
Brak... Brak... Brak...
Ayah Rey menggebrak meja pertemuan hingga semua langsung terdiam. "Pak, tolong dengarkan penjelasan Rani juga! Kita di sini untuk musyawarah, bukan saling fitnah! Tolong perilakunya di jaga!" tegas Ayah Rey.
Ayah Rey berkata dengan tegas. Selama ini Ayah Rey selalu diam untuk urusan apapun, ia tak akan ikut campur jika masalah tak benar-benar serius. Karena ia hanya bekerja dari belakang, tidak terlalu memperlihatkan diri.
Orang-orang menjadi sedikit gemetar melihat Ayah Rey yang tiba-tiba tegas dan raut wajahnya tampak tak bersahabat.
"Rani, teruskan penjelasanmu. Kami tak akan menyela lagi, katakan semuanya dengan jelas!" pinta Ayah Rey.
Bu Desi mengangguk kemudian meneruskan pertanyaannya, "Rani... Saat itu Dinda ada dilantai 2, dan di gudang. Bagaimana dia bisa mencelakai kamu?" tanya Bu Desi.
Tangan Rani sedikit gemetar saat ini, "K-karena Dinda tidak mencelakai saya secara langsung bu. Dia menaruh pelicin di lantai secara sengaja, hingga saya jatuh seperti itu."
"Untuk apa Dinda melakukan itu Ran? Kamu kan dekat sama dia, dan apa untungnya buat Dinda?"
"S-saya gak tau bu, yang saya tau Dinda nyuruh Tasya buat pel lantainya biar nggak ada bukti. Saat Tasya berusaha mau ngaku, Dinda malah menggunakan kekuasaannya untuk mindahin Tasya ke sekolah lain, karena takut ini semua terbongkar. Tasya sangat merasa bersalah karena hal ini, tiap hari dia datang ke rumah sakit jenguk saya sambil minta maaf...."
Para pemegang saham itu tampak berbisik dan bingung harus percaya atau tidak, karena Dinda yang diceritakan Rani berbanding terbalik dengan Dinda yang mereka lihat selama ini.
"Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah beberapa lama ini, semua ingatan saya kembali bu. Saya bahkan bisa ingat setiap detail kejadian itu, dan Lisa saat itu juga ingin menolong saya tapi ikut terpeleset karena pelicin lantai itu," tambah Rani lagi.
Ayah Dinda terduduk lemas mendengar kata-kata Rani. la tak mengira putrinya akan melakukan hal itu, padahal selama ini ia sudah berusaha menjadikan putri nya sebagai siswi terbaik.
"Bu saya boleh pergi? S-saya agak pusing bu.."
"Iya-iya boleh... Ayo ibu antar keluar!"
Bu Desi mengantarkan Rani keluar, didepan pintu, sopirnya sudah menunggu. "Makasih bu, saya pergi dulu. Sopir saya sudah menunggu."
Bu Desi memegang kedua tangan Rani lembut, ia merasa bangga dengan apa yang dilakukan Rani untuk hari ini. "Makasih kamu mau jujur buat semua ini ya Ran... Tanpa kesaksian kamu hari ini, mungkin hal ini bisa jadi penyesalan ibu seumur hidup."
Rani hanya mengangguk dengan senyum palsunya lalu pergi dengan sopirnya. Dalam hati ia menangis, ia tak mengira Dinda bakal setega itu padanya, mereka sudah berteman cukup lama dan ia sudah menganggap nya seperti kakaknya sendiri.
Saat berjalan-jalan di koridor, Lisa berteriak memanggil Rani. "Rani, tunggu gue!" teriak Lisa. Ia berlari menyusul Rani.
"Kenapa lo?" tanya Rani sinis.
"Huh... Gue udah tau semuanya, lo tadi jadi saksi kan? Makasih banget yah, lo keren sumpah!" ucap Lisa yang sedikit ngos-ngosan karena berlari.
Rani masih menatap sinis Lisa, "Jangan ke-pd an lo! Gue lakuin semua itu karena mau hukum orang yang nyelakain gue, bukan karena bantuin lo, ih amit-amit!" jawab Rani sinis.
