Love In Many Ways

Love In Many Ways
Terima



"Udah nggak usah protes, nurut aja!"


"Emang mau ngapain sih? Main petak umpet?"


"Nggak usah banyak bercanda deh, nurut aja. Lama-lama aku usir kamu dari rumah."


"Emang kita se rumah?"


"Nggak usah banyak tanya. Atau aku ninggalin kamu di sini sendirian."


"Ya jangan." Ucap Sarah lirih.


"Yaudah diem."


Lisa menutup mata Sarah dengan kain tersebut. "Jangan banyak gerak, ntar kesandung loh."


Setelah di tutup mata nya, Sarah kembali bersuara. "Gelap, kayak masa depan kamu."


"Yeee dasar. Masa depan aku selalu cerah tau!"


"Kamu jangan ninggalin aku yah. Kalo kamu ninggalin aku, nggak aku ajak ngomong dua minggu!" Ancam Sarah.


"Iya iya. Sini aku tuntun!" Lisa memegang tangan Sarah dan menuntun nya berjalan dengan pelan.


Lisa berjalan ke tengah-tengah taman sambil menuntun Sarah. Tanpa Sarah ketahui Al sudah berdiri di sana, sudah menunggu dengan memegang sebuket bunga yang indah.


Lisa memberi isyarat pada Al untuk tidak bersuara dulu sampai Sarah membuka penutup mata nya.


Lisa menghentikan langkahnya tepat di depan Al. "Udah nyampe? Udah boleh buka?" Tanya Sarah.


"Eh tunggu dulu." Cegah Lisa. "Tunggu bentar yah, jangan bergerak."


Lisa menarik Al agak menjauh dari Sarah. "Kamu udah siap kan?" Bisik Lisa.


Al hanya mengangguk.


"Kamu udah tau apa yang harus kamu katakan dan lakukan?"


Al kembali mengangguk.


"Oke, semoga berhasil, Al. Dan jangan pernah ngecewain aku. Oke?"


Al malah memegang tangan Lisa, tatapan nya terlihat sedih. "Lisa..." Panggil nya lirih.


Lisa menatap kedua mata Al. "Ada apa, Al?"


"Aku sayang kamu."


Lisa tersenyum tulus. "Aku juga, Al. Kamu harus lakuin ini demi kebahagiaan kita semua. Oke? Semangat dan jangan ngecewain aku."


Lisa kembali menarik Al mendekat pada Sarah. Kemudian siap-siap akan membuka penutup mata Sarah. "Aku buka nih?"


Sarah yang mendengar suara Lisa langsung mengangguk antusias. "Iya, buka cepetan."


Perlahan Lisa membuka kain tersebut. Sarah perlahan membuka mata nya, dan...


Sarah melihat ada Al di hadapan nya.


"Rah. Aku pulang dulu yah." Ucap Lisa berpamitan.


"Loh? Al?" Sarah masih heran, kenapa Al ada di sini? Di tempat ini? Dan kenapa Lisa mau ninggalin dia berdua dengan Al? Bener-bener yah Sarah nggak peka banget, Al itu mau nembak kamu tau...


"Tapi Lis-" Belum selesai kalimat dari Sarah, Lisa sudah keburu memotong.


"Jangan banyak tanya!" Lisa mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah dan berbisik. "Aku pulang dulu, kamu jangan pernah kecawain aku."


"Ha?" Tanya Sarah tak mengerti.


"Yaudah aku pulang dulu yah. Aku pulang yah Al, semoga berhasil. Daaaahh..." Lisa melambaikan tangan sembari tersenyk pada Lisa dan Al sebelum benar-benar berlalu.


.


.


.


Lisa pulang ke rumah nya dengan mengunakan taksi. Dia tak mau melihat adegan yang akan membuatnya kembali rapuh. Dia lebih memilih untuk segera pulang ke rumah karena dia sudah tau apa yang akan terjadi setelah nya.


Setelah mengucapkan salam, Lisa masuk ke dalam rumah dan tanpa pikir panjang dia langsung berjalan ke arah kamar Daddy nya. Namun, saat sampai di depan kamar Daddy nya dia melihat ada Rey, tidak! Bukan hanya Rey tapi juga ada kedua orangtua Rey.


Lisa menghela napas dan berusaha tenang. "Assalamualaikum..." Sahut nya.


Semua yang berada di dalam kamar langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Waalaikumsalam."


"Lisa udah pulang. Ayo sini!" Panggil Mommy yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, duduk di samping Daddy.


