh selamanya. Lagian yang pertama kan kamu yang bilang, aku cuma terusin aja kok."
"Oh gitu..." Mereka kembali sama-sama terdiam.
Rey lama-lama kesal dengan suasana ini, "Ah elah... Kenapa timingnya jadi kayak gini sih? Udah ayo ngobrol kayak biasanya, atau makan ni es krim. Udah mulai leleh noh," ujar Rey yang jengkel.
"I-iya deh..."
Mereka berdua kembali memakan es krim itu sampai habis lalu berjalan-jalan disekitar alun-alun untuk menikmati suasana malam.
"Enak banget ya suasananya... Nggak terlalu dingin, tapi juga nggak panas," celetuk Lisa senang.
"Dan ditemenin sama istri, beeehhh enaknya bukan maen" gurau Rey.
"Ih apaan sih..."
Lisa malu-malu mendengar gurauan dari Rey. Baru saja sejenak mereka menikmati suasana itu, mereka tak sengaja bertemu Dinda disana.
Suasana hati Lisa yang tadinya baik terlihat sedikit memburuk saat melihat ada Dinda disana. Rey menyadari perubahan ekspresi wajah Lisa.
"Kenapa? Pengen pulang?" tanya Rey pelan.
"Nggak... Udah ayo lanjut, jalan lagi.."
Awalnya Lisa membiarkan adanya Dinda, tapi tanpa diduga Dinda malah mendatangi Lisa dan Rey dengan wajah penuh emosi.
"Bisa-bisanya kalian berdua jalan santai setelah rusak kehidupan gue ya? Dasar manusia nggak tau malu!" bentak Dinda emosi.
"Din lo jangan kelewatan, hanya karena lo cewek bukan berarti gue nggak bisa apa-apa ya!" tegas Rey, Rey menggandeng tangan Lisa erat. "Ayo Cha pergi, nggak usah ladenin dia!"
"Dasar samp*h! Kalian manusia paling jahat, kalian jahat, kalian jahat! Kalian manusia terkutuk!" Dinda berteriak dengan nada tinggi yang sedikit menyorot perhatian orang lain.
Lisa pun menghentikan langkahnya dan berbalik, "Atas dasar apa lo ngomong kayak gitu hah? Atas dasar apa?!" tanya Lisa dengan nada meninggi.
"Kalau aja kalian berdua nggak pernah muncul dalam hidup gue, hidup gue pasti sempurna! Kalian berdua jahat! Kalian berdua udah hancurin hidup gue tau nggak, kalian berdua rampas semua kebahagiaan gue! Dasar nggak tau diri!" Dinda membela dirinya seolah-olah ia korbannya.
Rey berusaha menahan amarah Lisa agar tak terjadi pertengkaran di sini. Lisa menghela nafas panjang dan berusaha mengontrol emosinya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!