"Hehehehe..." Lisa tertawa lalu memeluk Rani dengan lembut. "Makasih udah mau jadi saksi tadi. Mau lo jadi saksi karena gue ataupun karena diri lo sendiri itu nggak masalah. Apapun alasannya, gue tetep terbantu dengan kesaksian lo, nama gue jadi bersih sekarang."
Rani hanya terdiam, ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang teman. Selama ini ia punya banyak teman tapi jarang melakukan kontak fisik, ada rasa senang dan gembira di hati Rani. Seolah sakit hatinya karena pengkhianatan Dinda berangsur pulih.
"Ehm... Apa-apaan sih peluk-peluk, lepasin! Gue mau balik ke rumah sakit, gue pusing!" keluh Rani.
"Hehe sorry, mau gue anterin ke rumah sakit?"
"Kaga usah! Lagian Lo ngapain ke sini sih? bukannya lo udah di pindahin yah?"
"Hadehh, si paling sering bolos, parah banget sih lo..."
Lisa hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Rani.
"Hati-hati lo." Sahut Lisa saat Rani akan menutup pintu mobilnya.
"iya serah lo." Rani menutup pintu mobil dengan muka juteknya, ia tak menghiraukan Lisa lagi. namun dalam hatinya ia cukup senang dengan pelukan Lisa tadi.
...*****...
Di Ruang rapat
Semua tampak masih saja bersitegang didalam ruangan itu. Ayah Dinda terlihat masih syok dengan kebenaran yang terungkap. Namun dalam hati nya ia masih menyangkal dan lebih percaya pada putrinya.
"Bu, bagaimana kalo panggil saja Dinda sekarang agar semuanya lebih jelas? Dan kalau masih bisa, coba cari keberadaan Tasya juga!" pinta Ayah Rey.
"Ba-baik pak..."
Bu Desi langsung pergi mencari Dinda. Bu Desi juga menyuruh anak lain untuk memanggil Dinda agar lebih cepat lalu ia memilih menunggunya didepan ruangan.
"Selamat pagi bu... Ada apa bu?" tanya Dinda yang baru datang.
"Pagi Dinda, ayo masuk kedalam!" Ajak Bu Desi.
Dengan tenangnya Dinda masuk kedalam ruangan itu. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihat semua pemegang saham hadir, seolah-olah ia saat ini di posisi yang menguntungkan.
"Ada apa ya bu, kenapa saya dipanggil ke sini?" tanya Dinda dengan santainya.
"Dinda, apa benar kamu yang mencelakai Rani dengan menaruh pelicin lantai secara sengaja agar Rani jatuh?" tanya Bu Desi.
Dinda langsung membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Bu Desi barusan. Tiba-tiba saja ia sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu.
"Dinda jawab!"
Dinda gugup dan mulutnya seolah kelu, ia bingung harus apa saat ini. "M-maksud ibu apa ya? Saya nggak ngerti, saya kan saksi bu..."
"Tapi ini ada orang lain yang kasih kesaksian kalo kamu pelakunya, kamu juga dituduh memindahkan Tasya secara sengaja karena Tasya adalah satu-satunya saksi yang sebenarnya saat itu."
Dinda semakin gugup, ia tak mengira rencananya bisa berantakan seperti ini. Ia tentu terkejut dengan pernyataan ibu Desi barusan, kenapa semua berbanding terbalik dengan ekspetasi? "Bu, ibu pasti salah paham. Buat apa sih saya lakukan itu semua? Ibu tau sendiri kan saya ini seperti apa di sekolah?"
"Ya masalahnya, nggak semua orang memiliki sifat yang sama... Ada juga manusia yang beda tempat beda sifat, makanya ibu tanya sama kamu. Ini benar nggak yang di tuduhkan?"
"T-tapi saya nggak mungkin ngelakuin itu bu... Itu pasti fitnah, saya nggak ngelakuin hal itu bu!" Dinda tetap bersikeras membantah untuk menutupi kesalahannya.
"Dinda jika memang kamu benar salah, lebih baik kamu jujur, di sini disaksikan banyak orang dan bukti, saksi juga korban ada. Hal yang diucapkan para saksi dan korban sama Din, kalo kamu jujur mungkin hukumannya nggak akan terlalu berat nak..." Bu Desi berusaha membujuk Dinda untuk segera jujur padanya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!