Lisa yang di panggil langsung mendekat dan berdiri di samping Mommy nya.


"Lisa, Daddy mau bicara." Kata Mommy sambil melihat ke arah Daddy yang masih berbaring lemas.


"Lisa. Maafin Daddy yah, nak. Kemarin Daddy terlalu terburu-buru, tanpa memikirkan keputusan Lisa, kamu juga berhak untuk membuat keputusan. Daddy nggak bakal marah kok." Ucap Daddy dengan nada pelan.


"Daddy. Kenapa Daddy minta maaf? Lisa nggak marah kok, Lisa nggak pernah marah. Kemarin Lisa hanya butuh waktu untuk memikirkan tentang semua ini." Ucap Lisa menjelaskan. "Lisa takut Daddy kenapa-napa. Daddy janji kan nggak bakal ninggalin Lisa?"


Daddy diam tak menjawab.


"Jawab Dad. Daddy janji kan?"


Daddy masih terdiam. Dia tak bisa berjanji apapun saat ini. Dia hanya menatap kefua mata Lisa yang sedari tadi terus mendesak nya untuk berjanji.


"Lisa... Lisa nggak boleh mikir yang aneh-aneh, kita semua percaya kok Daddy pasti akan sembuh. Jadi kamu tenang yah!" Ucap Mommy.


"Jadi gimana keputusan Lisa tentang permintaan Daddy?" Tanya Daddy mengalihkan topik pembicaraan.


Mendengar pertanyaan itu, Lisa menghela napas berat. Dia mengedarkan pandangan nya, menatap satu per satu orang yang ada di kamar tersebut. Mulai dari Mommy, Ayah dan Ibu nya Rey, Rey dan pandangan nya terhenti pada Daddy nya. Semua mata memandang ke arah nya, menunggu jawaban.


Lisa berusaha memantapkan keputusan yang akan di ucapkan nya. "Dad, Lisa... Lisa mau nikah sama Rey." Ucap Lisa pelan.


Ayah dan Bunda serta Rey terlihat terkejut tak percaya dengan ucapan Lisa yang baru saja dua lontarkan.


Sedangkan Daddy dan Mommy terlihat tersenyum bahagia. "Makasih, nak. Makasih udah buat Daddy seneng. Makasih udah nurutin permintaan Daddy, sini peluk Daddy." Pinta Daddy.


Lisa mengangguk dengan patuh dia memeluk Daddy nya. "Ini semua Lisa lakukan buat Daddy. Lisa ikut seneng liat Daddy bahagia. Daddy jangan pernah ninggalin Lisa, yah!"


Daddy tak menjawab sama sekali ucapan dari Lisa.


"Jadi, untuk pernikahan nya kapan?" Tanya Ayah nya Rey.


Lisa melepas pelukan nya dan memandang Daddy nya. Tentunya Daddy yang mengambil keputusan. "Minggu depan bagaiamana?"


Lisa dan Rey sontak kaget. "Loh? Emang nggak terlalu cepat, Om?" Rey yang sedari diam akhirnya bersuara. Jujur untuk saat ini dia belum siap jika harus berumah tangga secepat ini.


"Semakin cepat semakin baik." Ujar Ayah.


"Lisa gimana?" Tanya Mommy pada Lisa yang terlihat diam saja.


"Lisa ikut aja, Mom." Ucap Lisa dengan lemas.


"Yasudah, Rey nanti kalian ambil ijin di sekolah, yah." Ujar Ayah.


"Iya, Yah." Kata Rey dengan lirih.


.


.


.


Keesokan Hari nya...


Cahaya matahari mengintip melalui celah jendela kamar. Menyinari seorang manusia yang sedang terlelap. Lisa menggeliat saat merasa cahaya menerpa wajahnya, Lisa lalu merenggangkan badan nya. "Hemm..." Semalaman dia tak bisa tidur, kepikiran dengan acara pernikahan nya dengan Rey yang akan di selenggarakan minggu depan. Terlalu cepat? Ya, memang. Tapi apa boleh buat. Itulah yang harus dia terima. Saat ini dia hanya bisa pasrah dengan semua itu.


"Udah bangun?" Tanya sebuah suara.


Lisa yang mata nya masih tertutup hanya mengangguk polos. Namun sedetik setelahnya Lisa tersadar.


Ha? Tunggu! Siapa itu? Siapa yang berani masuk kamar tanpa se izin ku?


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!